
Adik Ipar Malang
Bab 48 Sampai di Rumah
Bagaimana dengan kediaman rumah orang tuanya Evan? Tentu saja sangat heboh. Setelah sambungan telepon dengan Evan terputus, Bu Maya langsung menghubungi besannya. Karena tidak tahu jam berapa Evan akan sampai, jadinya Bu Maya meminta agar Bu Ratna datang pagi-pagi sekali. Sekalian meminta mereka sarapan di rumahnya.
"Apa sebenarnya kejutan yang akan Evan berikan?" tanya Pak Rifan kepada istrinya.
Saat ini mereka ada di meja makan, sedang menyantap sarapan. Ada Laras, kedua mertuanya, juga kedua orang tuanya.
"Papa ini. Namanya juga kejutan, kalau dikasih tahu nanti bukan kejutan dong namanya," ujar Bu Maya.
"Habis, bikin penasaran aja. Untung hari ini hari libur, jadi ada waktu longgar buat nunggu kepulangan dia," keluh Pak Rifan. Bu Maya geleng-geleng kepala dengan sikap suaminya.
"Enggak apa lah. Sekali-sekali. Siapa tahu penantian kita ini sepadan dengan kejutan yang nanti Evan kasih." Bu Ratna berusaha melerai.
"Betul itu kata Jeng Ratna." Bu Maya mengacungkan jempolnya.
Kemudian mereka melanjutkan kembali sarapannya.
"Laras, apa Evan sudah menghubungi kamu?" Kali ini Pak Arifin yang bertanya kepada Laras.
"Belum, Yah. Nomornya dari pagi enggak aktif," jawab Laras. "Mungkin Evan ambil penerbangan paling pagi."
"Semoga saja begitu," tanggap Pak Arifin.
Setelah semua selesai sarapan, terdengar ketukan di pintu depan.
"Biar aku saja yang buka." Bu Maya berdiri dari kursinya dan langsung berjalan ke ruang depan.
Begitu sampai di pintu depan, Bu Maya langsung berteriak histeris. Suara teriakannya membuat semua yang ada di meja makan segera berlari ke depan, karena takut terjadi sesuatu.
"Ada apa, Ma?"
"Ada apa, Jeng?"
"Ada apa?"
"Lilis!" teriak mereka hampir bersamaan.
Semua langsung menghambur kepada Lilis. Tentu saja mereka semua sangat kangen dengan Lilis. Sudah beberapa bulan tidak bertemu dengan putri bungsu di keluarga mereka.
__ADS_1
"Ya ampun! Jadi ini kejutannya, Evan?" Bu Ratna masih memeluk dan membelai rambut putri bungsunya.
Bu Maya melihat dua orang yang berada di belakang Evan dan Devan. Kemudian Bu Maya menghampiri Bi Tirah dan putrinya. Setelah itu mengajak semua yang ada di depan pintu untuk masuk ke dalam.
Sekarang semua sudah berada di ruang tamu. Bu Maya memperkenalkan Bi Tirah dan Siska kepada yang lainnya. Begitu juga sebaliknya, mereka memerkenalkan diri mereka kepada Bi Tirah.
"Berhubung kami sudah sarapan, kalian yang baru datang sarapan dulu, ya. Setelah itu istirahat. Nanti siang kita bincang-bincang lagi. Laras, ajak mereka ke ruang makan!" perintah Bu Maya pada menantunya.
Evan, Devan, Lilis, Bi Tirah dan Siska mengikuti Laras menuju meja makan. Tidak lupa Laras juga melayani Evan. Hal itu membuat Evan sangat senang, karena Laras semakin perhatian kepadanya.
"Laras, nanti tolong antarkan Bi Tirah dan Siska ke kamar tamu yang di lantai bawah ya. Sebab Bi Tirah pakai kursi roda. Supaya mudah aksesnya," titah Evan pada istrinya, ketika Laras sedang mengambilkan nasi untuknya.
"Iya," jawab Laras sambil mengangguk.
Kemudian Evan mengalihkan pandangan ke arah Lilis dan Devan. "Untuk Lilis dan Devan kalian istirahat di kamar tamu lantai atas. Di sebelah kamar Kak Elan."
"Tidak apa-apa."
"Terima kasih."
Devan dan Lilis mengucap hampir bersamaan.
Selesai sarapan mereka yang baru tiba pergi ke kamar masing-masing yang sudah ditentukan, untuk menyimpan barang-barang, juga untuk istirahat sebentar. Sedang yang lain berada di ruang tamu.
"Lilis!" panggil Laras dengan suara agak dipelankan.
Lilis berbalik badan. Mendapati kakaknya seperti mengendap-endap. "Ada apa, Kak?" Lilis menjawab sama pelannya.
"Kamu pasti tahu semua kejadian selama di Bali, kan?" tanya Laras lebih ke nada menuntut.
Lilis diam saja. Masih ingin mendengar apa tujuan dari pembicaraan kakak kandungnya itu.
"Kalau kamu masih menganggap aku kakak kandungmu, nanti kamu harus ceritain semua padaku kejadian selama di Bali. Tidak boleh ada yang ditutupin." Laras nerupaya menekan nada suaranya supaya terdengar biasa saja di telinga telinga Lilis.
Sebenarnya Laras sedikit cemburu kepada Lilis. Setelah mengambil hati Evan kembali sudah menemui hasil, tiba-tiba saja Evan pulang sambil membawa Lilis dan Devan.
Laras dan keluarganya tau, kalau Lilis dan Devan akan liburan ke Bali. Tapi tidak tahu kalau akan satu resort dengan Evan. Juga jadwal waktu liburan yang sama.
"Itu ..." Lilis sedikit gelagapan. Matanya tak berani menatap Laras.
"Nah, kan. Kalau udah kebingungan kayak begini, pasti ada apa-apa selama di Bali. Kamu itu paling enggak pinter bohong. Aku enggak mau tahu, pokoknya nanti kamu harus ceritain semua selama di Bali," titah Laras dengan tegas. "Sudah sana istirahat dulu!"
__ADS_1
"Ya." Lilis berjalan dengan lemas menyusul suaminya ke kamar. Memang benar Laras sudah berubah, tapi sifat mendominasi ternyata masih melekat.
Beranjak siang, semua orang diharapkan untuk berkumpul di ruang keluarga. Semua sudah hadir, hanya tinggal menunggu Elan saja yang katanya masih ada di jalan.
Tidak lama, orang yang ditunggu sudah hadir. "Wah! Ramai ternyata di rumah." Elan datang langsung masuk ke dalam ruang tamu.
"Bi Tirah!" panggil Elan dengan terkejut. "Alhamdulillah masih bisa berjumpa dengan Bi Tirah. Apa kabar, Bi?" Elan menyalami Bi Tirah. Juga tak sungkan mencium punggung tangan pengasuhnya dulu sewaktu kecil.
"Alhamdulillah. Kabar Bibi sangat baik," jawab Bi Tirah.
Karena semua sudah berkumpul, Pak Rifan berdehem agar perhatian semua teralihkan kepadanya. Semuanya diam dan mengalihkan perhatian kepada sang pemilik rumah.
"Langsung saja, ya. Begini, saya dan istri sudah berunding, Bi Tirah dan Siska tinggal di sini saja. Sekalian menemani istri saya." Pak Rifan memulai pembicaraannya.
Evan sudah menceritakan semua kepada orang tuanya. Tentang kehidupan Bi Tirah setelah tidak bekerja di rumah kedua orang tuanya lagi, tetapi dia tidak menceritakan tentang Siska yang mencoba menjebaknya.
Pak Rifan dan Bu Maya yang mendengarnya pun merasa kasihan, kemudian berembug mencarikan solusi. Sekarang, inilah waktu pengumuman hasil diskusi Evan dan kedua orang tuanya.
"Terima kasih, Tuan, Nyonya. Tapi saya merasa tidak pantas. Apalagi dengan perbuatan mantan suami saya dulu," ucap Bi Tirah merasa tak enak.
"Tidak apa-apa, Bi. Tenang saja, saya sudah tahu semuanya. Dari dulu kami juga sama sekali tidak marah dengan Bibi." Bu Maya tidak menerima penolakan dari Bi Tirah.
"Bi Tirah juga sudah tidak ada tempat tinggal, kan? Sebaiknya jangan menolak Mama." Kali ini Elan yang mencoba membujuk Bi Tirah.
Bi Tirah salah tingkah. Selain perasaan bersalah, perasaan malu juga menghinggapinya. Tidak menyangka bisa dipertemukan dengan orang sebaik keluarga Pak Rifan.
Bi Tirah kemudian berucap dengan mata mengembun. "Kalau begitu, saya bersedia.Terima kasih atas kemurahan hati Tuan dan Nyonya. Saya tidak tahu bagaimana harus membalas kebaikan Tuan dan Nyonya."
Bu Maya tersenyum senang. "Tidak perlu sungkan, Bi."
Dulu Bi Tirah sudah merawat Elan dan Evan dengan tulus. Kalau tidak, pasti Bu Maya sudah kerepotan membagi waktu antara karir dan keluarga.
Memang ada pengasuh sebelum Bi Tirah datang bekerja di sana. Pengasuh itu tidak tahu kalau majikannya memasang kamera pengawas di rumahnya. Sesekali Bu Maya mengecek, dia melihat kalau pengasuhnya itu abai kepada kedua anaknya, dan berlaku tidak sopan di rumahnya saat kedua majikannya tidak ada di rumah. Namun berubah menjadi perhatian saat Bu Maya dan Pak Rifan berada di rumah.
Tidak lama pengasuh itu diberhentikan dan dikembalikan ke yayasan. Kemudian datanglah Bi Tirah menggantikan pengasuh yang pertama, merawat Elan dan Evan dengan tulus. Juga berlaku sopan meski majikannya tidak di rumah. Itulah kenapa Bu Maya sangat menghargai Bi Tirah.
"Saya juga akan memberikan pekerjaan untuk Siska." Pak Rifan kembali membicarakan hasil rembugan yang kedua, yaitu memberi Siska pekerjaan.
"Terima kasih, Pak. Saya bersedia bekerja apa pun. Saya juga siap jadi asisten rumah tangga di sini." Siska mengira kalau pekerjaan yang akan diberikan untuknya adalah sebagai asisten rumah tangga.
"Bukan sebagai asisten rumah tangga," sanggah Bu Maya.
__ADS_1
*****