
Adik Ipar Malang
Bab 32 Aku Hamil
POV Laras
Sepulang bekerja, Evan mengantarku sampai ke rumah ayah. Ya, aku masih belum ingin pulang ke rumah kami berdua. Karena masih ingin menenangkan diri.
Sepertinya perkataan Kak Elan benar, Evan bersungguh-sungguh ingin berbaikan denganku. Dia selalu menempeliku ke mana-mana. Sekarang juga bilang, kalau dia akan ikut tidur di sini denganku.
"Laras, apa kamu masih marah padaku?" tanya Evan, saat kami sudah berada di kamar milikku saat masih gadis.
"Aku tidak marah padamu," kataku dengan menatap matanya. "Aku hanya kecewa."
"Kemarin aku sedang khilaf. Jadi wajar kalau aku bersikap seperti itu," kilahnya membela diri.
Wajar katanya? Andai aku tak mencintainya, sudah kucub*t ginjalnya. Seenaknya bilang kalau khilaf itu wajar.
"Yang penting sekarang, kan, aku sudah berubah. Semua untukmu," rayunya padaku.
"Aku memang sangat mencintaimu, Evan. Bahkan bagiku, mencintaimu itu sangat mudah, tetapi membencimu itu sangat sulit. Aku tetap hanya akan kasih kamu satu kali kesempatan." Aku berkata dengan wajah serius.
"Terima kasih, Sayang. Kamu masih mau memberi aku kesempatan." Wajahnya terlihat cerah, mendengar perkataanku.
"Ingat! Hanya satu kali kesempatan. Sekali kamu melakukan kesalahan, tiada maaf bagimu." Aku berbicara dengan menekan setiap kata.
"Aku berjanji tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini." Evan memelukku dengan erat. Sesekali dia mencium puncak kepalaku.
"Boleh aku mengatakan sesuatu?" tanyaku setelah pelukan kami usai.
"Boleh. Katakan saja apa yang ingin kamu katakan." Evan berkata sambil melepas satu persatu kancing kemejanya. Mungkin dia sudah gerah ingin segera bersih-bersih setelah seharian penat bekerja.
"Aku merasa ada yang ganjil dengan Freya."
Dia menghentikan gerakannya saat hendak melepas kancing di pergelangan tangan. "Maksudmu?"
"Aku nggak tahu. Tapi aku merasa kalau tidak aman berada di sekitar dia."
"Mungkin hanya perasaanmu saja."
"Apa kamu akan percaya kalau aku bilang melihat dia bersama dengan wanita penggodamu itu?"
"Kapan?"
"Aku bertemu dengannya di restoran tempat kita makan kemarin. Sewaktu kita pulang dan berhenti di lampu merah, aku melihat dia satu mobil dengan wanita itu."
"Aku tak melihatnya sewaktu di restoran."
"Mungkinkah dia ingin merusak hubungan kita? Tapi untuk apa? Atau dia sebenarnya menyukaimu, dengan berpura-pura mendekati Kak Elan dulu?"
"Kamu ngawur. Tapi mungkin juga, kalau dia menyukaiku," narsisnya sambil menaikan kerah bajunya.
Wajahku berubah datar, kemudian menunjuk pintu. "Silakan tidur di luar!"
"Aku bercanda, Sayang." Suamiku itu tersenyum lembut, kemudian mencium pipiku dengan gemas. "Aku akan mencari tahu siapa Freya dan seluk beluknya."
"Tapi aku mau kamu tetap menjaga jarak dengan Freya. Harus! Untuk berjaga-jaga kalau memang Freya ternyata mengincarmu."
"Siap, Sayang! Tapi kali ini kita mandi bersama, ya." Evan mulai mendekat padaku. "Aku merindukanmu," ucapnya tepat di telingaku yang memang sangat sensitif.
__ADS_1
Dasar laki-laki kalau sedang ada maunya. Tapi aku juga tak akan menolak. Dan sore itu kami mandi bersama, mencoba sedikit melupakan masalah kita.
Seperti yang barusan aku bilang. Bagiku sangat mudah mencintai Evan, tetapi sangat sulit untuk membencinya.
***
Malam hari aku terbangun karena perutku tiba-tiba terasa mual. Aku langsung berlari menuju kamar mandi. Setelah merasa lega aku kembali menuju ranjang. Kepala terasa sangat pusing. Apa asam lambungku kumat?
Evan sudah dalam posisi duduk saat aku ingin kembali berbaring. Mungkin dia terbangun mendengar suaraku, saat mual-mual tadi.
"Maaf, aku membangunkanmu, ya?"
"Kamu nggak apa-apa? Mau kupanggilkan dokter?" Meski dalam cahaya remang, aku masih bisa melihat ekspresi khawatir di wajah Evan.
"Nggak perlu. Mungkin asam lambungku kumat. Atau hanya masuk angin saja."
"Ya, sudah. Besok kalau masih mual-mual kamu harus nurut kita pergi ke dokter."
Aku mengangguk saja. Kemudian berbaring dan menarik selimut. Evan menarikku ke dalam pelukannya. Semoga besok pagi sudah sembuh.
Paginya ternyata tak sesuai harapanku. Perutku masih mual, bahkan kepala lebih pusing dari yang semalam. Pandanganku sudah mulai kabur. Untung Evan sigap memapahku.
"Laras, kamu nggak apa-apa?" Ibu masuk ke kamar. Meraba dan mengelap keringat di keningku.
"Aku cuma lemas saja. Ibu jangan khawatir," ucapku berusaha menenangkannya.
"Mukamu sangat pucat. Bagaimana Ibu tidak khawatir. Evan, ayo antar Laras ke rumah sakit!"
Evan mengangkat tubuhku dan membawaku menuju mobil di garasi. Ayah menyuruh Ibu agar mengikuti kami ke rumah sakit. Beliau memang sangat perhatian.
Sesampainya di rumah sakit, aku berusaha mempertahankan kesadaran, sampai nomer urutku dipanggil. Beruntung antrian tak terlalu lama, karena hari masih terlalu pagi. Aku hanya menunggu dua nomor antrian.
"Terima kasih, Sayang." Evan berkali-kali mengecup puncak kepalaku.
"Ada apa?" tanyaku kebingungan. "Ibu kenapa menangis?" Ganti Ibu yang kini memelukku.
Tidak ada yang menjawab pertanyaanku. Mereka malah memindahkanku ke atas kursi roda. Keluar dari ruang pemeriksaan, kemudian mereka membawaku ke ruangan untuk USG.
"Selamat! Berdasarkan pemeriksaan, kehamilan ibu sudah memasuki usia 3 minggu. Minggu depan datang kembali untuk USG, ya. Karena USG baru bisa dilakukan saat usianya sudah 4 minggu."
Aku tak bisa membendung air mata yang ingin keluar saking terharunya. Setelah sekian lama di dalam perutku ada sebuah keajaiban dari Allah yang dititipkannya padaku. Terima kasih ya Allah.
Mungkin kemarin aku masih belum diberi kepercayaan, karena Allah ingin aku memperbaiki diri lebih dulu. Supaya aku bisa lebih siap, ketika anugerah-Nya itu sudah diturunkan.
"Dok, istri saya terlihat lemas dan seperti orang sakit. Apa itu wajar?" tanya Evan dengan raut cemas.
"Bapak tidak usah khawatir. Untuk kehamilan di trimester awal memang seperti itu. Bisa dikatakan morning sickness. Akan ada waktunya mereda."
"Apa saja yang bisa dilakukan, untuk mengurangi gejala itu, Dok?"
"Ini anak pertama Bapak dan Ibu? Semangat sekali, ya?" Dokter itu tersenyum melihat tingkah Evan. "Jadi Bapak harus perhatikan makanan yang dikonsumsi ibu hamil, pastikan makanan tersebut sudah dimasak sampai matang. Juga hindari minuman mengandung alkohol dan kafein. Jangan lupa minum vitamin, nanti bisa tebus di apotek, ya."
"Baik, Dok."
Setelah puas bertanya dan mendengar penjelasan dari dokter, aku dan Ibu pergi ke mobil. Sementara Evan menebus obat dan melunasi semua administrasinya.
"Kamu kenapa, Laras?" tanya Ibu saat kami sudah di dalam mobil, menunggu Evan selesai menebus obat.
"Enggak, kok, Bu. Hanya ... bagaimana dengan anak di dalam perut Lilis? Itu anak pertama Evan."
__ADS_1
"Kamu jangan berpikir yang macam-macam. Lilis sudah bahagia dengan Devan. Sekarang tinggal kamu dan Evan, perbaiki lagi diri kalian. Lilis juga pasti akan sangat bahagia mengetahui kamu sudah hamil."
"Tapi, ini seperti tidak adil. Di dalam tubuh anak yang dikandung Lilis mengalir darah Evan, tapi dia tidak akan mendapat kasih sayang dari ayah biologisnya. Itu seperti tidak adil, bukan?"
"Ini adalah sesuatu yang sangat rumit. Kasihan kalau anak kecil harus disuguhi masalah sepelik itu. Yang penting, dia tidak kekurangan kasih sayang dari Devan. Devan juga sudah menganggap anak di dalam perut Lilis seperti anak kandungnya sendiri. Jangan merumitkan sesuatu yang tidak seharusnya. Kalian akan tetap satu keluarga."
"Aku mengerti, Bu." Aku menyandarkan kepala di pundak wanita berhati malaikat yang sudah melahirkanku itu.
Aku menurut saja saat Evan meminta pulang ke rumah milik kami. Tidak pulang ke rumah ayah lagi. Sampai di rumah, Evan menjadi sangat perhatian padaku. Dia berubah 180 derajat dari sebelumnya.
Meski aku harus merasakan tak enak di seluruh badan, asal bisa mendapat perhatian dari Evan, itu sudah sangat berharga untukku. Dia bahkan memperlakukanku layaknya barang yang mudah pecah. Belum pernah selama pernikahan kami, dia bersikap seperti itu.
Aku harus istirahat total, karena badanku benar-benar terasa lelah. Terasa seperti habis berlari jarak jauh.
"Kamu berangkat saja ke kantor, meski pun ini sudah sangat telat. Jangan memberi contoh yang jelek untuk karyawan lain!" nasehatku pada Evan, ketika dia ingin ikut berbaring denganku.
Evan terlihat enggan untuk mendengarkan perintahku, tapi aku tetap harus memaksanya. Aku hanya tak ingin nama baiknya sedikit tergores, walau pun dia punya alasan kuat untuk bolos kerja.
"Sudah ada Ibu yang menemaniku di rumah," ujarku memberi pengertian padanya.
"Oke. Kalau ada apa-apa, langsung hubungi aku." Akhirnya Evan menurut juga.
Tidak lama Evan berangkat, Ibu masuk bersama dengan Mama Maya, ibu mertuaku. Wajahnya terlihat berseri-seri. Sepertinya dia sudah mendengar kabar tentang kehamilanku.
"Laras, selamat, ya. Sebentar lagi kamu akan menjadi ibu. Dan aku akan menjadi Oma," ucap Mama dengan sangat bahagia.
"Terima kasih, Ma. Kenapa Mama cepat sekali sudah tahu kabar kalau aku hamil."
"Tadi Ibu yang menghubungi dan kasih tau ke mertuamu. Kabar baik tidak boleh ditunda. Lagi pula nanti kami bisa bergantian menemanimu di rumah." Ibu yang menjawab pertanyaanku.
"Bagaimanapun itu juga cucuku. Wah! Senangnya punya dua cucu. Eh!" Mama langsung menutup mulutnya sendiri, sambil melirikku canggung.
Aku hanya menanggapinya tersenyum. "Enggak apa-apa, Ma. Mau itu anak dari Evan atau dari Devan, keponakan juga akan kuanggap seperti anak kandungku sendiri."
"Alhamdulillah, kamu sudah berubah."
"Terima kasih, Ma. Ini semua juga berkat Mama dan Ibu. Kalian banyak memberiku nasehat, dan membuatku membuka hati."
"Tetap menjadi Laras yang seperti ini, ya." Mama membawaku ke dalam pelukannya.
Salah satu poin berharga dari ini semua adalah aku bisa akrab dengan Mama mertua. Tidak ada lirikan sinis yang kudapat dari Mama mertuaku lagi. Akur layaknya ibu dan anak kandung sendiri. Mempunyai mertua yang baik itu lebih berharga dari pada emas.
Sore hari, Evan pulang bersama dengan Kak Elan dan Papa mertua. Ayah sudah lebih dulu datang sebelum mereka. Mereka bergantian memberikan ucapan selamat, dan menanyakan kondisiku.
"Kak Elan tidak bersama dengan Freya?" tanyaku pada Kakak Ipar.
"Siapa Freya?" Mama bertanya kebingungan.
"Mama tidak kenal Freya? Aku pikir Kak Elan sudah memperkenalkan Freya pada Mama dan Papa," tanggap Evan.
"Itu ...." Kak Elan menggaruk kepalanya yang kuyakini pasti tidak gatal.
"Kamu sedang dekat dengan seorang perempuan dan tidak mengenalkan pada kami?" Mama menatap tajam Kak Elan, dan membuat dia semakin salah tingkah.
"Mama sudah susah payah mencarikan wanita untukmu. Bahkan kamu menolak sebelum melihat biodatanya. Sekarang kamu sudah punya kekasih, tapi malah tidak dikenalkan ke kami? Kamu mau Mama kutuk?"
"Jangan, Ma! Kapan-kapan sajalah aku kenalkan kepada kalian.," mohon Kak Elan pada Mama.
Kak Elan seperti tidak bersemangat saat bercerita tentang Freya. Apa Kak Elan dan Freya sedang ada masalah?
__ADS_1