Adik Ipar Malang

Adik Ipar Malang
bab 29 Mbok Urip Dijambret


__ADS_3

Adik Ipar Malang


Bab 29 Mbok Urip Dijambret


Pov Lilis


"Kenapa nggak dilanjutkan, Kak?"


"Ini sudah cukup untukku."


Bohong! Aku tahu dia sangat menginginkannya. Dilihat dari nafasnya yang memburu, bahkan matanya sudah tertutup kabut nafs*.


Kak Devan bangkit dari atas tubuhku mendudukkan dirinya di sebelahku. Terlihat sedang berusaha menetralkan nafasnya. Aku pun ikut mengubah posisiku, yang tadinya setengah berbaring menjadi duduk. Memandangnya dengan lekat. Pakaianku saja masih lengkap, tak kusut sama sekali.


"Kamu sekarang istirahat, ya," kilahnya berusaha mengalihkan pikiranku. Membalikkan badan, kemudian dia ingin beranjak. Sebelum dia menuruni ranjang, aku sudah lebih dulu mencegahnya.


"Jujur saja Kakak jij*k dengan tubuhku, kan?" cercaku padanya.


"Kamu jangan berpikir yang tidak-tidak. Ini hanya waktunya saja yang belum tepat. Kamu membalas cintaku saja sudah lebih dari cukup untukku."


Diusapnya kedua pipiku dengan lembut, lantas mencium keningku. Aku dapat merasakan ketulusan dalam ciumannya.


"Kakak bohong. Aku bukan anak kecil lagi, Kak." Aku memukul dadanya sedikit kencang. Kak Devan hanya diam saja, kemudian langsung memelukku.


"Maaf. Aku berusaha menahannya selama ini, karena memang belum dibolehkan, Sayang. Tunggu kamu sudah melahirkan, ya. Sampai kita sudah sah di mata agama dan negara."


Aku menangis terharu dengan sikapnya padaku. Ternyata aku yang kurang pemahaman tentang agama. Lagi-lagi aku merasa sangat beruntung memiliki suami sepertinya. Dia masih berusaha menahan hasratnya.


'Ya Allah, aku mohon. Jangan pisahkan aku darinya, kecuali Kau berkehendak mencabut nyawa di antara kami berdua.'


"Sudah ngambeknya?" tanyanya sambil melepas pelukan kami.


Aku hanya diam saja, tersenyum malu sambil mengusap air mata dengan punggung tangan. Ini yang membuatku semakin hari semakin jatuh cinta padanya.


"Ya, sudah. Sekarang kamu istirahat," ucapnya sambil berusaha membaringkan tubuhku. Saat Kak Devan mau beranjak, aku menarik tangannya dan langsung menempelkan bibirku pada bibirnya selama beberapa tiga detik.


"Kalau hanya seperti ini boleh, kan?"


Kak Devan terkekeh kecil. "Dasar bocah!" ucapnya sambil mengusap puncak kepalaku.


Akhirnya kami tidur sambil berpelukan, tapi tetap dalam jarak aman, agar perutku tak tertekan. Saling menyalurkan kasih sayang, tanpa ada nafs*. Mungkin saja bisa berlanjut di dalam mimpi.


***


Pagi harinya, setelah Kak Devan dan Papa berangkat ke kantor, aku ke kebun untuk menyiram tanaman. Mama sedang pergi untuk bertemu teman lamanya. Sepertinya acara kumpul perempuan sosialita.


"Non Lilis." Mbok Urip datang dari arah pintu belakang dapur menuju kebun yang tanamannya sedang aku siram.


"Sebentar, Mbok?" Aku meletakkan selang air, kemudian berjalan untuk mematikan keran. "Ada apa?"


"Mbok mau ke pasar. Nyonya Desi, kan, sedang pergi, di rumah hanya ada si Tejo. Mbok cuma mau berpesan, kalau butuh apa-apa tinggal panggil saja Tejo."


"Mbok, pasarnya dekat apa jauh?" tanyaku antusias. Sepertinya asik bisa ke pasar, sekalian jalan-jalan.


"Nggak jauh, kok, Non. Naik angkutan satu kali juga sudah sampai."


"Aku ikut, ya Mbok."

__ADS_1


"Jangan, Non. Nanti dimarahi Den Devan. Apa lagi harus naik angkutan umum," larangnya dengan raut wajah khawatir.


"Enggak, lah, Mbok. Kita naik taksi online, ya. Nanti aku minta ijin dulu sama Kak Devan." Aku berusaha menenangkan Mbok Urip.


"Ya, sudah. Mbok ikut apa kata Non Lilis aja. Sekarang Mbok mau ambil keranjang buat bawa sayurnya, sekalian pamit sama Tejo."


"Iya, Mbok. Aku juga sekalian siap-siap."


Aku menghubungi Kak Devan untuk meminta ijin ikut ke pasar bersama Mbok Urip. Meski harus dengan perjuangan dalam membujuknya, akhirnya ijin sudah kudapatkan.


Dengan memakai setelan baju dan celana hamil, perutku sudah terlihat membuncit. Tak lupa tas kecil aku selempangkan di bahu. Aku langsung memanggil Mbok Urip untuk segera keluar rumah, karena taksi online-nya sudah menunggu di depan.


Setelah menempuh kurang lebih lima belas menit, taksi online yang kita tumpangi berhenti tepat di depan pintu masuk pasar. Pasarnya lumayan bersih, bahkan lantainya sudah di keramik. Tak seperti di daerahku, di sana masih berlantai tanah. Kalau hujan akan sangat becek.


Aku jadi rindu ibu. Biasanya di hari libur dia akan memintaku untuk menemaninya ke pasar. Aku akan diajari cara memilih sayuran dan ikan yang masih segar itu seperti apa.


Kadang aku juga pura-pura nggak kenal sama ibu, kalau mode emak-emak nawarnya sudah keluar. Ibu yang nawar harga, tapi aku yang malu. Kalau kata Sindy, bukan emak-emak namanya kalau enggak nawar.


Semua sayuran dan daging sudah dibeli untuk persediaan tiga hari ke depan. Mbok Urip mengajakku untuk langsung pulang. Aku memesan taksi online untuk menunggu sedikit jauh dari pasar, karena ingin sedikit berjalan-jalan dan melihat ada kios apa saja yang ada di pinggir jalan raya.


Saat sedang berjalan, tiba-tiba ada yang menarik dompet Mbok Urip, karena dia hanya menyelipkan dompetnya di lipatan ketiaknya. Secara reflek aku dan Mbok Urip langsung berteriak.


"Jambret! Tolong! Ada jambret!"


Semua orang langsung melihat ke arahku. Ada yang langsung berlari mengejar jambret, ada yang ikutan berteriak, ada yang mengerubungiku dan Mbok Urip.


"Di mana jambretnya?" tanya orang-orang itu pada kami berdua.


"Itu dia lari ke sana!" telunjukku mengarah ke mana penjambret itu pergi.


*


"Sabar, Mbok. Para warga sedang mengejarnya. Semoga dompet Mbok segera kembali."


"Di dalam dompet itu, selain ada uang belanja dari nyonya, juga ada foto anak Mbok yang sudah meninggal. Itu kenangan yang Mbok punya, Non."


Ya Allah. Kasihan sekali Mbok Urip. Aku baru tahu kalau anaknya sudah meninggal. Pantas dia tak pernah bercerita tentang anaknya selama aku tinggal di sini.


"Lebih baik kita susul mereka. Ayo, kita ke sana, Mbok! Semoga mereka sudah berhasil menangkap jambretnya."


Aku menuntun Mbok Urip, berjalan dengan cepat, mengikuti ke mana para warga mengejar jambretnya. Sampai tidak berapa lama kami berjalan, di depan sana ada kerumunan. Seperti sedang mengerubungi sesuatu. Jangan-jangan itu orangnya sudah tertangkap.


Aku dan Mbok Urip berjalan semakin cepat agar bisa melihat lebih jelas apa yang terjadi di sana. Sepertinya memang benar, pelakunya sudah ditangkap. Bahkan masa sedang mengeroyoknya. Saking banyaknya warga yang berkerumun aku sampai tak bisa melihat seperti apa rupa wajahnya.


"Ada apa ini? Bubar semua!"


Tiba-tiba ada seorang bapak-bapak datang dengan tergesa-gesa menuju kerumunan. Anehnya para masa yang main hakim sendiri itu langsung menurutinya. Warga melepaskan penjambret itu, dan membiarkannya tergeletak di tanah.


Aku beristighfar sambil menutup mulut, ketika melihat rupa orang yang mengambil dompet Mbok Urip. Ternyanya seorang laki-laki tua. Bisa dikatakan kakek-kakek dengan usia sekitar lima puluh tahun ke atas.


Bagaimana bisa warga begitu tega mengh*jar lelaki tua itu, meski dia sudah bersalah. Aku berjalan mendekatinya, masih berjarak tiga meter darinya. Wajahnya babak belur dengan warna biru ke unguan. Bahkan ada darah keluar dari bibir dan hidungnya.


"Maaf, Mbak. Jangan mendekat. Ini berbahaya." Bapak-bapak yang tadi melerai warga merentangkan sebelah tangannya padaku.


"Bapak siapa?" tanyaku sopan.


"Saya Tono. Kepala keamanan sekaligus penanggung jawab di pasar sini," terangnya padaku. Pantas saja warga tadi langsung menuruti perintahnya.

__ADS_1


"Saya Lilis, kerabat dari orang yang dompetnya dijambret oleh Bapak ini. Itu korbannya," tunjukku pada Mbok Urip. Mbok Urip masih sesenggukan dengan tubuh sedikit bergetar.


"Oh, begitu. Kami akan membawa orang ini ke kantor polisi, untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya di sana."


"Tunggu, Pak! Saya ingin berbicara dengannya. Ada yang ingin saya tanyakan."


"Silakan kalau begitu."


"Tapi, bisakah Bapak membubarkan warga dulu? Saya takut mereka kembali menyakiti Bapak ini lagi."


Pak Tono pun menyanggupi permintaanku. Dia membubarkan para warga yang tadi main hakim sendiri. Mereka menuruti perintah dari penanggung jawab pasar itu, meski harus diiringi dengan sorakan. Masih ada beberapa warga yang memperhatikan kami, meski dari jarak jauh.


Sebelumnya, aku meminta tolong pada Pak Tono dan anak buahnya untuk memindahkan pelaku itu ke tempat yang sedikit nyaman. Kini kami berada di depan kios yang masih tutup karena belum ada penyewanya.


Aku memberikan air minum padanya, kemudian menanyakan banyak pertanyaan. Dari siapa namanya, tempat tinggalnya, alasan kenapa dia melakukan kejahatan seperti itu. Aku yakin dari tampangnya, kalau dia bukan orang jahat. Kalau memang dia sudah biasa melakukan pekerjaan kotor ini, pasti dia tidak akan mudah tertangkap.


"Nama saya Sugeng. Ampuni saya, Mbak. Saya nekat melakukan ini demi cucu saya. Dia sedang sakit. Cucu saya ditinggalkan oleh kedua orang tuanya entah ke mana. Kalau aku sampai di penjara, siapa yang akan merawatnya nanti? Dia masih berusia sepuluh tahun."


"Cucunya sakit apa, Pak?"


"Dia demam sudah tiga hari. Sudah saya belikan obat warung, panasnya belum turun sampai sekarang. Saya ingin membawanya ke rumah sakit, tapi saya tak punya biayanya."


Aku merogoh tas kecilku. Untungnya ada sedikit uang tunai di dalam tasku.


"Ini," ucapku seraya menyerahkan enam lembar uang lima puluh ribuan ke telapak tangan bapak itu. "Semoga dapat membantu cucunya yang sedang sakit," lanjutku.


"Terima kasih, Mbak. Terima kasih banyak. Maafkan saya sudah menjambret dompet saudara Mbak." Dia langsung menangis sambil bersujud di kakiku.


Aku berusaha menyuruhnya untuk berdiri. Tetapi sangat sulit, karena aku tak bisa menunduk, terhalang perutku. Aku melirik Pak Tono. Syukurnya dia paham, dia langsung menyuruh anak buahnya untuk membantu Pak Sugeng berdiri.


"Sama-sama, Pak. Semoga cucunya cepat sembuh, ya."


"Sudah, kan, Mba. Kalau sudah, saya akan mengantar Pak Sugeng pulang. Sekalian melihat kebenarannya, cucunya sakit atau tidak."


"Silakan, Pak. Tapi tolong jangan kasar, ya."


Setelah Pak Tono dan anak buahnya mengantar Pak Sugeng pulang, tiba-tiba ada yang mendatangi Mbok Urip serta mengembalikan dompetnya. Aku bergegas mendekati mereka.


"Terima kasih, Tuan sudah mengembalikan dompet milik Mbok Urip." Aku berucap dengan sangat lega.


"Sama-sama."


Aku terkejut, ternyata dia orang yang sama, yang menolongku dari jatuhnya kotak susu ibu hamil sewaktu di supermarket.


"Oppa." Oops, aku keceplosan lagi. "Tuan, kita bertemu lagi di sini. Sekali lagi saya mengucapkan terima kasih banyak."


Dia hanya tersenyum manis. Andai tak ingat suami sedang mencari nafkah, sudah meleleh tubuhku melihat senyumnya.


"Boleh saya tahu nama Anda, Tuan? Sepertinya kurang sopan kalau saya tidak tahu nama penolong kami."


Dia menyodorkan sebuah kartu nama berwarna hitam-gold. Sangat elegan, khas orang-orang kelas atas. Tapi, sedang apa orang kaya sepertinya di pasar seperti ini?


"Saya permisi dulu. Kamu bisa hubungi nomor yang ada di dalam kartu itu." Kemudian dia pergi, tak lupa memberikan senyum manis padaku dan Mbok Urip. Astaga, aku takut diabetes.


Di dalam kartu itu hanya ada nama dan nomor telfon saja. Aku membaca nama yang tertera di kartu itu. "Fero Sukmajaya."


 

__ADS_1


__ADS_2