
Adik Ipar Malang
Bab 25 Memberi Izin Sekolah
POV Lilis
"Kamu tahu kenapa Mama dan Papa menitipkan Devan di rumahmu dulu?"
"Karena Mama dan Papa nggak sanggup untuk mengubah sikap Kak Devan yang seperti berandalan?" jawabku sekenanya.
"Lebih tepatnya bukan itu. Dulu kami salah mendidik Devan. Devan terlalu dituntut untuk melakukan sesuai kehendak kami. Karena dia anak tunggal dan pewaris satu-satunya di keluarga ini." Mama berhenti sejenak untuk mengambil napas.
"Mungkin dia merasa tertekan, sehingga dia mulai memberontak. Menjadi anak yang suka berantem di sekolah, tawuran, dan bersikap semaunya sendiri saat tak berada di rumah," sambung Mama lagi.
Mata Mama mulai berkaca-kaca. Aku coba menyalurkan kekuatan dengan mengusap tangan Mama. Diriku masih diam saja, memberikan Mama waktu untuk melanjutkan ceritanya.
"Bukannya Mama tak ingin mendidik Devan dengan tangan Mama sendiri, tapi di sisi lain Papa juga sedang mengalami masalah dengan perusahaan, saat itu. Mama harus berada di samping Papa untuk memberikan semangat. Yang lebih utama adalah menjauhkan Papa dari wanita-wanita genit yang mencoba mendekatinya. Berkedok ingin membantu perusahaan, nyatanya ingin menjerat suamiku juga." Saat mengucap kalimat terakhir, Mama mengepalkan telapak tangannya. Sorot matanya seperti ada kebencian yang membara.
"Mama bahkan sampai tak menuruti permintaan Devan yang menginginkan adik untuk menemaninya bermain. Mama takut kalau setelah melahirkan, Papa akan berpaling ke wanita lain karena bentuk tubuh Mama yang berubah." Kini matanya sudah mengeluarkan muatan yang sedari tadi menggantung.
Sepertinya ada cerita lagi tentang wanita genit. Tapi biarlah, bukan urusanku juga. Sepersekian detik, wajah Mama kembali normal dengan cepat dan tersenyum kepadaku.
"Ayahmu selalu memberi tahu kami perkembangan Devan di sana. Dari situ Mama dan Papa juga mulai mengevaluasi bagaimana sikap kami selama mendidik Devan. Semuanya ditebus saat Devan kuliah. Meski dia berada jauh, tapi Devan tak pernah lupa memberi kabar pada kami, dan perusahaan mulai berangsur-angsur membaik."
"Syukur Alhamdulillah, ya, Ma. Semua sudah terlewati. Di setiap cobaan yang Allah kasih, pasti akan ada jalan keluarnya. Mama termasuk salah satu wanita hebat yang mampu melewati cobaan itu," kataku sambil mengusap pundaknya. Mama menyeka air mata di pipinya, dengan senyum yang lega.
"Emm, Ma. Tadi kata Mama nggak mau aku menjadi menantu Mama. Apa Mama merasa tak enak pada ayahku?"
"Ini bukan tentang balas budi. Mama bukan orang yang rela menukar anak demi hutang budi." Mama menggeleng dengan kencang.
Aku jadi merasa tak enak pada Mama karena sudah salah bicara. Seharusnya aku tak bicara seperti itu. Tentu saja Mama pasti tersinggung.
"Mama nggak mau mengulang kesalahan yang sama, mengatur kehidupan Devan lagi dan lagi. Mama yakin, sebelum Devan menentukan pilihan, pasti dia sudah memikirkan jauh ke depan. Meski pun kamu jauh lebih muda darinya, kalau menurut Devan kamu yang tepat untuknya, Mama percaya itu. Jadi, jangan sia-siakan kepercayaan Mama."
Sekarang giliran aku yang terharu. Aku tak menyangka sebesar itu perasaan Kak Devan padaku.
"Menjadi istri dari pengusaha kaya dan tampan itu berat. Banyak pelakor yang mengincar, baik di dalam maupun di luar perusahaan. Seperti papa. Untung saja iman papa termasuk kuat," nasihat Mama padaku.
Nada bicara Mama berubah menjadi semangat. Bukan seperti Mama yang melow seperti tadi. Unik sekali mertuaku ini.
"Pelakor?" beoku. Untung aku sering disuruh nemenin ibu nonton sinetron ikan terbang. Jadi sudah familiar dengan kata pelakor.
"Iya. Anak Mama itu tampan. Sebelum menikah sama kamu, Devan jadi bujangan yang dicari tante-tante untuk dijadikan menantu. Makanya nanti kamu Mama bimbing, supaya bisa menjaga Devan dari pelakor di luar sana," ucap Mama dengan bangga sambil menepuk dada.
"Iya, Ma. Aku akan menjaga Kak Devan." Aku menjawab dengan tertawa kecil. Ada-ada saja mertuaku ini. Kami melanjutkan pekerjaan membongkar oleh-oleh yang belum dibuka.
"Terima kasih, Ma. Sudah mau menerimaku yang tidak sempurna ini menjadi menantumu." Mama membawaku dalam pelukannya ketika kami sudah selesai membongkar semua hadiah dari Mama.
"Wah, ada yang sedang asik berpelukan. Tega sekali aku tak di ajak." Tiba-tiba suara Kak Devan terdengar dari arah belakang kami.
__ADS_1
"Ngapain ikut. Tiap malam juga kamu pasti meluk mantu Mama terus, kan. Gantian Mama, dong," canda Mama sambil melepas pelukan kami.
Aku menunduk malu. Memang kami tidur di kamar dan ranjang yang sama. Hanya saja, masih ada guling di antara kita. Dia sama sekali tak pernah meminta haknya sebagai suami.
Kak Devan sendiri juga salah tingkah. Dia mengusap kepala bagian belakangnya.
"Peluk bertiga boleh, dong. Kalian berdua ini wanita yang paling aku cintai di dunia ini."
"Ih, nggak mau. Mama mau peluk Papa aja." Mama menghindar, jadinya hanya aku yang dipeluk oleh Kak Devan. Kemudian berjalan keluar dari kamar.
"Kamu sudah lega sekarang?" tanya Kak Devan dengan posisi masih memelukku dari belakang. "Mama dan papa menerima kamu jadi menantu di rumah ini. Jadi, jangan merasa tidak nyaman lagi, ya."
Aku mengangguk dengan bahagia. Orang tua Kak Devan mau menerimaku yang tidak sempurna ini menjadi menantu mereka.
*****
Sekarang aku mulai bisa memadukan pakaian kantor Kak Devan. Suamiku itu lebih suka memakai pakaian semi formal dan kasual, kecuali kalau akan bertemu dengan klien. Kalau cuaca dingin sweater dengan bahan rajut yang akan menjadi alternatifnya.
Hari ini aku menyiapkan atasan kemeja lengan panjang, celana jogger dan sepatu sneakers untuknya. Tak lupa blazer sebagai outer kalau ada meeting mendadak. Sesuai dengan gayanya Kak Devan, smart casual.
"Di mana pakaian kantorku, Sayang?" tanya Kak Devan saat aku sedang menata pakaiannya di atas kasur.
"Ini, Kak. Arghh!" Aku terkejut saat membalikkan badan, Kak Devan berdiri hanya dengan handuk melilit di pinggangnya.
"Pakai bajunya, Kak!" perintahku dengan mengalihkan pandangan ke arah lain.
Jangan tanya wajahku ini, sudah sangat panas. Pagi-pagi sudah dikasih pemandangan roti sobek. Sayang sekali tak bisa dimakan.
Tak menghiraukan pertanyaannya, langsung saja kuberikan pakaian padanya. Kemudian berjalan ke lemari untuk mengambil kaos kaki. Terdengar suara pintu kamar mandi tertutup. Aku menghembuskan nafas lega.
"Hari ini kamu ada kegiatan apa?" tanya Kak Devan saat dia sedang memakai sepatu.
"Mama mengajak menanam bunga anggrek warna baru di greenhouse," jawabku sambil meletakkan handuk kembali pada tempatnya.
"Setelah itu?"
Aku menggeleng. "Mungkin aku bisa bantu mbok Urip bersih-bersih rumah. Sekalian meringankan pekerjaannya," jawabku sambil merapikan kerah kemejanya.
"Jangan sampai kelelahan. Ingat dede bayi." Kak Devan mengusap perutku dengan lembut. "Apa kamu mau jalan-jalan ke mall. Belanja mungkin?"
Aku menggeleng lagi. "Oleh-oleh dari mama kemarin saja masih banyak yang belum dipakai. Lagi pula jalan-jalan juga pasti capai, Kak."
"Apa kamu nggak bosan di rumah terus?"
Sudah pasti jawabannya sangat bosan. Biasanya pagi-pagi aku sudah rapi dengan seragam sekolah. Pulang sekolah akan sibuk mengerjakan tugas dari sekolah dan belajar. Seminggu dua kali akan pulang agak sore karena ikut ekstrakulikuler.
Aku merindukan sekolah, teman-teman, guru dan tugas sekolah yang akan disalin teman-teman satu kelas. Sekarang semuanya berubah 180 derajat.
"Kamu masih ingin sekolah?" tanyanya dengan serius. Bagaimana bisa tahu apa yang sedang aku pikirkan.
__ADS_1
Tentu saja sangat ingin sekolah lagi. Tapi, aku sadar dengan posisiku sendiri. Semua yang dilakukan Kak Devan untukku dan keluarga, sudah sangat besar.
"Apa aku masih bisa sekolah?" tanyaku dengan lirih.
"Tentu saja masih bisa."
"Maksudnya?" Aku mengernyit dengan perkataan suamiku itu.
Kak Devan memegang kedua pipiku. "Home schooling, Sayang. Kamu bisa melanjutkan sekolah di rumah saja, tapi setelah kamu melahirkan, ya. Aku nggak mau kamu tertekan karena memikirkan pelajaran. Ibu hamil nggak boleh stress."
"Benarkah, Kak?" tanyaku dengan terharu. Semangat untuk meraih cita-cita yang tadinya surut kini kembali naik.
"Apa, sih, yang nggak untuk istriku tersayang," jawab Kak Devan sambil mencolek hidungku dengan telunjuknya.
Aku langsung memeluk Kak Devan. Aku tak menyangka dia sangat peduli pendidikanku. Masih bisa merasakan pendidikan, meski harus home schooling. Ini sangat lebih dari cukup dengan apa yang sudah dia berikan untukku.
"Kenapa?" tanyaku dengan air mata yang sudah mengalir di pipi. Aku benar-benar sedang mode sensitif dan merasa terharu.
"Apanya yang kenapa?" Kak Devan menghapus air mataku dengan ibu jarinya.
"Kenapa Kakak masih mengijinkanku untuk sekolah?"
"Supaya kamu bisa menggapai cita-citamu."
"Cita-citaku adalah menjadi seorang guru. Mengingat reputasiku yang buruk, apa mungkin masih bisa diterima menjadi guru? Hamil di usia remaja, itu bukan contoh yang baik untuk anak didikku kelak. Lebih baik aku tak perlu sekolah tinggi-tinggi, Kak." Aku berbicara dengan sesenggukan.
"Kenapa kamu menjadi pesimis? Kemari, dengarkan aku!"
Kak Devan mengajakku duduk di atas kasur saling bersisian. Dia menggenggam tanganku dengan lembut. Mata kami saling bertatapan. Dapat kulihat kasih sayang tersorot dari bola matanya.
"Kamu sebentar lagi akan menjadi seorang ibu. Ibu adalah madrasah pertama bagi seorang anak. Kamu yang akan mendidik anak kita dengan adab dan etika sebelum memasuki sekolah." Kak Devan menarik nafas, kemudian melanjutkan lagi.
"Saat anak bertanya banyak hal, apa kamu akan menjawabnya dengan asal-asalan? Bagaimana kalau jawaban darimu malah keliru, yang berakibat tidak baik untuk anak kita dan sekitarnya?"
Aku menggeleng dengan kencang. Jangan sampai anakku mendapat pendidikan yang salah dariku.
"Tidak apa-apa kamu tidak jadi guru di sekolah. Tetapi, kamu bisa jadi guru untuk anak kita kelak. Anak-anak pasti bangga memiliki ibu yang cerdas dan berwawasan luas seperti kamu. Apa lagi ditambah sholeha."
Beruntung sekali aku memiliki suami sepertinya. Bahkan dia memikirkan masa depan anak di dalam perutku. Mau menganggap janin di dalam perutku seperti anaknya sendiri.
Aku kembali menangis lagi saking terharunya. Kali ini sedikit kencang, karena tak bisa mengontrol emosi trenyuh ini.
"Kenapa menangis lagi? Aduh! Ibu hamil itu cengeng atau mudah tersentuh, sih?" Kak Devan mengusap belakang kepalanya dengan raut wajah bingung.
Aku mencubit pinggangnya dengan gemas. Sedang dia malah berteriak kesakitan sambil tertawa.
"Terima kasih, Kak. Terima kasih untuk semuanya. Semoga aku bisa membalas kebaikanmu, dengan menjadi istri yang sholeha untukmu."
"Aamiin. Ya, sudah. Ayo kita sarapan! Papa dan mama pasti sudah menunggu di meja makan."
__ADS_1
Aku menghapus air mata. Kemudian mengambil tas kerja suamiku. Sedang Kak Devan menenteng blazer di tangan kiri. Tangan kanannya digunakan untuk merangkul bahuku. Kami bergegas menuju meja makan, takut mereka menunggu terlalu lama.