Adik Ipar Malang

Adik Ipar Malang
bab 52 Sepanjang Perjalanan


__ADS_3

Adik Ipar Malang


Bab 52 Sepanjang Perjalanan


Keheningan menjadi teman perjalanan selama menuju kantor. Siska merasa seperti hanya dirinya yang berada di dalam mobil, tanpa ada orang lain. Sesekali gadis itu menggerakkan bola matanya untuk melirik sang pengemudi, sekaligus calon bos di tempatnya bekerja.


Evan sendiri biasa saja. Dia merasa ada atau tidaknya Siska bukan masalah baginya. Asal tidak mengganggu hubungannya dengan Laras, dia tidak akan melakukan apa pun pada Siska. Tapi Evan yakin kalau Siska tidak akan melakukan itu, karena dia sudah tahu harus berpihak kepada siapa.


Khem!!


Siska berdehem untuk menghilangkan kecanggungan, tapi Evan sama sekali tidak menghiraukannya. Melihat tidak ada reaksi dari Evan, Siska terpaksa harus bicara langsung saja.


"Tuan!" panggil Siska.


Evan masih diam saja. Di pendengarannya, suara Siska seperti dengungan lalat. Evan sangat suka ketenangan, kecuali itu Lilis. Tapi itu dulu, sekarang dia harus mengubur nama Lilis dan belajar menggantinya dengan nama Laras. 


"Tuan Evan, maafkan aku. Karena aku, Anda harus mengantar saya juga."


"Hm." Hanya itu jawaban Evan. 


Bagi orang yang kenal dengan Evan, itu tandanya dia merasa biasa-biasa saja, tidak ada masalah. Tapi berbeda dengan Siska yang baru bertemu dengan Evan. Dia menganggap kalau Evan itu sedikit tidak suka dengannya.


"Kalau begitu, aku turun di sini saja."


Evan mengernyit mendengarnya. Melihat Siska dari ekor matanya, Evan sedikit kesal. Menghela nafas sebelum berkata, "Apa maksudmu?"


"Tuan merasa tidak nyaman bukan, aku ada di sini?" tanya Siska ragu-ragu.


"Berdasarkan apa aku tidak nyaman?"


"Tuan diam saja." Dalam hati Siska, selain diam saja, apa Evan tidak punya ekspresi lain selain ekspresi datar?


"Aku memang seperti ini. Lebih baik diam. Aku tidak suka kebisingan."


Siska merasa kalau perkataan Evan terdengar seperti dia tidak keberatan, tapi tetap saja dia merasa tak enak. Siska berpikir mungkin Evan orang yang kaku, dingin, dan stay cool. Untuk yang terakhir itu, sepertinya memang kenyataan.


"Tapi–"


"Kita satu arah dan bekerja di tempat yang sama. Apa itu sudah cukup? Sekarang biarkan aku konsentrasi untuk mengemudi."


Siska menganggukkan kepalanya patuh. Dari pada kena semprot lagi.


Diam-diam Siska mencuri pandang wajah Evan. Wajah yang tampan, matanya tajam, wajah tirus dengan rahang yang tegas. Jangan lupakan suara bariton yang mampu menggoda kaum perempuan. Seandainya dia seorang casanova, entah berapa banyak perempuan yang dengan suka rela berada di bawahnya.


Siska tidak tahu saja kalau Evan dulunya memang seorang casanova.


Tidak lama kemudian Evan menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Siska merasa kebingungan.


"Kenapa berhenti?"

__ADS_1


"Turun! Kamu tinggal berjalan lurus sepuluh meter dari sini. Sudah paham bukan?"


"Oh. Iya."


"Jangan sampai terlambat!"


Siska bergegas keluar dari mobil Evan setelah mengucapkan terima kasih. Kemudian melihat mobil Evan yang melaju perlahan meninggalkan dirinya. Siska memerhatikan sekeliling sebelum berjalan menuju kantor, mengangkat kepalan tangannya ke atas.


"Semangat Siska!"


**********


Lilis dan Devan bersiap untuk melakukan perjalanan kembali ke kediaman Devan, yang sekarang menjadi kediaman Lilis juga. Mereka berdua berpamitan kepada pak Arifin dan bu Ratna. 


"Kalian hati-hati di jalan! Hubungi kami kalau ada apa-apa, dan juga kalau kalian sudah sampai."


Pak Arifin memeluk Devan, kemudian mengarahkan mulutnya di dekat telinga menantunya itu. "Kamu berhutang satu cerita padaku, tapi aku tahu kalian pasti mampu menyelesaikan masalah ini. Tolong jangan sampai terjadi apa-apa pada Lilis!"


"Aku mengerti, Ayah."


Bu Ratna dan Lilis memandangi mertua dan menantu itu dengan heran. Apalagi yang sedang mereka ributkan? Selalu saja seperti itu. Dekat bertengkar, jauh saling rindu.


Selesai berpamitan, Devan dan Lilis memasuki mobil yang biasa dipakai Devan untuk ke kantor. Mobil itu datang semalam, yang dibawa oleh supir kantor. Devan menghubunginya kemarin saat masih berada di rumah Evan.


Di dalam mobil, Lilis duduk sambil bersandar di bahu Devan. Kehamilan yang semakin besar membuat badannya menjadi cepat lelah. Apalagi bagian pinggang, itu sering terasa sakit dan pegal.


Tiba-tiba dia teringat saat tercebur ke dalam kolam renang.


"Ya." Devan menundukkan kepalanya.


"Aku masih penasaran dengan orang yang sudah mendorongku ke kolam renang sewaktu di Bali. Apa kakak coba mencari tahu tentang ini?" tanya Lilis tanpa mendongakkan kepalanya. Telunjuknya memainkan kancing kemeja Devan.


Wajah Devan menjadi datar. 


Lilis bisa melihat perubahan suasana dari wajah Devan. Pasti rasa penyesalan itu datang lagi. Buru-buru Lilis mengubah topik pembicaraan.


"Lupakan saja. Mungkin karena aku sedang hamil besar, makanya jadi agak sensitif."


"Maafkan aku "


"Enggak apa-apa, Kak." Lilis menyusupkan kelima jarinya di sela-sela jemari Devan. Memberikan senyum menenangkan.


Melihat senyuman Lilis, Devan mengeratkan genggaman tangan mereka berdua. Ukuran telapak tangan Lilis yang mungil, seakan-akan memang diciptakan pas untuknya.


Setelah Devan tenang Lilis memilih menikmati perjalanannya dengan melihat ke luar kaca. Sedang Devan sendiri diam-diam mengirim pesan pada salah satu orang kepercayaannya untuk segera mencari di mana keberadaan Freya dan Fero.


*************


Sudah hampir dua mingguan Siska bekerja di kantor Pak Rifan sebagai office girl. Siska merasa cukup bahagia. Gengsi bukan masalah baginya. Dia punya gaji dan pekerjaan yang halal. Harapannya sederhana, semoga bisa membahagiakan ibunya ke depan. 

__ADS_1


Di kantor semua karyawan tidak ada yang tahu kalau Siska tinggal bersama dengan bos mereka. Siska juga tidak ingin mengeksposnya, takut menimbulkan rasa iri dan malah menjadi masalah kedepannya.


Setelah hari pertama berangkat kerja bersama dengan Evan, hari kedua dan seterusnya, dia berangkat lebih pagi menggunakan kendaraan umum. 


Setelah Siska berangkat kerja, Bi Tirah menghampiri Bu Maya. Dia ingin membatalkan pengobatannya. Semalam Bu Maya bilang kalau ingin membiayai pengobatan Bi Tirah, sampai sembuh.


"Bi, ayo kita segera berangkat!" ajak Bu Maya. Harusnya sekarang mereka berangkat ke rumah sakit untuk memeriksakan kondisi Bi Tirah. Serta mencari tahu pengobatan apa yang cocok untuknya.


"Bu, sebaiknya, kita enggak usah berangkat."


"Loh! Kenapa memangnya?" tanya Bu Maya dengan heran.


"Kalau boleh, saya hanya ingin menitipkan Siska saja kepada Bu Maya. Biarkan saja saya menikmati apa yang diberikan Allah ini, sebagai usaha saya lebih mendekatkan diri pada-Nya."


"Bi Tirah ini ngomong apa sih? Siska pasti sedih."


"Bukan apa-apa, Bu. Saya selama ini masih tetap waras dan bertahan hidup demi Siska, supaya Siska tidak kesepian hidup di dunia ini sendiri. Apalagi, bapaknya sama sekali enggak peduli. Seandainya ada orang baik di sisi Siska, itu sudah cukup membuat saya tenang."


"Bibi harus tetap bertahan juga demi Siska."


"Saya sebenarnya sudah enggak kuat, Bu. Saya rindu orang tua saya. Saya mohon! Saya titip Siska, ya, Bu."


"Baiklah kalau begitu. Saya pasti menjaga Siska seperti menjaga anak saya sendiri. Siska anak yang baik dan menyenangkan. Sekarang Bibi berjemur saja di taman. Jam-jam seperti ini, bagus untuk berjemur." Bu Maya mendorong kursi roda Bi Tirah menuju taman.


Dalam hati Bi Tirah merasa beruntung, karena Siska tidak tahu mengenai kedua majikannya yang ingin membiayai pengobatannya hingga sembuh. Sehingga Bi Tirah tidak perlu repot-repot menjelaskan.


Setiap hari libur, Siska pasti mengisinya dengan membantu membersihkan seluruh rumah, meski dirinya sudah bekerja di kantor. Dia cukup sadar diri, sudah diizinkan tinggal di sini, tidak mungkin dia hanya ongkang-ongkang kaki, numpang gratisan.


"Siska, ini kan hari Sabtu. Kamu enggak kuliah?" tanya Bu Maya saat Siska sedang membersihkan debu pada benda-benda di lemari pajangan.


Siska menghentikan pekerjaannya. "Kelasnya baru dimulai dua minggu lagi, Bu. Tadi pagi-pagi sekali saya sudah mengirimkan surat-surat pendaftarannya."


"Oh, begitu. Baguslah. Kamu belum sarapan kan? Sana sarapan dulu.


"Nanti saja, Bu. Ini tanggung, sebentar lagi selesai."


"Jangan lama-lama. Nanti keburu siang. Bukan sarapan lagi namanya."


"Hehe. Baik, Bu."


Setelah Bu Maya pergi, Siska melihat banyak sarang laba-laba di lubang ventilasi ruang tamu yang ada di atas sebuah besi gorden. Itu terlalu tinggi tempatnya, Siska terpaksa naik ke sebuah kursi, dan mulai membersihkan deretan lubang ventilasi itu dengan teliti.


Di sisi lain, Elan sedang menuruni tangga berjalan menuju ruang tamu. Sampailah dia berdiri di belakang Siska dengan jarak tidak jauh. Dia mendapat kabar dari teman kuliahnya yang katanya tak sengaja menghamili salah satu karyawati di kantornya.


"Apa?!" teriak Elan spontan.


Siska yang tidak tahu ada Elan di belakang pun terkejut. "Eh, copot-copot!" teriak Siska latah. 


Elan menengok ke arah Siska yang berdiri di atas kursi. Pijakannya goyah, membuat kursinya goyang-goyang. Detik berikutnya Siska jatuh ke belakang.

__ADS_1


*****


__ADS_2