
Adik Ipar Malang
Bab 35 Sampai di Bali
POV Devan
Setelah makan malam aku dan Lilis berniat untuk istirahat, supaya besok badan tetap bugar untuk melakukan perjalanan. Tanpa sepengetahuan Lilis, aku memasukkan beberapa dokumen ke dalam koperku untuk dikerjakan selama liburan nanti.
Terdengar pintu kamar diketuk dari luar. Aku dan Lilis sama-sama menghentikan pekerjaan kami yang sedang memasukkan pakaian ke dalam koper.
"Biar aku saja," usul Lilis. Dia kemudian berjalan menuju pintu dan membukanya.
"Maaf, Non. Itu di luar ada Den Fero." Terdengar suara Mbok Urip berbicara dengan Lilis.
"Buatkan saja minuman untuknya, dan suruh menunggu sebentar, ya, Mbok."
Setelah Mbok Urip pergi, Lilis menutup pintu kemudian berjalan ke arahku. "Ada Kak Fero di ruang tamu, Kak."
"Dia lagi," gumamku lirih. "Aku akan menemuinya. Kamu mau menyelesaikan ini atau ikut?" tanyaku seraya berjalan ke arah pintu.
"Aku mau menyelesaikan ini saja," jawab Lilis seperti tak berminat sama sekali. Syukurlah Lilis sama sekali tak menaruh perhatian pada Fero.
Aku menemui Fero di ruang tamu sendirian. Ini waktu yang tepat untuk memberitahunya agar jangan terlalu sering datang ke sini. Aku sudah bukan bujangan yang bisa bebas untuk melakukan apa pun layaknya seperti masih melajang. Aku sudah punya tanggung jawab untuk diriku dan Lilis, sebuah keluarga kecil.
"Hai, Fer!" sapaku setelah sampai di ruang tamu.
"Hai! Apa aku mengganggu?" Basa basi yang tak perlu.
"Kau sudah tahu jawabannya. Perlu aku perjelas?"
Fero tertawa tampan. "Aku hanya merasa senang bisa bertemu teman lama. Rumahmu juga sangat nyaman, sampai membuat aku betah."
"Maaf sebelumnya. Aku sudah bukan bujangan lagi. Di sini ada istriku yang tinggal. Jangan menyusahkannya, dengan menjadi bahan omongan tetangga karena perbuatan kamu."
"Apa ada tetangga yang membicarakannya?” Ada nada khawatir di dalamnya.
"Aku tidak berharap itu sampai terjadi. Ada apa kamu datang kemari?"
"Bagaimana dengan pengajuan kerja sama yang kemarin sudah kukirimkan?"
"Satu minggu lagi kamu bisa datang ke kantorku. Kita akan membahasnya di sana."
"Kenapa harus menunggu seminggu?"
"Aku dan Lilis akan liburan ke Bali. Kami berangkat besok pagi."
"Hanya kalian berdua?"
"Ya. Sekalian bulan madu kedua kami," jawabku sambil menyeringai.
"Tapi Lilis sedang hamil." Nada suaranya seakan dia sedang protes.
"Apa ada masalah? Aku suaminya, bukan orang lain."
"Oh." Hanya itu jawabannya.
__ADS_1
Kami mengobrol sebentar, sebelum Fero pamit untuk pulang. Tumben dia bertamu hanya sekitar tiga puluh menit. Biasanya dia akan menghabiskan waktu sampai tiga jam di sini. Tiba-tiba aku punya perasaan tak enak. Biar itu aku urus nanti saja.
Aku kembali ke kamar untuk menyelesaikan pekerjaanku sebelumnya.
"Apa kamu sudah selesai menyiapkan semua yang harus dibawa besok?"
"Sudah, Kak. Kakak pasti sangat lelah, ya?"
"Kenapa kamu tanya seperti itu?" Apa jangan-jangan dia tahu kalau aku diam-diam membawa pekerjaanku juga ke sana?
"Liburan ini disiapkan dengan waktu singkat. Pasti enggak mudah buat ngambil cuti kerja secara mendadak. Jadinya, Kakak harus kerja keras supaya kerjaan Kakak selesai sebelum kita berangkat liburan." Dia berkata dengan wajah sedih. Imut sekali perhatian yang dia berikan padaku.
"Enggak, Sayang. Kakak itu kerja enggak sendiri. Aku punya bawahan yang hebat, dan dapat dipercaya di perusahaan. Jadi, kamu jangan khawatir. Cukup pikirkan kesehatanmu dan calon anak kita saja."
'Syukurlah dia tak mengetahuinya,' batinku lega.
Lilis menghela nafas berat. Wajahnya menunjukan kalau dia masih belum puas dengan jawabanku, tapi dia yakin kalau dirinya tak akan bisa menang berdebat denganku.
Aku ingin membujuk Lilis supaya jangan merajuk lagi, tapi tiba-tiba gawaiku berdering. Benar dugaanku, siapa lagi kalau bukan mama? Orang yang paling heboh dengan urusan liburan ini.
[Assalamualaikum, Devan. Kalian sudah menyiapkan barang-barang yang dibawa besok, kan?]
"Waalaikumsalam, Ma," jawabku sedikit kesal. "Jangan hubungin kami terus menerus. Aku dan Lilis enggak bohongin Mama. Kami besok pagi berangkat untuk liburan ke Bali." Aku merasa seperti diteror oleh mamaku sendiri.
[Mama bukan mau ngomong sama kamu. Mama mau ngomong sama Lilis. Mana menantu Mama?] Mama berbicara dengan ketus.
Astaga! Hebat sekali Papa bisa menikah dengan Mama cukup lama, untuk seumur hidup pula. Aku menyerahkan gawaiku ke Lilis.
"Ini Mama mau bicara sama kamu," kataku dengan lembut.
"Ini, Kak, sudah." Lilis mengembalikan gawai milikku. Aku menerima gawai itu kemudian menyimpannya. Wajah Lilis sumringah setelah berbicara dengan mama.
"Kamu sudah menghubungi ayah dan ibu?" tanyaku sambil merebahkan badan di samping Lilis.
"Sudah, Kak. Tadi siang. Mereka cuma berpesan untuk menjaga kesehatan dan menuruti semua perkataan Kakak. Karena mereka yakin, Kakak bisa menjagaku," ucap Lilis dengan senyum manis. Bangganya aku ini, mendapat kepercayaan dari mertua.
"Ya, sudah. Kita istirahat saja. Supaya besok kita bisa fit saat perjalanan nanti. Terutama kamu."
*
Pagi harinya setelah berpamitan dengan Mbok Urip dan Mas Tejo, kami langsung menuju bandara. Dilanjutkan dengan perjalanan udara selama kurang lebih dua jam. Kemudian kembali menaiki mobil untuk sampai di resort milik keluarga Elan.
Aku sama sekali tak memberitahu Lilis kalau tempat yang kita tinggali adalah resort milik Elan. Bahkan semua biaya liburan dia yang tanggung, dengan imbalan menjalankan tugas yang dia beri. Memata-matai Evan dan orang yang berusaha merusak rumah tangganya.
Sampai di kamar yang kami tinggali, wajah Lilis sedikit pucat. Mungkin dia terlalu lelah karena melakukan perjalanan jauh dengan kondisi hamil seperti itu. Aku jadi merasa bersalah. Andai aku bisa menolak permintaan mama kemarin.
"Sayang, kamu sangat lelah, ya?" Aku mendudukkan dia di pangkuanku. Memijat lembut di bagian pinggangnya.
"Lumayan, Kak." Lilis mengalungkan tangannya di leherku. Kepalanya disandarkan di dadaku dengan mata terpejam.
Aku melihat jam di dinding sudah menunjukan hampir pukul sebelas. Masih ada waktu sebelum makan siang.
"Sekarang kamu istirahat saja. Nanti aku bangunkan untuk makan siang kalau sudah waktunya."
Aku memapah Lilis menuju ranjang. Membantu membaringkannya di atas kasur, setelah sebelumnya menata bantal agar dia bisa berbaring dengan nyaman.
__ADS_1
"Kakak mau ke mana?" Tanganku ditahan Lilis ketika akan beranjak.
"Aku hanya akan berkeliling sebentar. Mencari spot aman yang bisa dikunjungi olehmu."
"Jangan lama-lama!"
"Siap, Sayangku!"
Setelah memastikan Lilis sudah pulas, aku pergi untuk melihat-lihat sekitar. Andai Lilis tak kelelahan, dia pasti tak akan berhenti mengagumi semua bangunan di sini.
Resort ini memiliki pemandangan alam yang indah. Didesain dengan menyuguhkan nuansa rekreatif dan eksotis. Gaya bangunan lebih menonjolkan sisi seni dan tradisional, tetapi membuat kesan orang tak akan berhenti mengingatnya.
Kamar yang disewakan untuk berbagai macam tamu, disesuaikan kebutuhan mereka. Seperti pelancong, tamu yang berpasangan, bahkan ada juga kamar untuk yang sedang liburan bersama keluarga besar.
Sejauh ini, aku belum melihat Evan. Entah dia sudah sampai atau belum. Kalau kata Elan, seharusnya dia sudah sampai di resort satu jam sebelum aku dan Lilis mendarat di bandara.
Karena terlalu asik melihat sekitar, aku tak sengaja menabrak seseorang. Untungnya dia tak jatuh, hanya mundur beberapa langkah.
"Maafkan aku, Mbak. Apa Mbak enggak apa-apa?" ucapku padanya merasa tak enak.
Aku terkejut melihat siapa orang yang aku tabrak. "Freya! Kamu Freya."
"Eh, Kak Devan. Iya, aku Freya." Dia tersenyum lebar padaku, tapi kemudian sedikit salah tingkah. Seperti ketahuan mencuri sesuatu. Kepalanya mulai celingukan, ke kanan dan ke kiri.
"Kamu di sini juga?" tanyaku lagi padanya.
"Iya, Kak. Aku sedang lewat saja."
"Kamu apa kabar? Kenapa tiba-tiba menghilang bersama kakakmu setelah kami wisuda?" Siapa tahu Freya mau menjawabnya. Karena Fero tidak mau menjawab. Setiap ditanya jawabannya tak pernah nyambung dan konyol.
Wajahnya berubah murung dan sedih. "Itu ... aku belum bisa cerita sekarang, Kak. Kapan-kapan kalau sudah siap, pasti aku akan cerita."
"Tak apa. Itu hak kamu."
"Aku permisi pergi dulu, ya, Kak. Aku ada janji dengan temanku. Takut dia menunggu terlalu lama. Sampai jumpa lagi, Kak."
"Ya."
Dia bilang hanya lewat, tapi sekarang janjian dengan temannya. Aneh sekali, tapi biarlah. Bukan urusanku juga. Lebih baik aku kembali ke kamar untuk membangunkan Lilis. Sudah waktunya makan siang.
Saat hampir mendekati kamar, terlihat Evan keluar dari salah satu kamar. Mungkin itu kamar miliknya. Jarak kamar kita hanya terpisah tiga kamar saja. Elan ternyata sudah mengatur semuanya dengan baik, agar memudahkanku memantau adiknya itu.
Aku segera bersembunyi di balik tiang yang lumayan lebar untuk menutupi tubuhku, ketika Evan berbalik badan setelah selesai mengunci kamarnya. Ternyata dia berjalan ke arah lain. Sepertinya dia menuju restoran. Seketika aku teringat dengan Lilis. Aku harus segera mengajaknya makan siang.
"Sayang, ayo bangun!"
Aku menepuk pipi Lilis dengan lembut. Inginnya si membangunkannya dengan cara romantis, tapi aku takut tak bisa mengontrol diri.
Terdengar suara lenguhan dari istri kecilku itu. Aku mencium dahinya, tepat ketika dia membuka kedua matanya.
"Waktunya makan siang. Ayo bangun!" ajakku lagi dengan lembut.
"Hm. Tunggu aku cuci muka dulu dan ganti baju." Lilis berjalan ke kamar mandi. Di sana ada ruangan khusus untuk ganti baju yang terpisah dengan kamar mandi.
Aku merasakan gawaiku bergetar di dalam saku celana. Tertera Elan yang memanggil.
__ADS_1
"Halo."