
Adik Iapr Malang
Bab 50 Obrolan di Dapur
"Apa aku mengganggu?" Seorang laki-laki lumayan tampan tapi masih singel di usianya yang hampir kepala tiga, berjalan masuk ke dapur.
Ternyata Elan yang datang. Laras dan Lilis berpandangan kemudian menghembuskan nafas lega hampir bersamaan. Rasanya jantung hampir merosot, saat mendengar ada orang yang datang. Takut kalau yang sedang dibicarakan yang datang.
"Apa yang dilakukan bumil-bumil di dapur sampai awet sekali? Suami kalian di luar lagi pada nunggu."
Laras membenarkan duduknya, kemudian menetralkan wajahnya. "Kami sedang melepas kangen. Apa perempuan enggak boleh me time? Apa hanya laki-laki yang boleh nongkrong-nongkrong dengan temannya?"
"Ya, bukan begitu juga maksudku," jawab Elan sedikit kikuk. Jarinya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Batinnya merasakan firasat kurang enak menghadapi dua ibu hamil di depannya.
"Terus kalian sebagai laki-laki keberatan begitu? Apa kalian sebagai laki-laki tidak pernah berpikir kalau perempuan juga punya kejenuhan? Kami padahal baru lima belas menit loh meninggalkan kalian." Laras masih mencerca kakak iparnya itu.
Elan mengangkat kedua tangannya ke atas. "Wow! Wow! Kalem dong! Aku kan enggak berpikir kayak gitu."
"Lagian kami enggak ke mana-mana. Kami kan cuma di dapur. Kenapa kalian para laki-laki harus meributkan hal sepele?" Laras masih terus menjahili Elan. Di saat hati sedang panas, itu bisa sedikit mengalihkan rasa kesalnya mendengar cerita Lilis tentang Evan selama di Bali.
"Ya ampun! Kenapa para perempuan yang sedang hamil lebih ganas ya dari pada saat mereka sedang datang bulan?" Elan mengusap kepalanya dengan kasar.
Lilis terkikik melihat Laras mencerca Elan. Lilis tahu, hati Laras sedang panas gara-gara membahas Evan dan Siska. Tiba-tiba Elan datang, seperti menawarkan diri sebagai pelampiasan kakaknya. Lilis tidak mau melepas momen ini.
Masih sambil menahan tawa, Lilis mencoba melerai Laras dan Elan. "Kak Laras, udah. Jangan dicecar terus Kak Elannya. Kasihan. Nanti dia jadi takut punya istri loh." Meski di akhir kalimat harus sedikit menistakan Elan.
Elan melotot ke arah Lilis. "Wah, wah. Kalian beraninya main keroyokan ya."
Mereka bertiga tertawa. Menikmati kebersamaan yang jarang terjadi. Selain Elan sibuk bekerja, juga Lilis yang besok sudah akan kembali ke tempat suaminya.
"Permisi!" Kali ini perempuan ayu khas desa, dengan tubuh semampai masuk ke dalam dapur.
Tawa yang tadinya meramaikan dapur langsung berhenti. Muka Laras langsung berubah masam. Elan berwajah biasa saja. Sedang Lilis wajahnya masih tetap ramah.
"Maaf saya mau mengambil air minum untuk ibu saya, mau minum obat." Siska berdiri di depan ketiga orang yang sedang duduk di meja makan dengan sedikit canggung.
Laras berdiri, kemudian berjalan menuju wastafel. Mencuci gelasnya sebelum menaruhnya di rak gelas.
"Lis, aku ke depan dulu ya. Tadi kata Kak Elan, Evan mencariku. Duluan, Lis, Kak?" Tanpa menunggu tanggapan Lilis dan Elan, Laras langsung keluar dari dapur. Saat berpapasan dengan Siska, dia tidak menyapa sama sekali.
Siska merasa kalau Laras melihatnya dengan pandangan tidak suka, tapi dirinya tidak merasa punya salah pada Laras. Mungkin hanya perasaannya saja, begitu dalam benak Siska.
__ADS_1
"Silakan. Gelasnya di rak, airnya ada dispenser sebelah sana." Lilis menunjuk satu persatu benda yang disebutkannya dengan tangannya.
Melihat Siska masih berdiam di tempat, Lilis berdiri, kemudian menuntun Siska mengarahkan satu persatu di mana letak gelas dan dispenser. Pembawaan Lilis yang ceria dan ramah membuat kecanggungan Siska berkurang.
"Mau air biasa atau air hangat?" tanya Lilis.
"Air hangat saja," jawab Siska sambil mengisi gelas tinggi dengan setengah air panas dan setengahnya lagi air suhu ruang.
"Kalau begitu, bawa saja termos kecil ke dalam kamar. Jadi kamu enggak perlu bolak balik ke dapur mengambil air untuk ibumu. Kalau sudah habis, baru isi lagi di dapur."
Lilis mengambil botol termos di dalam lemari rak piring. Mengisinya dengan air panas, lalu menyerahkannya kepada Siska.
Siska melihat termos itu dengan pandangan enggan. Dia takut kalau majikannya akan marah. Apalagi yang memberikannya itu Lilis. Memangnya apa status Lilis di rumah ini.
Elan yang melihat Siska diam saja, sedikit kesal. Kemudian dia berkata, "Ambil saja. Mama enggak akan memarahi kamu. Lilis di rumah ini seperti putri bungsu. Jadi tidak akan ada yang menegur perbuatan Lilis di rumah ini."
"Kakak, kamu lebay." Lilis mendelik pada Elan.
"Terima kasih," ucap Siska sambil mengambil termos itu.
"Sama-sama," jawab Lilis sambil tersenyum ramah.
"Ya. Apa ada lagi yang kamu butuhkan?" tanya Lilis dengan ramah.
"Enggak. Apa aku boleh bertanya?" Suaranya Siska terdengar ragu-ragu.
"Tentu saja boleh."
Elan tidak terlalu menanggapi obrolan antara Siska dan Lilis. Dia mengambil gelas yang ada di tengah meja makan. Kemudian mengisinya dengan air dari teko yang juga ada di sana. Diangkatnya gelas itu ke arah bibirnya.
"Kamu sudah menikah, juga sedang hamil besar, tapi wajahmu terlihat masih sangat muda dibanding aku. Bagaimana wajahmu bisa awet muda seperti itu? Kalau dilihat-lihat, sepertinya kamu masih remaja," tanya Siska dengan polos.
Takk!
Elan meletakkan gelas di atas meja dengan keras. Andai Elan bukan orang yang bijak, pasti gelas itu sudah retak. Namun Elan masih tahu batasan.
Lilis dan Siska jelas sangat kaget. Bahu mereka sama-sama tersentak. Lilis bahkan sampai mengelus dadanya yang berdetak dengan kencang.
"Bukan urusanmu. Jangan kelewatan!" ucap Elan dengan dingin
"A—aku hanya bertanya." Siska menjawab dengan gagap. Nyalinya menciut di bawah tatapan tajam Evan. "Maaf kalau pertanyaanku menyinggungmu."
__ADS_1
Lilis masih diam. Bingung harus menanggapi seperti apa.
"Sepertinya ibumu sedang menunggu air minumnya," ucap Elan lagi, dengan pandangan lurus ke depan.
"Aku minta maaf, Lis." Siska berkata dengan penuh penyesalan. Matanya memandang takut-takut Elan.
"Enggak apa-apa."
Siska buru-buru pergi dari dapur. Dia benar-benar menyesal dengan sifat sembrononya yang susah dihilangkan.
Lilis kembali ke tempat duduknya, meminum sisa susunya yang sudah dingin. Elan buru-buru menghiburnya. "Kamu jangan dengarkan omongan Siska, ya?"
"Aku enggak apa-apa Kak. Jangan khawatir. Memang adanya seperti ini." Lilis tersenyum miris. Dia berjalan ke arah wastafel untuk mencuci gelasnya.
"Lain kali kalau ada yang seperti itu ke kamu, jangan diam saja."
"Aku bukannya tidak ingin menjawab, Kak. Kalau aku lihat, Siska itu tipe orang yang ceplas ceplos kalau ngomong. Dia lebih suka bicara jujur, tapi ya gitu, enggak bisa mencari kalimat yang halus. Jadi terdengar kasar ditelinga orang lain."
"Ya sudah lah. Kamu kan memang seperti itu dari dulu. Terlalu baik. Lain kali jangan terlalu mengalah ya."
"Iya, Kak. Ayuk ke depan! Aku juga harus bersiap pulang ke rumah ayah dan ibu." Lilis berusaha mengalihkan perhatian Elan. Supaya tidak terlalu memikirkan perkataan Siska barusan.
Sore harinya, Pak Arifin dan Bu Ratna berpamitan untuk pulang ke rumah. Lilis dan Devan juga ikut pamit, karena mereka akan menginap di rumah kedua orang tua Lilis.
Elan juga ikut berpamitan. Dia ingin tinggal di apartemennya sendiri, tapi langsung dilarang oleh Bu Maya.
"Semua kumpul di rumah ini. Kamu seenaknya mau memisahkan diri? Kamu sudah enggak menganggap kami keluarga?" Wajah Bu Maya dibuat semelas mungkin di depan putra sulungnya.
"Ma, aku mau mengecek laporan-laporan yang belum selesai," kilah Elan. Tapi memang itu kenyataannya.
"Kerjakan di sini kan bisa. Evan saja menginap di sini," bujuk Bu Maya.
"Di sini kan ada Laras. Tentu saja Evan menemani istrinya."
Bu Maya geregetan mendengar Elan terus menjawab perkataannya. "Makanya kamu cepetan menikah. Biar ada yang kamu kangenin."
Elan menghela nafas sebelum menanggapi perempuan yang sudah melahirkannya. "Mama kan tahu sendiri, aku bagaimana?"
Tiba-tiba muncul kilatan licik di mata Bu Maya. "Menginap di sini atau Mama kenalkan dengan anak teman Mama?"
"Oke. Menginap di sini," jawab Elan dengan cepat. Dia mengalah. Lebih tepatnya menyerah. Dari pada harus dijodohkan dengan perempuan yang sama sekali belum dikenalnya. Apalagi itu sahabat mamanya. Pria tampan masih lajang itu langsung masuk ke dalam kamarnya.
__ADS_1