Adik Ipar Malang

Adik Ipar Malang
bab 39 Makan Malam


__ADS_3

Adik Ipar Malang


Bab 39 Makan Malam


POV Lilis


"Kenapa Kakak jadi cemburu buta seperti ini? Aku sama sekali tidak pernah berpikir seperti itu. Kamu masih belum percaya padaku?" tanyaku dengan kecewa, sangat kecewa.


Kak Devan terkesiap. "Maafkan aku. Maaf, Sayang. Aku cemburu." Kak Devan meraih telapak tanganku, kemudian dikecupnya berkali-kali.


"Kak, aku memang khawatir dengan Kak Evan. Bukan karena aku ada hati dengannya, tapi dia tetap kakak iparku. Dia suami dari Kak Laras, kakak kandungku. Mereka baru saja berbaikan. Kalau terjadi apa-apa dengan Kak Evan, bagaimana dengan nasib Kak Laras?" terangku panjang lebar.


"Maafkan aku," sesal Devan.


"Aku akan menjadi perempuan yang tidak tahu diri, kalau sampai menyia-nyiakan laki-laki sebaik dirimu." Aku meraih pipi kiri Kak Devan dengan tangan kananku, sambil memberikan senyum terbaik padanya. "Jangan seperti ini lagi, ya."


"Terima kasih. Sekarang kita istirahat, ya."


Kak Devan membawaku berbaring di atas kasur. Aku juga sudah sangat lelah. Jadwal liburan masih lama di sini. Jangan sampai dirusak hanya karena hal-hal sepele.


*


Pagi hari Kak Devan izin ada urusan sebentar katanya. Dia sudah membawakan sarapan untukku. Aku tidak boleh pergi meninggalkan kamar tanpa dirinya, untuk menghindari insiden tersesat lagi.


Terdengar suara pintu kamar diketuk dari luar. Sepertinya itu Kak Devan. Aku bergegas menuju pintu untuk membukanya. Ternyata bukan Kak Devan, melainkan seorang karyawan resort ini yang mengetuk pintu.


Karyawan di sini semua mengenakan pakaian tradisional adat Bali. Seperti laki-laki di depanku ini. Mengenakan baju safari, dengan bawahan kamben, kain khas Bali yang dililit seperti sarung. Tidak lupa udeng, sebuah penutup kepala khas Bali.


"Selamat pagi, Bu Lilis," salamnya padaku dengan sopan.


"Iya. Selamat pagi." Aku menjawabnya tak kalah sopan.


"Saya mau mengantar buket bunga untuk Anda. Silakan diterima." Dia menyerahkan sebuket bunga di hadapanku. Aku menerimanya dengan terkejut bercampur bingung.


"Siapa yang mengirim?"


"Tidak tahu, Nona. Saya hanya bertugas untuk mengantar."


"Terima kasih, ya."


"Sama-sama. Kalau begitu, saya pamit. Permisi."


Setelah karyawan itu pergi, aku langsung masuk kembali ke kamar. Penasaran siapa yang sudah mengirim bunga mawar ini untukku. Kalau ini dari Kak Devan, kenapa dia memberiku bunga mawar? Bukankah Kak Devan tahu apa bunga kesukaanku?


Biasanya akan ada sebuah kartu berisikan catatan dan nama pengirimnya. Saat aku sedang mencari, pintu kembali diketuk dari luar. Siapa lagi, ya? Aku meletakkan bunga mawar itu di atas meja, kemudian kembali membukakan pintu. Lagi-lagi seorang karyawan resort ini, tetapi beda orang. Dia membawa sebuket bunga matahari.


"Permisi, dengan Nona Lilis?"


"Iya, saya sendiri."


"Saya mau mengantar bunga ini untuk Nona."


"Kalau boleh tahu, dari siapa, ya?"


"Saya hanya mengantar. Silakan Nona lihat sendiri kartu di dalam bunga."


"Oh. Terima kasih."


"Sama-sama. Saya permisi Nona."


Setelah pengirim bunga itu pergi, aku langsung kembali masuk ke kamar. Lagi-lagi ada kiriman bunga dari seseorang. Kali ini ada sebuah kartu kecil terselip di bunga ini. Berisi tulisan sebait puisi yang lumayan menyentuh hati, juga ajakan untuk makan malam romantis di dekat kolam renang, nanti malam.


Siapa lagi pengirimnya, kalau bukan suamiku sendiri? Aku kembali membaca tulisan itu dengan tersenyum dan hati berbunga-bunga. Berarti bunga mawar itu juga dari Kak Devan. Ini sangat romantis, mengirimkan dua buket bunga sekaligus.


"Sebaiknya aku mencari pakaian yang pantas untuk nanti malam," gumamku lirih.


Aku dikejutkan dengan sebuah suara dan sepasang tangan melingkar di pinggang. "Kamu sudah menerima bunga dariku?" bisiknya di dekat telinga. "Senyum-senyum sendiri sampai tak mendengar aku masuk."

__ADS_1


Aduh, telingaku sangat sensitif. Kenapa dia harus bicara di dekat telinga?


"Sudah. Terima kasih untuk semua kejutannya," jawabku sambil menahan geli.


"Sama-sama, Sayang."


"Aku mau ke kamar mandi dulu." Aku mencoba melepaskan pelukannya. Sudah sering melakukan ini, tapi jantung masih belum bisa beradaptasi.


"Ya, sana."


Keluar dari kamar mandi, kembali aku mendapati wajah Kak Devan tegang seperti tadi malam. Kali ini sambil menatap tajam pada bunga mawar itu. Ada apa lagi?


"Kakak kenapa?" tanyaku pelan.


"Tidak apa-apa." Kak Devan menormalkan kembali wajahnya. "Bagaimana kalau kita ke pusat perbelanjaan di resort ini? Mencari gaun untukmu nanti malam."


"Enggak perlu, Kak. Aku akan pakai yang sudah dibawa saja untuk dipakai nanti malam. Enggak tahu kenapa, tiba-tiba aku merasa malas gerak. Pengen malas-malasan di atas kasur."


"Yakin?"


"Iya." Aku mengangguk mantap.


"Kamu ini memang benar Lilisku yang tidak pernah berubah dari dulu."


Siang itu kami habiskan di dalam kamar penginapan saja. Menonton televisi, membaca buku, mengobrol ringan, atau sesekali ke balkon untuk menikmati pemandangan. Padahal semalam aku merasa sayang kalau liburan hanya dihabiskan di dalam kamar, tapi tiba-tiba penyakit malas gerak menghadang.


*


POV Devan


Aku merasa tidak enak hati dengan Lilis setelah pertengkaran kecil semalam. Si Fero ini benar-benar menguji kesabaran. Seenaknya mengajak istri orang jalan-jalan berdua malam hari. Seperti tidak ada perempuan lain saja. Dulu Evan, sekarang malah ganti Fero yang berusaha mendekati istriku.


Sedikit memberi Lilis kejutan sepertinya bukan ide yang buruk. Pagi-pagi sekali aku keluar membeli sarapan untuk kami berdua. Aku memutuskan untuk sarapan di dalam kamar saja. Menghindari kejadian seperti tadi malam.


Selesai sarapan, aku meminta izin dengan alasan ada urusan di luar. Lilis tidak mempermasalahkan dan patuh dengan permintaanku untuk tetap tinggal di kamar selama aku pergi.


"Mohon maaf sebelumnya, Pak Devan. Pak Elan tidak memberitahu tentang ini."


"Memang ini agendaku sendiri. Tagihannya berikan kepadaku. Tak perlu menggunakan jasa dekorasi dari luar. Sederhana saja, yang penting masih terlihat romantis."


"Baik, Pak. Saya dan teman-teman akan melakukannya dengan sebaik mungkin."


"Kalau begitu, saya mohon kerjasamanya."


Rencana pertama sudah dijalankan. Sekarang tinggal rencana kedua. Apa yang biasanya diberikan seorang lelaki kepada kekasihnya? Bunga. Ya, bunga matahari. Bunga kesukaan Lilis. Penggambaran yang sama persis dengan dirinya.


Setelah pergi memesan bunga, aku pergi menemui Evan sebentar. Memastikan kondisinya sudah membaik. Kebetulan ada toko buah di dekat sini. Sekalian saja aku membelinya untuk buah tangan.


Aku mengetuk pintu, tidak lama pintu dibukakan oleh Evan.


"Sudah baikan, Kakak Ipar?" tanyaku sembari meletakkan buah di atas meja.


"Hm. Terima kasih."


Suasana hening sejenak. Dari raut wajahnya, sepertinya dia ingin mengatakan sesuatu kepadaku.


"Bagaimana kabar Lilis?"


"Sangat baik."


"Boleh aku ... bolehkah aku menemuinya?"


"Aku tidak tahu."


Evan menatapku dengan raut wajah bingung.


"Biar nanti aku tanyakan padanya. Kalau dia sudah siap, aku akan menghubungimu."

__ADS_1


"Terima kasih."


"Waw! Seorang Evan hari ini mengucapkan terima kasih lebih dari satu kali kepadaku."


Evan diam saja. Tidak mau menanggapi ucapanku, tapi wajahnya terlihat masam.


"Kalau begitu, aku pamit."


Aku langsung kembali ke kamarku dan Lilis. Kemungkinan buket bunga sudah sampai di tangannya. Aku tak sabar ingin melihat reaksinya itu.Pasti wajahnya sangat bahagia dan menggemaskan.


Sesampainya di kamar benar saja, buket bunga sudah berada di tangannya. Dia senyum-senyum sambil sesekali membaui bunga itu. Aku memeluknya dari belakang. Dia bilang sangat senang dengan semua kejutan dariku.


Aku melihat ada sebuket bunga mawar di atas meja. Punya siapa ini? Atau ada seseorang yang mengirimkan untuk Lilis? Pantas saja Lilis bilang sangat suka dengan semua kejutan dariku.


Kebetulan Lilis minta izin ke kamar mandi, aku mengambil buket mawar itu. Mencari tahu siapa pengirimnya. Ada sebuah kartu kecil di dalam sana. Sepertinya Lilis belum mengetahuinya. Di sana tertulis nama sahabat lamaku. Lagi-lagi Fero. Dia ini maunya apa?


Aku menggenggam kartu itu dengan erat. Membayangkan kalau kartu itu adalah si pengirim bunga ini, pasti akan lebih terasa puas.


Pintu kamar mandi terbuka, buru-buru menyimpan kartu tadi ke dalam saku celana. Siang itu kami habiskan di dalam kamar saja. Andai Lilis tak sedang hamil, pasti akan menjadi liburan bulan madu yang indah. Sabar, sabar, ya Devan. Aku terus membesarkan hati.


"Kak, memangnya apa kejutan dari Kakak untuk aku nanti malam?"


"Hey! Kalau aku kasih tahu sekarang bukan kejutan namanya."


Matahari sudah terbenam. Aku sudah bersiap dengan pakaian formal. Kemeja dan celana panjang, juga tidak lupa dengan jas. Lilis masih nyenyak dengan tidurnya. Ibu hamil ini, benar-benar kalau sedang mager badan serasa menempel dengan kasur. Biarlah. Ini lebih baik dari pada dia harus berada di luar dan bertemu dengan Fero.


Aku menulis sedikit catatan yang berisi kalau aku akan menunggunya di dekat kolam renang. Catatan itu aku letakkan di atas meja dekat dengan teko air minum. Tak lama terdengar pintu kamar diketuk dari luar.


"Permisi, Tuan. Saya mau mengantar paketan."


"Ya. Terima kasih."


Aku meletakan paketan berisi gaun khusus untuk ibu hamil di dekat catatan. Karena tadi dia menolak untuk pergi, aku jadi memesan gaun secara online.


Setelah itu aku langsung keluar, untuk melihat persiapan makan malam nanti. Semoga sudah selesai.


Begitu sampai, ternyata semua sudah hampir rampung. Semua sesuai dengan arahanku. Semoga Lilis menyukainya. Melihat waktu dari jam tangan, seharusnya Lilis sudah bersiap. Ponsel di saku bergetar. Aku lupa untuk mengaktifkan mode senyap. Seharusnya tidak ada yang mengganggu di malam romantis ini.


Terlihat nama Elan di layar memanggil. Malas sekali untuk mengangkat, tapi masih ingat dengan fasilitas gratis darinya. Aku berjalan ke arah taman untuk menerima panggilannya.


"Ya."


[Kenapa kamu tidak melapor?]


"Apa?"


[Kemarin karyawanku menelepon, kalau dia disuruh mengantar pakaian untuk Evan. Sampai di kamar, dia melihat Evan di dalam bak mandi masih dengan pakaian lengkap. Badannya menggigil. Juga dia melihat kamu keluar dari kamar yang sama dengan Evan. Memangnya apa yang kalian berdua lakukan di dalam kamar mandi?]


"Memangnya kamu berpikir apa tentang kami? Aku masih normal."


[Aku bukan berpikir seperti itu. Aku malah mengira kalau kamu mau membunuh adikku.]


"Seharusnya memang seperti itu, tapi aku masih ingat, kalau dia juga kakak iparku sekarang. Makanya aku beri dia belas kasihan."


[Jangan bercanda terus! Cepat jelaskan!]


Aku menceritakan semua kejadian kemarin pada Elan. Tidak sengaja aku melihat jam di pergelangan tanganku. Ya Tuhan! Waktunya sudah lewat setengah jam. Pasti Lilis sudah menunggu sangat lama di dekat kolam renang.


"Maaf, kita akhiri dulu pembicaraan ini. Aku sedang membuat kejutan makan malam romantis untuk Lilis. Waktunya sudah sangat lewat. Nanti aku hubungi lagi."


[Ya. Salam untuk Lilis.]


Sambungan sudah terputus. Mudah-mudahan Lilis tidak marah. Bagaimana aku bisa ceroboh? Aku yang merencanakan, malah dia yang menunggu lama.


Sampai di tempat yang seharusnya menjadi acara makan malam romantis berdua, hanya aku dan Lilis, di sana malah sangat ramai. Beberapa karyawan seperti sedang mengerubungi sesuatu.


Ada apa di sana?

__ADS_1


__ADS_2