
...Adik Ipar Malang ...
...Bab 13 Kejadian di Kamar ...
POV Evan
"Biar aku membantumu mengerjakan PR, supaya cepat selesai. Waktu sudah lumayan larut."
"Eh, benarkah? Kak Evan mau membantuku?" Matanya berbinar seperti mendapat keberuntungan. Aku jadi bertambah gemas. "Kalau begitu kita mengerjakannya di ruang tamu saja, ya. Biar aku bawa buku-bukunya dulu."
"Nggak perlu." Aku langsung mencegah Lilis. "Di sini saja. Biar nggak repot memindahkan buku dari sini ke ruang tamu."
Sepanjang membantu dan mengajari dia mengerjakan PR, aku tak pernah melewatkan ekspresi dari wajahnya. Bibirnya mengerucut lucu saat menghadapi soal yang menurutnya susah.
Berbeda dengan Laras yang jarang mengeluh. Dia tangguh dan mandiri untuk menghadapi masalah yang dimiliki. Aku jadi seperti merasa tidak terlalu berperan dalam hidupnya.
Entah keberanian dari mana, aku mencoba untuk bisa mencium paksa bibirnya. Lilis menampar pipiku, berusaha untuk menyadarkan sesuatu yang salah.
Bukannya sadar, aku malah menarik paksa dia dari meja belajarnya. Hingga badannya terpelanting di atas kasur.
"Nggak, Kak. Ini salah. Kumohon ... berhenti!" pintanya mengiba.
"Ingat Kak Laras! Ingat istrimu, Kak!"
Adik iparku itu menangis, memohon supaya aku menghentikan perbuatan ini. Tapi di mataku, wajah memohon dengan air mata membasahi pipinya itu malah semakin menggoda.
Aku sudah dikuasai n*fsu, ditambah Laras hampir sebulan tak memberi jatah. Pria dengan lib*do tinggi sepertiku, apa lagi mangsa sudah di depan mata, tak mungkin bisa menahan lagi.
Aku tak ingat berapa lama aku mengg*gahinya. Hingga sekitar dini hari, aku menghentikan perbuatanku. Apa yang sudah terjadi, sudah terjadi. Menyesalinya pun percuma. Aku sudah melakukannya terhadap Lilis.
"Maafkan aku ..." lirihku.
Lilis diam membisu, tubuhnya bergetar ketakutan dengan air mata masih keluar dari netranya. Aku tahu Lilis pasti sangat depresi. Ini sangat berat untuknya.
Aku mengusap wajah dengan kasar. Menarik selimut untuk menutupi tubuh Lilis yang sudah polos dengan pelan. Kemudian memungut bajuku yang tergeletak di lantai, dan segera memakainya. Keluar dari kamar ini dengan perasaan bercampur aduk, yang lebih didominasi oleh rasa penyesalan.
Kembali ke kamar Laras, kamar mandi menjadi tujuan utama. Menyalakan keran air lalu berdiri di depan cermin. Memandangi wajah yang sudah melakukan hal buruk pada seorang adik ipar.
"Aarrghhh!"
Kutinju dinding kamar mandi sambil berteriak. Menjadikan buku jari berwarna biru dan bengkak. Semoga suaraku tersamar oleh bunyi kran air yang mengalir. Rasa sakit di buku jari, tak sebanding dengan rasa penyesalan ini.
__ADS_1
Aku belum pernah menyesal seperti ini setelah berhubungan dengan puluhan perempuan saat kuliah dulu. Perasaan menyesal bersamaan dengan candu, candu pada tubuh adik iparku sendiri.
Keluar dari kamar mandi, mataku mencari keberadaan ponsel. Terdapat satu buah pesan dari istriku. Kemungkinan mereka tiba di rumah bertepatan dengan waktu sarapan. Kembali meletakkan ponsel di tempat sebelumnya.
Merebahkan badan di atas kasur, lalu memejamkan mata. Nyatanya bayangan tadi masih terlewat diingatan. Aku yakin takkan bisa tidur hingga mereka tiba esok pagi.
Pagi hari, tak kudapati aktivitas Lilis di mana pun. Mungkin dia masih di kamar. Waktu menunjukkan hampir jam tujuh pagi. Sebaiknya aku bergegas membeli sarapan.
Mau ke kamar Lilis, tapi aku tak memiliki muka di hadapannya. Lebih baik aku sarapan dulu. Tepat saat aku sedang sarapan, mereka sudah sampai rumah.
"Kamu sarapan sendirian? Mana Lilis?" tanya Laras yang baru saja tiba dengan kedua mertuaku. Mereka langsung duduk di kursi dan memulai sarapan.
"Dia belum turun dari tadi pagi. Mungkin kecapean. Semalam bilang PR-nya terlalu banyak dan susah," jawabku setenang mungkin.
Aku menelan makanan dengan susah payah. Sebisa mungkin aku bersikap baik-baik saja. Seolah semalam tidak terjadi apa-apa. Untuk masalah Lilis mengadu, biar urusan nanti. Lagian dia tak memiliki bukti.
"Kalau begitu biar Ibu antar sarapan ini untuk Lilis, sekalian melihat keadaannya." Ibu langsung ke atas dengan membawa sepiring sarapan untuk Lilis.
Netraku memandangi kepergian Ibu mertua dengan perasaan tak karuan. Telapak tanganku mendingin, tapi wajahku masih kubuat sebiasa mungkin.
"Apa kamu yang membuat semua sarapan ini?" Pertanyaan Laras membuat pandanganku beralih dari Ibu mertua ke arah istriku.
"Bukan. Aku membelinya."
"Oh, ya. Terima kasih sudah mau menemani Lilis, juga sudah menjaganya selama kami pergi. Ayah harap Lilis nggak merepotkan kamu." Ayah berkata dengan sedikit bercanda.
"Sama-sama, Ayah. Sudah kewajiban juga sebagai kakak ipar. Saya juga sudah menganggap Lilis seperti adik kandung sendiri."
"Sebenarnya Lilis sudah besar. Jangan selalu membuat Lilis seolah-olah masih balita. Supaya dia bisa mandiri dan berpikir dewasa," kata Laras.
"Tak apa." Aku menggenggam tangan Laras yang ada di meja. Kebetulan Laras duduk di sebelahku.
"Sudah. Ayo, dilanjutkan sarapannya!" ajak Ayah.
Kami melanjutkan makan dengan tenang. Tapi tidak dengan hati dan pikiranku yang ketar-ketir.
Setelah kejadian itu, aku dan Lilis sama sekali tak berinteraksi. Bertemu juga tak saling sapa. Jangankan memandang, melirik padaku pun tidak.
Wajah Lilis selalu pucat, dengan kantung hitam dimatanya. Ingin sekali memberi perhatian pada Lilis. Tapi itu jelas tak mungkin. Dia pasti sangat membenciku.
Sampai terdengar kabar kalau Lilis masuk rumah sakit. Katanya, si, dia kelelahan karena terlalu banyak mengikuti kegiatan sekolah. Aku yakin bukan karena itu.
__ADS_1
Di kantor pun pikiran tak fokus dengan pekerjaan. Kerap kali membuat kesalahan yang untungnya tidak fatal. Bukan Evan namanya kalau tak segera memperbaiki kesalahan itu.
Apa sebaiknya aku mengakui perbuatanku saja, ya. Supaya perasaan bersalah tak membayangi terus. Itu tidak mungkin! Kalau aku jujur, sudah pasti bukan cuma bogem mentah yang kudapat. Bisa-bisa aku dipecat jadi anaknya Papa dan Mama.
Bangkai yang ditutupi suatu saat pasti akan tercium baunya. Peribahasa yang sangat pas untukku. Ayah mertua ternyata sangat pintar. Benar-benar orang yang bijak dan tak bisa dianggap remeh. Memasang kamera pengawas, bahkan anggota keluarganya pun tak ada yang tahu sama sekali.
Jamuan makan malam itu benar-benar membuatku menjadi tersangka. Tatapan kekecewaan dari orang tua kandungku, dan pasti dari kedua mertua juga. Tatapan dari Lilis yang selalu memandangku dengan benci. Devan, sepupu mereka, yang selalu menempeli Lilis ke mana pun berada, benar-benar membuat hatiku panas. Satu lagi, aku baru tahu kalau Laras sebucin itu. Dia selalu membelaku terus, yang sudah jelas salah.
Hal yang membuatku bahagia adalah di dalam perut Lilis sudah ada janin. Ya, dia mengandung anakku. Bagai kejatuhan bintang, aku sangat bahagia. Sesuatu yang di idam-idamkan kini hadir. Tapi bukan dari rahim istriku.
Aku langsung mengajukan lamaran kedua kalinya pada Ayah mertua. Keputusan Lilis benar-benar membuatku kecewa. Dia tak mau menikah denganku. Padahal dalam hati aku rela, kalau harus melepas Laras demi dirinya dan anakku yang dikandung. Aku bahkan sampai merendahkan diriku, yaitu memohon. Sesuatu yang sangat anti untuk aku lakukan.
Perbuatanku itu ternyata membuat Laras malah semakin murka. Dia melempar vas bunga ke arah Lilis. Beruntung tak mengenai tubuhnya, terutama perut. Sesuatu yang membuatku takut terjadi. Lilis pingsan.
"Ayah! Lilis! Lilis pingsan. Cepat bawa ke rumah sakit!" teriak Ibu mertua sambil menopang tubuh Lilis yang sudah tak sadarkan diri.
Semua menoleh ke asal suara.
"Lilis!" teriak kami hampir bersamaan.
Suasana panik seketika mendominasi di ruangan ini. Aku berlari mendekati Lilis. Ingin membantu mengangkat tubuhnya untuk di bawa ke rumah sakit.
Plak!
"Jauhkan tangan kotormu dari Lilis!" Devan menepis tanganku kuat-kuat.
"Cukup, hentikan! Ini bukan waktunya bertengkar. Cepat bawa Lilis ke rumah sakit!" jerit Ibu mertua.
Aku menatap Devan dengan tajam. Beraninya dia menjauhkanku dari Lilis. Ingin balas memukul dia, tap ini bukan waktu yang tepat.
Kubiarkan Devan mengangkat tubuh Lilis untuk di bawa ke rumah sakit. Semua mengikutinya dari belakang. Ayah dan Ibu mertua satu mobil dengan Lilis dan Devan yang mengemudi. Sedang sisanya di mobil berbeda dengan aku sebagai supirnya.
Sampai di rumah sakit, Lilis langsung ditangani. Semua menampakkan wajah lega saat dokter keluar dari ruangan, mengatakan kalau Lilis dan kandungannya baik-baik saja. Anakku baik-baik saja di dalam perut Lilis. Betapa hati sangat lega mendengarnya.
"Sebaiknya kalian pulang. Biar kami yang menunggu Lilis," kata Ayah sambil memandangku.
Aku tahu, perkataan itu sebenarnya lebih ditujukan padaku. Dengan perasaan tak rela, aku, Laras dan kedua orang tuaku meninggalkan rumah sakit. Lagi-lagi mereka membiarkan Devan berada di dekat Lilis.
Dering ponsel membuatku merogoh saku untuk melihat siapa pengirim pesan di saat yang tidak tepat.
[Evan, aku sudah tahu semuanya! Tunggu aku di rumah!]
__ADS_1
Pesan dari Kak Elan. Sepertinya aku harus menyiapkan wajahku untuk jadi samsak Kak Elan.
*****