Adik Ipar Malang

Adik Ipar Malang
bab 24 Bertemu Mertua


__ADS_3

Adik Ipar Malang


Bab 24 Bertemu Mertua


POV Author


Evan merasakan kepalanya sangat pusing, badannya juga sakit. Yang dia ingat adalah saat sedang minum di sebuah bar, kemudian kakaknya mencoba mengajaknya pulang. Tapi, pada akhirnya Elan membiarkan Evan terus minum.


Pikir Elan dengan membiarkan Evan melampiaskan pada minuman, itu akan membuat perasaan sakit dan beban Evan lega sejenak. Nyatanya pemikiran itu adalah awal mula yang sudah salah.


Terdengar suara dari arah kamar mandi. Suara air mengalir dari keran dan suara tangis yang samar-samar. Setelah memaksa badannya untuk bisa bangun, Evan berjalan menuju kamar mandi walau masih dengan sempoyongan.


"Kamu kenapa Laras?" Seketika Evan melupakan sakit di kepalanya. Kemudian berjalan menuju istrinya yang terlihat dalam keadaan memilukan.


Evan mengambil handuk untuk dibalutkan ke tubuh istrinya dan mematikan keran air. Kemudian dia membawa istrinya itu duduk di ranjang.


"Kenapa kamu bisa seperti ini?" tanya Evan lagi.


Laras hanya memandang wajah Evan dengan mata kosong. Wajahnya pucat, dengan mata sembab seperti habis menangis.


Evan terkejut melihat wajah istrinya seperti tak ada kehidupan. Tak tahu apa yang harus dilakukannya sekarang.


"Sebaiknya hari ini kamu jangan ke kantor dulu. Biar nanti aku yang ijinkan pada papa."


Evan berjalan menuju kamar mandi untuk bersiap berangkat ke kantor. Sedang Laras sendiri memandang punggung Evan dengan hati putus asa.


Setelah Evan berangkat kerja, Laras hanya mengurung diri di kamar. Ponsel pun dimatikan, agar tak ada yang mengganggu kesedihannya.


Sudah beberapa kali Evan pulang dengan kondisi sama, bau alkohol dan mabuk. Laras masih tetap bertahan di samping Evan. Rasa cintanya lebih besar dari pada rasa kecewanya terhadap Evan.


Seperti kata ibu dan mama mertuanya, mungkin Evan sedang salah jalan. Jadi sebagai istri sebaiknya dia mengarahkan ke jalan yang benar.


Jam menunjukkan waktu istirahat, Elan mengajak Evan makan siang berdua saja di restoran dekat gedung kantor. Terpaksa Laras makan siang sendiri di kantin. Toh Evan makan dengan kakak kandungnya, pikir Laras.


"Bagaimana hubungan kamu dengan Laras?" tanya Elan setelah menyelesaikan makan siangnya.


Elan merasa kasihan terhadap Laras. Beberapa hari ini dia melihat adik iparnya itu bagaikan hidup tapi tak bernyawa.


"Biasa saja," jawabnya dengan nada datar khasnya.


"Jangan seperti itu, Evan. Kalau memang kamu sudah tidak ingin bersamanya lebih baik lepaskan. Jangan menyakitinya, hanya karena rasa kecewamu padanya di masa lalu. Sekarang 'kan, dia perlahan-lahan sudah mau mulai mengubah sifatnya menjadi lebih baik."


"Aku usahakan."


Elan menghembuskan nafas dengan berat. "Apa kamu masih memikirkan Lilis?"


Evan yang hendak meminum kopi menghentikan gerakan tangannya, membuat bibir cangkir berhenti tepat di depan mulut Evan.


"Apa kalian berkomunikasi dengan baik?" Bukannya menjawab, Evan malah balik bertanya. Kemudian menyeruput kopinya dengan tetap tenang.


"Lupakan Lilis. Dia sudah menjalani hidupnya dengan Devan, dan akan tetap menjadi adik iparmu. Dia sendiri yang sudah memilih jalan hidupnya."


Elan masih berusaha menasehati Evan. Walau hati sebenarnya sudah mangkel karena hanya ditanggapi dengan biasa saja oleh adik kandungnya itu.


"Bagaimana dengan anakku yang ada di perutnya?"

__ADS_1


"Anakmu juga baik-baik saja."


Ada rasa bangga di hati Evan, ketika mendengar Elan menyebut kata "anakmu" barusan.


"Lilis pasti sedih melihatmu seperti ini. Kakak laki-laki yang dibanggakan terpuruk dalam keegoisannya sendiri. Apa lagi kalau sampai kamu tega menyakiti Laras lebih dari ini. Mungkin dia tak ingin melihat wajahmu lagi."


"Menurutmu, masih bisakah aku mendapat maaf darinya?"


"Kalau kamu bersungguh-sungguh, pasti Lilis akan memaafkanmu, dan dengan senang hati membiarkanmu melihat anaknya. Ehm, maksudku ... anak kalian, setelah lahir nanti."


"Beri aku waktu."


"Dimulai dari perbaiki hubunganmu dengan Laras dulu."


"Aku pikir-pikir dulu."


Berbicara dengan adiknya sendiri kadang membuat Elan harus menyiapkan stok sabar yang banyak. Terlalu dingin, datar, dan irit bicara.


Meski pun hanya ditanggapi dengan datar dan biasa saja, setidaknya Evan mau menanggapi. Dari pada tidak sama sekali. Semoga saja Evan beneran akan berubah.


•••••


POV Lilis


Aku duduk dengan kondisi sangat gugup. Kedua mertuaku sebentar lagi akan datang. Aku sedang memikirkan kemungkinan sikap dari kedua orang tua Kak Devan nanti terhadapku.


Berkali-kali mengulum bibir dan mencoba menyamankan diri untuk duduk. Walau tetap saja cara dudukku terlihat sangat gelisah.


Kak Devan yang melihat kegugupanku pun mencoba menenangkan, dengan cara merangkul pundak ini dan tersenyum hangat.


Aku mencebikkan bibir. Apa dia benar-benar tak tahu berada di posisiku saat ini? Meski pun masih termasuk saudara dari ayahku, tapi kami sudah sangat lama tidak bertemu. Pasti akan ada rasa canggung.


"Tarik nafas pelan-pelan, terus keluarkan. Kasihan baby kalau kamu gelisah terus. Dia pasti juga ikut merasakannya."


Aku mengikuti instruksi dari suamiku itu. Hasilnya lumayan sedikit meredakan kegugupan ini.


Terdengar suara mobil memasuki halaman, berhenti di depan teras. Aduh! Kembali lagi ini gugupnya.


"Den Devan, Non Lilis, Nyonya sama Tuan sudah sampai." Mbok Urip datang dari arah depan memberi tahu kedatangan orang tuanya Kak Devan.


 


Setelah memberi tahu kedatangan Nyonya dan Tuan besarnya, Mbok Urip langsung ke dapur menyiapkan makan siang untuk kami.


"Assalamualaikum. Mama pulang!" Terdengar suara perempuan mengucap salam dan langkah kaki yang memasuki rumah.


"Wa'alaikumsalam," jawab kami berdua kompak.


Aku dan Kak Devan langsung berdiri. Bersiap menyambut kedatangan Om Hisyam dan Tante Desi, orang tua dari Kak Devan.


"Dimana menantuku?" tanya perempuan paruh baya yang terlihat masih energik. Tante Desi wajahnya masih tak berubah, masih sama seperti terakhir bertemu saat aku masih SD.


"Ya ampun Lilis! Kamu sudah besar sekarang. Mama bener-bener pangling. Pantas aja Devan ngga mau Mama jodohin sama siapa pun."


Tante Desi berkata dengan sangat heboh. Kami saling berpelukan dan cipika-cipiki.

__ADS_1


"Papa juga hampir nggak kenal. Terakhir ketemu kamu masih sangat imut. Sekarang sudah mulai beranjak dewasa," ucap Om Hisyam sambil mengusap puncak kepalaku.


"Kamu sehat, kan? Apa Devan menyusahkan kamu?" tanya Tante Desi lagi sambil membolak-balikkan badanku seperti sedang memeriksa kalau ada yang lecet.


"Enggak, kok, Tante."


"Kok, Tante, sih. Mama, dong. Mama dan Papa!" tegas Tante Desi.


"Eh, i-iya Mama, Papa. Kak Devan nggak merepotkan, kok. Malah dia yang merawat dan menjaga aku dengan sangat baik."


Memang seperti itu kenyataannya. Beberapa hari tinggal di rumah ini bersama Kak Devan, dia tak pernah membuatku susah. Malah dia mengayomi dan sangat menjaga perasaanku. Aku jadi merasa takut kalau kehilangannya.


"Ma, udah dong. Kasihan Lilis, nanti istriku takut," ucap Kak Devan menarikku yang sedang diunyel-unyel pipinya oleh Tante Desi. Eh, Mama Desi. Hihi.


Setelah ini aku harus terbiasa dengan panggilan Mama Desi dan Papa Hisyam. Karena mereka sudah menjadi orang tuaku juga.


"Habis Mama gemes, sih. Gimana kabar cucu Oma?" tanya Mama Desi sambil mengusap perutku.


Seketika tubuhku menjadi kaku. Sudah jelas mereka tahu apa yang sudah aku alami. Bahkan ayah dari anak di dalam perutku ini juga mereka sudah tahu. Tapi pertanyaan ini seakan sedang menyindirku. Membuatku merasa tak pantas bersama dengan Kak Devan.


Kak Devan menyentuh pundakku. Membuatku sedikit berjengit karena tadi sedikit melamun. Aku menoleh dan mendapati dia sedang tersenyum hangat dan menganggukkan kepala.


"Cucu Mama baik-baik saja di perut," jawabku dengan sedikit gugup.


"Syukur Alhamdulillah." Kulihat Mama tersenyum tulus padaku.


"Tuan, Nyonya, makanan sudah siap. Mari silakan." Untung saja Mbok Urip datang memotong obrolan kami. Aku sedikit lega.


"Ayo kita makan siang dulu. Setelah itu kita bongkar oleh-oleh yang Mama bawa buat kalian."


Mama menggandeng lenganku menuju meja makan. Kami makan dengan suasana penuh kehangatan. Ditemani candaan kecil dari Kak Devan yang selalu menggoda Mama, dan Papa yang akan jadi sosok penengah.


Setelah makan siang, aku dan Mama membongkar oleh-oleh di kamar, sedang Kak Devan dan papa pergi ke ruang kerja untuk membahas pekerjaan.


Aku tersenyum garing, memandangi tumpukan oleh-oleh yang dibawakan oleh Mama. Andai oleh-oleh itu dimasukkan ke dalam lemari, pasti akan mengisi setengah lebih dari lemari pakaianku.


Meski keluargaku dari golongan kecukupan, tapi ayah tak pernah mengajarkanku untuk membeli dengan berlebihan. Selalu diingatkan untuk membeli sesuatu yang dibutuhkan saja.


Kebanyakan oleh-oleh dari Mama adalah baju-baju untukku saat hamil besar nanti. Seperti daster, dalaman, dan outfit untuk ibu hamil.


"Lihat ini! Mama juga membelikan baju tidur couple untuk kamu dan Devan."


Lilis langsung menengok ke arah mertuanya yang sedang memegang baju tidur dengan warna pink bermotif kepala boneka beruang coklat. Aku tersenyum pada Mama. Mungkin aku akan suka, tetapi Kak Devan pasti tak akan suka.


Aku menyeringai ketika sepintas ide lewat di kepalaku. Bagaimana kalau memaksa Kak Devan supaya mau pakai baju tidur ini?


Aku yang sedang memikirkan ide iseng untuk suamiku itu tersentak kaget, saat mertuaku itu menggenggam telapak tanganku. Kudapati Mama sedang menatapku dengan serius.


"Lilis, jujur saja. Awalnya Mama nggak mau Devan menikahi kamu. Apa lagi harus bertanggung jawab kepada anak yang bukan darah dagingnya sendiri."


Aku menahan napas dan tubuhku menegang mendengar pernyataan wanita cantik sekaligus mertuaku itu. Apa mamanya Kak Devan masih belum bisa menerima kehadiranku sebagai menantu di keluarga ini? Entah kenapa aku merasa takut kalau-kalau harus berpisah dari Kak Devan.


"Saat Mama mendengar suara Devan di telfon, dia terdengar sangat bahagia kamu menerima lamarannya. Mama masih ingat, dulu wajahnya selalu berseri-seri saat bercerita tentangmu. Cara berpikir dia yang semakin dewasa, membuat Mama menjadi luluh."


Ketegangan Lilis mulai mengendur. Dia terus memperhatikan apa yang ingin disampaikan oleh Mama mertuanya itu.

__ADS_1


"Kamu tahu kenapa Mama dan Papa menitipkan Devan di rumahmu dulu?"


__ADS_2