Adik Ipar Malang

Adik Ipar Malang
bab 33 Rencana Liburan


__ADS_3

Adik Ipar Malang


Bab 33 Rencana Liburan


POV Laras


"Perhatian semuanya!" Kak Elan berkata sedikit kencang. Semua terdiam untuk mendengarkan lebih lanjut. "Aku mau bilang, kalau Evan minggu depan harus pergi untuk meninjau cabang yang di Bali." Pemberitahuan dari Kak Elan membuat Evan membelalakkan matanya.


Sebelum Evan membuka mulut, Kak Elan sudah berbicara lebih dulu. "Apa? Di sana sudah banyak dibuka tempat wisata baru. Itu bisa kita manfaatkan untuk meningkatkan penjualan produk kita."


"Kenapa harus aku?" tunjuknya pada diri sendiri.


"Lalu siapa?"


"Kenapa tidak Kakak saja?"


"Aku harus membantu Papa menangani kantor di sini. Sekaligus kamu juga harus merasakan apa yang namanya kangen dengan istri dan calon anak," terang Kak Elan.


"Bagaimana dengan Laras?" alasan Evan lagi.


"Tidak usah khawatir. Dia bisa tinggal dengan kami, atau dengan orang tuanya. Banyak orang yang bisa bergantian menjaganya." Kali ini Papa ikut membantu Kak Elan memojokkan, membuat Evan langsung bungkam.


Wajah Evan benar-benar masam setelah kalah debat dengan Kak Elan. Sepertinya aku setuju dengan ide Kak Elan. Evan juga sekarang jadi lebih banyak memiliki ekspresi. Tidak hanya berwajah datar.


Evan melihat ke arahku dengan pandangan berharap. Tapi hanya kubalas dengan tersenyum manis. Tentu aku juga ingin tahu seberapa kangennya Evan ketika sedang berjauhan denganku.


"Oke. Aku kalah. Minggu depan aku yang akan berangkat ke Bali, setelah mengantar Laras USG. Kalau sampai aku dengar terjadi sesuatu dengan Laras, jangan salahkan aku langsung segera pulang."


"Deal!" Kak Elan mengulurkan tangan, yang disambut oleh Evan.


Yang lain hanya tersenyum sambil menggeleng melihat tingkah dari kakak beradik itu.


Lumayan juga cara yang direncanakan Kak Elan untuk memberi pelajaran pada Evan. Nanti aku akan lihat, seberapa kuat Evan menahan godaan wanita di sana. Apa lagi ini Bali, banyak turis perempuan yang berpakaian minim.


***


POV Devan


""Bagaimana dengan orang yang sudah menolong kamu? Apa dia mau makan malam di rumah kita?" tanyaku ketika kami sedang sarapan.


"Sudah. Dia bilang nanti malam bisa datang ke sini."


"Ya, sudah. Kamu persiapkan saja semuanya, ya. Aku berangkat dulu ke kantor."


Setelah selesai sarapan, aku melangkah menuju ke teras. Lilis mengikuti di belakang sambil membawa tas kantor milikku.


"Ingat, jangan pergi-pergi dulu! Kalau butuh apa-apa, biar Mbok Urip saja yang keluar."


Kali ini aku akan tegas pada Lilis. Dia tak tahu seberapa khawatirnya aku mendengar dia hampir terserempet mobil kemarin. Rasanya jantungku seperti berhenti berdetak. Mungkin aku bisa gila kalau sampai terjadi sesuatu padanya.


Di kantor, aku masih memikirkan kejadian yang menurutku ganjil. Lilis beberapa kali terkena masalah setiap bertemu dengannya, dan dia yang menolongnya.


"Tuan Fero."


Lilis bilang namanya Fero. Wajahnya seperti orang dari negeri ginseng. Rasanya seperti tidak asing.


Sore harinya aku bergegas pulang. Penasaran dengan sosok Fero itu. Aku dan Lilis menuju teras ketika mendengar suara mobil berhenti di depan rumah.


"Fero!" panggilku pada laki-laki yang kini sudah berdiri di depanku.


"Yo! Devan! Apa kabar?" sapanya padaku. Tapi dia seakan tak terlihat terkejut melihatku.


"Alhamdulillah, baik." Kami saling berjabat tangan dan berpelukan.

__ADS_1


"Kalian saling kenal?" tanya Lilis dengan terkejut.


Langsung saja kucubit pipinya dia. Aku tak mau ada orang selain aku yang melihat wajah terkejutnya itu. Karena wajah polosnya akan berubah sangat menggemaskan, dan aku tak mau berbagi dengan orang lain.


"Jadi ini perempuan yang sudah membuat kamu menolak adikku?" tanya Fero dengan nada bercanda. Tapi aku lebih yakin kalau itu terdengar mengejek.


"Ya, ini Lilis. Dia wanita satu-satunya yang bisa mengubah hidupku, yang tadinya suram menjadi lebih baik," jawabku sambil merangkul pundaknya.


Aku memandang Lilis dengan penuh kasih sayang. Sudah dipastikan reaksi dari Lilis. Dia akan tersipu malu.


"Lumayan lebih muda, lugu dan polos." Fero sekilas memandang Lilis dengan tatapan yang ... entahlah.


Lilis memandang kami berdua dengan pandangan bingung. Dia pasti bertanya-tanya, bagaimana aku bisa mengenal Fero.


"Ayo, kita masuk ke dalam! Nanti aku juga akan jelaskan semua yang ada di pikiranmu." Aku menggenggam tangan Lilis dan mengajak Fero serta masuk ke dalam rumah. Kami langsung menuju meja makan.


Beberapa kali aku kedapatan melihat Fero mencuri-curi pandang pada Lilis. Aku kurang tahu apa arti pandangan itu. Dibilang suka, tapi bukan. Dibilang kagum, tapi tadi dia mengejek Lilis. Aku akan coba memancingnya.


"Sayang, kamu kalau makan itu jangan berantakan," ucapku sambil berpura-pura menghapus sudut bibirnya.


"Aku nggak berantakan, Kak. Kakak makan aja. Ada tamu, jangan seperti itu." Lilis terlihat sekali agak rikuh.


"Kamu ini. Dulu yang makannya paling banyak, padahal badannya paling kecil, siapa?" Aku masih mencoba memancing suasana lagi.


"Aku ... enggak."


"Dulu ada, tuh, yang suka makan kepiting, tapi nggak berani buka cangkangnya. Takut kepitingnya mencapit. Padahal mana ada kepiting yang sudah dimasak masih bisa mencapit."


"Kak, berhenti! Enggak enak ngomong kaya gitu di depan tamu."


"Kalau aku tidak mau berhenti, kenapa memangnya?" tantangku lagi.


"Tidur di luar."


Tepat sasaran. Aku bisa melihat Fero menggenggam sendok dengan sangat erat. Wajahnya juga terlihat muram. Apa Fero punya rasa pada Lilis? Bukankah mereka baru beberapa kali bertemu? Aku yakin Fero bukan orang yang dengan mudahnya menaruh hati pada seorang perempuan. Seingatku, dia bahkan tidak punya teman perempuan.


"Astaga!" Lilis menutup wajah dengan sebelah tangannya. "Maaf, ya, Kak Fero, untuk sikap Kak Devan. Tolong jangan di dengarkan pembicaraan tidak sopan kami, yang barusan."


Fero langsung mengubah raut wajahnya. Dari yang tadinya muram menjadi biasa saja.


"Tidak apa-apa. Kalian pasangan yang akrab," ucap Fero dengan tersenyum.


Bagi Lilis yang polos pasti akan menganggap Fero pria yang ramah dan suka tersenyum. Tapi tidak denganku yang tahu arti senyumnya dia. Itu senyum palsu dan tidak tulus.


Selesai makan malam aku menggiring Fero untuk duduk di ruang tamu. Bagaimanapun dia adalah teman lama, sekaligus orang yang sudah menolong istriku. Sedang Lilis membantu Mbok Urip membereskan sisa makan malam di dapur.


"Kamu ke mana saja setelah wisuda? Aku ingin mencarimu, tapi papaku sudah lebih dulu memberi tugas untuk mengurus perusahaannya." Aku langsung saja bertanya sesuatu yang mengganjal dari dulu.


"Hanya menenangkan diri. Setelah menghadapi kenyataan pahit."


"Kenyataan pahit? Maksudmu?"


"Kenyataan pahit setelah ditolak olehmu," jawabnya dengan ketus.


"Maaf. Tapi kamu sudah tahu alasannya, bukan?" kataku dengan sangat menyesal.


"Bercanda." Fero tertawa beberapa saat. Sayangnya aku bisa melihat ada kesedihan di dalam tawanya.


Fero adalah teman saat kuliah di luar negeri. Kami lumayan dekat, karena satu angkatan, tapi tak terlalu akrab. Bahkan kami sering mendapat tugas bersama dari dosen.


Aku pernah beberapa kali ke kediamannya selama menimba ilmu di negeri orang. Dia mempunyai satu adik perempuan seumuran dengan Laras. Fero bilang kalau adiknya itu menyukaiku. Aku tidak menolaknya atau pun menerimanya. Karena aku mengira itu hanya candaan saja.


Saat kami selesai wisuda, adiknya Fero menyatakan perasaannya padaku. Dengan berat hati, aku menolaknya. Karena memang hatiku sudah mantap untuk mendapatkan Lilis setelah aku sukses nanti.

__ADS_1


Sejak saat itu, aku tak pernah melihat mereka berdua lagi. Aku juga sudah mulai sibuk dengan pekerjaan di kantor. Apa lagi aku harus menggantikan papa untuk memimpin perusahaannya, karena aku anak tunggal. Di sisi lain aku juga ingin memantaskan diri, saat waktunya sudah tepat untuk melamar Lilis.


"Aku tak menyangka, kalau ternyata perempuan yang aku tolong itu istrimu. Tak ada kabar kalau kau sudah menikah. Apa pernikahanmu tak dirayakan?" tanyanya setelah tawanya mereda.


"Memang aku masih belum mengumumkan ke publik, menunggu sampai dia melahirkan. Aku tak ingin membuatnya lelah dan banyak pikiran."


"Dia terlihat masih remaja. Apa kau ..." Fero memicingkan matanya seraya menunjukku dengan telunjuknya.


"Itu masalah pribadi. Maaf aku tak bisa memberitahumu."


"_It's ok_." Fero mengangguk-anggukkan kepalanya. "Istrimu unik."


"Memang. Beruntung aku bisa mendapatkannya. Meski harus perlahan dan bersaing dengan yang lain."


"Setelah menyandang status istri pun, kamu tetap harus berhati-hati. Banyak laki-laki di luar sana tak memandang status, entah gadis, istri, atau pun janda."


"Ya. Aku juga berharap, kalau istriku tak pernah bertemu dengan laki-laki tak tahu diri seperti itu."


Fero pulang menjelang tengah malam. Dia tak berpamitan dengan Lilis, karena dia sudah tidur. Aku memang tak pernah mengijinkan Lilis untuk tidur terlalu larut.


Tak tidur larut saja dia akan bangun tengah malam karena kondisinya yang sedang hamil, apa lagi kalau tidur larut. Aku kapok kalau untuk menemani dia begadang malam hari, karena siangnya pasti pekerjaanku agak terganggu.


Keesokan harinya Fero jadi sering ke rumah, dengan banyak alasan. Dia menawariku untuk kerja sama dan aku memintanya untuk membahasnya di kantor, tapi dia tak mau.


Meski kami teman dekat, tapi dengan statusku sekarang, tak pantas kalau teman yang masih lajang setiap hari ke rumah. Walaupun dia akan datang saat aku sudah pulang bekerja, tetap saja, itu sangat mengganggu rumah tanggaku dengan Lilis. Waktuku untuk berduaan dengan Lilis menjadi berkurang.


"Paket!" Terdengar suara kurir di depan rumah.


"Biar aku aja, Kak," cegah Lilis ketika aku akan berdiri.


Kami sedang bersantai di halaman samping rumah. Menikmati teh hangat buatan istri tercinta ditemani cahaya sandikala sore hari, sangat indah.


"Kak, ada paket dari mama," ujar Lilis sambil berjalan ke arahku.


"Di mana paketnya?" tanyaku. Karena Lilis datang dengan tangan kosong.


"Di ruang tamu. Lumayan besar. Ayo kita lihat!" ajaknya sambil menarik tanganku.


"Iya, Sayang."


Gawaiku bergetar di dalam saku. Ternyata mama yang memanggil. Aku segera mengangkatnya, dan menyuruh Lilis untuk lebih dulu membuka paket itu. Lilis mengangguk saja, dan menuruti perintahku.


"Assalamualaikum, Ma."


[Waalaikumsalam, Devan. Paketnya sudah sampai belum? Lilis suka enggak dengan hadiah dari Mama?]


"Paketnya baru saja sampai. Lilis juga sangat suka dengan hadiahnya. Terima kasih, ya, Ma."


[Syukurlah kalau Lilis suka. Oh, ya. Kamu sudah mengurus acara liburan kamu dengan Lilis? Jangan pikir Mama lupa, ya.]


"Itu ... tunggu beberapa hari lagi, Ma. Aku belum menemukan tempat yang pas untuk kami berlibur."


[Awas, ya, kalau sampai kamu abai dengan menantu Mama.]


"Iya, iya, Ma. Mama mau bicara langsung dengan Lilis?"


[Mama pengen banget ngomong sama Lilis. Tapi Mama takut nanti jadi langsung buru-buru pulang ke sana. Titip salam aja untuk Lilis. Bilang padanya kalau Mama kangen banget sama dia.]


"Iya, Ma. Mama sama papa jangan lupa jaga kesehatan di sana."


[Tentu. Mama, kan, pengen nimang cucu. Sudah, ya. Mama masih ada urusan. Assalamualaikum.]


"Waalaikumsalam."

__ADS_1


Sesayang itu Mama pada menantunya, dan menurutku Lilis memang pantas mendapatkannya. 


__ADS_2