Adik Ipar Malang

Adik Ipar Malang
bab 42 Terserempet Mobil


__ADS_3

Adik Ipar Malang


Bab 42 (Terserempet Mobil)


POV Author


Devan memesan taksi untuk menuju kafe yang sudah disepakati bersama teman lamanya. Butuh waktu sekitar 25 menit untuk sampai di sana. 


"Sepertinya kita sampai terlalu awal," ucap Devan begitu turun dari taksi. Dia melihat arlojinya, pukul 09.45 WITA. Ternyata 15 menit lebih awal dari waktu janjian mereka bertemu.


"Enggak apa-apa, Kak. Itu lebih baik. Dari pada teman Kakak yang harus menunggu kita, malah kita yang jadi merasa enggak enak."


"Ya, sudah. Kita masuk saja dulu kemudian cari tempat duduk."


Kafe ini kebetulan seluruh dindingnya terbuat dari kaca, yang mana dari arah luar mau pun dari dalam bisa terlihat. Lilis memilih tempat duduk yang berada di dekat jendela. Kemudian Devan memanggil pelayan untuk memesan minuman terlebih dulu, sambil menunggu teman lamanya.


Lilis melihat dua orang perempuan berdiri di luar kafe. Dia seperti pernah melihat salah satu perempuan itu. Kedua perempuan itu terus berjalan, dan ternyata mereka berdua memasuki kafe yang sama dengan dirinya.


"Kak!" Lilis mencolek lengan Devan. "Aku seperti pernah melihat perempuan itu, tapi di mana, ya? Itu seperti perempuan yang bersama Kak Evan, sewaktu di restoran."


Devan melihat ke arah yang ditunjuk Lilis. "Benar, Lis. Itu dia!"


Lalu Devan melihat seorang perempuan yang berdiri di sebelahnya lagi. 


"Freya!" ucapnya dengan nada terkejut. 


Freya yang mendengar namanya disebut, segera mengalihkan pandangannya. Matanya membulat, ternyata ada Devan dan Lilis di sini. Buru-buru Freya mengajak perempuan yang bersamanya keluar dari kafe.


"Kita berpencar saja. Kalau dia ternyata mengejar kamu, pokoknya harus bisa meloloskan diri. Ingat untuk tetap tutup mulut!" perintah Freya, yang diangguki oleh perempuan itu.


Devan yang melihat mereka berdua seperti akan kabur pun langsung berdiri. Dia harus mencari tahu, bagaimana bisa Freya bersama dengan perempuan yang memberi obat perangsang di dalam makanan Evan.


"Lilis, kamu tunggu dulu di sini! Aku harus mengejar mereka." Devan berpesan pada Lilis.


Lilis mengangguk saja, supaya tidak menunda kepergian Devan mengejar mereka. Setelah memastikan keamanan Lilis, Devan langsung mengejar Freya dan perempuan itu.


Sampai di depan pintu, ternyata Freya dan temannya berpencar. Perempuan itu ke sebelah kiri, sedang Freya ke sebelah kanan. Devan lebih memilih mengejar Freya. Siapa tahu dia bisa mencari informasi lainnya.


Di dalam kafe, Lilis langsung menuju kasir untuk membayar minuman mereka. Kemudian keluar dari kafe, berniat mengikuti Devan. Lilis sempat melihat Devan berlari ke arah kanan, saat kedua perempuan itu berpencar.


Kenapa Kak Devan berlari ke arah kanan? Bukankah perempuan yang memberi obat pada makanan Kak Evan berlari ke arah kiri? batin Lilis bertanya-tanya.


Freya terus berlari, begitu pula dengan Devan yang terus mengejarnya. Devan terus memanggil Freya supaya berhenti, tapi tidak digubris sama sekali.


"Freya, kalau kamu tidak bersalah, kenapa harus lari?" gumam Devan sambil terus mengejar Freya. 


Banyak pejalan kaki yang berlalu lalang, membuat laju Devan jadi sedikit terhalang dan tersendat.


"Si4l! Kenapa bisa sampai ketemu mereka? Padahal aku udah usahain buat janjian di luar resort. Benar-benar si4l!" umpat Freya selama pelariannya. 


Freya berniat menyeberang jalan, siapa tahu bisa mengalihkan penglihatan Devan. Tanpa melihat rambu-rambu, Freya menyeberang jalan begitu saja. Dua kali perempuan itu hampir tertabrak mobil, kalau saja si pengendara tidak mengerem mendadak. 


Teriakan kepanikan juga makian orang-orang pengguna jalan, klakson motor dan mobil memenuhi jalan. Hingga hal tak terduga terjadi tepat di depan mata Devan. 


"Freya!" teriak Devan saat kejadian berlangsung dengan cepat.


Sebuah mobil mini bus berwarna hitam menyerempet Freya hingga dia terbaring di jalan. Devan langsung berlari menghampirinya, kemudian membantunya untuk duduk.


Freya meringis menahan sakit karena tangannya lecet. Juga dapat dilihat kalau kedua lututnya terluka, karena dia mengenakan dress pendek selutut. Kemungkinan akibat tergores aspal saat terjatuh. Bersyukur tidak terlalu parah.


Semua mengerubungi mereka berdua. Ada yang penasaran, ada yang hanya menonton, ada yang mengambil gambar, tapi ada satu laki-laki yang mendekati mereka dan menanyakan keadaan korban dengan cemas. 

__ADS_1


"Bagaimana keadaannya? Tidak terluka parah, kan?" tanyanya dengan cemas. Laki-laki yang kira-kira seumuran dengan Devan itu mengenakan pakaian warna hitam, seperti setelan untuk supir pribadi.


"Kamu yang mengendarai mobil mini bus hitam itu, ya? Tanggung jawab kamu!"


Beberapa orang mulai rusuh, terpancing emosi untuk menghakimi pelaku tersebut. Namun segera reda begitu pelaku mau bertanggung jawab.


"Iya, Pak. Saya akan tanggung jawab. Sebaiknya angkat Mbak ini ke dalam mobil saya. Biar diantar ke rumah sakit untuk diobati," ucap si pelaku dengan wajah mulai ketakutan.


Devan membiarkan orang-orang segera memapah Freya masuk ke dalam mobil laki-laki itu. Dia menoleh ketika ada yang menepuk bahunya.


"Lilis!"


"Apa Kakak enggak apa-apa?" tanya Lilis dengan cemas.


"Aku baik-baik saja."


"Alhamdulillah." Lilis menghembuskan nafas lega. "Dari kejauhan aku melihat kerumunan di pinggir jalan. Kata orang-orang ada yang terserempet mobil. Aku khawatir itu Kakak. Syukurlah ternyata bukan."


"Iya, yang terserempet Freya."


"Freya?" 


"Ah, iya! Ayo ikut mengantar dia ke rumah sakit!"


Lilis menurut saja. Kemudian mereka ikut masuk ke dalam mobil yang sama. Lilis duduk di belakang bersama Freya, sedang Devan duduk di depan. Di sebelahnya ada laki-laki yang menyerempet Freya, sedang menyetir mobil.


Dalam perjalanan Lilis terus berpikir, tentang Devan yang mengenal perempuan di sebelahnya, juga masih bertanya-tanya tentang Devan yang lebih memilih mengejar Freya dibanding perempuan yang memberi obat Evan.


"Maaf, di kursi belakang ada air mineral dalam kardus. Mungkin bisa diberikan ke Mbak yang terluka. Supaya lebih mendingan." Setelah beberapa lama hening di dalam mobil, laki-laki itu membuka percakapan lebih dulu.


"Biar aku yang ambilkan. Tunggu sebentar." Lilis segera mengambil air mineral. Kemudian membuka segel tutup botol tersebut, sebelum diserahkan kepada Freya yang menerimanya dengan biasa saja. Tak tersenyum atau pun mengucapkan terima kasih kepada Lilis. Dia hanya sesekali meringis, kala lukanya berdenyut.


Freya dan Lilis sama sekali tidak saling berbicara. Berbeda dengan para perempuan, di kursi depan para laki-laki malah saling mengobrol. Freya dan Lilis jadi dapat mengetahui dari obrolan mereka, kalau laki-laki tersebut bernama Ipang. Seorang supir pribadi dari pemilik salah satu restoran ternama.


"Saya Devan, yang sedang hamil di belakang itu istri saya, Lilis, dan yang tidak sengaja diserempet Anda itu Freya, teman saya."


Lilis balas tersenyum kala melihat Ipang tersenyum melalui kaca spion di dalam mobil. Berbeda dengan Freya yang cemberut mendengar perkenalan dari Devan. 


"Sekali lagi saya minta maaf kepada Mbak Freya," ucap Ipang dengan tulus. 


Freya sama sekali tidak menanggapi ucapan dari Ipang. Devan dan Lilis juga diam saja, ikut tak menanggapi ucapan Ipang. Bagaimanapun itu juga kesalahan dari Devan dan Freya yang main kejar-kejaran di jalan raya.


Sepuluh menit kemudian, mobil yang ditumpangi sudah sampai di depan rumah sakit terdekat. Lilis melihat bagaimana Freya yang manja, meminta dipapah oleh suaminya. Namun Devan segera memanggil perawat guna membawakan kursi roda untuk Freya. Alhasil Freya terus memasang wajah cemberut.


"Maaf, saya hanya punya uang segini. Kalau boleh, saya akan menyicilnya saat saya sudah gajian." Ipang menyodorkan uang seratus ribuan sebanyak dua lembar, yang langsung ditolak oleh Devan. 


"Tidak perlu. Uang ini disimpan saja. Kamu tidak lari dari tanggung jawab dan mengantar kami sampai rumah sakit saja itu sudah cukup. Biar sisanya aku yang mengurus."


"Terima kasih banyak. Terima kasih."


Ponsel Ipang bergetar, lalu meminta izin untuk mengangkat panggilan dari bosnya. 


"Kak, aku ke toilet sebentar, ya," izin Lilis pada Devan.


"Iya. Jangan lama-lama!"


Devan juga teringat sesuatu, dia segera menghubungi Fero untuk ke rumah sakit. Bagaimanapun dia adalah kakak dari Freya.


Ipang kembali, setelah menerima panggilan. Lalu izin pamit pada Devan, karena harus kembali menjemput bosnya. Freya sendiri sudah di dalam UGD, dan sedang ditangani.


Setelah dokter keluar, Devan langsung mendapat panggilan dari Evan. Langsung saja dia menyuruh Evan agar segera menyusul ke rumah sakit, karena ini juga berhubungan dengan perempuan yang memberi obat pada makanan Evan. 

__ADS_1


Devan sedang menunggu Lilis kembali dari toilet. Dari kejauhan dia malah melihat Fero berjalan dengan tergesa, mendekatinya. 


"Di mana Freya?"


"Ada di dalam. Dokter baru saja keluar setelah menangani Freya."


Fero langsung saja masuk ke dalam untuk menemui adiknya. 


Selepas Fero masuk, kini Evan yang datang menghampiri Devan.


"Di mana perempuan itu?"


"Dia lolos. Aku mengejar kenalanku yang bersama perempuan itu. Di tengah jalan, dia terserempet mobil."


Evan mendengarkan dengan seksama. Kemudian matanya mencari keberadaan adik iparnya. "Di mana Lilis?"


"Ke toilet. Sudah agak lama, tapi belum kembali."


"Sebaiknya kita menyusulnya. Semoga tidak terjadi apa-apa dengannya."


Brakk!


Pintu kamar rawat Freya dibuka dengan kasar oleh Fero. Kemudian dia menghampiri Devan dengan menarik kerah kemejanya.


"Gara-gara kamu mengejar-ngejar Freya di jalanan, dia hampir tertabrak mobil. Kapan kamu bisa berhenti membuat Freya terluka?"


Freya? batin Evan bertanya-tanya. Kemudian dia menengok sedikit ke dalam kamar rawat yang setengah terbuka. Ternyata yang di dalam sana adalah Freya kekasih dari kakak kandungnya sendiri. 


Tanda tanya kini memenuhi isi kepalanya. Kemudian kembali memfokuskan pada Evan dan Fero. Dia memegangi tangan Fero yang mencengkeram dengan kuat kerah kemeja Devan.


"Tenang Fero. Aku mengejar-ngejar Freya juga bukan tanpa alasan. Aku melihat dia bersama dengan orang yang memberikan obat perangsang di makanan saudara iparku. Kalau memang Freya tidak merasa bersalah, kenapa dia harus lari?" Devan berkata dengan tenang.


Fero membeku di tempat. Dia menyadari kecerobohan Freya di sini. Perlahan dia melepaskan kerah kemeja Devan, kemudian menjauh darinya. 


"Atau mungkin Freya juga terlibat?" Kali ini Devan yang mengintimidasi Fero.


Fero sedikit gelagapan, yang untungnya bisa disembunyikan dari Devan. Dia berpikir harus mengalihkan persoalan tadi.


"Dari dulu kamu memang hanya bisa menyakiti Freya saja," kilah Fero.


"Fero! Aku sudah bilang dari dulu, kalau aku enggak memiliki perasaan dengan Freya. Dalam hati aku sudah terisi penuh oleh satu orang, yaitu Lilis, yang sekarang jadi istri aku," terang Devan. "Bahkan kamu pun enggak bisa bohong, kalau kamu juga tertarik dengan istriku, kan?" lanjut Devan tepat sasaran.


Jantung Fero seperti terkena seribu panah. Dia benar-benar kesal. 


"Tutup mulutmu! Enggak usah sok tahu! Pergi kamu dari sini! Atau aku akan melakukan hal sama kepadamu melalui Lilis."


"Brengs3k! Kamu enggak perlu bawa-bawa Lilis ke dalam urusan kita. Dia enggak tahu apa-apa, dan dia juga enggak ada hubungannya dengan ini."


"Ada! Dia ada hubungannya. Karena dia yang udah merebut kebahagiaan Freya." Fero benar-benar sangat marah dan bringas.


Tidak jauh dari situ, Lilis yang kembali dari toilet dan melihat untuk pertama kalinya, Fero yang dikenalnya lembut ternyata seperti ini aslinya. Jantung Lilis berdenyut sangat sakit ketika melihat Fero terus memarahi Devan, dengan kata-kata yang menghina tentang dirinya.


"Lilis!" ucap Evan terkejut, melihat di mana Lilis berdiri dengan air mata sudah mengalir di pipinya. Dua laki-laki itu langsung berhenti berdebat.


Lilis benar-benar tak menyangka. Dia yang menganggap Fero adalah orang baik ternyata seperti ini aslinya.


Perasaan menyesal dan bersalah menyelimuti Fero. Dia merasa bodoh karena kelepasan dan tidak bisa mengontrol emosinya.


Devan langsung berlari menghampiri Lilis, untuk menenangkannya. Diikuti oleh Evan di belakangnya. Pertengkaran ini tidak baik dilihat oleh Lilis. 


"Apa maksudnya aku merebut kebahagiaan Freya, Kak?" tanya Lilis dengan terisak.

__ADS_1


*****


__ADS_2