Adik Ipar Malang

Adik Ipar Malang
bab 45 Ada Bi Tirah


__ADS_3

Adik Ipar Malang


Bab 45 Ada Bi Tirah


"Apa lagi yang kamu ketahui? Apa kamu tahu kenapa Freya sampai melakukan hal itu padaku?" tanya Evan semakin tidak sabar.


"Aku tidak tahu. Aku hanya disuruh untuk melakukan apa yang dia suruh, tanpa harus tahu tentang yang lain. Kemudian menerima bayaran darinya."


Evan dan Devan meneliti wajah Siska. Mencari kejujuran di sana. 


"Apa ada rencana lagi yang akan dijalankan Freya?"


Siska menggeleng. "Aku tidak tahu. Apa Tuan ..."


"Devan. Namaku Devan," sela Devan.


"Apa Tuan Devan ingat  saat Tuan memergoki aku dan Freya di kafe?" 


Devan mengangguk.


"Saat itu sebenarnya kami ingin membuat rencana baru, tapi belum sampai duduk, lagi-lagi Tuan Devan sudah menggagalkan kami," lanjutnya.


Seketika nyali Siska langsung mengkerut karena Evan memandanginya dengan tajam.


"Aku belum sepenuhnya percaya denganmu," tukas Evan. "Kamu tetap di sini sampai aku menemukan bukti tentang kamu dan ibumu yang katanya sedang sakit. Sebutkan alamat tempat tinggalmu!"


Siska menyebutkan alamat dia tinggal bersama ibunya selama di Bali. Evan mencatatnya di ponsel, kemudian mengirimkan alamat tersebut kepada Devan, agar dia menyimpannya juga. Setelah itu lanjut mengirim pesan kepada anak buahnya yang ada di luar.


Selesai menginterogasi, Devan melepaskan tali yang mengikat tangan dan badan Siska. Perempuan itu mengusap pergelangan tangannya yang terdapat bekas ikatan. Kemudian menghapus air mata di pipinya. 


"Maaf, kami harus melakukan ini karena kamu sudah beberapa kali mencoba kabur saat bertemu kami," ujar Devan sambil membereskan tali tersebut. Kemudian ditepikan ke sudut ruangan.


"Kenapa harus minta maaf dengannya? Dia yang sudah melakukan perbuatan jahat kepadaku. Susah payah hubunganku dengan Laras membaik, hampir saja hancur lagi," sungut Evan.


"Sabar, Evan." Devan berusaha meredam kata-kata pedas yang akan dikeluarkan lagi dari mulut Evan.


Siska menundukkan kepalanya. Dalam hatinya terbesit rasa bersalah kepada dua orang di depannya ini. Tapi kondisi ibunya yang semakin parah, membuatnya terpaksa melakukan pekerjaan ini. 


Penyakit diabetes itu sudah merenggut dua jari kaki ibunya. Jangan sampai kemudian merenggut yang lainnya.


"Untuk sementara, kamu turuti saja ucapan Evan. Tentang ibumu, tenang saja. Kami tidak akan menyakitinya. Karena kami mengerti bagaimana perasaanmu."


"Terima kasih," ucap Siska lirih.


Karyawan Evan masuk sambil membawa nampan berisi sepiring nasi beserta lauk pauknya, dan segelas air putih. Devan mengernyit melihat itu.


Sepertinya Evan yang memerintahkan agar karyawan itu membawakan makanan ke sini untuk perempuan ini, batin Devan.


Devan melihat ke arah Evan, yang dibalas dengan lirikan Evan ke arah Siska. Devan kemudian mengambil nampan itu dan menyodorkan ke arah Siska. "Ini makanan untukmu."


Siska melihat makanan itu sambil menelan ludah kepayahan. Perutnya juga ikut menyuarakan cacing-cacing yang sedang kelaparan.


"Tidak ada racunnya. Kami bukan seorang kriminal. Kami ini pengusaha," ujar Devan meyakinkan.


Siska mengambil nampan tersebut dengan ragu. Menaruh piring di atas pahanya, kemudian meletakkan nampan beserta air minumnya di lantai. 


Siska mengambil nampan tersebut dengan ragu, kemudian memandangi Evan dan Devan bergantian. Mudah saja bagi mereka kalau ingin meracuni dirinya, tapi Siska langsung teringat statusnya yang hanya manusia jelata membuatnya kembali sadar. Memang siapa dia sampai mereka mau membunuhnya?


Mengalah dengan perut yang kelaparan, Siska menaruh piring di atas pahanya, kemudian meletakkan nampan beserta air minumnya di lantai.


Gadis seumuran Laras tersebut makan dengan lahap. Dirinya belum makan dari pagi, karena uang yang dijanjikan Freya tidak diberikan. Siska gagal melakukan tugas pertama, maka dari itu dirinya harus melakukan tugas yang kedua. Sayangnya, rencana belum dibuat, malah sudah ketahuan oleh Devan.


Freya memang memberikan uang muka sebelum menjalankan tugas. Karena jumlahnya tak seberapa, uang itu sudah habis hanya untuk menebus obat ibunya.

__ADS_1


"Aku harus kembali ke kamar. Lilis pasti sangat khawatir," ucap Devan.


"Dia memang sangat mengkhawatirkanmu."  Wajah Evan berubah murung.


"Jangan seperti itu. Pikirkan perasaan Laras. Lilis sudah bahagia denganku."


"Ya, aku sedang berusaha ikhlas." Kemudian Devan berjalan menuju pintu, disusul Evan yang mengikuti di belakangnya.


"Tunggu!" teriak Siska menghentikan langkah kedua laki-laki tampan ini. Mereka berdua melihat ke arah Siska dengan alis terangkat. Ingin tahu ada apa.


"Aku pernah mendengar, kalau Freya merasa puas sudah mendorong seorang wanita hamil ke dalam kolam renang saat di resort. Sepertinya yang dimaksud Freya, adalah perempuan yang bersamamu," ujar Siska polos. Kemudian kembali menyantap makanannya.


Deg! 


Jantung Devan berdegup kencang, tangannya mengepal dengan erat. Astaga! Tega sekali Freya. Apa salah Lilis kepadanya? Andai saat itu Evan tidak datang tepat waktu, bagaimana dengan keadaan Lilis saat ini?


Evan sendiri merasakan panas di dada. Meski sekarang dia sudah merelakan Lilis untuk Devan, tapi anak di dalam perut Lilis tetap darah dagingnya.


Devan hanya mengangguk, kemudian pergi meninggalkan ruangan ini. Evan memandangi Siska sejenak, lalu ikut pergi ke luar. Meninggalkan Siska di dalam sana yang dijaga oleh dua orang karyawannya.


Devan pergi kembali ke kamar, sedang Evan pergi dengan anak buahnya ke alamat yang diberikan Siska. 


Sampai di kamar, Devan langsung memeluk Lilis yang sedang duduk di sofa, sedang menunggu kepulangan suaminya.


"Kakak kenapa? Kakak baik-baik saja, kan? Apa Kakak terluka? Coba kasih liat ke aku mana yang sakit?" tanya Lilis dengan panik. 


Devan menggeleng. Dia semakin dalam menaruh wajahnya di ceruk leher Lilis. Menghirup wangi parfum beraroma jeruk kesukaan sang istri. 


"Maafin aku, ya, Sayang. Aku janji akan jagain kamu dengan segenap jiwa ragaku." Devan melerai pelukannya. "Juga akan menjaga anak kita," imbuhnya sambil mengusap perut buncit Lilis.


"Aku tahu!" Lilis memandangi Devan dengan alis bertaut. "Tapi kenapa Kakak tiba-tiba berbicara seperti itu?"


Devan menggeleng. "Tidak apa-apa."


"Oh, iya. Bagaimana dengan perempuan itu? Tadi kata Kak Evan, Kakak berhasil menangkapnya?" tanya Lilis setelah Devan menghabiskan air minumnya. 


"Ya. Dia sekarang di sebuah ruangan tak terpakai yang ada di resort ini."


"Kalian menyekapnya?"


"Bisa dibilang ... iya." Devan nyengir merasa bersalah. "Tapi kami memperlakukannya dengan baik, kok."


Lilis menatap Devan dengan lekat, kemudian menggelengkan kepalanya. "Lalu?"


"Sepertinya dia orang baik. Hanya saja nasib buruk menimpanya. Jadi, dia nekat melakukan hal kotor untuk membiayai pengobatan ibunya."


"Astaghfirullah! Kasihan sekali."


"Iya. Tapi belum pasti, apa semua pengakuannya itu jujur atau hanya karangan saja."


Lilis melihat Devan dengan pandangan bingung. Devan yang paham langsung menjelaskannya. "Evan sedang pergi ke rumah Siska. Untuk mencari tau fakta tentang Siska di sekitar tempat tinggalnya."


"Siska?"


"Iya. Aku lupa, perempuan itu bernama Siska."


"Oh." Lilis mengangguk-angguk. "Terus, apa dia memberi tahu, siapa yang menyuruhnya?" tanya Lilis dengan rasa penasaran yang tinggi.


Devan terdiam. Dia bingung, harus menceritakannya atau tidak.


"Kak!" Lilis menepuk pundak Devan, sekaligus membuyarkan lamunannya.


"Eh, em." Devan gelagapan sejenak, kemudian mengangguk. "Freya yang sudah menyuruh Siska untuk menjebak Evan."

__ADS_1


"Ya Allah!" Lilis menganga, kemudian menutup mulut menggunakan tangan saking terkejutnya. "Tega sekali Freya. Memang salah apa Kak Evan padanya?" 


Andai kamu tahu apa yang diperbuat Freya kepadamu, Lis. Sebaiknya aku segera membawamu pergi dari sini. Bahaya bisa kapan saja mengintaimu. 


"Entahlah." Devan menggeleng pasrah. "Sebaiknya kita segera kembali ke rumah. Kamu mau, kan?" Devan menggenggam tangan Lilis dengan lembut.


"Iya, Kak. Liburannya sudah cukup, kok."


"Oke. Kalau begitu, aku akan memesan tiketnya."


"Aku juga akan segera mengemasi baju dan barang-barang kita yang lain."


Ponsel di saku Devan bergetar. Dia langsung mengangkatnya karena tertera nama Evan di sana.


"Bagaimana?"


Memang benar, ibunya Siska sedang sakit. Tapi ...


"Tapi?"


Sebaiknya kita bicarakan di kamarku nanti.


"Oke."


Aku tutup telfonnya.


"Apa yang terjadi dengan Evan?" gumam Devan yang didengar oleh Lilis.


"Ada apa lagi, Kak?"


"Tadi Evan bilang, kalau yang diucapkan Siska semuanya benar. Ibunya memang sedang sakit, tapi ... dari nada suaranya terdengar seperti sedih dan menyesal."


"Semoga bukan hal buruk, ya, Kak?"


Devan mengangguk sambil tersenyum teduh, guna menenangkan istri kecilnya itu. Dirinya menyesal sudah melibatkan Lilis dalam hal ini. Niatnya ingin liburan sekaligus membantu Elan, dengan mencari tahu siapa yang ingin mengganggu Evan. Ternyata malah sampai seekstrem ini. Devan benar-benar kasihan dengan Lilis. 


Tak berselang lama, Evan mengirim pesan kalau dia sudah kembali dan sekarang berada di kamarnya. Devan mengajak Lilis untuk ikut serta ke kamar Evan. Dia tidak mau meninggalkan Lilis sendirian, tanpa penjagaan siapa pun. 


Sore harinya, Lilis dan Devan sudah berada di depan kamar Evan. Devan langsung mengetuk pintu tersebut.


"Assalamualaikum," ucap Lilis dan Devan bersamaan.


"Waalaikumsalam." Terdengar jawaban salam dari dalam, tapi ada dua suara, yakni laki-laki dan perempuan. 


Begitu pintu terbuka, Lilis dan Devan dapat melihat langsung ke dalam kamar. Ternyata Evan tidak sendiri. Di dalam kamar juga ada seorang wanita paruh baya, sepertinya lebih tua beberapa tahun dari orang tua mereka. Wanita paruh baya tersebut duduk di kursi roda.


"Lilis, Devan. Ayo masuk!" ajak Evan mempersilahkan masuk.


Setelah mereka semua duduk dengan nyaman, Evan menunjuk ke arah seorang wanita paruh baya tersebut. "Perkenalkan, ini Bi Tirah. Bi Tirah, ini Lilis ... adik iparku. Kalau ini Devan, suaminya."


"Saya Bi Tirah." Sambil tersenyum hangat, Bi Tirah memperkenalkan dirinya.


Lilis dan Devan bergantian menyalami Bi Tirah dengan mencium punggung tangannya. Dalam hati Bi Tirah ada perasaan hangat, karena merasa dihargai.


"Bi Tirah ini, siapamu?" tanya Devan kepada Evan.


"Dia—"


"Ibu!"


Empat kepala itu langsung menengok ke arah sumber suara. Ada Siska yang sedang berdiri di ambang pintu dengan pandangan berkaca-kaca. Kemudian dia berlari menghampiri Bi Tirah dan langsung memeluknya dengan erat.


"Ibu ... Ibu baik-baik saja, kan? Bagaimana Ibu bisa di sini?"

__ADS_1


"Ibu baik-baik saja. Alhamdulillah bisa bertemu lagi dengan Den Evan. Dia yang mengajak Ibu ke sini. Ayo, Ibu kenalkan kamu dengannya."


__ADS_2