Adik Ipar Malang

Adik Ipar Malang
bab 18 Laras Marah


__ADS_3

Adik Ipar Malang


Bab 18 Laras Marah


Pov Laras


"Kenapa kamu tega berkhianat? Apa kurangnya aku? Kenapa harus berselingkuh dengan adik aku sendiri? Apa aku kurang memuaskan untukmu?" tanyaku dengan hati jengkel.


Sepulang dari rumah sakit, aku mencecar Evan dengan berbagai pertanyaan. Saat ini kami berada di ruang tamu, berdiri dan saling berhadapan. Aku menatapnya tajam, tapi dia hanya menatapku datar.


"Seharusnya pertanyaan itu kamu tanyakan pada dirimu sendiri. Apa kamu sudah melakukan kewajiban sebagai seorang istri?" Dia berbicara dengan nada datar. Mendudukkan dirinya di sofa , wajahnya datar tanpa ekspresi. Sedikit mendongakkan kepala, karena aku berdiri di depannya.


"Maksud kamu apa? Kenapa kamu tidak menjelaskannya saja? Beri tahu aku, apa kurangnya dari aku ini sebagai seorang istri?" tanyaku geram sekaligus gregetan.


"Kamu seharusnya mencari tahu sendiri, apa kurangnya kamu. Bagaimana seharusnya menjadi seorang istri yang baik."


Bukannya menjawab pertanyaan dengan penjelasan, dia malah melontarkan kata-kata ambigu.


"Iya, tapi apa saja itu?"


"Bagaimana bisa, kamu bertanya padaku cara menjadi istri yang baik? Apa kamu selama ini tidak tahu apa itu istri yang baik?" tanyanya dengan suara sedikit tinggi.


Suamiku itu memejamkan matanya sebentar, hanya beberapa detik, kemudian terbuka kembali. "Emosiku sedang tidak stabil. Lebih baik dinginkan kepala masing-masing. Sebelum kamu introspeksi diri, jangan ganggu aku dulu."


Jelas-jelas dia yang bersalah, tapi kenapa seolah-olah aku yang salah di sini. Dia berbalik badan, berjalan ke arah pintu keluar. Mau pergi ke mana malam-malam begini?


"Kamu mau pergi ke mana?" Pertanyaanku membuat dia menghentikan langkah kakinya sebelum mencapai pintu.


"Ke mana saja, yang penting bisa membuatku tenang," jawabnya tanpa menoleh ke belakang.


"Jangan pergi! Aku janji nggak akan menganggumu. Asal kamu jangan keluar dari rumah."


Evan diam saja. Kemudian merubah arah langkah kaki menuju ruang kerjanya dengan meninggalkan suara pintu yang berbunyi berdebum keras.


Itu lebih baik, dari pada dia pergi ke tempat perempuan lain. Dia dulu mantan player di kampus. Jangan sampai ada satu perempuan lagi yang minta pertanggungjawaban Evan, cukup Lilis saja.


Sebaiknya aku juga masuk ke kamar. Kamar yang aku tempati bersama dengan Evan selama dua tahun. Begitu pintu tertutup, mengalirlah air mata di pipi. Menumpahkan semua rasa sesak, kesal, dongkol, dan benci jadi satu. Memang aku tak pernah memperlihatkan sisi lemahku pada Evan. Yang kutahu, Evan tak begitu suka wanita yang merepotkan.


Mengingat kejadian di rumah ayah barusan, membuat darahku mendidih. Gara-gara ini, sekarang kami harus tidur terpisah.


Aku sadar, akhir-akhir ini Evan seperti memberi perhatian lebih pada Lilis, dan aku tak mengambil pusing masalah itu. Karena aku yakin, tipe mantan player seperti dia tak mungkin menyukai Lilis. Nyatanya, aku salah tebak. Adikku yang polos itu berhasil menarik perhatian Evan.


"Lilis itu hanya gadis manja yang lemah, kuper, dan kampungan! Penampilan saja tidak ada menarik-menariknya!"


"Arrgghhh!" Aku berteriak sambil menarik seprei dan melempar bantal ke segala arah. Penghianatan Evan, membuat hati ini panas.

__ADS_1


Aku berjalan ke depan cermin. Memandangi wajahku yang riasannya sudah tak berbentuk, rambut awut-awutan, dan maskara yang luntur membentuk jalan air mata di pipi.


"Aku lebih baik dari Lilis. Kekuranganku hanya satu, yaitu belum diberi kepercayaan untuk hamil. Tapi aku tidak mandul!"


Mengingat perkataan ayah, bahwa sudah ada janin di perut Lilis, benar-benar membuat amarah di dalam dada semakin berapi-api.


Brakk!


Kubuang semua benda yang ada di atas meja rias dengan sekali sapuan tangan.


Aku berjalan dengan gontai ke arah ranjang. Menaiki ranjang, tidur meringkuk ditemani dingin. Sampai mimpi mengajakku untuk menjelajah di dalamnya.


***


Pagi hari sebelum matahari muncul aku sudah terbangun. Melirik jam di atas nakas, sudah pukul setengah 5 ternyata. Aku berjengit mendapati kepala teramat pusing. Mungkin karena semalam terlalu banyak menangis.


Berjalan menuju cermin, mataku sembab dan bengkak. Lebih baik sekarang mandi, nanti biar aku rias wajah ini untuk menutupi mata yang bengkak.


Sensasi terkejut yang kurasakan pertama kali ketika air dingin menyentuh tubuhku, membuat detak jantung meningkat lebih cepat, dan sedikit mengurangi stress yang dirasakan. Tak memerlukan waktu lama, karena aku harus melakukan sesuatu untuk menarik perhatian Evan lagi.


Setelah selesai dengan kegiatan berpakaian dan riasan, aku membereskan kamar. Jangan sampai Evan masuk ke kamar sini untuk mengganti kerja, sebelum aku membereskannya.


Kemudian beralih ke dapur, membuat sarapan ala kadarnya. Karena aku memang tidak pernah mengisi kulkas dengan bahan pokok makanan. Hanya minuman dan cemilan saja. Selebihnya makan di luar, pesan antar, atau di rumah ibu.


Aku membuat nasi goreng dan telur mata sapi. Sederhana memang, semoga Evan bisa melihat perjuanganku ini.


"Ayo sarapan dulu! Aku sudah memasak nasi goreng untuk sarapan kita."


Ajakanku menghentikan gerakkan tangannya yang hendak mengambil air minum di dispenser. Dia hanya melihatku, kemudian menggulirkan matanya ke arah dua piring nasi goreng yang sudah tersaji di atas meja.


"Mungkin sudah terlambat bagiku, tapi aku ingin berubah lebih baik, terutama untuk memperbaiki hubungan kita," ucapku dengan senyuman manis.


Evan diam saja, tapi tetap duduk dan mulai memegang sendok di tangan kanannya. Aku juga duduk di sebelahnya, memandangi dia makan. Dia hanya makan dua suap.


"Boleh aku beri saran?" tanyanya.


Aku mengangguk.


"Sebaiknya kamu belajar memasak dari ibu, mama atau Lilis." Setelah itu dia meletakkan sendok dengan menelungkup di atas piring. "Terima kasih sarapannya."


Evan berdiri dari kursinya dan pergi berangkat kerja, meninggalkan nasi goreng yang masih tersisa banyak.


Aku mencicipi masakanku sendiri, seketika langsung melepehnya. Mengambil gelas yang sudah terisi air, meminumnya sampai lidahku tak merasakan rasa garam lagi.


"Wuekk! Asin. Aku lupa tadi tak sempat mencicipinya dulu."

__ADS_1


Aku menggebrak meja dengan kencang. Menimbulkan suara piring, gelas dan sendok saling beradu. Meletakkan bekas makan ke dalam westafel tanpa mencucinya, karena sudah tidak mood.


Ponselku berdering ketika aku baru mencapai gerbang, hendak berangkat kerja. Mama mertua menelfon. Tumben pagi-pagi begini, batinku.


"Ya, Ma."


"Sepulang kerja?"


"Baik, Ma. Nanti aku kasih tahu Evan."


Mama mengajak makan malam di rumahnya nanti sore setelah pulang kerja. Pasti ada hal penting. Aku langsung mematikan sambungan, begitu selesai berbicara. Waktu sudah menunjukkan hampir telat untuk ke kantor. Biarlah, pasti Mama memaklumi ketidaksopananku.


Dalam perjalanan ke kantor, aku menghubungi Evan agar ke rumah Mama setelah pulang kerja, sekalian makan malam di sana. Dia masih bersikap dingin padaku, sudah pasti nanti akan sendiri-sendiri datang ke rumah mamanya.


Selama bekerja aku tetap mengerjakannya dengan baik. Profesional merupakan salah satu motoku, kalau ingin mencapai suatu tujuan. Jangan mencampurkan masalah pribadi dengan pekerjaan.


Tiba waktunya untuk pulang, aku langsung menuju rumah mertua. Evan sudah sampai di sana. Kami berempat berada dalam suasana canggung. Kemudian Mama memintaku membantunya menyiapkan makan malam.


Saat-saat seperti ini, kadang aku sering menolaknya. Setelah kejadian kemarin, aku terpaksa mau saja. Selain memperbaiki hubungan dengan Evan, aku juga harus memperbaiki hubungan dengan mertua. Kecuali dengan Papa mertua, dia sebelas dua belas dengan Evan sifatnya.


Selama membantu Mama, dia banyak memberi nasihat dan wejangan. Entah kenapa setelah mendengarnya, dadaku merasa sedikit berdenyut. Seperti itukah rasanya mendapat petunjuk? Akhirnya aku hanya diam dan mendengarkan dengan seksama.


"Laras, kamu besok kembali bekerja di perusahaan Papa dan menjadi sekretaris Evan. Apa kamu bersedia?"


Papa bertanya setelah kami menyelesaikan makan malam. Kami berempat sedang berkumpul di ruang tamu. Wajah Evan hanya datar, tapi aku tau dari sorot matanya menyimpan ketidaksetujuan.


Kalau aku, tentu saja takkan menyi-nyiakan kesempatan ini, agar bisa memperbaiki hubungan kita, Evan.


"Baik, besok saya akan mengundurkan diri dari perusahaan tempatku bekerja. Lusa aku sudah bisa kembali bekerja di perusahaan Papa."


"Bagus. Perusahaan kita merupakan salah satu yang ternama di negeri ini. Jadi, Papa nggak mau, hanya karena masalah yang dibuat Evan, membuat nama baik perusahaan tercoreng. Kedepannya lebih dijaga lagi sikapmu Evan. Jadikan yang kemarin sebagai pelajaran untukmu. Besok Papa dan Mama akan datang ke rumah mertuamu untuk meminta maaf secara langsung."


Papa dan Mama banyak memberi nasihat-nasihat untuk kita berdua. Suamiku itu hanya diam tak menanggapi, hanya mendengarkan saja.


Mendengar nasihatnya, membuat hatiku sedikit mencelos, mengingat bagaimana sikapku kemarin pada Lilis.


Besoknya, hubunganku dan Evan masih dingin. Pagi sekali aku sudah mengajukan surat pengunduran diri. Setelah itu, aku kembali ke mejaku untuk bekerja sebagai hari terakhir, dan membereskan barang-barang milikku.


Sebelum pulang kerja, aku menghubungi ibu menanyakan keadaan Lilis. Bagaimanapun dia juga juga adik kandungku, dengan catatan, agar ibu jangan memberitahu Lilis kalau aku menanyakan kabarnya.


Hal yang tak terduga adalah Evan tadi siang ke rumah, dan mengajak Lilis untuk pergi. Untungnya ada kabar baik yang membuat hati sedikit mendingin. Lilis akan segera menikah dengan Devan. Bagus! Ini akan memudahkan jalanku agar bisa berbaikan dengan Evan.


Sampai suatu hari, aku mendengar Evan sedang menelfon seseorang. Dengan bermaksud menguping, aku berdiri di balik pintu ruang kerjanya.


Jantungku seakan berhenti, aku tak menyangka Evan dan dia tega melakukan ini. Sebelum ketahuan, aku kembali ke kamar dengan kaki bergetar. Apa yang harus aku lakukan?

__ADS_1


*****


__ADS_2