
Adik Ipar Malang
Bab 22 (Kediaman Devan)
POV Lilis
Mulai saat ini, aku sudah sah menjadi istri Kak Devan. Walaupun hanya istri siri, namun dalam hati ini seperti ada yang berkembang. Apa lagi jika dia menepati janjinya yang akan menikahiku secara sah setelah anak ini lahir.
Akad berlangsung tadi pagi pukul 08.00. Dihadiri hanya keluargaku dan para tetua komplek sini. Tak disangka, Om Rifan dan Tante Maya juga hadir. Bahkan Kak Elan juga datang. Padahal dia baru saja tiba dari luar kota, belum istirahat sama sekali. Yang membuatku terharu ialah orang tua Kak Devan menyaksikan juga melalui vidio call.
Aku sudah bersiap dengan barang bawaan, satu buah koper besar dan satu tas sling bag. Berdiri di teras rumah, masih mengenakan kebaya berwarna putih, begitu pula dengan Kak Devan yang mengenakan setelan jas dengan warna senada juga denganku.
Sebelumnya kami sudah berdiskusi, bahwa setelah akad, aku akan langsung mengikuti Kak Devan ke kediamannya. Sekalian mempersiapkan diri berjumpa dengan mertua, yang katanya seminggu lagi mereka akan kembali dari luar kota.
Semua mengantar keberangkatan kami. Berpamitan satu persatu pada mereka, sebelum memulai perjalanan kurang lebih lima jam.
"Hati-hati di jalan. Kami akan mengunjungi kalian setelah urusan di sini selesai," ucap Ayah sambil menepuk kepalaku lembut.
Aku tahu maksud dari Ayah tentang urusan di sini. Pasti tentang reaksi Kak Evan setelah tahu kalau aku dan Kak Devan sudah menikah.
"Jaga putriku dengan baik. Bahagiakan dia. Kalau kamu sudah tak menginginkannya, jangan sakiti hatinya, kembalikan saja padaku." Ayah memberikan nasehat sambil menepuk pundak Kak Devan.
"Dengan senang hati aku akan membahagiakannya. Takkan kubiarkan setetes air mata keluar dari netranya, kecuali air mata kebahagiaan. Aku berjanji, Ayah mertua," ucap Kak Devan dengan mantap.
"Kenapa aku sangat geli saat kamu memanggilku Ayah mertua?" kata Ayah sambil terkekeh, yang ditanggapi dengan tawa dari semua orang.
"Hati-hati di jalan, ya kalian berdua." Ibu langsung memelukku dengan mata yang mulai mengembun. Aku berusaha menahan air mata yang mau keluar. Tetapi, masih ada saja setetes yang lolos.
Gantian kini Ibu memeluk Kak Devan. "Ibu percaya kamu bisa menjaga Lilis dengan baik."
Kak Devan mengangguk pada Ibu. Kemudian dia melihat pada Kak Laras dengan pandangan jahil.
"Kamu nggak pengen mengucapkan salam perpisahan pada adik iparmu ini, wahai Kakak ipar?"
Kak Laras mendecakkan lidahnya. "Kasihan sekali adikku harus menikah dengan preman pasar sepertimu. Selagi kamu bisa menjaganya, ya apa boleh buat. Aku ijinkan," ucapnya sambil meninju lengan suamiku itu.
Aku tak menyangka Kak Laras masih sangat peduli padaku, aku benar-benar merasa terharu. Tanpa kata-kata aku langsung memeluknya.
"Terima kasih, Kak."
"Iya. Jaga diri baik-baik," ucapnya sambil mengusap punggungku.
Kemudian kami beralih pada Om Rifan dan Tante Maya. Mereka berdua menatapku penuh dengan kasih. Masih sama seperti dulu sebelum kejadian itu terungkap.
"Jaga cucuku dengan baik, ya." Tante Maya memelukku sampai tak terasa pundak ini menjadi basah.
"Pasti akan aku jaga dengan baik. Kalau Tante ingin menengoknya, saya juga ijinkan," ucapku setelah pelukan kami terlepas. Membawa tangannya untuk menyentuh perutku.
__ADS_1
"Benarkah?"
"Tentu saja. Tapi, setelah anak ini lahir." Aku dan Tante Maya terkekeh.
"Sampai kapan pun kamu tetap putri bungsu kami." Om Rifan mengelus puncak kepalaku.
"Titip putri kami, ya Devan."
"Pasti." Kak Devan mengangguk mantap.
"Kamu mendahuluiku, heh anak kecil?" goda Kak Elan, sambil mencubit hidungku.
Aku memberikan cengiran padanya. Dia sudah seperti kakak kandungku sendiri. Sebelum sangat sibuk dengan kerjaannya, dia yang akan menjadi penasehatku dalam mengambil keputusan.
"Jaga dia dengan segenap nyawamu. Kalau terluka sedikit saja, aku yang akan mengambilnya darimu." Kak Elan mengucapkan itu sambil mengacungkan kepalan tangannya di depan Kak Devan.
"Aku tidak akan membiarkan kamu mengambilnya," balasnya sambil meninju kepalan dari Kak Elan.
Setelah berpamitan dengan semua orang, kita berdua masuk ke dalam mobil Kak Devan. Tak lupa memasang sabuk pengaman. Semua barang bawaan sudah dimasukkan ke dalam bagasi.
Aku memperhatikan sekeliling interior dalam mobil. Kenapa seperti ada yang berbeda?
"Ini seperti bukan mobil milikmu, Kak. Punya siapa ini?" tanyaku sambil menghadap ke arahnya.
"Milik rentalan. Mengantisipasi kalau Evan sudah tahu hari ini kita sudah menikah," jawabnya sambil menurunkan kaca mobil.
Kami berdua melambaikan tangan pada keluarga sebagai tanda perpisahan. Mobil pun mulai melaju secara perlahan. Semoga setelah ini, semua kondisi keluarga semakin membaik. Kak Evan berhenti mengejarku, dan kembali harmonis dengan Kak Laras. Aku bisa memulai hidup baru dengan suamiku, Kak Devan.
Baru sekitar lima belas menit perjalanan, hanya perasaanku saja atau memang mataku yang kurang fokus. Aku seperti melihat mobil Kak Evan dari arah berlawanan, menuju ke rumah Ayah. Mobil kita saling berpapasan. Seandainya kita memakai mobil milik Kak Devan tadi, mungkin sudah dicegat olehnya.
*****
Aku merasakan sesuatu mengusap lembut wajahku. Kemudian suara yang lembut berbisik di telinga ini. Memanggil namaku dengan mesra, membuat bulu kuduk merinding.
Mencoba membuka mata, walaupun masih sangat malas. Setelah mata benar-benar terbuka, terlihat Kak Devan sedang melepas sabuk pengaman. Berarti tadi itu ... mungkin hanya perasaanku saja. Tapi, leher belakang masih merinding.
"Kamu masih mau tidur di sini? Atau mau pindah di kasur yang empuk?"
Aku mulai mengumpulkan nyawa. Ternyata suara mesin mobil sudah tak terdengar, mobil pun sudah berhenti di sebuah halaman rumah.
"Eh, sudah sampai, ya?"
Membuka pintu kemudian turun dari mobil. Mataku langsung memindai ke segala penjuru tempat. Rumah berdesain dua lantai sederhana tetapi modern. Halaman depan yang luas didasari rumput gajah mini dan beberapa tanaman hias, mempercantik taman itu.
Di sudut taman sebelah kiri terdapat sebuah greenhouse. Berisikan koleksi bunga-bunga seperti bunga anggrek berbagai warna, bunga mawar bermacam motif, dan bunga aster, dan masih banyak lagi. Mungkin itu koleksi milik mamanya Kak Devan.
Terlihat laki-laki berusia sekitar akhir empat puluhan, tergopoh-gopoh menghampiri kami. Berdiri dengan senyum terkembang.
__ADS_1
"Eh, Den Devan sudah datang. Alhamdulillah tidak kurang suatu apa pun, malah bertambah sesuatu ini. Bagaimana perjalanannya?" ujar laki-laki tersebut dengan logat medok jawanya.
"Alhamdulillah, Mas Tejo. Perjalanannya lancar. Lilis, ini Mas Tejo, tukang kebun sekaligus penjaga rumah ini, kalau sedang ditinggal ke luar kota, lama." Kak Devan mengenalkan si Mas Tejo kepadaku. Yang diperkenalkan mengangguk sopan dan tersenyum kepadaku.
Aku mengulurkan tangan, seraya memperkenalkan diri. "Lilis."
Mas Tejo mengusap-usap telapak tangan ke kaos yang dipakainya, kemudian menjabat tanganku.
"Kalau butuh apa-apa, panggil saja Mas Tejo. Loh, ini Non Lilis yang fotonya banyak terpajang di kamarnya Aden, kan?" tanya Mas Tejo sambil menunjukku.
Kak Devan terlihat salah tingkah, buru-buru mengubah arah pembicaraan. "Tolong bawakan barang-barang yang ada di bagasi, Mas Tejo. Taruh di kamar atas."
Kak Devan merangkul pundakku, berjalan menuju pintu masuk rumahnya. Dia membuka pintu dengan sebelah tangannya, hingga bagian dalam rumahnya pun mulai terlihat dari luar.
Bukan hanya luarnya saja yang sangat bagus. Bahkan dalamnya pun tak kalah bagus. Semua sangat indah memanjakan mata.
"Assalamualaikum," ucapku, begitu kaki kanan memasuki rumah.
"Wa'alaikumsalam," jawab suara perempuan dari arah dapur, berjalan menuju kami.
"Mbok Urip," panggil Kak Devan pada wanita paruh baya itu. Kemudian mencium tangan yang dipanggil Mbok Urip tersebut.
"Alhamdulillah, Den Devan sudah pulang. Si Mbok sudah nggak sabar nunggu pengantin baru. Ini Non Lilis, ya?" tunjuknya padaku.
"Saya Lilis." Aku juga ikut mencium tangan si Mbok Urip.
"Duh, sopannya, Cah Ayu," ujarnya sambil tersenyum padaku. "Saya asisten rumah tangga di sini. Kalau perlu apa-apa panggil si Mbok saja. Kamarnya sudah dibereskan, Den. Silakan beristirahat dulu."
"Ayo, aku tunjukkan kamar kita!" ajak Kak Devan memegang telapak tanganku.
"Hah! Kamar kita?" Aku mengerjapkan mataku berkali-kali.
"Hei, kamu tiba-tiba lupa ingatan? Jangan-jangan kamu lupa kalau sudah menikah?"
"Eh ..." Seketika langsung ingat kalau aku ternyata sudah menikah. Aku hanya nyengir saja. Aku pikir kita akan tidur di kamar yang berbeda.
Sesampainya di kamar, yang kuyakini kamar milik Kak Devan itu, aku langsung mendudukkan diri di sofa yang ada di kamar tersebut. Ingin sekali merebahkan badan di kasur, hanya saja tidak enak dengan pemilik kamar.
"Kemari!" Kak Devan melambaikan tangannya, seraya menunjuk kursi yang ada di depan meja rias.
Aku menurut saja. Karena badanku pun sudah sangat lelah untuk sekadar bertanya-tanya. Mendudukkan di kursi tersebut menghadap ke arah cermin, hingga dapat melihat pantulan diriku di dalamnya.
Kak Devan berdiri di belakang dengan kedua tangannya mulai memegang rambutku. Ternyata dia membantuku melepas semua aksesoris yang masih terpasang di rambut. Aku bahkan lupa kalau masih mengenakan pakaian dan riasan pengantin.
Jantungku berdebar dengan kencang. Hati rasanya ser-seran, seperti duduk di atas kendaraan yang sedang berjalan menanjak, kemudian langsung mendapati turunan. Tak menyangka pria bar-bar dan tengil bisa sangat perhatian seperti ini. Tanpa terasa bibirku tertarik membentuk sebuah senyuman.
"Sudah selesai," ucapnya setelah rambutku tergerai semua tanpa ada satu aksesoris pun yang tertinggal. "Sekarang kamu bersih-bersih dulu, baru bisa istirahat lagi."
__ADS_1
"Ah ... oh, iya." Aku langsung berjalan menuju kamar mandi yang ada di dalam kamar ini.