Adik Ipar Malang

Adik Ipar Malang
bab 30 Kantor Devan


__ADS_3

Adik Ipar Nalang


Bab 30 Kantor Devan


POV Lilis


Sepulang dari pasar, aku terus mewanti-wanti Mbok Urip untuk tidak bercerita tentang kejadian tadi di pasar. Aku tidak mau sampai Kak Devan khawatir hanya karena hal kecil.


"Aku mohon, Mbok. Jangan bilang-bilang kejadian tadi, ya. Mbok emang mau, kalau aku tiba-tiba nggak boleh keluar rumah lagi sama Kak Devan?" Aku terus merengek sambil memegang lengan Mbok Urip.


Sedang Mbok Urip hanya diam saja, sambil tersenyum kecil. Tidak mengiyakan atau pun menolaknya. Terus menata belanjaan untuk dimasukkan ke kulkas. Aku juga ikut membantu.


"Ada apa ini?" Tiba-tiba Mama sudah ada di hadapan kami.


"E-eh, Mama sudah pulang?" gagapku, karena terlalu terkejut dengan kedatangan Mama. Semoga Mama tidak mendengar apa saja yang aku dan Mbok Urip bicarakan.


"Iya, Mama sudah pulang. Kamu kenapa gagap seperti itu?" Mama memicingkan matanya menatapku.


Aku menggeleng. "Eng-nggak, kok, Ma. Aku hanya kaget saja. Enggak mendengar suara dari arah depan."


"Mama 'kan emang berangkat naik taksi online, enggak bawa mobil sendiri.


"Oh, iya, lupa." Aku tertawa kecil.


"Lis, besok Mama dan papa harus pergi untuk menangani kantor cabang yang di luar kota."


"Kenapa harus Mama sama papa yang pergi?" tanyaku dengan sedih.


"Kamu mau, kalau Devan yang pergi untuk menangani kantor cabang? Waktunya lama, loh, di sana," goda Mama.


"Jangan Kak Devan juga. Maksud Lilis, apa tidak bisa orang kepercayaan papa saja?"


"Tidak bisa, Sayang. Karena kami juga ingin menengok rumah masa tua kami yang sedang dibangun di sana. Kebetulan tempatnya dekat dengan pegunungan, jadi suasananya pasti sangat asri."


"Mama sama papa itu belum tua."


"Kan, Mama sudah bilang untuk masa tua kami. Gimana, sih, kamu?" Kami tertawa bersama. "Ya, sudah. Mama mau bersih-bersih dulu."


Aku menghembuskan nafas lega, setelah Mama berlalu menuju kamarnya. Sedang Mbok Urip tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.


"Mbok, aku istirahat dulu, ya. Nanti kalau waktunya masak untuk makan malam, mbok panggil Lilis. Lilis mau masakin makanan kesukaan mama sama papa, sebelum mereka pergi."


"Iya, Non."


Sore hari aku memasak makanan kesukaan makanan mama dan papa, yaitu nasi hainam, ayam saus mentega, dan buncis saus tiram. Tidak lupa, kuah kaldu ayam sebagai pelengkap.


"Wah, kenapa menu makan malam kesukaan Mama dan Papa semua?" tanya Mama saat kami hendak makan malam.


"Iya, Ma. Besok 'kan Mama dan Papa sudah berangkat, jadi aku ingin memasakkan makanan kesukaan kalian."


"Masakan kamu itu enak, Lis. Mama sama Papa pasti bakalan kangen dengan masakan kamu."


Senangnya dapat pujian dari mertua sendiri. "Makanya, Mama dan Papa jangan lama-lama, ya di sana," rengekku.


Mama dan Papa hanya tersenyum menanggapinya. Itu membuatku sedikit cemberut. Pasti rumah akan terasa sepi. Padahal kehadiran mereka berdua sudah seperti ayah dan ibu.


"Papa dan Mama berangkat jam berapa besok?" tanya Kak Devan saat makan malam kami hampir habis.


"Jam tujuh pagi kami berangkat dari rumah," jawab Papa.


"Ma, aku boleh bantu membereskan barang yang akan dibawa besok, kan?"


"Iya, boleh."


Setelah makan malam selesai, aku membantu Mama membereskan barang yang akan dibawa besok. Papa dan Kak Devan duduk di ruang keluarga.


Selesai membantu Mama, kami bergabung di ruang keluarga. Berbincang hangat, sebelum mereka melakukan perjalanan ke luar kota. Kemungkinan mereka kembali, sebelum aku melahirkan. Aku pikir mereka hanya pergi sekitar beberapa minggu saja. Ternyata sampai berbulan-bulan.


Tadinya aku ingin tidur dengan Mama. Tapi Kak Devan melarang. Alhasil sepanjang malam aku tidur sambil membelakangi dia.


Pagi harinya aku menghabiskan banyak tisu karena berpisah dari Mama dan Papa. Ya, jam 7 pagi tadi mereka sudah bertolak dari rumah menggunakan mobil.

__ADS_1


"Sayang, kalau kamu nangis terus kaya gini, aku jadi nggak bisa berangkat ke kantor."


"Berangkat saja sana, Kak. Aku cuma masih sedih harus berpisah dari Mama," kataku sambil mencabut tisu, menghapus air mata.


"Mana tega aku ninggalin kamu dengan kondisi kaya gini."


"Kakak berangkat saja sana. Nggak apa-apa, kok. Nanti juga aku sembuh sendiri."


"Ya, sudah. Tapi nanti kalau ada apa-apa langsung hubungin Kakak."


"Iya, iya. Sudah sana. Hati-hati di jalan suamiku." Aku langsung mencium punggung tangan Kak Devan dan menyerahkan tas kerjanya.


Mungkin saking capeknya menangis, aku jadi tertidur. Jarum jam sudah berada di angka sebelas. Sebentar lagi waktu makan siang. Tiba-tiba gawaiku berdering dengan nama Kak Devan terpampang di sana. Ada apa, ya?


"Halo, assalamualaikum, Kak."


[Waalaikumsalam. Sayang, aku mau minta tolong sama kamu, boleh tidak?]


"Tolong apa?"


[Kamu ke ruang kerja aku, kemudian tolong carikan berkas dengan map biru. Lalu kamu minta tolong mas Tejo untuk antar ke kantor. Berkas itu mau aku pakai untuk meeting nanti dengan klien saat makan siang.]


"Siap, Bos! Oh, ya, kenapa tidak menyuruh orang kantor saja yang ke rumah?"


[Waktunya tak memungkinkan untuk pulang perginya, Sayang. Belum lagi kalau macet di jalan.]


"Oh, iya, ya."


[Maaf aku tidak bisa bicara lama. Kamu hati-hati di rumah, ya. Assalamualaikum. Aku mencintaimu.] Sambungan sudah terputus.


"Waalaikumsalam. Aku juga, Kak."


Bibirku tersenyum malu mendengar perkataannya. Dalam hatiku selalu bertanya. Sebesar apa sebenarnya cintamu padaku, Kak.


Aku segera ke ruang kerja suamiku, mencari berkas miliknya. Setelah ketemu, aku langsung mencari Mas Tejo untuk segera mengantarkan berkas tersebut. Tadi aku seperti mendengar suaranya ada di dapur.


"Mas Tejo, kenapa?" tanyaku begitu melihatnya sedang duduk.


"Udah ke dokter, Mas?"


"Ndak usah, lah, Non. Sudah lagi dibuatin larutan air garam sama Mbok Urip."


"Ya, sudah. Semoga cepat sembuh, ya, Mas."


Aku langsung kembali ke kamar. Kalau sudah begini tak mungkin menyuruh Mas Tejo untuk mengantarkan berkas ini. Ya, sudahlah aku saja yang antar. Lebih cepat lebih baik.


Menaiki taksi online, kini aku sudah berada di depan kantor milik Kak Devan. Aku tak menyangka bisa menjadi istri dari pemilik perusahaan besar sepertinya. Meski kakak iparku sendiri juga anak dari pemilik perusahaan besar, tapi aku tak ingin membanggakan milik orang lain.


Aku berjalan dengan jantung berdegup kencang. Ini pertama kalinya aku datang ke sini. Terlihat seorang security berdiri di depan pintu masuk.


"Maaf, Adik tidak boleh masuk sembarangan ke dalam. Harus ijin dulu. Adik siapa? Ada keperluan apa datang ke sini?" tanyanya padaku, sambil merentangkan sebelah tangannya. Tetapi masih bersikap sopan.


"Saya Lilis. Mau mengantar berkas yang tertinggal untuk Pak Devan."


"Tunggu sebentar di sini!" Security itu terlihat curiga kepadaku. Dia berjalan sedikit menjauh, kemudian mengeluarkan alat komunikasinya.


Beberapa saat kemudian dia kembali. "Maafkan saya, Bu. Saya tidak tahu. Silakan masuk. Ruangan Pak Devan ada di lantai tujuh belas."


"Tidak apa-apa. Terima kasih, ya. Selamat bekerja, Pak!" jawabku sambil tersenyum padanya.


"Siap, Bu!" ucapnya sambil hormat.


Security-nya lumayan ramah. Tidak seperti di sinetron, galak tanpa memandang terlebih dulu siapa yang yang ada di hadapannya.


Pintu masuk kantor Kak Devan menggunakan sistem sensor, yang membuat pintu secara otomatis membuka dan menutup sendiri. Begitu memasuki lobi, aku langsung bisa mendengar suara bisik-bisik dari para karyawan yang ada di lantai ini.


"Siapa itu?"


"Entah. Sepertinya masih remaja. Tapi, kok, perutnya buncit?"


"Jangan-jangan hamidun dia."

__ADS_1


Meskipun mereka berbicara sambil berbisik, tapi telingaku yang tajam masih bisa mendengarnya. Seketika nyaliku langsung menciut, membuatku harus menundukkan kepala.


"Perusahaan tidak menggaji kalian untuk bergosip."


Aku langsung mengangkat kepala, untuk melihat suara dari siapa itu. Seorang pria keluar dari dalam lift, yang berada tepat di depan lobi. Berjalan dengan tegap dan mantap. Matanya memandang tajam ke semua penjuru. Dia berhenti tepat di depanku.


"Saya Revo, asisten Pak Devan. Silakan ikuti saya. Beliau sudah menunggu di ruangannya," ucapnya dengan sopan padaku.


Aku tiba-tiba menjadi gelagapan. "Ah-oh, iya. Mari."


Pria yang menyebut dirinya Revo itu mempersilakanku untuk masuk ke dalam lift terlebih dulu. Kemudian dia berbicara pada semua karyawan di sini.


"Bagi yang masih ingin menggosipkan istri direktur, silakan tulis surat pengunduran diri kalian, letakkan di mejaku."


Seketika ruangan langsung hening. Semua karyawan memfokuskan pandangan mereka pada layar monitor atau keyboard, bahkan ada yang pura-pura tak melihat kami.


Revo menekan angka tujuh belas, sesuai perkataan security tadi. Ruangan Kak Devan ada di sana. Satu lantai yang hanya dikhususkan untuk direktur beserta sekretarisnya.


"Silakan masuk!" ucap Revo sambil membukakan pintu ruangan milik Kak Devan.


Di dalam sana terlihat Kak Devan duduk di kursinya sedang serius  menatap laptop. Berbeda seperti saat di rumah, sederhana dan sangat tengil. Beruntungnya aku, sekretarisnya semua laki-laki.


"Lilis! Kenapa kamu yang antar?" tanyanya setelah merasakan kehadiranku.


Aku tersenyum, sambil berjalan ke arahnya. "Mas Tejo sakit gigi. Kasihan kalau harus dia yang mengantar."


"Tapi aku khawatir sama kamu dan bayi di dalam perut."


"Kamu yang tenang, ya. Aku naik taksi online, kok."


"Lain kali jangan ulangi lagi."


Aku hanya nyengir dan menggaruk kepalaku yang tidak gatal untuk menanggapinya.


"Sebentar lagi waktu makan siang. Maaf nggak bisa lama menemani kamu. Aku harus makan siang dengan klien. Kamu pulang di antar supir kantor saja, ya."


"Nggak perlu, Kak. Aku liat ada menu baru di cafe dekat lampu merah. Kebetulan menu barunya tentang ice cream. Aku mau itu, bukan, maksudnya dede bayi yang mau itu."


"Boleh. Tapi hati-hati, ya."


"Siap Bos!"


Kak Devan menekan tombol angka satu di telepon kantornya. "Revo, tolong antar istriku sampai cafe."


Pintu terbuka setelah suara ketukan. Revo menunduk hormat. "Mari, Bu," ajaknya padaku.


Aku berpamitan pada Kak Devan, kemudian kembali menuruni lift menuju lantai satu. Kali ini mereka bersikap seperti tak melihatku. Walau aku tahu, dalam hati mereka pasti masih banyak pertanyaan.


"Cukup kamu antar aku sampai sini saja."


"Maaf, Bu. Saya hanya menjalankan perintah," tolaknya.


"Sudah hampir jam dua belas, loh. Aku nggak mau jadi alasan kamu, karena terlambat meeting," dalihku padanya. Akhirnya Revo mau menuruti permintaanku.


Cafe yang ingin aku tuju berada di seberang gedung kantor milik Kak Devan, dipisahkan oleh jalan raya. Karena aku warga yang taat pada peraturan, aku akan menyebrang lewat zebra cross. Hanya aku yang akan menyeberang dari arah sini.


Lampu lalu lintas menunjukan warna merah. Tanda panah belok kiri sudah berwarna kuning, sedang simbol untuk pejalan kaki sudah berwarna hijau. Mengartikan pejalan kaki sudah boleh berjalan menyusuri jalan bergaris hitam putih, untuk menyeberangi jalan.


Saat mulai melangkahkan kakiku untuk menyeberang, banyak orang yang berteriak menyerukan suara padaku.


"Awas!"


"Menghindar!"


"Minggir!"


Aku melihat ke arah kanan, ternyata ada mobil yang melaju dengan kencang. Ingin rasanya segera berlari, namun kaki tiba-tiba sulit untuk digerakkan. Tapi aku masih teringat untuk melindungi perutku.


Refleks aku memejamkan mata. Dalam hati sudah pasrah dengan apa yang akan terjadi selanjutnya. Sesaat kemudian aku merasa berada dalam pelukan seseorang, kemudian tubuh kami berguling beberapa kali di tanah.


 

__ADS_1


__ADS_2