Adik Ipar Malang

Adik Ipar Malang
bab 37 Mandi Air Dingin


__ADS_3

...Adik Ipar Malang ...


...Bab 37 Mandi Air Dingin...


POV Devan


"Siapa kamu?" tanya wanita itu dengan wajah sinisnya.


"Seharusnya aku yang tanya padamu. Siapa kamu dan mau dibawa ke mana kakak iparku ini?"


"Kakak ipar?" Dia tertawa kecil. "Jangan menggertakku! Kamu pikir aku percaya? Kalian terlihat seumuran."


Aku melihat ke arah Evan. Wajahnya memerah, keringat dingin mulai keluar di dahi, nafasnya juga memburu. Sepertinya dugaanku benar, dia sudah memakan makanan yang dicampuri obat perangsang.


"Cepat lepaskan! Atau aku akan melaporkanmu," ancamku dengan gigi terkatup rapat. "Kamu pikir, kamu siapa? Hanya seorang wanita murahan, yang berusaha menghancurkan rumah tangganya."


Cengkeraman tanganku pada wanita itu semakin kencang. Bahkan dia terlihat meringis, tapi tetap tak melepaskan pegangannya pada Evan.


"Berani-beraninya mencari masalah dengan seorang Evan Pramudya Sakti, anak bungsu dari pemilik resort ini. Dengan kekuasaan yang dimiliki, bisa saja dia memasukkanmu ke dalam penjara selama mungkin. Kalau kau tidak percaya, silakan cari tahu sendiri."


Wajah wanita itu sangat terkejut bercampur ketakutan. Mungkin dia tak tahu siapa orang yang sedang dihadapinya. Ini membuktikan, bukan dia orang yang berusaha ingin menghancurkan rumah tangga Evan dan Laras. Lalu siapa?


Melihat wanita itu lengah, aku langsung mendorongnya hingga jatuh terjerembab dengan posisi duduk. Evan juga ikut jatuh, karena tidak ada penyangga yang membuatnya berdiri.


"Aww!" teriak wanita itu kencang.


Memang aku mendorongnya dengan setengah tenaga. Aku benar-benar geregetan dengan manusia sepertinya yang rela melakukan hal rendahan hanya demi uang.


"Panas!" racau Evan dengan kondisi semakin memburuk. Bahkan kancing kemeja bagian atas sudah terlepas. 


"Evan!" Aku menghampiri Evan yang bersusah payah tetap mempertahankan kesadarannya. Aku menepuk-nepuk pipi dan juga mengguncang bahunya.


"Pasti ada penawarnya," gumamku lirih.


Saat aku melihat ke arah wanita itu, ternyata dia sudah bersiap-siap akan kabur. Aku ingin menghalangi dia agar tak kabur, tapi Evan memegang lenganku dengan begitu erat.


"Hei!" 


Si4l! Dia berhasil lolos. Padahal aku belum bertanya siapa yang sudah menyuruhnya melakukan hal seperti ini pada Evan.


"Panas ... aku butuh air." Evan terus meracau sambil mengusap tubuhnya sendiri.


Aku melihat ada sebuah kunci tergeletak tepat di mana wanita itu jatuh tadi. Sepertinya ini milik dia yang akan digunakan untuk tidur dengan Evan. 


Langsung saja aku menyambar benda itu. Letak kamar yang dipesannya tak jauh dari tempat kami berada. Gegas aku membawa Evan menuju kamar tersebut. Bahaya kalau sampai ada orang yang melihat. Apa lagi kalau itu perempuan.


Setelah bersusah payah membawa Evan dari lorong menuju kamar ini, aku melemparnya begitu saja ke atas kasur. Lumayan membuat nafasku kembang kempis dengan badannya itu.


Saat aku sedang menetralkan nafas, tiba-tiba Evan menarik satu tanganku. Aku berusaha menahan tubuhku dengan satu tangan lainnya, agar tak jatuh menimpa tubuh Evan.


"Laras! Panas. Aku butuh kamu." Semakin menjadi-jadi racauan Evan.


"Gil4 kamu!" Aku menarik tanganku dengan kencang hingga terlepas. Kemudian m3mukul kepala Evan sedikit kencang. "Enak saja, aku dikira Laras."


Aku menuju kamar mandi, membuka keran air dingin untuk mengisi bathtub. Kalau bisa air dingin dari lemari pendingin sekalian.


Kemudian mengambil ember yang ada di dekat bathtub dan mengisinya dengan air sampai penuh. Lalu kembali menuju di mana Evan berada, dengan kondisinya yang semakin berantakan. 


Byurr!


Aku menyiram Evan dengan seember air. Evan megap-megap seperti ikan yang berada di daratan. 


"Fuah!" Evan mengusap wajahnya dengan kasar. Wajahnya terkejut melihat aku yang berdiri di depannya.


"Bagaimana? Sudah waras, heh?" tanyaku dengan sedikit ejekan. Sudut bibirku terangkat sebelah.


"Devan! Kau ... ah, masih belum. Aku butuh pelepasan."


Sekarang gantian aku yang terkejut. Bagaimana ini? Aku belum pernah menemui hal seperti ini. Aku hanya pernah berurusan dengan preman, atau pun berkas kantor.


Entah pikiran dari mana, aku menarik tubuh Evan untuk masuk ke dalam kamar mandi. Untung saja air dalam bathtub sudah penuh. Kemudian menceburkan dia sampai seluruh tubuhnya terendam.


Beberapa detik kemudian, Evan menyembulkan kepalanya. "Fuah!" Dia menatapku dengan tajam, dengan nafasnya yang ngos-ngosan.


Aku membalasnya dengan wajah mengejek. "Sudah sadar?"


"Brrr! Apa tidak ada cara yang lebih ekstrim lagi?" 

__ADS_1


"Hanya ini yang terpikirkan olehku," jawabku sambil menggedikan bahu. "Atau kau ingin aku memanggil seorang wanita untuk membantumu?"


Ingin aku tertawa sampai perutku sakit melihat Evan dengan kondisi seperti ini. Tapi tidak bisa kulakukan, mengingat misiku adalah untuk menyelamatkannya.


"Tak perlu. Kalau boleh, kau bisa membawakan Lilis ke sini untuk membantuku."


Mataku melotot mendengar jawabannya. "Apa kau ingin aku menengg3lamkan kepalamu selama beberapa jam, Tuan Evan?"


Evan hanya memalingkan wajahnya. "Bagaimana kamu bisa di sini?"


"Aku sedang berlibur, tidak, tapi bulan madu."


"Lilis juga di sini?"


"Tentu. Kau pikir aku menikah dengan siapa kalau bukan dengan Lilis?" 


Tunggu! Lilis! Astaga! Aku sudah terlalu lama pergi meninggalkannya. 


"Sekarang lebih baik kau terus di dalam bathtub sampai pengaruhnya hilang. Aku akan memanggil room servis untuk membawakanmu pakaian ganti."


"Terima kasih."


"Sama-sama, Kakak Ipar~."


Aku bergegas keluar dari kamar tempat Evan sedang berendam, setelah sebelumnya menghubungi room servis. Sampai di luar aku dikejutkan dengan Freya yang sedang berdiri tepat di depan kamar ini.


"Freya! Sedang apa kamu?"


"Loh, Kak Devan? Kenapa Kak Devan di sini?"


"Maksud kamu apa?"


"Bu-bukan apa-apa, kok. Aku hanya kebetulan lewat. Kamarku berada di sekitar sini."


"Benarkah?"


"I-iya. Aku pergi dulu, Kak. Selamat malam." Freya pergi dengan tergesa-gesa. 


Dia bilang kamarnya berada di sekitar sini, tapi kenapa dia malah pergi jauh? Sangat mencurigakan.


***


Di tempat lain dan di waktu yang bersamaan.


POV Lilis


Aku sedang dalam perjalanan menuju kamar. Sampai di area taman, langkahku berhenti karena merasa ada seseorang yang memanggil.


"Lilis!"


"Kak Fero!" 


Kak Fero berlari menghampiriku dengan berlari kecil. Senyum kecil sebagai ciri khas dirinya, tersungging di bibir tipisnya itu.


"Kak Fero di sini juga? Sejak kapan?" tanyaku sangat penasaran.


"Aku baru saja sampai, dengan penerbangan siang hari ini. Tadinya aku mau makan malam, malah melihat kamu sendirian di sini."


"Kalau begitu, Kak Fero makan malam saja dulu."


"Aku masih kenyang. Sebenarnya aku mau menemui adikku di restoran, tapi dia bilang sedang ada urusan dengan temannya. Jadi dari pada aku enggak ngapa-ngapain. Iya, kan?" 


Suasana hening untuk beberapa saat. Sampai Kak Fero kembali bertanya padaku.


"Kamu sedang apa sendirian di sini?"


"Aku mau kembali ke kamar."


"Sendirian?"


"Kak Devan tadi ada urusan penting yang mendadak. Makanya aku kembali ke kamar sendirian."


"Aku antar, ya?"


"Tidak perlu."


"Aku juga ingin kembali ke kamar. Sama, kan?"

__ADS_1


"Oh. Ya, sudah. Sekalian saja." 


Sebenarnya aku kepikiran dengan Kak Devan. Dia sering bicara seakan melarang aku agar tidak dekat-dekat dengan Kak Fero. Kalau tahu aku kembali ke kamar diantar oleh Kak Fero, bagaimana reaksinya, ya?


Kami berjalan sambil mengobrol santai. Dia termasuk orang yang menyenangkan untuk diajak bicara. Pendengar yang baik, juga pembicara yang hebat


Saking asyiknya mengobrol, sampai tak menyadari kalau kami berjalan bukan menuju kamar penginapan, tapi seperti menuju area suatu perbelanjaan. 


"Loh, Kak. Kenapa kita jadi sampai di sini?" tanyaku heran kepada Kak Fero.


Yang ditanya hanya menggaruk bagian belakang kepalanya sendiri, sambil cengengesan. "Aku juga enggak tahu. Mungkin karena kita terlalu fokus mengobrol. Sampai-sampai tidak sadar kalau kita bisa sampai sini."


"Kenapa tempatnya seperti ramai sekali? Bahkan sampai ada pedagang yang menggelar dagangan hanya menggunakan tikar. Bukan di ruko."


"Mungkin resort ini sedang mengadakan acara, sehingga mengundang pedagang luar untuk menjajakkan dagangannya di sini. Ini biasanya hanya ada di waktu-waktu tertentu."


"Oh." Aku baru tahu. Maklumlah, aku jarang ikut ayah dan ibu kalau ada acara ke luar kota. "Terus sekarang bagaimana?" tanyaku sedikit khawatir.


"Sudah sampai sini. Sayang sekali kalau kita enggak masuk untuk melihat-lihat."


"Tapi—"


Kak Fero memotong perkataanku. "Kamu bisa sekalian mencari barang kesukaan Evan. Hadiahkan itu untuknya."


"Baiklah. Mungkin hanya sebentar tidak apa-apa." Akhirnya aku mengalah.


Kami berjalan dengan pelan. Melihat-lihat barang yang dijajakan, dari pedagang satu ke pedagang lainnya. Kebanyakan yang di jual adalah sovenir, pakaian, sandal, sepatu, aksesori, dan makanan ringan. 


Aku terkejut ketika tiba-tiba Kak Fero merangkul bahuku dengan erat. Saat aku sadar, ternyata ada anak kecil berlari dengan kencang. Kalau bukan Kak Fero yang menarik pundakku, mungkin perut buncit ini sudah ditubruk oleh anak kecil tadi.


"Hati-hati makanya kalau berjalan. Lihat sekitar!" nasihatnya pada anak kecil tadi. Tidak lupa dengan senyum manis di bibirnya. Suasana menjadi canggung di antara kami berdua.


"Terima kasih," ucapku sambil melepas rangkulan tangannya.


"Sama-sama. Kamu tidak mau membeli sesuatu?"


"Aku belum menemukan barang yang cocok untuk Kak Devan."


"Kalau untukmu sendiri?"


Aku menggeleng. "Tidak perlu. Banyak barang yang masih layak pakai di rumah."


"Tas, baju, sepatu, aksesoris?" tawarnya padaku.


"Aku bukan orang yang tergila-gila dengan fashion. Jadi, aku tak terlalu suka menumpuk barang seperti itu di rumah."


"Lalu kamu mau beli apa?"


"Enggak mau beli apa-apa."


"Ayolah, sampai di sini kamu tidak membeli apa pun?"


"Em, sebenarnya ... aku enggak bawa uang, Kak.  Dompetku tertinggal di kamar."


"Ya Tuhan. Jadi, itu masalahnya." Kak Fero tertawa, membuat dia semakin tampan. "Tenang saja. Ada aku yang akan membayarnya."


"Enggak perlu, Kak. Aku enggak mau merepotkan Kak Fero."


"Apanya yang merepotkan? Nanti semua biayanya tinggal aku tagih ke Devan." 


Dia tertawa lagi. Kali ini tertawa lepas. Seakan-akan dia belum pernah tertawa seperti ini. Sebenarnya apa yang sudah dialami oleh Kak Fero selama ini?


"Jadi, bagaimana?"


Karena Kak Fero terus memaksa, mau tak mau aku menerima tawarannya. 


"Aku mau itu, Kak." Aku menunjuk salah satu pedagang yang menjual makanan untuk anak-anak.


Tak sengaja aku melihat ada permen kapas berwarna pink yang sangat menggoda. Tiba-tiba saja aku jadi menginginkan benda seperti sarang laba-laba itu. Jadi, aku tunjuk saja makanan itu.


"Kamu yakin?"


Aku mengangguk. Andai tak memikirkan gengsi, air liur pasti sudah menetes. 


"Ya, sudah. Kita beli itu."


Akhirnya benda lembut itu sudah berada di tanganku. Aku memakannya dengan mata merem melek. Sensasi manis dan lumer begitu masuk ke mulut, menjadi favoritku sejak aku masih kecil.

__ADS_1


__ADS_2