
Adik Ipar Malang
Bab 51 Jatah untuk Devan
Di dalam mobil, saat perjalanan menuju ke rumah kedua orang tua Laras dan Lilis, mereka berempat mengobrol dengan suasana hangat. Lilis dan ibunya duduk di bangku belakang, ayahnya duduk di depan, sedang Devan yang menyetir.
"Lilis, bagaimana liburan kalian selama di Bali?" tanya Bu Ratna pada putri bungsunya. Tangannya mengusap perut buncit Lilis dengan lembut.
Lilis tersenyum cerah. "Menyenangkan, Bu."
"Apa Devan menjaga Lilis dengan sangat baik?" Kali ini Pak Arifin yang bertanya.
"Iya. Kak Devan selalu jadi suami yang siaga," jawab Lilis.
"Tentu. Itu sudah menjadi kewajibannya dia untuk menjaga kamu, Lis. Kalau sampai dia lalai, kamu harus cepat-cepat kasih tahu Ayah."
Devan diam saja. Dia tidak bisa bilang kalau dia selalu menjaga Lilis dengan baik selama di Bali. Sebab dia pernah lalai satu kali, saat Lilis tercebur ke kolam renang. Itu menjadi satu kesalahannya dia yang terbesar menurutnya.
Devan tiba-tiba berbicara, "Aku tidak bisa berjanji, tapi aku akan selalu berusaha." Suami Lilis itu berbicara dengan sedikit nada getir.
Pak Arifin tahu ada yang janggal dari kalimat yang dikeluarkan Devan. Pasti ada sesuatu yang sudah terjadi. Nada suaranya juga tersirat ada sedikit penyesalan.
Tiba-tiba Pak Arifin teringat saat orang tua Devan menelfon waktu itu. Devan dan Lilis belum sempat bulan madu, jadi orang tua Devan merencanakan liburan berkedok bulan madu. Sudut kening Pak Arifin sedikit berkedut. Dia bertanya-tanya, apakah Devan dan Lilis sudah melakukannya?
"Devan! Apa kamu sudah meminta jatah kamu pada Lilis?" tanya Pak Arifin dengan suara rendah.
Bu Ratna langsung menghentikan usapan di perut Lilis. "Ayah!" tegur Bu Ratna.
Sedang Lilis diam saja, dia kebingungan sendiri. Jatah apa yang dimaksud oleh ayahnya itu.
"Ayah, Kak Devan enggak pernah minta jatah padaku. Malah Kak Devan yang kasih secara cuma-cuma," jawab Lilis polos.
Pak Arifin melebarkan matanya tidak percaya. "Lalu, kamu terima begitu saja, Lis?
"Iya, Ayah. Itu bukannya kewajiban seorang suami kepada istri? Istri wajib menerimanya kan, enggak boleh menolak?"
Jantung Pak Arifin hampir merosot mendengar pengakuan anak bungsunya. Hanya dalam beberapa bulan Devan sudah berhasil merubah kepolosan Lilis menjadi lebih dewasa.
Devan sendiri merasakan tatapan dingin dari arah kirinya. Dia pura-pura tak tahu, dan terus menatap ke depan. Berusaha fokus menyetir. Bibirnya bersiul seperti tidak tahu apa pun.
"Berapa kali kamu menerima jatah Devan?
"Seminggu sekali, kadang setiap hari juga aku menerimanya."
__ADS_1
Pak arifin menggertakan giginya. "Setiap hari, ya?" Pak Arifin berkata dengan nada rendah dengan pandangan semakin tajam ke arah Devan.
"Iya, Ayah. Memangnya kenapa? Bukannya Ayah juga memberikan jatah kepada ibu?"
Kini giliran Pak Arifin yang sedikit kikuk. Tidak tahu harus menjawab bagaimana kepada putrinya itu. Bu Ratna sendiri hanya menahan senyum-senyum. Dia tahu kalau suami dan anaknya sedang salah paham. Pak Arifin sedang berbicara tentang jatah yang intim, sedang Lilis memahaminya jatah yang lain.
"Te–tentu saja Ayah kasih dong."
Lilis memasang wajah lega. "Syukurlah. Meski ibu punya penghasilan sendiri, tapi ayah tetap kasih jatah ke ibu."
Pak Arifin mengernyit mendengar perkataan Lilis. Apa hubungannya dengan punya penghasilan sendiri?
"Maksudnya?" tanya Pak Arifin kepada Lilis.
"Maksudnya, ayah baik sekali, meski ibu punya penghasilan sendiri, tapi ayah tetap kasih ibu jatah uang belanja," jawab Lilis santai.
"Oh, jatah uang belanja." Pak Arifin merasa lega, ternyata pikiran putrinya masih polos. Padahal ucapannya kepada Devan tentang jatah, yaitu tentang jatah yang lain.
Devan dan ibu mertuanya hanya mampu menahan senyum, mendengar perkataan Lilis. Tidak lama kemudian mereka sudah sampai di halaman rumah masa kecil Lilis, rumah kedua orang tuanya.
**********
Seusai makan malam, di dalam kamar sepasang suami istri muda, Laras sedang menginterogasi Evan. Dia ingin bertanya sendiri kepada Evan. Kemudian mencocokkannya dengan cerita dari Lilis. Sama atau ada perbedaan.
"Kita laporkan saja Freya ke polisi," geram Laras.
"Tidak semudah itu. Bukti belum cukup." Evan mengusap perut Laras dengan lembut, seakan-akan perut Laras harta tak ternilai.
"Ada Siska sebagai saksi."
"Masih belum cukup. Siska belum sempat mendapat uang dari Freya, hanya menerima uang muka saja. Itu pun menggunakan amplop, bukan transfer via rekening. Kemudian bukti percakapan, pesan, dan nomornya semua sudah dibuang oleh Siska atas perintah Freya, sebelum mereka berpisah. Bahkan Siska juga harus membuang simcard-nya. Kalau kita melaporkan dengan bukti yang tidak cukup, nanti malah menjadi boomerang untuk kita sendiri."
"Benar-benar licik si Freya. Memanfaatkan orang yang sedang kesusahan."
"Sudahlah. Sebaiknya kita tidur. Ini sudah malam. Kamu sedang hamil, jaga baik-baik anak kita." Evan menarik selimut, mengajak istrinya juga untuk segera tidur.
Evan sebenarnya tidak ingin Laras sampai ikut terlibat masalah ini. Selain berbahaya untuk istrinya itu, juga dia sedang hamil. Evan tidak mau sampai terjadi sesuatu pada calon anaknya. Biar saja masalah ini dihadapi oleh para lelaki, Evan, Elan, dan Devan.
Pagi harinya, saat sedang sarapan, Pak Rifan berangkat lebih dulu karena ada janji dengan klien yang juga teman sekolahnya dulu. Lima belas menit kemudian, Elan dan Evan sudah menyelesaikan sarapannya.
Sampai di teras, Elan dan Evan akan memasuki mobil mereka masing-masing, bertepatan dengan Siska yang keluar memakai pakaian hitam putih khas karyawan baru.
"Eh, Siska!" Bu Maya yang lebih dulu menyapanya dengan menepuk pundak Siska. "Ini hari pertama kamu bekerja, ya? Kerja yang rajin dan semangat ya."
__ADS_1
Laras hanya memandang Siska sebentar, kemudian kembali mengalihkan perhatiannya lagi pada suaminya. Laras sedang membawakan jas dan tas kantor Evan. Sedang Evan dan Elan hanya menanggapi biasa saja.
"Oh iya, Siska berangkat ke kantor dengan siapa, ya? Elan atau Evan, ada yang mau memberi tumpangan?" ucap Bu Maya tiba-tiba.
Elan buru-buru menjawab, "Aku tidak langsung ke kantor. Mau mengunjungi cabang yang di kawasan pabrik dulu."
Elan meraih telapak tangan mamanya, kemudian masuk ke dalam mobil. Menyalakan mesin mobil, kemudian melajukan mobilnya meninggalkan empat orang yang ada di teras rumah.
Bu Maya beralih pada Evan. "Evan?"
"Terserah," jawab Evan dengan santai.
Bu Maya bertepuk tangan sekali. "Bagus. Kalau begitu, Siska berangkat bersama Evan saja, ya?"
Laras yang sedang membenahi dasi Evan, tangannya langsung berhenti. Pikirnya kenapa harus dengan Evan? Apalagi nanti mereka hanya berdua di dalam mobil.
"Jangan, Bu! Saya naik kendaraan umum saja," tolak Siska merasa tak enak.
"Jangan! Ini sudah agak siang. Nanti kamu terlambat. Lagi pula kamu belum tahu letak kantornya di mana kan?"
"Saya sudah mencatat alamat kantornya."
"Tapi kamu baru pertama kalinya ke kantor. Kalau nunggu kamu nyari, nanti kelamaan. Belum nunggu transportasinya. Hari pertama bekerja tidak boleh terlambat."
"Ma, tapi kan Siska karyawan baru. Udah gitu jabatan mereka sangat jauh perbedaannya. Kalau karyawan lain liat, nanti apa tanggapan mereka?" sanggah Laras.
"Iya juga, ya? Nanti dikiranya Siska karyawan kesayangan. Enggak baik juga untuk dia." Bu Maya telunjuknya di dagu. Otaknya berpikir untuk mencari ide.
Evan berdiri dengan sedikit tidak nyaman. Ayolah, kenapa para perempuan ini sangat lama berunding? Evan sudah ingin berangkat ke kantor.
"A–ha! Begini saja. Siska hari ini ikut mobil Evan, lalu turunkan Siska tidak terlalu jauh dari kantor. Jadi, karyawan lain enggak akan curiga kan? Siska jadi tahu kantornya di mana dan juga enggak akan terlambat."
Sebenarnya Laras masih belum terima, karena tetap saja akhirnya Evan dan Siska masih harus berada di satu mobil, itu pun mereka hanya berdua. Tapi kalau masih terus menolak, nanti malah menimbulkan kesan jelek di mata mertuanya.
"Begitu juga tidak apa-apa," ucap Laras dengan tidak semangat. Terpaksa menyetujui permintaan mertuanya.
"Apa sudah selesai diskusinya?"
Bu Maya dan Laras mengangguk bersamaan.
"Kalau begitu aku berangkat sekarang. Kamu jangan sampai kelelahan. Jaga baik-baik anak kita." Laras mencium punggung tangan Evan, lalu berpamitan pada mamanya sebelum memasuki mobil, diikuti oleh Siska juga.
Dalam perjalanan menuju kantor ....
__ADS_1