
Adik Ipar Malang
Bab 20 Sindi Diancam
POV Lilis
Hari Sabtu, biasanya digunakan oleh kami sekeluarga untuk bersantai. Tidak untuk kali ini. Meski hanya menikah siri, tapi Kak Devan ingin yang meriah. Aku sampai harus mengancam, supaya acara hanya diadakan secara sederhana saja.
Berkat bantuan Ibu juga, akhirnya calon suamiku itu mau menurut. Acara dibuat sederhana, dan hanya mengundang tetua saja yang ada di komplek sini. Yang paling penting saksi dari pihak mempelai perempuan harus ada.
Walaupun orang tua dari Kak Devan tak datang, tapi paket-paket tiap hari berdatangan. Aku sangat bersyukur, saat mereka merestui Kak Devan untuk menikahiku dan menyelamatkan nama baik keluarga ini.
Semoga Kak Devan tulus menikah denganku dan bisa menyayangi anak dalam perut ini seperti anak kandungnya.
Terdengar bel rumah berbunyi saat aku dan Ibu sedang membuka paketan dari orang tua Kak Devan.
"Biar Lilis saja yang buka, Bu."
"Ya, sudah. Ibu akan membereskan ini dulu."
"Tunggu sebentar!" teriakku sambil berjalan ke arah pintu. Memutar anak kunci, kemudian menarik gagang pintu di depanku.
"Kak Laras!"
Aku langsung menundukkan kepala, tak berani menatap wajahnya. Bagaimanapun Kak Laras pasti masih sakit hati, dengan apa yang suaminya lakukan padaku.
"Di mana ayah, ibu, dan Devan?" Kak Laras bertanya dengan nada datar.
"Ayah dan Kak Devan di ruang keluarga. Ibu tadi ada di kamar." Aku menjawab dengan suara lirih.
"Ada yang ingin aku bicarakan. Cepat kita ke sana!"
Kak Laras berjalan mendahuluiku. Aku langsung mengikuti, setelah menutup pintu kembali.
Sesampainya di ruang keluarga, semua mata memandang Kak Laras dengan heran. Ibu juga sudah berada di ruang keluarga, bersama dengan Ayah, dan Kak Devan. Memang ini pertama kali kakakku kemari, setelah kejadian malam itu.
"Laras! Sini duduk. Bagaimana kabar kamu?" Ayah yang pertama kali tersadar, langsung mengajak putri sulungnya untuk duduk.
"Baik, Ayah."
Kak Laras menyalami Ibu dan Ayah bergantian. Kemudian duduk di sebelah Ibu. Ayah duduk sendiri di kursi kesayangannya. Aku dan Kak Devan duduk bersebelahan.
"Maafin Ayah belum sempat menemui kamu setelah kejadian itu. Bagaimana hubungan kamu dengan Evan?" tanya Ayah.
"Tentu tidak baik-baik saja, Om," serobot Kak Devan menjawab pertanyaan Ayah.
Kakak kandungku itu mendelik pada Kak Devan. "Diam kamu, dasar pr*man pasar!"
"Kalau kamu merasa nggak perlu diceritakan, ya nggak usah cerita. Itu permasalahan rumah tanggamu dengan Evan. Kami sebagai orang tua tidak akan mencampuri urusan rumah tangga anak, tapi hanya mampu memberi nasihat untuk kebaikan kalian. Begitu juga mertuamu pasti juga akan berpikir seperti itu."
Ibu memberi nasehat pada Kak Laras. Tentunya nasehat itu juga akan berlaku untukku setelah menikah nanti. Untuk tidak gampang menceritakan aib rumah tangga sendiri pada orang lain.
"Hubungan kami menjadi dingin akhir-akhir ini," jawab Kak Laras lesu.
Jawaban Kak Laras telak membuatku merasa sangat bersalah. Secara tidak langsung aku ikut menyakiti perasaannya.
"Kak Laras!" panggilku. "Aku minta maaf." Aku berucap lirih dengan bersungguh-sungguh. Aku benar-benar minta maaf
"Kalau kamu ingin aku maafin, sebaiknya kamu cepat-cepat menikah dengan Devan. Kemudian pergi dari sini, dan tinggal bersama Devan."
"Tanpa kamu suruh, aku juga akan segera menikahi Lilis," tukas Kak Devan.
"Yang aku omongin barusan itu serius, Devan. Kalian harus cepat-cepat menikah. Aku nggak mau, ya, kalau sampai rencana Evan berhasil."
__ADS_1
Semua langsung terkejut mendengar ucapan Kak Laras. Ayah yang sedang duduk bersandar di kursinya langsung menegakkan punggungnya.
"Maksud kamu apa, Laras?" tanya Ayah.
"Waktu itu aku mendengar Evan sedang berbicara dengan seseorang lewat telfon di ruang kerjanya. Dia berencana menggagalkan pernikahan Lilis dan Devan. Tapi, aku nggak tahu dia berbicara dengan siapa."
"Tukang nguping!" celetuk Kak Devan dengan muka mengejek.
"Berkat menguping, aku jadi bisa tahu tentang informasi ini. Harusnya kamu itu mengucap terima kasih," balas Kak Laras ngegas. "Maka dari itu aku datang ke sini, kasih tahu informasi penting ini. Walau kalian menikah siri, itu sudah cukup untuk membuat Evan akan mundur untuk mengejar-ngejar Lilis," sambungnya lagi.
"Bagaimana Evan bisa tahu kalau Devan dan Lilis akan segera menikah?" tanya Ayah penasaran.
"Ya, itu. Seseorang yang menelfon Devan malam-malam," jawab Kak Laras lagi.
"Padahal Ayah sudah meminta tolong mertuamu supaya memantau Evan, dan membuat dia selalu sibuk, sampai Devan dan Lilis melangsungkan akad."
"Jadi banyaknya kerjaan Evan, bagian dari rencana kalian?" pekik Kak Laras terkejut.
"Ya."
"Gara-gara hal ini, aku juga jadi kena dampaknya. Karena sekarang aku sudah kembali bekerja di kantor Papa mertua, dan menjadi sekretaris Evan. Hampir tiap malam kami lembur kerja."
"Bagus itu. Bisa membantu memperbaiki hubungan kalian," ucap Ibu.
"Tunggu dulu, Ayah hubungi mertuamu. Siapa tahu mereka ada yang bilang ke Evan."
Ayah kemudian menghubungi besannya. Setelah nada sambung ketiga barulah diangkat. Ayah mengeraskan suaranya, agar semua bisa mendengar percakapan mereka.
[Assalamualaikum.]
"Wa'alaikumsalam."
[Ada apa, ya, Pak Arif?]
"Begini, sebelumnya maaf kalau mengganggu waktu Anda. Saya mau bertanya, apa Pak Rifan atau Bu Maya ada memberi tahu Evan kalau Devan dan Lilis akan segera menikah?"
"Begini, Laras tak sengaja mendengar pembicaraan Evan dengan seseorang di telfon, kalau Evan akan menyusun rencana untuk menggagalkan pernikahan Devan dan Lilis."
[Apa?! Ah, anak itu! Maafkan saya, Pak Arif. Lalu bagaimana? Apa saya harus ke sana?]
"Tak perlu, Pak. Biar nanti saya kasih kabar ke Anda, kalau ada hal penting selanjutnya. Terima kasih atas waktunya."
[Ya, sama-sama. Assalamualaikum.]
"Wa'alaikumsalam"
"Lalu, kira-kira siapa yang sudah memberitahu Evan tanggal akad Devan dan Lilis?" tanya Ayah dengan muka gelisah.
"Kalau itu kalian tak perlu bingung. Sepertinya aku tahu siapa yang sudah jadi mata-mata Evan." Kak Devan tersenyum miring. "Tunggu, aku menghubungi seseorang dulu."
Kak Devan mengambil ponselnya dari dalam saku, dan langsung menelfon seseorang. Dari yang terdengar, sepertinya dia menyuruh seseorang untuk dibawa kemari.
"Kamu menghubungi siapa, Devan?" tanya Ayah setelah Kak Devan selesai menelfon.
"Kita tunggu saja. Setelah ini akan ada yang datang." Yang ditanya menjawab dengan santai.
Kak Laras sudah duduk di sini lama, aku sampai lupa belum membuatkan minum.
"Aku mau membuat minum dulu untuk Kak Laras. Aku permisi ke belakang."
"Harusnya dari tadi, Lis."
Astaga, Kak. Pedesnya mulutmu. Aku hanya menampakkan mimik muka minta maaf.
__ADS_1
Setelah teh selesai dibuat, aku juga membawakan biskuit kesukaan Kak Laras di atas nampan. Aku meletakkan teh dan biskuit itu di atas meja, tepat di hadapan Kak Laras.
"Diminum dulu, Kak."
Tak berselang lama pintu depan diketuk. Terdengar suara orang bertamu.
"Biar Ibu saja yang lihat, siapa yang datang."
Ibu berdiri lalu berjalan menuju pintu depan. Kemudian kembali dengan dua orang tamu. Seorang laki-laki dengan pakaian seperti preman, dan yang satunya lagi ....
"Sindi."
Kenapa Sindi ke sini bersama laki-laki itu? Wajahnya itu, kenapa seperti ketakutan.
"Perintah sudah dilaksanakan. Saya langsung permisi, Bos. Masih ada urusan di luar," kata laki-laki itu pada Kak Devan.
"Kerja bagus. Terima kasih. Kamu boleh pergi."
Laki-laki itu menuruti perkataan Kak Devan. Langsung berjalan ke luar rumah setelah sebelumnya pamit pada kami. Preman tapi, kok, ya sopan.
Dia tadi memanggil Kak Devan dengan panggilan bos? Ah, aku baru ingat, kan dulu dia memang mantan preman waktu sekolah. Ternyata dia masih punya bala, setelah lama nggak tinggal di sini.
"Sindi!" panggilku.
Yang dipanggil menengok dengan pandangan takut. Kemudian berlari untuk memeluk kakiku dan menangis sambil berkata maaf.
"Maafin aku, Lis. Maafin aku." Sindi mengucapkannya berulang-ulang.
"Sindi, kamu kenapa?" tanyaku khawatir, sambil membantunya berdiri.
Aku memandang Sindi dengan pandangan bingung. Sedang Kak Devan melihat Sindi dengan pandangan sinis. Kenapa dengan Devan?
"Maafin aku, Lis. Aku udah jahat sama kamu. Hu ... hu ..." kata Sindi sambil menangis. Dari tangisnya seakan sangat merasa bersalah.
"Maksud kamu apa, Sindi? Jelasin pelan-pelan. Duduk dulu, ya."
Aku memapah Sindi duduk di sebelahku. Kak Devan langsung berdiri dari duduknya. Ibu memberikan gelas berisi air minun padaku yang langsung kusodorkan pada Sindi.
Sindi meneguk air itu dengan rakus, aku segera mengambil gelas kosong yang barusan airnya diminumnya. Tangis sudah berhenti, tapi dia masih terisak.
"Sekarang kamu ceritakan dengan jujur. Dosa apa yang sudah kamu buat pada Lilis." tuntut Kak Devan.
Kami semua kecuali Sindi, mendelik pada Kak Devan, sedang Sindi langsung menciut. Kelihatan sekali kalau dia sangat takut pada Kak Devan.
"Lilis, maafin aku. Ak-aku ... kemarin saat aku berkunjung ke sini untuk menengok kamu, sebenarnya aku disuruh untuk mencari tahu, kapan tanggal pernikahan kamu. Lalu ... lalu ak-aku harus memberi informasi kepada dia." Sindi berbicara sambil terisak. Kepalanya menunduk, tak berani menatapku.
"Kamu disuruh siapa?" tanya Ayah pada Sindi.
"Itu ... Kak Evan," jawab Sindi dengan suara lirih, seperti bisikan.
Aku menggelengkan kepala, tak percaya dengan ucapan dari sahabatku itu.
"Kenapa kamu tega lakuin itu, Sindi? Selama ini aku anggap kamu sebagai sahabat yang paling mengerti aku. Tapi, kenapa ..." Aku tak bisa menahan tangis. Apa lagi akhir-akhir ini aku sedikit sensitif, gampang tersinggung.
Keluarganya saja berusaha menutupi, kenapa dia malah seenaknya memberi tahu pada Kak Evan?
"Tenang, Sayang. Sindi pasti ngelakuin itu ada sebabnya." Ibu mendekat, mengusap punggungku untuk menenangkan. "Kita dengarkan dulu apa alasan Sindi. Kenapa dia bisa melakukan ini, ya."
"Maafin aku, Lis. Aku terpaksa ngelakuin ini." Sindi terus memohon-mohon supaya dimaafkan.
"Iya, kamu terpaksa ngelakuin itu. Tapi, terpaksanya itu kenapa?" tanya Kak Laras dengan gregetan.
"Karena aku diancam."
__ADS_1
"Diancam?" beoku.
"Diancam bagaimana?"