Adik Ipar Malang

Adik Ipar Malang
bab 53 Siska Jatuh


__ADS_3

Adik Ipar Malang


Bab 53 (Siska jatuh)


Siska sudah menyiapkan mental seandainya harus jatuh menghantam lantai, apalagi kalau terjatuh dengan posisi yang tidak elit. Dia memejamkan matanya. Dalam hatinya menghitung sampai hitungan kelima, tapi dia sama sekali tidak merasakan sakit. 


Penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi, Siska membuka kedua matanya pelan-pelan. Sesosok wajah tampan dengan rahang tegas, mata yang tegas, dan hidung sedang namun bangir, ada di depan matanya persis. 


Satu kata yang mampu Siska sebutkan, "Tampan."


Elan mengernyit, membuat kedua alisnya yang lebat menukik hampir menyatu. "Apa kamu b0d0h atau cer0boh?"


"Maksudnya?"


"Kamu enggak ingat apa yang barusan kamu alami?"


Siska baru sadar kalau ternyata dia berada di pangkuan Elan. Pantas saja dia tidak merasa sakit. 


Sebenarnya Elan hanya ingin menahan tubuh Siska supaya tidak terjatuh, tapi kakinya tidak pada posisi kuda-kuda yang benar, jadi hilang keseimbangan. Alhasil dia menangkap tubuh Siska sembari jatuh terduduk. Kini gadis itu berada di atas pangkuannya.


"Alhamdulillah." Siska tersenyum lega. "Aku enggak harus nyium lantai."


Bruk!!


Elan langsung menjatuhkan tubuh Siska ke lantai, kemudian langsung berdiri. Dia tidak habis pikir dengan gadis kony0l di depannya ini. Bukannya berterima kasih atau segera bangun, malah keenakan duduk di atas pangkuan Elan.


"Aww!" Siska terjatuh ke lantai. Untung tidak setinggi jatuh dari kursi. "Tega banget sih! Kan, jadi sakit."


"Dasar gadis ceroboh. Bersihin jendela saja, sampai jatuh."


"Ini juga gara-gara kamu. Coba kamu enggak ngagetin aku. Datang-datang langsung teriak." Siska masih menepuk pantatnya yang sedikit berdenyut sakit.


Mengangkat kedua alisnya, Elan merasa sedikit tak enak. Memang benar dia yang buat kaget Siska dengan tiba-tiba teriak. Tapi itu kan tidak sengaja. Ini gara-gara temannya yang telepon kasih kabar mengejutkan. 


Elan melihat ponselnya yang sudah terputus sambungannya. Kemudian ingin pergi ke arah taman untuk mencari udara segar. 


Siska segera menarik ujung kaos belakang milik Elan. "Mau pergi ke mana?"


"Taman," jawab Elan datar.


"Tanggung jawab dulu, dong."


"Kalau lutut kamu yang luka, tinggal di kasih obat merah, lalu tutup dengan plester. Bagian tubuh kamu mana yang luka?"


"****4*."


"Terus, aku harus pegang-pegang ****4* kamu gitu?"


Siska langsung merutuki kebod0hannya saat itu juga. Dia langsung menunduk, tidak berani menatap Elan. Takut kalau sampai Elan berpikir Siska ini m3sum.


Prang!!


Baru saja Elan akan berbicara lagi, terdengar suara benda pecah belah jatuh dari arah sebuah kamar.

__ADS_1


"Ibu," gumam Siska seraya berlari menuju kamar, diikuti Elan di belakangnya.


"Ya Allah! Ibu!" teriak Siska panik setelah sampai di kamar.


Bi Tirah tergeletak di lantai dalam keadaan tidak sadarkan diri. Pecahan gelas berserakan di sisi tubuhnya. 


"Bu, bangun!" Siska meletakkan kepala ibunya di atas pahanya. Menepuk-nepuk pipi Bi Tirah pelan, berharap ibunya bisa sadar.


Elan tersadar dari rasa terkejutnya. Dia segera memanggil sopir kediamannya untuk membantu mengangkat Bi Tirah ke mobil. Butuh waktu setengah jam untuk sampai di rumah sakit terdekat.


Bi Tirah sedang ditangani dokter di dalam IGD. Siska tak bisa menghentikan air matanya yang terus keluar. Mulutnya terus berdoa untuk kesembuhan ibunya.


Gadis yang biasanya sangat aktif dan bertingkah kony0l, kini dia terlihat rapuh di mata Elan. Seakan-akan disentuh pun dia akan langsung roboh. Entah dorongan dari mana, Elan ingin sekali menenangkan dan mengusap pundak Siska yang kini sangat terlihat lemah. 


"Bagaimana keadaan Bi Tirah?"


Tinggal beberapa senti lagi tangannya sampai di pundak Siska, Elan segera menarik tangannya. Mama dan papanya sudah berdiri di depannya dengan wajah panik.


"Bi Tirah masih sedang ditangani dokter di dalam," jawab Elan. Bibir Siska masih kelu untuk menjawab pertanyaan dari majikan perempuannya. 


"Kamu yang sabar ya, Siska. Semoga ibumu baik-baik saja. Jangan putus berdoa!" Bu Maya mengusap pundak Siska berharap bisa sedikit menenangkannya. 


Tidak lama kemudian, pintu ruang rawat itu terbuka. Elan yang lebih dulu melihat dokter keluar, segera menghampirinya. 


"Bagaimana keadaan Bi Tirah dokter?" tanya Elan.


Siska ikut menghampiri dokter itu. Diikuti Bu Maya dan Pak Rifan.


"Pasien dalam keadaan kritis. Kita harus banyak berdoa, semoga pasien bisa melewati masa kritisnya."


"Boleh, tapi hanya satu orang saja. Tunggu sampai perawat keluar. Saya permisi dulu. Masih banyak pasien yang harus saya periksa."


Setelah dokter pergi, Siska duduk kembali di kursi tunggu dengan pikiran kosong. Ibunya sedang kritis. Siska benar-benar tak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada ibunya. Hanya ibunya yang dia punya di dunia ini. 


Setelah perawat keluar, Siska langsung menghampiri perawat itu. "Apa kamu sudah boleh melihat ibu saya, Sus?"


"Boleh. Tapi hanya satu orang yang boleh masuk. Jadi harus bergantian. Dimohon jangan membuat keributan!"


Setelah mendapat izin, Siska segera masuk. Dia melihat ibunya terbaring dengan beberapa peralatan yang menempel di tubuh ibunya. Tangannya langsung meraih tangan ibunya yang tak terpasang selang infus. 


Siska menangis pelan. Dia tidak mau suara tangisannya malah memperburuk keadaan ibunya. Setelahnya, mereka bergantian masuk untuk mengunjungi Bi Tirah.


Sampai siang hari, Siska masih menunggui ibunya. Siska ingin ada di sana saat ibunya melewati masa kritisnya nanti. Bu Maya dan Pak Rifan sudah kembali ke rumah.


Elan sendiri belum ingin beranjak. Dia menunggui Siska di luar ruangan, duduk di kursi tunggu. Dia tak tega meninggalkan Siska.


Sore harinya Bu Maya dan suaminya kembali ke rumah sakit. Kali ini mereka datang bersama Laras, Evan, dan kedua orang tua Laras.


"Apa Bi Tirah sudah sadar?" tanya Bu Maya pada anak sulungnya.


"Belum."


"Apa Siska sudah makan?" tanya pak Rifan.

__ADS_1


"Belum juga. Aku sudah membelikan beberapa makanan ringan. Tapi dia sama sekali belum menyentuhnya."


"Ya sudah. Sana kamu makan saja dulu di kantin. Biar kami yang gantian menunggu di sini," perintah Bu Maya pada Elan yang langsung dianggukinya. Kemudian berjalan menuju kantin di rumah sakit ini.


Di perjalanan, Elan seperti melihat seseorang yang sangat dikenalnya keluar dari ruangan dokter. "Itu seperti Freya."


Elan mempercepat langkahnya menuju tempat di mana Freya keluar. "Dokter kandungan?" gumam Elan saat membaca papan nama di pintu bercat coklat itu. "Kenapa Freya keluar dari ruangan dokter kandungan?"


Terakhir Elan melihat Freya berjalan ke arah pintu keluar. Dia berusaha mengejar untuk memastikan, seseorang itu Freya atau bukan. Sayangnya sebuah punggung seperti milik Freya, sudah lebih dulu masuk ke dalam mobil sport berwarna merah. 


*


Di dalam ruangan, Siska melihat bulu mata ibunya bergerak-gerak. Kemudian melihat ke arah jari telunjuk ibunya. Jari telunjuk itu juga bergerak. Siska sangat terkejut bercampur dengan rasa lega dan bahagia. Buru-buru dia keluar ruangan untuk memanggil dokter.


"Ada apa Siska?"


"Ibu ... Ibu sudah sadar," ucap Siska kelewat senang. Dia hendak berlari memanggil dokter ke ruangannya.


Bu Maya langsung menarik tangan Siska. "Mau kemana kamu?"


"Aku mau panggil dokter."


"Jangan pergi! Pencet saja tombol yang ada di dalam. Dokter pasti segera ke sini!" ujar Laras.


"Ah iya! Maaf saya enggak tahu. Saya juga panik." Siska tersenyum malu.


Evan langsung masuk ke dalam ruangan dan memencet tombol yang ada di atas ranjang Bi Tirah. Tidak selang lama, dokter dan perawat datang untuk memeriksa kondisi Bi Tirah. Di belakangnya, Elan juga sudah kembali dari kantin. Dia sama sekali tak bernafsu makan.


"Maaf, keluarga pasien tunggu dulu di luar. Biar dokter memeriksa kondisi pasien terlebih dulu." Perawat itu langsung menutup pintu ruangan Bi Tirah.


Sekitar sepuluh menit sudah dokter menangani Bi Tirah di dalam sana. Tapi suasana tiba-tiba menjadi sedikit tegang. Entah kenapa perasaan mereka mendadak sangat tidak enak.


Pintu ruangan itu terbuka. "Siapa dari anda semua yang bernama Siska?" tanya perawat.


"Saya, Sus." Siska langsung menghampiri perawat. 


"Pasien ingin menemui Mbak. Silakan masuk."


Siska tersenyum tipis melihat kedua mata ibunya terbuka. Dia segera memeluk Bi Tirah bahagia.


"Siska," panggil Bi Tirah dengan nafas terengah-engah. 


"Iya, Bu. Siska di sini." Siska menggenggam telapak tangan ibunya dengan erat.


"Ibu sayang Siska. Siska mau kan menuruti perkataan ibu?"


"Iya, Bu. Pasti." Siska mendekatkan telinganya di mulut ibunya.


Di balik ventilator, Bi Tirah berusaha berbicara dengan sisa tenaganya. "Berbaktilah pada keluarga Bu Maya. Mereka orang baik. Ibu percaya kamu bisa bahagia setelah ini."


"Ibu enggak boleh ngomong begitu. Ibu pasti sembuh."


"Jangan menangis. Ibu sudah bahagia, meninggal saat dikelilingi orang-orang yang baik. Ingat pesan ibu."

__ADS_1


Di luar ruangan, semuanya sangat cemas. Laras sampai melupakan rasa bencinya pada Siska. Hanya ada rasa iba dan rasa simpati yang dia berikan untuk Siska. Kalau sampai ibunya kenapa-napa, Siska akan benar-benar sendirian. Suami Bi Tirah sama sekali tidak mengharapkan Siska yang anak kandungnya sendiri.


__ADS_2