
Adik Ipar Malang
Bab 23 (Kesedihan Laras)
POV Author
Lilis berjalan memasuki kamar mandi. Sampai di sana, dia memandangi pipinya yang sudah memerah di cermin. Semoga saja suaminya itu tak melihat.
Saat ingin melepas baju kebayanya, dia teringat kalau resletingnya berada di belakang, itu tepat di punggungnya. Tangannya berusaha untuk menurunkan resleting, tapi hanya berhasil terbuka beberapa senti saja.
Akhirnya diputuskan untuk minta tolong kepada Devan. Dari pada dia terlalu lama, takut suaminya ingin segera memakai kamar mandi juga.
Lilis melongokkan kepalanya dari pintu kamar mandi. Objek yang dicarinya sedang duduk di sofa sambil memainkan ponsel.
"Kak Devan!" panggilnya pelan.
Merasa ada yang memanggil, Devan mengangkat kepalanya dari menatap ponsel di tangannya. Ternyata tadi suara istri kecilnya yang barusan memanggil. Hanya kepalanya saja yang menyembul di pintu kamar mandi.
"Kenapa? Sudah selesai?"
Lilis keluar dari kamar mandi, memperlihatkan tubuhnya yang masih berbalut pakaian seperti tadi. Devan mengerutkan alisnya, melihat belum ada pakaian yang terganti dari tubuh istrinya itu.
"Kenapa belum berganti pakaian? Belum mandi juga, 'kan?"
"Itu ... aku nggak bisa melepas bajunya," katanya sambil menundukkan kepala.
Kemudian Lilis berbalik badan. Memperlihatkan resleting yang baru terbuka beberapa senti. Devan yang paham langsung mengajak Lilis masuk kembali ke kamar mandi.
Devan terkekeh. "Kenapa nggak bilang dari tadi?"
Lilis hanya diam saja. Dirinya terlalu malu untuk menjawab.
Kini Devan sudah berada di belakang Lilis lagi. Bedanya tadi membantu melepas aksesoris, kini melepas resleting.
Jemari Devan mulai menurunkan resleting secara perlahan. Sampai terpampanglah kulit punggung Lilis yang putih dan ditumbuhi bulu-bulu halus.
Devan meneguk ludah dengan kasar. Semakin turun resleting itu, semakin terlihat dengan jelas punggung indah Lilis. Jarinya ingin sekali menyentuhnya. Bagaimanapun dia ini juga laki-laki dewasa normal.
Akhirnya Devan melakukannya dalam sekali tarikan. Jarinya menjauh dari baju Lilis. Lilis yang merasa aneh pun membalikkan badannya, seraya mencebikkan bibirnya.
"Kak! Kok, ditutup lagi? Aku udah gerah banget pengen mandi, mau istirahat."
Saking gugupnya, Devan malah menutup resleting itu lagi. Takut jari-jarinya nakal.
"Eh, maaf. Itu tadi ... sini aku bantuin lagi."
Lilis berbalik badan lagi, sedang Devan menetralkan deru nafas dan jantungnya, supaya tangannya tidak bergetar. Jemarinya kembali membuka resleting secara perlahan. Pandangannya dialihkan ke arah lain, meski pun sesekali mencuri-curi lihat ke punggung Lilis yang mulai terbuka.
"Sudah selesai," ucap Devan dengan menghembuskan nafas lega.
__ADS_1
Setelah resleting benar-benar terbuka, Devan buru-buru keluar dari kamar mandi. Dapur yang menjadi tujuannya. Sepertinya minum air dingin dari kulkas lumayan menyejukkan, batinnya.
Di dalam kamar mandi, Lilis hanya memandang heran ke arah suaminya pergi. Kemudian membiarkan saja pikiran herannya berlalu. Lalu melanjutkan kegiatannya yang tertunda.
***
Di tempat lain, Evan melajukan mobilnya dengan ugal-ugalan. Berharap dirinya segera sampai ke rumah mertuanya. Dia mendapat kabar mengejutkan dari Hari.
'Bagaimana bisa seperti ini? Mereka memberiku informasi yang salah atau rencanaku yang bocor?' Evan terus saja bertanya-tanya dalam hatinya.
Ternyata Devan memajukan hari akadnya. Tak disangka, Devan lebih lihai darinya.
Ternyata ini alasan Laras tadi pagi, memakai pakaian kebaya dengan alasan tema. Padahal menghadiri pernikahan adik kandung sendiri dengan sepupunya.
Evan langsung memarkirkan mobilnya sembarang di halaman rumah mertuanya. Keluar dari mobil, dia melihat ada mobil Devan terparkir di sana. Kemungkinan Lilis masih ada di dalam.
Sampai di pintu masuk, dia melihat keluarganya sedang duduk di ruang tamu. Ada orang tuanya, bahkan kakaknya yang sedang sibuk di luar kota, benar-benar meluangkan waktunya untuk datang ke sini. Semua yang ada di dalam masih belum menyadari keberadaan Devan.
Memasuki rumah dengan langkah lebar, kemudian berhenti di ruang tamu. Dalam seketika semua yang duduk di ruang tamu langsung senyap.
"Evan," lirih mereka terkejut dengan kehadiran orang yang tak diharapkan untuk datang saat ini.
Evan menatap satu persatu wajah orang tua dan mertuanya, istrinya pun tak dilewatkan.
"Ada acara apa ini?" tanya Evan masih berpura-pura belum tahu.
Semuanya masih diam menutup rapat mulut masing-masing. Suasana mendadak tegang seketika. Mereka tahu cepat atau lambat Evan pasti akan mengetahuinya, dan akan mencari tahu keberadaan Lilis.
Semuanya menahan nafas saat Elan langsung berkata jujur pada Evan. Jangan tanyakan bagaimana kondisi jantung mereka. Sudah pasti berdetak kencang seperti habis lari maraton.
"Kenapa kalian membiarkan Devan menikahi Lilis?" geram Evan menatap mereka tajam. Wajahnya sudah memerah dengan rahang mengeras. Tangannya terkepal dengan erat.
"Evan, kami melakukan ini demi kebaikan kita semua, terutama untuk kamu," ucap ayah mertuanya pada Evan.
"Lilis mengandung anakku, jadi aku yang berhak untuk menjadi suaminya. Bukannya malah Devan yang hanya orang lain," protesnya.
"Di mana Lilis sekarang? Devan! Keluar kamu! Kembalikan Lilis padaku!" raung Evan yang suaranya menggema sampai ke penjuru ruangan.
"Evan, hentikan! Lilis dan Devan sudah pergi dari sini." Bu Maya mencoba menyadarkan anak bungsunya agar berhenti teriak-teriak.
Elan membawa adiknya untuk duduk di sofa. Dia berusaha menenangkan Evan, meski pun harus menggunakan sedikit tenaga untuk menahan pundak Evan, agar tetap pada duduknya.
"Kenapa kalian membiarkan Lilis pergi dengan Devan?" tanyanya dengan lemah. Wajahnya benar-benar kuyu.
"Evan, dengar! Seandainya kamu menikah dengan Lilis, pernikahan itu tidak akan sah. Karena kamu itu suami dari Laras, kakak kandung Lilis. Harusnya kamu menceraikan Laras dulu, baru bisa menikahi Lilis. Tidak diperbolehkan satu orang pria menikahi dua wanita bersaudara sekaligus."
Pak Arifin berusaha memberi nasihat pada menantunya itu. Bagaimanapun dia harus bisa mempertahankan pernikahan Laras.
"Kalau kamu memang serius ingin menikahi Lilis, sejak awal tahu Lilis hamil, pasti kamu sudah menceraikan Laras. Kemudian mengajukan pernikahan dengan Lilis. Tapi kamu belum melakukannya sampai sekarang, 'kan. Itu tandanya masih ada Laras di hatimu, meski hanya secuil." Elan menepuk pundak Evan. Mencoba untuk membuka pikiran adiknya itu.
Evan hanya bergeming. Pikirannya benar-benar sudah kacau. Memang ada benarnya yang dikatakan oleh kakaknya itu. Kenapa dia dari awal tidak segera menceraikan Laras? Di sudut hatinya ada sedikit perasaan takut kehilangan istrinya itu.
__ADS_1
"Lebih baik kamu pikirkan lagi dengan kepala dingin. Ingat saat dulu kamu meminta pada Papa untuk melamar Laras. Sekarang dia sudah jadi istrimu, jangan sia-siakan." Kali ini Papanya Evan sendiri yang menasehatinya.
Evan menyugar rambutnya dengan kasar. Dirinya benar-benar dilema sekarang. Dirinya juga memikirkan Lilis dan anak yang masih di dalam kandungan. Bukankah anaknya juga membutuhkan ayahnya?
Merasa tak ada gunanya lagi di sini, Evan berdiri dan meninggalkan kediaman mertuanya dengan hati panas dan pikiran kelam kabut.
"Elan, kejar adikmu! Mama nggak mau dia melakukan yang tidak-tidak," titah Bu Maya pada anak sulungnya.
"Tenang saja, Ma. Elan tahu Evan bukan orang seperti itu. Sekarang Elan akan menyusul Evan."
Air mata sudah menetes di pipi Bu Maya. Pak Rifan membawa istrinya dalam pelukan, supaya bisa sedikit menenangkannya.
Sedang di belakang sana, Laras sudah tidak bisa membendung tangisnya. Hatinya benar-benar hancur. Bisa-bisanya Evan sampai nekat ingin menggagalkan pernikahan Lilis.
'Apakah karena Lilis mengandung anaknya, atau jangan-jangan Evan memang benar-benar sudah jatuh hati pada adik iparnya itu?' tanyanya dalam hati.
Orang tua dari Evan berpamitan dan minta maaf atas perlakuan Evan. Mereka benar-benar merasa tidak enak pada besannya, kerena telah menyakiti Laras dan Lilis, kedua putrinya sekaligus.
Setelah ditenangkan oleh ibunya, Laras memilih kembali ke rumah yang ditinggali bersama Evan. Dia ingin memperbaiki kembali hubungan dengan suaminya itu.
Jam sudah menunjukkan angka sebelas malam, tapi suami yang ditungu-tunggu belum juga pulang. Tadi sudah mencoba menghubungi Elan. Katanya Evan masuk ke sebuah bar, tempat Evan dan teman-temannya nongkrong saat masih kuliah dulu.
Laras segera berlari menuju pintu, ketika terdengar suara ketukannya. Berharap sang suami yang ada di baliknya.
"Evan!" pekiknya terkejut saat pintu sudah terbuka.
Memang benar Evan dan Elan yang ada di luar, tetapi yang mengejutkan adalah keadaan Evan yang mengenaskan. Dia mabuk berat, bahkan sampai harus dipapah oleh kakaknya itu.
"Terima kasih, Kak," ucap Laras pada Elan setelah membantu membawa Evan ke kamarnya.
"Sama-sama. Maaf tadi aku sempat kehilangan jejak, makanya tidak bisa mencegah Evan agar tak masuk ke bar."
"Nggak apa-apa, Kak. Evan pulang dengan selamat aja, aku udah bersyukur."
"Kalau begitu aku pulang dulu. Kamu yang sabar."
Laras mengangguk. "Sekali lagi terima kasih, Kak."
Setelah mengantar Elan sampai teras, Laras kembali ke kamarnya. Dia melepas pakaian Evan sambil sesekali menutup hidung, karena bau alkohol yang menempel di baju.
Saat sedang menyeka tubuh Evan dengan air hangat, tangan Laras ditarik oleh Evan hingga membuatnya terjatuh di atas dada suaminya. Masih tercium bau alkohol bercampur mint di sana.
Dalam keadaan tidak sadar, Evan melampiaskan pada Laras dengan cara memaksa dan kasar. Dia tak mendengar jeritan dan tangisan Laras yang memohonnya untuk berhenti.
Pagi harinya Laras menangis di kamar mandi dengan badan nyeri di seluruh tubuh, terutama di bagian intimnya. 'Mungkinkah ini yang dirasakan Lilis saat itu? Maafkan kakak yang menyalahkanmu waktu itu,' batinnya meratapi dengan sedih.
Selain itu sakit badan tak sesakit hatinya kini. Evan bukannya menyebut namanya, melainkan nama Lilis di saat pelepasannya. Apa mungkin sudah tak ada namanya tersemat di hati Evan?
Tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka. Evan berdiri di ambang pintu dengan wajah membelalak mendapati Laras dalam keadaan memilukan.
"Laras, kamu kenapa?"
__ADS_1