Adik Ipar Malang

Adik Ipar Malang
bab 38 Devan Cemburu


__ADS_3

...Adik Ipar Malang ...


...Bab 38 Devan Cemburu...


POV Lilis


"Kamu ini unik. Perempuan kalau ditraktir, dia akan memilih semua barang-barang yang mahal dan branded, tapi kamu malah ingin permen kapas." Kak Fero terkekeh kecil.


"Makanan manis itu bisa membuat mood kita yang buruk jadi lebih baik, Kak. Jadi jangan meremehkannya," ucapku sambil mencubit kecil bagian permen kapas, kemudian memasukannya ke dalam mulut.


Aku menghentikan suapan saat melihat Kak Fero yang terus memperhatikanku. Itu membuatku risih dan sedikit malu. Sedang makan, tapi malah diperhatikan terus menerus. Mataku bergerak ke kanan dan ke kiri, mencoba lepas dari rasa malu. Atau mungkin Kak Fero ingin permen kapasnya juga.


"Kakak kenapa melihat ke arahku terus? Kakak mau permen kapasnya?" Aku menyodorkan permen kapas ke arah Kak Fero.


"Enggak. Aku enggak suka makanan manis," tolaknya. "Kecuali ..." Kak Fero menghentikan ucapannya.


"Kecuali?" tanyaku sedikit penasaran.


"Ra-ha-si-a," jawabnya sambil memajukan wajahnya mendekat ke wajahku.


Dari jarak sedekat ini, aku bisa melihat garis wajahnya yang halus, namun tegas. Matanya yang sipit dan tajam di saat bersamaan. Tidak ketinggalan ketampanan dan pesonanya yang terus memancar, di mana pun dia berada. Seakan-akan semua pusat perhatian direbut semua olehnya.


Tiba-tiba saja ada sesuatu yang menendang dari dalam perut. Refleks langsung mundur, dan menjauhkan wajahku darinya. Mengelus perut buncitku sambil beristighfar dalam hati.


Terima kasih, Sayang. Kamu menyelamatkan Ibu di waktu yang tepat, ucapku dalam hati.


Suasana di antara kami menjadi canggung seketika. Kak Fero tersenyum manis ke arahku, seakan tidak terjadi apa pun. Sedang aku melihat ke arah lain, asal tak melihat ke arahnya saja. Dalam hati terus menyebut nama Kak Devan. Supaya aku terus ingat, kalau aku adalah perempuan yang sudah bersuami.


"Em, aku mau kembali ke kamar."


"Kenapa cepat sekali? Baru juga sebentar. Kita belum menjelajahi semua tempat." Senyumnya lenyap seketika.


"Kak Fero bisa melanjutkan sendiri. Aku akan kembali ke kamar."


"Nanti saja, ya. Kamu temani aku sebentar lagi. Atau kamu lelah ya? Kita bisa istirahat dulu sebentar."


"Enggak bisa, Kak. Kak Devan pasti sudah kembali ke kamar. Aku enggak mau membuat dia khawatir karena aku belum kembali."


Aku berbalik badan, berjalan meninggalkan Kak Fero. Paling penting sekarang aku harus sampai ke kamar, sebelum Kak Devan kembali. Aku takut dia khawatir, kemudian melakukan hal konyol untuk mencariku.


Tiba-tiba Kak Fero sudah berdiri di hadapanku, membuat aku harus berhenti berjalan. "Jangan ngambek gitu, dong. Kamu jadi tambah imut kalau sedang ngambek gitu."


Mataku melotot ke arahnya. Bisa-bisanya dia menggombal pada perempuan yang sudah bersuami.


Tanpa menanggapi ucapannya, aku tetap melangkah melewati dirinya. Berjalan ke arah pintu keluar yang menuju ke arah kolam renang. Aku memakai kolam renang sebagai patokan untuk mempermudah menemukan kamar tempatku menginap dengan Kak Devan.


Saat aku menengok, ternyata Kak Fero mengikuti aku di belakang. Biarkan saja, mungkin dia ingin kembali ke kamarnya juga.

__ADS_1


"Memang kamu ingat arah jalannya?"


"Ingat, kok. Aku pakai kolam renang untuk jadi patokan." Aku menjawab dengan yakin.


"Kamu mau ke mana?" tanya Kak Fero saat kami sampai di sebuah persimpangan jalan setapak.


"Aku sudah bilang tadi." Tanpa berpikir panjang aku mengambil jalan lurus sambil menjawab pertanyaan Kak Devan.


"Kamu mau berendam malam-malam begini?" tanya Kak Fero yang sukses menghentikan langkah dan berbalik badan menghadap ke arahnya. Aku memandangnya dengan bingung. Apa maksudnya?


Kemudian Kak Fero mengangkat tangannya, menunjuk ke sebuah tiang penunjuk jalan. Aku membacanya dengan terkejut bercampur malu. Ternyata kolam renang ke arah kanan, kolam pemandian lurus, dan taman bermain ke arah kiri. Dengan muka memerah karena menanggung malu, aku berjalan ke arah sesuai papan penunjuk jalan.


Dapat kudengar suara orang yang sedang menahan tawa dari arah belakang. Sudah jelas kalau itu suara Kak Fero. Aku tak menghiraukannya, dan terus berjalan. Meski sebenarnya aku merasa sangat malu.


Kenapa dari awal aku tidak ingat kalau ada papan penunjuk arah? Kalau begitu kan aku tidak perlu pergi bersama Kak Fero, sampai menyasar ke tempat seperti pasar malam itu. Aku terus menggerutu dengan suara lirih sambil terus berjalan.


Tak selang lama berjalan, aku sampai di deretan area kamar penginapan. Bahkan dari jarak ini aku bisa melihat pintu kamar tempat aku dan Kak Devan menginap.


"Sampai sini saja. Terima kasih sudah mengantar aku sampai sini," ucapku pada Kak Fero.


Meski kami harus menyasar dulu, aku tetap harus berterima kasih juga, kan, kepadanya. Bagaimanapun dia sudah mau menemani, dan tidak meninggalkanku begitu saja di tempat asing dan ramai.


"Ya. Cepat masuk! Pasti Devan sudah menunggu kamu."


Aku mengangguk kemudian berjalan memasuki kamar. Begitu pintu terbuka, aku melihat Kak Devan sedang berdiri dengan cemas sambil mengotak-ngatik gawainya.


Kak Devan menengok ke arahku. "Lilis!" Wajah Kak Devan sangat tegang setelah melihatku.


Dia berlari dan langsung memelukku dengan erat. Aku sedikit menjaga jarak, agar perut tidak terhimpit. Kepalaku dihujani dengan kecupan-kecupan kecil dari bibirnya. Dari pelukan ini, aku dapat merasakan betapa khawatirnya dia, seakan tak ingin melepaskan aku.


Seketika aku merasa sedikit bersalah, tapi aku juga tidak bersalah. Aku, kan, nyasar, gara-gara bertemu dengan Kak Fero.


"Akhirnya kamu kembali," ucap Kak Devan masih terus memelukku. "Aku sangat khawatir. Aku takut kamu kenapa-kenapa. Kamu ke mana saja? Kenapa tidak langsung kembali ke kamar? Aku juga tidak bisa menghubungimu." Kak Devan melepas pelukan seraya menghujaniku dengan banyak pertanyaan.


Aku melihat gawai milikku. Ya ampun, ternyata baterainya habis. Pantas saja tidak ada tanda-tanda kehidupan di dalam saku bajuku. Aku pikir Kak Devan masih sibuk mengurusi Kak Evan, makanya dia tidak mencoba menghubungiku.


Aku menceritakan semua kepada Kak Devan. Dari bertemu Kak Fero sampai nyasar di tempat pasar malam. Terus kembali ke kamar ini, tanpa ada yang aku tutupi. Aku dapat melihat telapak tangan Kak Devan mengepal dengan erat.


"Maafin aku, Kak," ucapku takut-takut.


Apa Kak Devan cemburu? Kenapa harus cemburu dengan Kak Fero? Dia itu kan teman lamanya Kak Devan. Lagi pula aku sama sekali tak ada rasa apa pun pada Kak Fero.


Kepalan telapak tangannya perlahan-lahan terbuka. Kak Devan menarik nafas kemudian menghembuskan pelan-pelan. Dia melakukan itu beberapa kali. Seperti sedang menetralkan emosinya.


"Kamu enggak diapa-apain, kan, sama Fero?"


Aku mengernyit mendengar pertanyaan suamiku itu, lalu menggelengkan kepala. "Kak Fero enggak berbuat macam-macam ke aku."

__ADS_1


"Syukurlah. Ya, sudah. Sekarang kamu bersih-bersih, setelah itu istirahat."


Aku melakukan yang disuruh oleh Kak Devan. Aku juga sudah merasa sangat lelah setelah berputar-putar dengan Kak Fero tadi. Melihat ke bawah, kakiku sedikit bengkak. Kalau kata mama, ini wajar dialami oleh ibu hamil, tapi kenapa harus di saat sedang berada di sini?


Selesai bersih-bersih badan, giliran Kak Devan yang menggunakan kamar mandi. Seingatku mbok Urip membawakan minyak gosok untuk berjaga-jaga kalau ada apa-apa. Sebelumnya aku menolak, tapi sekarang ternyata sangat diperlukan. 


Akhirnya setelah mengubek-ubek di kotak obat, ternyata mbok Urip menaruhnya di tas kosmetik. Ada-ada saja si mbok Urip ini.


Aku langsung duduk bersandar di atas kasur. Saat akan mengoles kaki dengan minyak gosok, aku baru sadar kalau ternyata tanganku sudah tidak sampai untuk menyentuh telapak kaki sendiri. Terhalang oleh perut buncit berisi calon anakku yang menggemaskan. Aku baru ingat, untuk memotong kuku bagian kaki saja, Kak Devan yang melakukannya sekarang.


Tepat saat itu juga, Kak Devan keluar dari kamar mandi. Dia langsung menghampiri dan mengambil minyak gosok dari tanganku. Tanpa sungkan dia mulai mengoles dan memijat pelan kakiku yang bengkak.


"Ini kenapa bisa bengkak? Besok kita periksa, ya."


"Enggak perlu, Kak. Kata mama ini memang wajar dialami sama ibu hamil. Paling harus ganti ukuran sandal saja." Aku tertawa kecil, yang diberi hadiah cubitan di hidung oleh Kak Devan.


"Ya, besok kita beli."


"Kak, bagaimana dengan Kak Evan? Apa yang terjadi?"


Lama Kak Devan diam tidak menjawab. Seperti sedang memikirkan sesuatu. Meski aku memiliki kenangan pahit dengan Kak Evan, tetap saja dia adalah kakak iparku, suami dari Kak Laras.


"Kak!"


"Em, dia baik-baik saja." Hanya itu jawabannya.


Aku bisa melihat dari wajahnya kalau dia sedang menyembunyikan sesuatu dariku. Bukankah aku ini istrinya? Kalau ada masalah seharusnya dia mau berbagi, bukannya dipendam sendiri, lalu menutupinya dariku.


"Apa yang sudah terjadi?"


"Tidak ada apa-apa. Hanya Evan yang diberi obat perangsang melalui makanannya." Kemudian Kak Devan menceritakan semuanya.


Aku sangat terkejut mendengarnya. Bagaimana bisa ada orang yang melakukan hal seperti itu pada Kak Deva, seorang yang sudah beristri. Kalau saja tadi tidak ada Kak Devan, entah akan bernasib seperti apa rumah tangga kakakku.


"Untung saja Kak Devan datang tepat waktu."


"Kamu khawatir dengan Evan?"


"Tentu saja khawatir, Kak."


"Kenapa?"


"Kenapa? Karena dia-"


"Ayah dari anakmu."


Mataku membulat mendengar pernyataan Kak Devan barusan. Kenapa dia jadi cemburu buta seperti ini? Jangan sampai hubungan kami renggang hanya karena kesalahpahaman yang sepele.

__ADS_1


__ADS_2