Adik Ipar Malang

Adik Ipar Malang
bab 12 Awal Mula 2


__ADS_3

...Adik Ipar Malang ...


...bab 12 Awal Mula 2...


POV Evan 2


Aku menepati janji, membawa Lilis ke rumah Mama. Laras tidak ikut. Dia bilang ingin mencari ide yang lebih brilian, supaya lebih dekat dengan tujuannya. Tipe wanita pejuang sekali. Tapi sayang, aku jadi semakin tak dihiraukan.


Melihat Mama tertawa lepas bersama dengan Lilis, membuat hatiku menghangat. Ada rasa iri di dalam hati, kenapa Mama tidak bisa seperti itu dengan Laras.


Setelah bersuka ria di dapur, Lilis kini berada di halaman samping rumah. Dia menemani Papa bermain catur. Pembawaan Lilis yang ramah dan mudah berbaur dengan orang di sekelilingnya, membuat dia dipuji banyak orang. Entah dari kalangan muda maupun yang tua.


Seperti yang pernah Mama dan Papa bilang, mereka mendambakan anak perempuan. Kini Lilis hadir di antara mereka. Menjadi anak bungsu tersayang.


Bahkan Kak Elan yang sangat dingin terhadap perempuan, semenjak kekasihnya tiada pun menjadi sangat memanjakan Lilis. Memberikan kasih sayang bak kakak laki-laki terhadap adik perempuannya.


"Andai Tante punya anak laki-laki seumuran kamu, pasti sudah Tante jodohkan kalian. Tante sangat senang kalau bisa punya menantu seperti kamu, Lis," ucap Mama disela-sela obrolan kami. Dan perkataan Mama membuat hatiku agak resah mendengarnya.


***


Beberapa hari setelahnya, aku mendapati istriku duduk di meja makan dengan mata sembab. Dia kecewa karena gagal terpilih menjadi kandidat. Terlihat sekali sangat frustrasi.


Entah aku harus sedih atau senang mendengarnya. Mungkin ini menjadi petunjuk kalau kami harus lebih fokus untuk program kehamilan.


"Sudah, tak apa." Aku tak romantis, apalagi pandai menghibur. Jadi aku hanya mengusap punggungnya saja kemudian membawa kepalanya dalam pelukanku.


"Tapi usahaku jadi sia-sia." Laras mulai terisak. Suaranya bergumam di dadaku.


"Mungkin belum rejeki saja."


Laras melepas diri dari pelukanku dengan kasar, dan matanya berkilat. "Tapi aku nggak pernah mengalami kegagalan. Seumur hidupku apa yang aku inginkan pasti terpenuhi. Bahkan-" Tiba-tiba dia menghentikan perkataannya.


"Kenapa tidak dilanjutkan perkataanmu?" Aku hanya memandang wajahnya dengan datar. Apa ada yang disembunyikan dariku?


Wajah Laras berubah gelagapan. Matanya memandang ke sana ke mari seperti mencari jawaban.


"Ti-tidak. Ma-maksudku ... em, aku hanya masih shock saja. Jadi, emosiku masih labil. Kuharap kamu bisa memaklumiku," jawabnya dengan lirih.

__ADS_1


"Ya, sudah. Kita kembali ke kamar dan istirahat saja."


"Ya. Tapi, aku akan cuci muka dulu dan mengompres mataku, supaya besok pagi tidak bengkak. Aku harus tetap menjaga penampilan."


Aku mengangguk dan bergumam sebagai jawaban, kemudian masuk kamar. Menaiki kasur dan duduk dengan menyenderkan punggungku di kepala ranjang. Menunggu hingga istriku menyusul masuk ke kamar.


"Apa kamu masih ingin melanjutkan progam kehamilan?" tanyaku ketika Laras sudah masuk ke kamar.


"Kenapa? Apa Mama masih menodong pertanyaan soal cucu?" Laras bertanya dengan nada malas.


Aku tak menjawab pertanyaannya.


Laras mendengus, kemudian merebahkan tubuhnya di sampingku. "Kita sudah sama-sama periksa ke beberapa dokter. Hasilnya sama semua. Kita berdua sama-sama subur, Sayang. Hanya menunggu waktu saja."


"Kalau begitu, bisa kita mulai lagi program itu?" Aku mulai mengelus bahunya, lalu turun ke lengan.


"Maaf, aku masih sedih atas kegagalanku. Bisa kita lakukan besok-besok?" Laras mengec*p kecil bibirku. Kemudian memposisikan dirinya bersiap untuk tidur.


"Ya, aku mengerti. Tidurlah." Dipaksa pun dia hanya akan cemberut. Aku paham betul wataknya.


Kurang lebih seminggu, Laras membuatku harus puasa. Hingga dia sudah membaik keadaannya, ternyata si*lku datang lagi. Dia sedang palang merah. Untukku yang memiliki libid* tinggi, aku sedikit frustrasi.


Jam menunjukkan pukul lima sore, waktunya pulang kerja. Aku masih betah duduk di kursi kerja, berkutat dengan berkas-berkas yang sebenarnya tinggal sedikit.


Dering ponsel membuatku mengalihkan pandangan ke sisi kanan kertas yang sedang kuperiksa. Rupanya istriku, gegas kuangkat panggilan darinya.


"Assalamualaikum."


[Waalaikumsalam. Apa kamu sudah pulang dari kantor?]


"Belum."


[Begini, bisa kamu ke rumah Ayah? Lilis nggak ikut ke tempat Bude Rara. Kami belum bisa pulang karena cuaca sangat buruk. Kami khawatir Lilis nggak berani sendirian di rumah. Jadi, Ayah meminta tolong kamu supaya ke rumah Ayah, dan menemani Lilis sampai kami pulang.]


Memandang ke luar kaca transparan yang menjadi dinding kantorku. Benar langit sudah mendung. Kemungkinan hujan sudah pasti.


"Ya, di sini juga langit sudah sangat gelap. Pulang kerja aku langsung ke rumah Ayah untuk menengok keadaan Lilis."

__ADS_1


[Terima kasih, Sayang. Kamu sudah menganggap adikku seperti adikmu sendiri. Hati-hati di jalan, ya. Love you. Assalamualaikum.]


"Hm, Waalaikumsalam."


Laras dan orang tuanya sedang ke tempat budenya. Bude Rara dan suaminya, Pakde Riyanto yang sedang sakit. Jaraknya tidak terlalu jauh. Bisa ditempuh sekitar dua jam perjalanan. Lilis tidak ikut, karena kebetulan bersamaan dengan ujian.


Aku langsung menyelesaikan pekerjaan yang tinggal sedikit, karena aku bukan tipe orang yang suka menyisakan pekerjaan untuk besok.


Keluar dari gedung, menuju parkiran di mana mobilku berada. Bersamaan jam pulang kerja menjadikan jalanan macet parah. Hiruk pikuk dan suara klakson sesama pengguna jalan tersengar sepanjang jalan. Rintik hujan mulai turun dan semakin lebat.


Aku langsung menuju rumah Ayah, menemui bungsu kesayangannya.  Hujan semakin lebat, disertai dengan petir. Sampai di rumah ternyata Lilis sudah selesai memasak makan malam.


"Bagaimana masakanku, Kak? Lumayan nggak? Takutnya nggak cocok dengan lidah Kakak," tanya Lilis ketika kami sedang makan malam. Semua masakan di atas meja memang Lilis yang memasak.


"Lumayan, pas." Aku berkomentar apa adanya.


"Syukurlah. Maklum masih amatir dan masih tahap belajar. Masih bisa dimakan saja sudah beruntung." Lilis tersenyum, wajahnya menampakkan lega, kalau masakannya bisa dimakan.


"Masakanmu memang enak. Untuk seusia remaja sepertimu bisa memasak seenak ini, itu sudah bagus." Aku menghentikan suapan ke mulutku. Kemudian bertanya lagi pada Lilis.


"Apa yang membuatmu ingin belajar memasak? Biasanya remaja perempuan seusiamu lebih suka nongkrong bersama teman-teman atau belajar di kamar. Menghabiskan waktu supaya saat lulus sekolah bisa menjadi wanita karir."


"Menjadi wanita karir itu juga impianku, Kak. Tapi balik lagi, kodrat wanita memang seperti itu, kan. Saat sudah menikah, kita harus bisa mengenyangkan perut suami kita kelak. Jadi, aku belajar mulai dari sekarang. Kurang lebih seperti itu yang kutangkap dari ajaran Ibu."


Kuakui masakannya lumayan enak. Di usia remaja sepertinya bisa berpikir seperti ini, pasti saat dewasa dia bisa menjadi ibu rumah tangga yang baik. Berbeda dengan Laras yang tak suka ke dapur, kadang beralasan bau asap. Hah ... aku jadi membandingkan mereka berdua lagi.


"Kak Evan langsung bersih-bersih badan saja di kamar Kak Laras. Biar bekas makan malam aku yang membereskan," ucap Lilis ketika kami sudah menghabiskan makan malam buatan tangan Lilis sendiri.


Aku menurut saja dan langsung menuju kamar Laras yang juga menjadi kamarku ketika menginap di sini. Begitu kembali, Lilis sudah tak ada di meja makan maupun di dapur. Mungkin dia sudah kembali ke kamarnya.


Kulangkahkan kaki ke arah kamar Lilis. Begitu sampai di depan pintu bercat coklat, langsung saja mengetuknya.


"Apa aku mengganggu?" tanyaku setelah pemilik kamar membukakan pintu.


"Sebenarnya aku ada banyak PR, dan agak kesusahan. Biasanya Ayah yang mengajariku. Tapi, sekarang Ayah sedang tak ada." Wajahnya berubah murung, dengan bibir mengerucut. Membuatku gemas tertahan.


"Biar aku membantumu mengerjakan PR, supaya cepat selesai. Waktu sudah lumayan larut."

__ADS_1


"Eh, benarkah? Kak Evan mau membantuku?" Matanya berbinar seperti mendapat keberuntungan. Aku jadi bertambah gemas. "Kalau begitu kita ke ruang tamu saja, ya. Mengerjakannya di sana saja. Biar aku bawa buku-bukunya dulu."


"Tak perlu." Aku langsung mencegah Lilis. "Di sini saja. Biar tak repot memindahkan buku dari sini ke ruang tamu."


__ADS_2