
Adik Ipar Malang
Bab 40 (Makan Malam (tidak) Romantis)
Pov Lilis
Aku terbangun sendirian di dalam kamar. Tenggorokan terasa kering. Saat akan menuang air dari teko, ada sebuah catatan kecil di sebelahnya. Itu catatan dari Kak Devan. Kenapa tiba-tiba dia jadi demam romantis? Eh, seharusnya aku bersyukur punya suami seperti dia.
Ada sebuah kotak di sebelahnya, yang berisikan gaun berwarna biru muda yang sangat indah. Bahannya sangat ringan, sehingga sesuai untuk ibu hamil.
Aku sudah selesai bersiap. "Sekarang tinggal waktunya menemui pangeran," gumamku dengan tersenyum kecil, masih berada di depan cermin.
Di tengah perjalanan menuju area kolam renang, aku berpapasan dengan Kak Evan. Tanpa disuruh, kaki langsung saja berhenti berjalan. Aku merasakan keringat dingin mulai keluar di dahi, tapi tidak separah dulu. Mungkin berkat terapi yang dulu pernah kujalani.
"Lilis," gumam Kak Evan lirih yang masih bisa kudengar.
Aku diam saja. Mata Kak Evan melihat ke arah perutku. Aku tidak tahu apa yang dia pikirkan dengan melihat perut yang membuncit ini.
"Kamu ... apa kabar?" Pertanyaan basa basi di tengah suasana canggung seperti ini.
"Baik."
"Aku-"
"Maaf. Kak Devan sudah menungguku untuk makan malam. Lain kali kita bisa bicara. Itu pun jika mendapat izin Kak Devan."
"Ok kalau begitu," pungkasnya terdengar kecewa.
"Permisi." Langsung saja aku melanjutkan langkah dan pergi meninggalkannya. Beban seakan langsung menjadi ringan dalam sekejap.
Setelah berjalan agak jauh, aku berhenti lagi untuk menetralkan degup jantung yang berdetak dengan cepat. Aku tidak boleh merusak rencana yang sudah dibuat susah payah oleh Kak Devan.
Menarik nafas panjang, kemudian menghembuskan secara perlahan. Aku menarik sudut bibir untuk tersenyum, guna menghilangkan rasa berkecamuk akibat bertemu dengan Kak Devan.
"Kamu bisa, Lilis!" Aku mencoba menyemangati diri sendiri.
Sampai di tempat tujuan, aku dibuat terharu dengan pemandangan yang ada.
Sebuah meja dengan dua buah kursi terpajang di pinggir kolam renang. Di sekelilingnya banyak lampion kecil berwarna kuning tersebar di sekelilingnya. Terdapat sebuket bunga matahari di dalam vas kecil, untuk mempercantik meja.
Benar-benar pemandangan yang sangat romantis. Aku langsung duduk di salah satu kursi sambil masih melihat pemandangan sekeliling.
Hampir lima belas menit aku menunggu suamiku di sini. Belum ada tanda-tanda kalau makan malam ini akan segera dimulai. Mungkinkah masih ada kejutan lainnya?
Aku berdiri kemudian melangkah lebih dekat ke kolam renang. Melihat pantulan diri di air yang tenang. Kemudian memejamkan mata lalu merentangkan kedua tangan. Kini aku mendapatkan suasana yang menenangkan.
Byurr!
Aku merasa ada yang mendorong tubuhku dan dalam sekejap aku sudah berada di dasar kolam renang. Wajah terasa sangat sakit karena langsung berbenturan dengan permukaan air.
Untungnya aku bisa berenang. Aku segera mengangkat tubuh untuk berenang ke atas. Begitu muncul di permukaan, aku langsung menarik nafas dalam-dalam. Hanya sedikit air yang masuk ke hidung.
Kakiku menjejak air di bawah sana, agar bisa seimbang mengambang dengan vertikal di dalam air. Melihat sekeliling, tidak ada orang sama sekali selain diriku di sini.
"Siapa yang sudah mendorongku? Ke mana perginya karyawan di resort ini?" tanyaku pada diri sendiri.
Aku tak tahu seberapa meter dalamnya kolam renang ini, yang paling penting sekarang adalah segera keluar dari sini. Suhu dingin sudah mulai menguasai tubuhku.
Aku mulai berenang ke tepian kolam yang lebih dekat, karena tangga untuk memanjat jauh dari posisi di mana aku tercebur. Sampai di pinggiran kolam renang, aku menyesal sekarang. Aku tidak bisa memanjat dengan kondisi perut buncit ini.
"Aku harus segera naik, sebelum aku mengalami kram otot," gumamku sambil menggigil.
Semakin menguatkan pegangan di pinggiran kolam, berusaha mencari pertolongan. Aku melihat sekelebat bayangan. Mungkin karyawan sini.
"Tolong! Tolong! Tolong aku!" Aku berteriak kencang. Dingin semakin menguras tenaga.
Aku merasa lega, karena ada sekitar tiga orang mulai datang ke arahku. Aku melambaikan tangan untuk menunjukan posisiku saat ini.
"Tolong bantu aku untuk naik!" Suaraku mulai bergetar.
__ADS_1
"Lilis! Bagaimana kamu bisa berenang malam-malam begini?" Itu suara Kak Evan. Dia ternyata mendengar suara teriakan dan ikut menolongku.
"Ayo bantu Mba ini naik!" ucap salah seorang karyawan.
"Kamu jangan b*doh. Dia sedang hamil. Perutnya akan bergesekan dengan pinggiran kolam kalau kamu menariknya seperti itu." Kak Evan memarahi salah satu karyawan yang berusaha menarik tubuhku.
Tanpa disangka, Kak Evan melepas sepatunya, langsung masuk ke dalam kolam renang. Dia melingkarkan tangan kirinya di bahuku, dan tangan kanannya ditaruh di lipatan lututku. Dengan mudahnya Kak Evan mengangkat tubuh ini ala putri dan meletakkannya di daratan.
Sekarang aku benar-benar merasa lega karena berhasil selamat. Kak Evan menyusul naik kemudian menghampiriku.
"Ambilkan selimut atau benda apa saja yang bisa membuat dia hangat!" teriak Kak Evan pada orang di sekitarnya.
Tidak lama selimut, handuk, dan kain lainnya mulai menutupi tubuhku. Seseorang juga memberiku segelas air hangat, yang langsung aku minum isinya setengah.
"Terima kasih semuanya," ucapku lirih sembari mengembalikan gelas. Suaraku masih bergetar.
"Di mana Devan?" tanya Kak Evan, sambil mengusap rambutku dengan handuk, yang dibawakan oleh karyawan resort ini.
Aku menggeleng.
"Seharusnya kamu sedang makan malam dengan Devan, kan?" cecar Kak Evan lagi.
"Lilis!" panggil seseorang yang suaranya sangat aku kenal.
Aku langsung mendongak ke arah suara. Itu suara Kak Devan. Dia berusaha mendekatiku dengan menyibak karyawan yang berkerumun. Kak Evan segera menyingkir dari hadapanku, membiarkan Kak Devan mengambil alih tempatnya.
"Kamu kenapa bisa seperti ini?" Kak Devan memelukku. "Kita ke rumah sakit, sekarang!"
"Tidak. Aku ingin istirahat di kamar. Badanku lelah." Hanya itu yang aku inginkan sekarang.
"Ya, sudah." Kak Devan membawaku kembali ke kamar.
Sesampainya di kamar, tidak lama kemudian datang dokter perempuan ditugaskan untuk memeriksaku. Untungnya aku dan janin tidak apa-apa.
Setelah dokter itu pergi, Kak Devan mengucapkan kata maaf berkali-kali. Penyesalan terlihat sangat jelas di wajahnya.
"Sudah. Aku tidak apa-apa, Kak."
"Kalau saja tadi tidak terlalu sibuk dengan urusanku sendiri, dan datang tepat waktu, pasti kamu enggak akan mengalami kejadian seperti ini."
"Allah masih melindungiku dan juga janin ini. Jangan khawatir lagi, ya?"
"Sekarang kamu makan dulu, setelah itu minum vitamin."
"Tidak, Kak. Aku ingin istirahat."
"Kamu belum makan malam. Kumohon, demi anak kita. Mungkin kamu tidak lapar, tapi calon anak kita butuh asupan, Sayang. Setelah itu kamu boleh istirahat."
Aku terhenyak, benar kata Kak Devan, tidak seharusnya ngeyel. Sekarang aku membawa dua nyawa. Memikirkan kesehatan buah hati, aku mengangguk lemah.
"Aku suapi." Kak Devan mengambil sepiring nasi tim ayam hangat yang berada di atas nakas. Aku menerima suapan itu dengan senang hati. Bagiku ini lebih baik dari pada harus makan bubur.
Kalau aku belum makan malam, Kak Devan juga pasti belum, kan? Aku menghentikan suapan dengan memegang tangannya.
Kak Devan mengernyit. "Kenapa?"
"Gantian, Kakak juga harus makan." Aku mengambil alih sendok itu, kemudian berganti menyuapi dia.
Kak Devan diam saja, tak membuka mulutnya. Kenapa dia tak mau ikut makan denganku?
"Maafin aku, Kak. Gara-gara aku, makan malam kita jadi gagal. Semua yang sudah Kakak siapkan jadi sia-sia," sesalku dengan sedih.
"Tidak, Sayang. Seharusnya aku yang minta maaf. Aku tidak ada di tempat untuk menyambutmu saat kamu datang. Maafin aku."
"Aku akan maafin, asal Kakak juga makan. Kita makan semangkuk berdua."
Kak Devan mengangguk. Kali ini dia membuka mulutnya, menerima suapan dariku.
"Lihat! Kita saling menyuapi. Ini juga romantis, kan?" ucapku sambil tersenyum manis. Kak Devan hanya tersenyum menanggapinya. Aku tahu dia pasti masih menyalahkan dirinya sendiri.
__ADS_1
Kami menyuap makanan dengan saling bergantian. Tidak lama makanan di dalam mangkuk sudah habis. Tepat saat itu juga pintu diketuk dari luar.
"Aku akan melihat siapa yang mengetuk pintu. Kamu minum vitaminnya!" perintah Kak Devan.
Aku menuruti apa yang Kak Devan suruh. Tidak lama kemudian Kak Devan sudah kembali, bersama dengan orang yang tadi menolongku, Kak Evan. Dia datang dengan sudah berganti pakaian.
Kak Devan mempersilakan suami dari Kak Laras itu duduk di sofa, yang langsung berhadapan dengan kasur tempatku istirahat ini. Sedang suamiku sendiri duduk di sebelahnya. Kak Evan melihatku dengan pandangan yang sedikit membuatku risih.
Ctakk!
Kak Devan menjentikkan ibu jari dengan jari tengahnya, di depan wajah Kak Evan. Dia sendiri langsung terkesiap karena ulah laki-laki berstatus suamiku itu.
"Segeralah bicara! Lilis harus segera istirahat. Jangan membuang-buang waktu kami!" suruh Kak Devan pada Kak Evan.
Kak Evan masih diam saja. Bahkan setelah dipancing oleh Kak Devan. Sebaiknya aku yang memulai pembicaraan ini dulu.
"Terima kasih. Terima kasih sudah menolongku tadi," ucapku sambil memainkan jemariku yang berada di bawah selimut. Jadi mereka tidak akan tahu kalau aku sedang gugup.
"Sama-sama," jawab Kak Evan datar. Pandangannya kini terfokus pada perutku. Aku pelan-pelan menaikkan selimut.
"Kau membuatnya canggung!" sungut Kak Devan pada kakak iparku itu. "Cepat bicara!"
"Bagaimana kamu bisa berada di dalam kolam renang?" tanya Kak Evan.
"Aku akan makan malam dengan Kak Devan," jawabku polos.
"Maksudku kenapa malam-malam kamu berenang?" tanya Kak Evan dengan muka masam.
Aku dan Kak Devan saling bertatapan. "Astagfirullah! Kenapa aku bisa lupa menanyakan ini pada Lilis?" Kak Devan menepuk keningnya.
Pikirku, kami sampai lupa membahas ini, saking sibuknya saling menyalahkan diri, karena kegagalan makan malam romantis kita.
"Benar kata Evan. Bagaimana kamu bisa di dalam kolam renang?" Kali ini Kak Devan tampak khawatir.
"Aku merasa seperti ada yang mendorong punggungku ke dalam kolam renang. Saat aku menyembulkan kepala, tidak ada siapa-siapa di sana selain aku," jawabku.
"Kamu yakin kalau didorong oleh seseorang? Bukan karena terpeleset, kan?" tanya Kak Devan memastikan.
"Iya, Kak," jawabku mantap. "Aku merasakan sendiri di punggungku," lanjutku.
Dua laki-laki di hadapanku terdiam. Mungkin memikirkan kejadian yang telah aku lalui. Wajah mereka terlihat sangat serius.
"Di resort ini ada kamera pengawas, bukan?" tanya Kak Devan pada Kak Evan.
"Tentu saja," jawab Kak Evan. "Di zaman sekarang, tempat mana yang tidak dipasangi dengan kamera pengawas?" sambungnya.
"Berarti ...."
"Berarti?" Kak Evan mengikuti ucapan Kak Devan dengan wajah bingung.
"Kau ini. Lem*t sekali. Kita pergi sekarang!" ajak Kak Devan dengan menarik bahu Kak Evan, membuatnya terpaksa berdiri.
"Tunggu dulu! Aku ingin berbicara dengan Lilis," tolak Kak Evan.
"Lilis baru saja minum obat. Dia harus istirahat," sanggah suamiku. Kemudian Kak Devan berjalan ke arah tempat tidur.
"Kamu sekarang istirahat, ya. Aku hanya pergi sebentar." Kak Devan mengecup keningku sebelum kembali menarik Kak Evan keluar.
"Sebentar saja." Kak Evan masih kekeuh.
"Tidak bisa. Atau aku tidak mengizinkan kamu untuk menemui Lilis selamanya," ancam Kak Devan.
"Tapi kita akan pergi ke mana?"
"Ke ruangan yang memantau semua kamera pengawas."
Masih bisa kudengar riuhnya perdebatan mereka. Hingga akhirnya aku tertidur dengan lelap, mengistirahatkan badan.
*****
__ADS_1