Adik Ipar Malang

Adik Ipar Malang
bab 16 Datang Ke Rumah


__ADS_3

Adik Ipar Malang


Bab16 (Datang ke Rumah)


POV Lilis


Aku sudah kembali dari rumah sakit, kemarin. Tadi setelah sarapan disuruh langsung istirahat di kamar. Kata Ayah, sebaiknya aku tak sekolah dulu, karena harus memeriksakan kondisi mental akibat peristiwa itu, dengan menjalani psikoterapi.


Pikiran ini tiba-tiba teringat dengan perkataan Kak Devan saat di rumah sakit kemarin. Laki-laki itu meminta agar dia yang bertanggung jawab akan janin yang sedang kukandung. Dia ingin menikahi aku.


Terdengar suara ketukan dari luar. Aku langsung berjalan ke arah pintu dan membukanya. Sejenak aku terdiam melihat orang yang sudah mengetuk pintu kamarku. Hingga suara panggilan Kak Devan menyadarkan dari keterdiaman ini.


"Lilis!" panggilnya agak kencang.


"Y-ya. Ada apa, Kak?" tanyaku agak linglung.


"Boleh aku masuk?" Suaranya kini lembut.


Aku diam tak menjawab. Tiba-tiba teringat kejadian menjij*kan itu, karena kejadiannya di tempat ini, di kamarku sendiri. Sepertinya Kak Devan membaca gerak-gerikku yang kurang nyaman.


"Biarkan saja pintunya terbuka. Aku tahu apa yang kamu khawatirkan."


Menggeser tubuh ke samping, membiarkan laki-laki itu masuk, lalu aku mengikuti di belakangnya. Pintu dibiarkan terbuka. Aku duduk di atas ranjang, sedang dia menarik kursi belajar kemudian diletakkan didepanku, hingga kami jadi duduk saling berhadapan.


Aku jadi merasa canggung dengannya. Tak berani menatap wajah Kak Devan, mengarahkan pandangan ke mana saja asal tak padanya.


"Apa kamu sudah memikirkan jawabannya? Kalau bisa harus cepat, sebelum perutmu yang semakin besar," tuntut Kak Devan.


Mataku langsung tertuju padanya. "Aku ... belum," jawabku pelan seraya menggelengkan kepala.


"Lilis, pikirkan pernikahan kakakmu, pikirkan nama baik orang tuamu, pikirkan juga kehidupan anak di dalam perutmu setelah dia lahir, dan pikirkan dirimu sendiri juga. Apa kamu tak ingin menyelamatkan rumah tangga kakakmu, atau kamu ingin Evan yang akan bertanggung jawab untuk menikahimu?"


Aku menggeleng dengan kencang.


"Mungkin menurutmu ini terkesan memaksa, dan tidak murni. Tapi, aku benar-benar mencintaimu dari semenjak aku tinggal di sini. Kalau kamu nggak percaya, nggak apa. Biar waktu yang membuktikan." Kak Devan memandangku dengan teduh, dan lembut. Bukan dengan wajah tengil seperti biasanya.


"Tapi, aku-"


"Aku tahu kamu belum mencintaiku. Tak apa, biar berjalan seiring waktu. Aku akan berusaha membuat kamu cinta padaku."


"Bukan itu, Kak!" Aku berkata sedikit kencang. "Bukan itu. Aku ini kotor, aku nggak sempurna, aku merasa nggak pantas. Banyak perempuan di luar sana yang lebih pantas dan bisa membahagiakan Kakak." Aku menurunkan suaraku, memandangnya dengan mata yang mulai mengembun.


"Apa menurutmu di dunia ini ada manusia sempurna tanpa memiliki kekurangan? Tunjukkan padaku mana orangnya? Satu lagi. Apa kamu bisa menjamin kebahagiaanku, kalau aku menikah dengan perempuan lain selain kamu?"


Kak Devan berkata dengan santai namun tegas. Kakinya disilangkan, kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana. Wajahnya datar dengan pandangannya menyorot tajam padaku.


Seketika aku langsung ciut. Auranya benar-benar sangat menekan. Aku menundukkan kepala. Menatap jari kaki sendiri yang seakan lebih menarik perhatian, tapi otak dan pendengaranku masih terfokus padanya.


"Setiap manusia mempunyai kekurangan dan kelebihan masing-masing, begitu pun aku. Tugas kita sebagai pasangannya ialah melengkapi ketidaksempurnaan itu satu sama lain."

__ADS_1


"Lilis, lihat mataku!"


Wajahnya yang datar berubah ramah, pandangannya menatapku lembut. Aku menurutinya, mengangkat kepala melihat ke dalam matanya. Ada sorot keseriusan di bola matanya.


"Seandainya aku menutupi kekuranganmu, maukah kamu menutupi kekuranganku? Kalau aku menerima kamu apa adanya, maukah kamu menerimaku juga apa adanya? Tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini. Bersediakah kamu menjadi pelengkap, agar hidupku menjadi sempurna?


Kamu mungkin tidak sempurna, tapi kamu akan selalu menjadi dirimu. Kamu adalah kamu, dan aku menerima kamu apa adanya. Aku harap kamu juga sebaliknya padaku. Apa masih ada yang kamu ragukan?"


Aku menggigit bibir kuat-kuat. Menahan isakan yang hendak keluar dari bibir, karena kata-katanya yang seakan menyindir hatiku.


Ya, mana ada orang yang sempurna di dunia ini. Tentu saja aku akan menerima semua kekurangan dan kelebihan pasanganku sendiri. Tentu saja aku juga menerima apa adanya pasanganku nanti. Tetapi kamu terlalu baik untukku, Kak, batinku menjerit.


Aku memejamkan mata, mengisi paru-paru dengan oksigen, agar bisa lebih tenang menghadapi Kak Devan, kemudian membuka mata perlahan.


"Terima kasih. Tapi, beri aku waktu sedikit lagi, Kak. Aku mohon," pintaku mengiba.


"Baik, kuberi waktu sedikit lagi. Sekarang kamu harus banyak istirahat, masih ada jadwal terapi bukan? Jangan terlalu lelah." katanya sambil mengusap puncak kepalaku.


"Terima kasih."


Kak Devan berjalan menuju pintu, sebelum sampai keluar dia berhenti. Kemudian berkata tanpa menoleh ke belakang.


"Aku yakin, secepatnya kamu akan membuka hatimu untukku." Kemudian menghilang di balik pintu yang tertutup.


Sesak seakan menghimpit dada. Yang harus kamu tahu, aku sudah membuka hati ini untukmu.


Suasana rumah kembali sepi. Ayah berangkat ke pabrik, Kak Devan kembali ke kantor, dan ibu kembali mengawasi minimarketnya. Aku di rumah sendiri. Orang yang biasa bersih-bersih rumah juga sudah pulang dari tadi, setelah menyelesaikan pekerjaannya.


Aku duduk di ruang tamu, menunggu ayah menjemput untuk melakukan jadwal terapi. Lebih baik menonton televisi sambil memakan cemilan untuk menghilangkan kebosanan.


Terdengar suara pintu diketuk. Siapa jam segini yang sudah pulang ke rumah? Bukannya jadwal terapinya masih tiga jam lagi? Sebaiknya aku segera melihat, tak enak kalau tamu menunggu lama.


Begitu pintu terbuka, aku terkejut melihat siapa tamu yang berdiri di depan pintu rumah. Tanpa sadar tubuhku mundur beberapa langkah. Tremor langsung menyerang tubuhku.


Untuk apa Kak Evan datang kemari? Kenapa harus di saat rumah sepi? Bagaimana ini?


"Apa kabar, Lilis? Maaf aku baru bisa menjengukmu."


"Ma-maaf ada perlu apa ya? Apa kamu mencari ayah atau ibu? Mereka tidak di rumah. Kamu bisa kembali lagi setelah mereka pulang."


Tanpa sadar aku memanggilnya dengan kata kamu. Biasanya aku akan memanggilnya kakak ipar atau Kak Evan. Tapi, tidak dengan sekarang.


Dia terdiam sesaat, memandang dengan kosong ke arahku. Kemudian menetralkan kembali wajahnya.


"Bukan! Aku ingin bicara denganmu. Bisa kita bicara berdua di sini?" tanyanya dengan berharap.


"A-aku sedang tidak bisa. Ada hal penting yang harus aku lakukan. Mungkin lain kali saja." Lagi-lagi aku targagap.


"Aku mohon. Nggak akan lama."

__ADS_1


Ini kali kedua aku bisa melihat kakak ipar memohon. Hey, mana ada orang memohon dengan wajah datar. Aku menyetujuinya saja. Jangan berbuat gegabah, karena aku sendirian sekarang. Aku tetap berusaha menjaga jarak darinya.


Kami duduk di sofa ruang tamu saling berjauhan, duduk di masing-masing ujung sofa. Aku akan menghubungi seseorang agar segera pulang ke rumah.


Bagaimana cara menghubungi orang luar? Harus mencari alasan yang tepat, agar dia tak curiga.


"Biar aku buatkan minum dulu untukmu."


"Nggak perlu repot-repot. Kembali saja duduk."


Perkataannya sukses membuat aku yang baru berdiri kembali duduk lagi.


Meraba di sisi tubuhku, ada sesuatu yang mengganjal di bagian saku celana. Memasukkan telapak tangan ke dalamnya, ah, ini ponsel. Kebetulan sekali, ada di saat benar-benar dibutuhkan.


Wajahku masih menghadap ke arah lain, pura-pura memandangi sekitar, tapi mataku sesekali melirik ke arah ponsel. Meski bergetar, jari-jari tetap kugunakan untuk menggeser, mencari menu telepon untuk memanggil siapa pun sekiranya yang bisa datang sekarang.


Berhasil! Panggilan tersambung, tapi sayang aku tak bisa berbicara dengannya. Kubiarkan panggilan tetap terhubung, agar orang yang di sana mendengar percakapanku dengan kakak ipar.


"Bisa langsung ke intinya saja?" Aku bertanya lebih dulu, karena sedari tadi dia hanya diam memandangiku.


"Pertama aku ingin minta maaf padamu atas semua perbuatanku yang lalu. Kedua aku memutuskan untuk bertanggung jawab kepadamu. Jadi aku akan menikahimu. Terima lamaranku, Lis."


"Aku tidak bisa!" jawabku cepat.


"Begini saja, kita pergi dari sini, hanya berdua saja. Pergi sejauh yang kamu mau. Di sana kita membangun keluarga kecil bersama anak kita," bujuknya masih tak tahu malu.


Aku menggelengkan kepala dengan seringai mengejek. Benar-benar tak mengerti dengan isi kepalanya.


"Bagaimana bisa kamu berpikir seperti itu, di saat ada istri yang sangat mencintaimu? Mungkin kamu bisa sangat mudah meninggalkannya, tapi tidak denganku. Dia kakak kandungku. Aku nggak bisa menyakitinya."


Dia hanya diam, bergeming. Wajahnya sama sekali tak menunjukkan ekspresi apa pun. Atau mungkin aku yang kurang teliti membaca ekspresi wajahnya.


"Aku mohon, kembalilah pada Kak Laras. Dia sangat mencintaimu. Perbaikilah hubungan kalian kembali." Kali ini aku memohon dengan berharap.


"Aku tidak bisa. Aku tidak bisa membiarkanmu menanggung beban sendirian. Aku harus bertanggung jawab atas kehamilanmu."


"Siapa bilang dia menanggung beban sendirian? Aku yang akan bertanggung jawab atas kehamilannya. Bukan kamu!"


Seseorang tiba-tiba datang dan berkata dengan lantang. Kak Devan, berdiri dengan mata menatap kakak ipar tajam. Kenapa dia bisa datang di waktu sekarang?


Aku melihat ponsel yang ada di genggaman. Membelalakkan mata terkejut, ternyata Kak Devan yang aku panggil melalui ponsel.


Tak berbeda denganku, wajah kakak ipar juga terkejut. Hanya saja masih bisa ditutupi dengan wajah datarnya itu.


"Ada apa gerangan seorang manager umum perusahaan ternama berada di sini? Bukankah ini masih jam kerja?" tanya Kak Devan dengan suara rendahnya.


"Aku hanya bertamu ke rumah mertuaku. Apa ada larangan?"


"Tentu ada larangannya ...

__ADS_1


__ADS_2