
Adik Ipar Malang
Bab 49 Pekerjaan untuk Siska
"Bukan jadi asisten rumah tangga. Kamu akan bekerja di kantor, tapi dari posisi paling bawah, seperti dari bagian kebersihan dulu," sanggah Bu Maya.
"Di perusahaan ada jenjang karir. Kalau ingin naik jabatan, kamu harus melanjutkan pendidikanmu lebih tinggi lagi, jadi kamu harus kuliah."
Mendengar kata kuliah, tentu saja Siska sangat ingin merasakannya. Pemikiran Siska kalau dia berijazah sarjana pasti bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dan bergaji besar juga.
Sayangnya, pemikirannya itu hanya jadi angan-angan saja. Uang dari mana Siska bisa kuliah? Sinar mata Siska sangat redup.
Mengerti kekhawatiran di wajah Siska, Pak Rifan melanjutkan perkataannya. "Kamu jangan khawatir, saya yang akan membiayai kuliahmu. Kamu bisa ambil kelas karyawan. Jadi tetap bisa bekerja."
Mata Siska membulat, berbinar dengan bahagia. Mendapat pekerjaan dan ada tempat tinggal untuk ibunya saja sudah sangat cukup baginya. Kini impiannya bisa kuliah, mendapat pekerjaan yang layak, dan memberikan kehidupan yang baik untuk ibunya sebentar lagi akan bisa diraihnya.
Dia akan berjuang sekuat tenaga untuk menggapai itu semua. Tak akan menyia-nyiakan kesempatan yang sudah diberikan oleh orang sebaik mereka.
Tiba-tiba Siska teringat dengan ibunya. Kalau bekerja sambil kuliah, sudah pasti dirinya akan sibuk. Lalu, siapa yang akan mengurus ibunya?
"Kuliah sambil bekerja pasti membuat saya sibuk. Bagaimana dengan ibu saya?" tanya Siska dengan dengan sedikit ragu, karena takut dianggap lancang.
"Memang saya meminta Bi Tirah tinggal di sini untuk menemani istri saya. Jadi kamu jangan khawatir."
Siska tersenyum bahagia sambil memeluk ibunya. "Terima kasih, Pak, Bu. Saya tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang sudah Anda berikan."
Kali ini Pak Rifan mengalihkan pandangannya ke arah Evan dan Laras. "Laras, karena Evan sudah pulang, selanjutnya kamu akan tinggal di mana? Kembali ke rumah kalian, atau tetap tinggal di sini?"
"Bagaimana kalau kalian tetap tinggal di sini? Sampai morning sickness-nya membaik." Bu Maya menatap Laras dengan pandangan berharap.
Selama Laras tinggal di rumah mertuanya tanpa Evan, hubungan antara ibu mertua dan menantu itu semakin membaik. Bu Maya sangat bahagia dengan perubahan Laras. Apalagi sekarang Laras sedang hamil cucunya yang kedua. Karena cucu pertama dari hasil kecelakaan Evan kepada Lilis, pasti dia akan susah untuk menemui cucu pertamanya.
"Emm, itu ..." Laras melirik Evan sembari menyenggol sikut suaminya itu. Matanya memberi kode, meminta bantuan menjawab pertanyaan dari ibu mertuanya.
Sebenarnya Laras masih ingin tinggal di sini. Dia masih penasaran dengan Siska, tapi takut Evan tidak ingin tinggal di sini.
"Apa Laras masih merasa mual?" tanya Evan datar, tapi menatap Laras dengan lembut.
__ADS_1
"Sudah agak baik sebenarnya, tapi kalau pagi-pagi masih sedikit pusing."
Sebelum Evan membuka mulut, Bu Maya sudah lebih dulu menyerobot. "Nah, kan. Sebaiknya kalian tinggal di sini saja terus. Laras kan sudah tidak bekerja. Kalau Evan sedang di kantor, kan kasihan Laras sendirian di rumah. Kalau di sini kan nanti ada teman ngobrol. Terus kalau butuh apa-apa kan ada Mama."
Semua yang di sana geleng-geleng kepala dengan alasan Bu Maya. Bu Ratna tersenyum haru, hatinya menghangat melihat sepasang menantu dan mertua akur. Dia yang tahu betul bagaimana hubungan antara Bu Maya dengan Laras dulunya.
"Laras!" panggil Bu Ratna. Laras langsung menoleh ke arah ibunya. "Enggak apa-apa. Kamu ikuti saja apa kata mertuamu. Meski kita tinggal berdekatan juga ibu belum tentu bisa jenguk ke rumahmu terus." Bu Ratna sedikit memberi saran.
"Aku ikut Laras saja. Di mana dia mau tinggal, aku ikut." Kali ini komentar terakhir Evan. Dia tahu kalau tidak akan mungkin bisa berdebat dengan perempuan di keluarganya. Baik itu mamanya, istrinya, maupun mertua perempuannya.
Akhirnya, adikku sudah kena virus bucin. Batin siapa lagi kalau bukan isi hati Elan. Bibirnya sedikit terangkat mendengar perkataan Evan.
"Baiklah. Laras dan Evan tinggal di sini dulu sementara," putus Pak Rifan.
Bu Maya tersenyum sangat lebar. Semakin menambah auranya yang menawan meski sudah di usia paruh baya.
"Lalu, Devan dan Lilis, bagaimana? Kalian akan menginap kan di sini nanti malam?"
"Terima kasih sebelumnya, Om. Tapi, besok saya sudah harus kembali ke kantor. Lilis juga sangat rindu dengan ibunya. Kemungkinan nanti malam kami menginap di rumah Ayah dan Ibu saja," jawab Devan.
"Tapi enggak apa-apa. Lain kali kalian harus menginap di sini ya? Tidak ada penolakan!" tegas Bu Maya.
"Baiklah, Tante." Devan melihat jam di pergelangan tangannya sebelah kiri. "Oh, ya. Sudah waktunya Lilis untuk minum susu. Aku permisi ke dapur dulu untuk membuatkannya." Devan bangun dari tempat duduknya.
Laras buru-buru menahan Devan. "Aku juga mau membuat susu ibu hamil. Bagaimana kalau aku dan Lilis membuat bersama saja?" Laras menatap Lilis dengan penuh harap.
Lilis paham dengan pandangan Laras seperti itu. Kemudian dia buru-buru menjawab. "Emm, iya. Biar Lilis buat sendiri saja bersama Kak Laras."
"Iya betul. Kami juga kan ingin kangen-kangenan."
"Ya, sudah. Jangan lupa harus dihabiskan, ya!" peringat Devan sambil duduk kembali.
"Iya."
Laras dan Lilis pun langsung beranjak meninggalkan ruang tamu. Laras berjalan ke dapur, sedang Lilis ke kamar.
"Kamu mau ke mana?"
__ADS_1
"Ke kamar. Susunya ada di dalam tas."
"Ya sudah sana cepat ambil! Setelah itu cepat ke dapur. Kamu masih ada hutang penjelasan ke Kakak."
Lilis menghembuskan nafas, mencoba menenangkan kesabarannya. Kemudian tetap mengikuti kemauan kakak perempuan satu-satunya itu.
Sekembalinya dari kamar, Lilis menuju dapur di mana kakaknya berada. Kemudian menceritakan semua kejadian yang menimpa Evan selama di Bali. Sambil membuat susu, mereka berdua berbicara dengan suara lirih. Sesekali kepalanya menengok ke pintu penghubung dapur dengan ruangan depan. Takut-takut ada yang datang.
"Setelah apa yang diperbuat Siska, bagaimana bisa mama menampung Siska dan ibunya di rumah ini?" sungut Laras sambil membawa gelasnya. Kemudian berjalan menuju meja makan yang berjarak 3 meter. Meletakkan gelas di atas meja, lantas menarik kursi dan mendudukinya.
Lilis juga mengikuti apa yang dilakukan kakaknya, duduk tepat di sebelah kakaknya. Supaya mengobrol dengan suara pelan, tapi masih dapat di dengar.
"Kak, Siska juga melakukan itu karena terpaksa. Demi ibunya yang sedang sakit parah. Terakhir diperiksa malah sudah komplikasi. Kalau sampai mendengar berita buruk, takutnya akan langsung drop kondisinya."
"Tapi tetap saja bikin kesal. Kamu tahu kan bagaimana aku berusaha memertahankan rumah tanggaku dengan Evan?" Laras masih bersungut-sungut. Wajahnya ditekuk masam dengan tangan yang menggenggam gelas dengan erat.
"Tenang, Kak. Ingat janin di perut Kakak. Jangan pakai emosi!" Lilis berusaha menenangkan Laras dan memberi pengertian padanya dengan lembut. "Sambil diminum susunya. Biar sedikit tenang."
Lilis lebih dulu meminum susunya hingga habis setengah, sedang Laras meminum susunya hingga habis tiga perempat.
Laras memicingkan matanya melihat ke arah Lilis, membuat Lilis sedikit heran. "Kamu yakin, kalau Evan dan Siska belum sampai ngapa-ngapain?"
"Aku yakin, karena Kak Devan enggak mungkin berbohong padaku. Dia yang menjadi saksinya. Ada rekaman kamera pengawas juga sebagai buktinya. Seharusnya yang Kakak pikirkan itu Freya. Dia menghilang."
"Awas saja kalau Freya tiba-tiba kembali! Aku akan buat perhitungan dengannya. Bagaimana bisa Kak Elan kepincut sama perempuan seperti itu."
"Kakak sabar. Kakak lagi hamil. Enggak boleh ngomong kasar dan sembarangan. Enggak baik buat anak kita. Istighfar, Kak."
"Astaghrifullah." Laras mengusap dadanya sekaligus menetralkan nafasnya. "Kamu benar, Lis."
"Kalau Freya memang menyukai Kak Elan, kenapa malah menarget Kak Evan?"
"Hah?" Laras terkejut dengan pernyataan Lilis. Dia juga ikut kepikiran sama seperti pernyataan Lilis barusan. Kenapa dirinya baru sadar?
Tiba-tiba terdengar langkah kaki seperti berjalan menuju ke dapur. Laras dan Lilis melebarkan matanya, saling memberi kode lewat mata agar diam.
*****
__ADS_1