
...Adik Ipar Malang ...
...Bab 15 (Diskusi Malam)...
POV Devan
"Maafkan aku Om, Tante. Ijinkan aku menikahi Lilis. Aku tak bisa berjanji, tapi kebahagiaan Lilis dan anaknya akan menjadi yang paling utama untukku."
"Aku ... tidak bisa," lirih Om Arif.
Beliau menatapku dengan lekat. Darah seakan berhenti mengalir, ketika mendengar jawabannya. Benarkah dia tidak bisa memberiku ijin untuk menikahi Lilis?
"Aku tidak bisa menentukannya, Devan. Keputusan ada di tangan Lilis. Tadi kamu lihat sendiri, bukan? Saat aku meminta Evan untuk bertanggung jawab, Lilis menolaknya mentah-mentah. Bagaimana dengan kamu yang akan menggantikan Evan untuk bertanggung jawab padanya? Dia pasti akan merasa tidak pantas untukmu, dengan kondisinya yang seperti ini."
Ternyata Om Arif bukan bermaksud menolakku. Berarti masih ada sedikit harapan.
"Aku tahu itu. Paham dengan cara berpikirnya Lilis. Aku akan perlahan-lahan memberi pengertian, bahwa aku serius ingin menikah dengannya.
Selain itu, semoga dengan aku menikahi Lilis, Evan dan Laras bisa memperbaiki hubungannya. Bukannya tidak mungkin, setelah kejadian ini pasti rumah tangga mereka sedikit goyah. Meski kami lebih sering bertengkar, tapi aku sudah menganggap Laras seperti adikku sendiri. Aku berharap bisa menyelematkan rumah tangganya, melihat betapa besar Laras mencintai Evan." Aku menjelaskan panjang lebar dengan yakin dan mantap.
"Lalu, bagaimana dengan janin yang dikandungnya? Dia bukan darah dagingmu." Om Arif masih berusaha mengujiku.
"Menikah bagiku itu, bukan hanya menerima kelebihannya dia saja, tetapi kekurangannya juga. Saling melengkapi satu sama lain. Saat anak itu lahir, dia tidak akan hanya memiliki orang tua tunggal, yaitu Lilis saja sebagai ibunya. Tetapi, ada aku yang akan menjadi pelengkap dalam hidupnya. Lilis sebagai ibu yang hebat, dan juga ada aku, yang akan menjadi ayahnya. Untukku sendiri, hidup akan terasa lengkap kalau bisa menikah dengan orang kita cintai. Bukan begitu, Ayah dan Ibu mertua?" Alis kumainkan dengan naik turun.
"Mulutmu manis sekali." Tante Ratna terkekeh sambil mencubit pipiku.
Pelipis dari calon ayah mertuaku itu berkedut. Senang sekali bisa menggodanya seperti dulu.
Aku tak pernah menyesal, pernah diasingkan Papa dan Mama untuk dididik oleh Om Arif. Di sini, aku merasakan kehangatan antar anggota keluarga, dan keseharian yang berubah menjadi lebih berwarna.
"Aku belum merestuimu, bocah tengil," ucap Om Arif dengan nada sebal, matanya mendelik menatapku, kemudian menghela nafas. "Bagaimana dengan orang tuamu?"
"Orang tuaku pasti sangat senang. Mereka tak perlu lagi repot-repot menjodohkanku dengan anak perempuan dari relasinya. Aku akan pulang membawakan menantu, bonus cucu untuk mereka."
"Apa tidak sebaiknya dibicarakan dulu dengan orang tuamu, Devan? Tante nggak enak hati sama keluarga kamu," ujar Tante Ratna.
"Tante jangan khawatir. Untuk kasus Lilis, aku akan memberi pengertian kepada mereka. Aku yakin mereka pasti memaklumi. Sebenarnya ... sebenarnya Papa sama Mama sudah tahu kalau aku mencintai Lilis dari dulu. Tapi, mereka yakin kalau Lilis pasti menolakku, yang umurnya sembilan tahun lebih tua darinya. Nanti kalau sedang jalan, takutnya dikira om dengan keponakannya."
Aku menggaruk kepala yang tidak gatal sambil nyengir. Jujur, aku malu sekali mengatakannya. Aku 25 tahun, sedang Lilis masih 16 tahun, dengan wajahnya yang masih remaja. Entah apa lagi julukan yang akan teman-teman berikan untukku. Secara tidak sadar aku mengakui kalau diriku ini sudah tua. Bukan tua, tapi dewasa.
"Pfftt ...."
Terdengar suara orang menahan tawa. Siapa lagi kalau bukan Om Arifin.
"Perkataan orang tuamu memang benar." Om Arif berbicara sambil menahan tawa. Salah satu tangannya digunakan untuk menutup mulut, dengan bahunya sedikit berguncang.
__ADS_1
Sudut bibirku berkedut. Andai bukan calon mertua.
"Hust! Berhenti menggodanya! Anak orang, nanti nangis." Tante Ratna menepuk paha suaminya sambil tersenyum geli.
Ada sedikit lega melihat pemandangan di depan mata ini. Semoga senyum itu bisa mengurangi sedikit beban masalah yang sedang ditanggung oleh mereka berdua. Meski belum tahu, akan ada badai apa lagi yang sedang menunggu di masa depan.
"Jadi, bagaimana keputusan Om dan Tante? Apa kalian merestuiku untuk menikahi Lilis?"
Pertanyaanku sontak saja membuat wajah mereka kembali serius.
"Apa kamu sudah yakin dengan keputusan ini, Devan?" tanya Om Arif memandangku dengan lekat.
Aku mengangguk mantap sebagai jawaban.
"Seperti kataku tadi. Aku tidak bisa menentukan. Semua ada di tangan Lilis. Tapi ..." Om Arif menjeda perkataannya.
Aku menahan nafas, menunggu kelanjutan dari kalimat yang akan diucapkan Om Arif.
"Tapi, kamu harus berjuang sendiri untuk mendapat jawaban 'iya' darinya. Keputusan Lilis, sama artinya dengan keputusanku," sambungnya.
Aku menghembuskan nafas lega mendengar penuturan Om Arifin. Artinya dia sudah memberikan lampu hijau untukku.
Tante Ratna memegang kedua pundakku, sambil memberikan senyum keibuannya.
"Selamat berjuang mendapatkan hati Lilis, dan berjuang untuk menyelamatkan rumah tangga Laras. Juga berjuang untuk keutuhan keluarga ini. Tante sangat berharap padamu." Tante Ratna berkata dengan mata berbinar.
"Terima kasih banyak, Devan." Binar di mata Tante Ratna berganti menjadi berkaca-kaca, yang siap menumpahkan muatannya.
"Jangan seperti ini, Tante. Kalian sudah seperti orang tua kandungku sendiri. Entah apa jadinya aku sekarang, kalau Papa dan Mama tidak menitipkanku pada kalian. Mungkin aku masih menjadi anak berandalan dengan kelakuan melebihi preman, bukannya memakai setelan kemeja dengan jas. Hutang budi ini mungkin tak bisa dibayar dengan harta benda yang kupunya."
"Kami ikhlas merawat dan mendidikmu. Jangan pernah mengecewakan orang tuamu. Mengerti?" sahut Om Arif.
Bertambahnya beban di pundakku dengan permohonan Tante Ratna, bukannya menjadikanku melemah, tapi malah membuat semangatku semakin bertambah. Ditambah restu yang sudah kukantongi. Aku harus mulai menyusun rencana. Supaya masalah ini segera teratasi dengan meminimalisir adanya pihak yang tersakiti.
"Hah! Pegalnya." Aku berdiri dari berlututku. Merenggangkan otot kaki yang pegal karena hampir satu jam berlutut.
Baru saja menyenderkan punggung di sofa, Om Arif membuka mulutnya.
"Siapa yang suruh duduk?" tanya Om Arif dengan wajah datarnya.
"Hah?" Aku hanya memasang tampang melongo. "Kaki saya pegel, Om. Makanya saya pindah duduk di sofa."
"Siapa yang suruh kamu duduk? Untuk jadi menantuku itu tidak mudah. Kamu baru berlutut sejam saja sudah mengeluh," ejek Om Arif.
Astaga! Calon mertua meragukan kekuatanku. Biar aku tunjukkan nanti, kalau sudah benar-benar jadi menantunya.
__ADS_1
"Sudah, sudah. Devan kamu duduk saja. Abaikan perkataan Om kamu barusan. Dari dulu kalian berdua ini kalau sudah bertemu pasti berantem, tapi anehnya bisa selalu kompak," ucap Tante Ratna sambil geleng-geleng kepala.
Mungkin sudah jodohnya. Ada ikatan batin antara mertua dan menantu. Maksudku calon mertua dan calon menantu.
Hening kembali menguasai suasana di antara kami yang sibuk dengan pikiran masing-masing. Hanya terdengar suara AC yang berhembus dengan temperatur sesuai kondisi pasien.
Tante Ratna beranjak membuka tas besar yang tadi dibawa saat hendak ke rumah sakit. Sepertinya tas siaga yang memang sudah disiapkan untuk berjaga-jaga kalau ada kejadian darurat seperti barusan. Kebanyakan berisi pakaian ganti Lilis, peralatan mandi, dan peralatan untuk tidur.
Saat kembali, Tante Ratna sudah membawa dua buah selimut. Memberikan satu selimut untukku, dan satunya lagi dipakai oleh mereka berdua. Lagi-lagi harus disuguhi pemandangan romantis dua sejoli usia paruh baya ini.
Om Arif membiarkan Tante Ratna bersandar di pundaknya, sedang dirinya sesekali mengusap rambut istrinya. Berbagi kehangatan di dalam satu selimut.
Mereka berdua memang pasangan yang romantis, dari dulu. Di usianya yang semakin bertambah, tak menghalangi untuk bisa saling mencurahkan kasih sayang pada pasangan. Doaku dalam hati untukmu Om dan Tante, semoga kalian selalu bersama sampai hanya maut yang memisahkan.
"Lalu, bagaimana sekarang?" tanya Om Arif sambil melihatku.
"Bagaimana apanya?" Tante Ratna menyahut sambil mendongakkan kepalanya.
"Bagaimana dengan tanggung jawab Evan pada Lilis? Bagaimanapun Evan tetap tidak boleh lepas dari tanggung jawab."
"Tentu, Om. Evan memang tetap harus bertanggung jawab terhadap Lilis." Aku mengangguk setuju dengan ucapan Om Arif.
"Tapi, bagaimana dengan kamu yang akan menikahi Lilis?" Ada raut khawatir di wajahnya.
"Bertanggung jawab bukan berarti harus menikahinya, kan? Bisa dengan membiayai periksa kandungan setiap bulan, biaya persalinan, atau mencukupi kebutuhan si anak itu setelah Lilis melahirkan. Pengamatanku, Om tidak ada bilang agar Evan menikahi Lilis, tetapi om hanya bilang agar Evan bertanggung jawab atas perbuatannya terhadap Lilis. Jadi, Om tidak mengingkari perkataan Om sendiri."
"Benar apa katamu." Wajah Om Arif berubah lega.
Sebagai seorang pebisnis, aku terbiasa dalam berkata dan cermat dalam menyimak. Agar tak terjebak saat melakukan pertemuan penting entah itu dengan klien, konsumen, atau pun relasi.
"Lagi pula kalau Evan bersikeras menikahi Lilis, pernikahan ini tidak akan sah, kalau istri pertama tidak diceraikan terlebih dulu. Jika itu terjadi, maka akan menyakiti Laras. Apa Om ingin menyakiti putri Om demi putri yang lain? Menurutku biar ini dijadikan pelajaran untuk Laras dan Evan dalam membenahi rumah tangganya," imbuhku.
"Lalu apa yang akan kamu lakukan selanjutnya?"
"Aku akan segera menikahi Lilis, karena bagaimanapun perutnya akan semakin membesar. Tapi, aku hanya akan menikahinya secara siri dulu, Om. Selain karena dia sedang hamil, juga usianya yang masih di bawah umur. Aku janji, setelah Lilis melahirkan, akan langsung mendaftarkan pernikahan kita secara sah di agama dan negara."
"Aku setuju dengan ini. Tak disangka, kamu semakin bijak." Om Arif mengangguk-angguk.
"Ya, lebih cepat lebih baik." Tante Ratna menyahut, setelah dari tadi hanya menyimak.
"Tapi, sebelum itu aku ingin memeriksakan kondisi Lilis ke psikolog. Karena tindakan pelecehan pasti akan menimbulkan trauma mendalam. Apa Om dan Tante tidak keberatan?"
Om Arif menepuk pundakku. "Tentu saja aku tidak keberatan. Malah aku bersyukur ada yang memperhatikan Lilis sedalam ini. Aku bahkan sampai lupa dengan keadaan psikologisnya."
"Untuk rencana selanjutnya, akan menyusul. Karena kita harus melihat situasi dan kondisi sekitar," tutupku.
__ADS_1
"Ya, kalian harus istirahat karena besok banyak pekerjaan yang menanti kalian." Perkataan Tante Ratna menjadi penutup diskusi kita malam ini.