
...Adik Ipar Malang ...
...Bab 34 Ke Bali...
...POV Devan...
Aku mendekati Lilis yang sedang membongkar paket hadiah dari Mama. Isinya adalah baju-baju bayi. Dia terlihat sangat menyukainya, membolak-balik baju itu, melihat bagian depan dan belakang. Apa lagi berwarna-warni seperti itu.
"Sayang, kalau kita berlibur, bagaimana?" tanyaku setelah duduk di sebelahnya.
Dia menghentikan gerakannya. "Berlibur? Ke mana?"
"Aku juga belum menentukan tempatnya."
"Apa tak apa-apa?" Lilis mengusap perutnya.
"Nanti kita coba konsultasi dulu pada dokter. Kalau diijinkan, kita langsung pergi. Hitung-hitung ini liburan kamu sebelum melahirkan. Setelah melahirkan, kamu pasti akan sibuk mengurus bayi kita."
"Baiklah, Kak. Kita liburan berdua." Lilis memelukku dengan erat. "Terima kasih untuk semua yang sudah Kakak berikan untukku. Aku tak mungkin bisa membalasnya."
"Balas terima kasih dengan cintamu. Itu sudah lebih dari cukup."
"Kalau itu sudah pasti."
"Ya, sudah. Sekarang kamu mandi, sudah sore. Barang-barang ini biar Mbok Urip yang membereskan. Nanti sekalian dicucikan."
"Jangan! Biar aku saja. Menurut buku yang aku baca, mencuci baju baru untuk bayi itu ada tata caranya. Aku mau melakukan itu sendiri."
"Buku apa?" tanyaku heran.
"Buku panduan untuk ibu hamil. Seperti, apa saja yang harus dipersiapkan sebelum dan sesudah melahirkan," katanya sambil membereskan baju-baju bayi itu.
"Seingatku di ruang baca enggak ada buku seperti itu."
"Memang. Itu buku dari Kak Fero."
"Fero?"
"Iya. Kemarin dia memberikannya, sewaktu membawa buah. Ternyata ada buku juga di dalam totebag."
"Lain kali, apa saja yang dia kasih ke kamu, berikan dulu padaku. Biar aku periksa lebih dulu."
"Baik. Maaf, ya, Kak." Wajahnya berubah menyesal dan sedih.
"Tidak apa-apa." Aku menariknya dalam pelukanku. Sepertinya aku harus bicara pada Fero. Dia tidak bisa terus datang ke rumah ini.
Selesai makan malam, Lilis kembali ke kamar. Katanya masih belum selesai menata hadiah dari Mama. Sedang aku ke ruang kerja, untuk mempelajari berkas kerja sama dari Fero.
Aku masih memikirkan apa alasan dia tiba-tiba menghilang setelah wisuda, dan sekarang dia kembali hadir di sini. Bukankah perusahaan milik orang tuanya ada di Jakarta. Kenapa dia berada di sini, di daerah pinggiran kota? Siapa yang mengurus perusahaannya di sana?
Aku yang mau membereskan kertas di atas meja, terhenti ketika gawaiku bergetar. Ada panggilan masuk dari Elan. Dia tumben sekali menghubungi malam-malam. Biasanya dia akan menghubungi saat Lilis sedang santai. Sebaiknya aku angkat saja panggilannya, mana tahu penting.
"Assalamualaikum, Elan."
[Waalaikumsalam. Apa Lilis sudah tidur?]
"Aku belum tahu. Aku masih di ruang kerja. Ada apa?"
[Tentang tempat rekomendasi yang kamu minta, aku ada saran untukmu, Bali. Di sana ada resort pribadi keluarga kami. Kamu dan Lilis bisa menempatinya gratis.]
"Aku enggak yakin kamu begitu aja kasih cuma-cuma."
[Kamu benar. Aku ingin membuka kantor cabang baru di sana. Minggu depan Evan berangkat untuk meninjau sendirian.]
__ADS_1
"Kenapa Laras tidak ikut? Bukankah dia sekretarisnya?"
[Laras sedang masa-masa morning sickness, dia hamil.]
"Alhamdulillah kalau begitu. Nanti akan aku beri tahu Lilis. Dia pasti sangat bahagia mendengar berita ini. Lalu apa yang kamu khawatirkan? Laras sudah hamil. Itu, kan, yang diinginkan Evan."
[Begini, hubungan mereka memang sudah membaik. Tapi, akhir-akhir ini ada kejadian yang membuat mereka menjadi sedikit renggang. Aku merasa ada orang yang sengaja ingin merusak hubungan Evan dan Laras. Maka dari itu, aku ingin kamu mengawasi Evan ketika di sana.]
"Baik. Tapi dengan syarat, fasilitas selama aku dan Lilis berada di Bali, semua kamu yang tanggung."
[Mahal sekali tarifmu. Bagaimanapun Evan itu kakak iparmu.]
"Bisnis, ya, bisnis."
Selanjutnya obrolan kami diisi dengan membahas rencana pengintaian Evan di sana. Selain itu juga bicara tentang kondisi Lilis, dan lainnya. Tak apalah liburan kali ini sekalian mendapat tugas. Apa lagi semua fasilitas diberikan gratis dari Elan.
Aku segera memasuki kamar untuk mengistirahatkan badan. Menghirup aroma tubuh Lilis menjadi salah satu cara mengurangi rasa lelahku.
Begitu pintu terbuka, pemandangan yang terlihat adalah ibu hamil sedang berbaring dengan selimut menutupi sebagian tubuhnya. Geliyat-geliyut, memposisikan badannya agar mendapat posisi nyaman.
"Kamu belum bisa tidur?" tanyaku seraya mendekatinya.
Lilis membuka matanya. "Belum. Kakak sudah selesai kerjanya?"
"Sudah. Maaf, ya, harus membawa pekerjaan kantor ke rumah."
"Enggak apa-apa, kok. Aku tahu kesibukan Kakak."
Aku naik ke atas kasur dan duduk di sebelahnya. Mengusap perut buncit milik Lilis yang menggemaskan. Dia terlihat mulai nyaman dengan memejamkan matanya.
"Aku ada dua kabar bahagia untuk kamu."
"Apa itu?" Matanya kembali terbuka.
"Kita akan berlibur ke Bali."
"Besok aku konsultasi ke dokter."
Seperti suatu keajaiban, janin dalam perut Lilis menendang tepat di telapak tanganku. Aku memandang takjub ke arah perut di mana janin itu berada. Lilis tersenyum memandangku, menggenggam tanganku yang ada di atas perutnya.
"Sepertinya baby setuju dengan usul Ayah?" Aku mencoba berbicara dengan calon anakku itu. "Sekali lagi Ayah tanya, kamu setuju kita liburan ke Bali? Sebelum ibumu sibuk mengurus kelahiranmu nanti."
Dia merespon dengan menendang lagi. Aku dan Lilis tertawa bersama. Dengan gemas aku mencium bagian perut bekas tendangannya, membuat Lilis merasa geli.
"Ok. Jadi, kamu juga setuju, kan?" tanyaku pada Lilis, ibu dari anakku itu.
Lilis mengangguk sambil tersenyum manis. "Lalu, apa itu kabar bahagia yang kedua?" tanyanya dengan tak sabar.
"Kabar yang kedua ... Laras hamil."
"Apa? Kak Laras hamil?" Aku mengangguk sebagai jawaban. "Alhamdulillah. Akhirnya Allah mengabulkan doa kita selama ini." Mata Lilis berbinar dan wajahnya semakin ceria.
"Kamu bahagia?"
"Sangat. Aku ingin menghubungi Kak Laras."
"Jangan! Sudah malam. Laras sedang dalam masa-masa mual. Nanti kamu malah mengganggunya."
"Betul juga, Kak."
"Kalau begitu, sekarang waktunya ibu hamil tidur. Kamu harus banyak istirahat untuk persiapan kita liburan minggu depan. Kemari!"
Aku berbaring di sebelah Lilis, kemudian mengusap perut buncit menggemaskan miliknya. Lilis mulai terlihat nyaman, sampai terdengar suara dengkuran halus.dari bibir mungilnya.
__ADS_1
'Ya Allah, jagalah janin yang ada di perut istriku. Lahirkanlah dalam keadaan utuh dan sempurna, sehat, cerdas, sholeh atau sholeha, dan suka mengamalkan ajaran-Mu.'
Kita memang tak pernah menanyakan apa jenis kelaminnya setiap periksa. Biar menjadi kejutan, kata Lilis. Asal dia tumbuh sehat di dalam sana, itu sudah sangat berarti bagi kami.
***
POV Laras
"Kamu sudah mengabari Lilis tentang kehamilanmu?" tanya Ibu, ketika kami selesai memasak untuk makan malam.
"Belum, Bu. Aku bingung."
Ibu tersenyum hangat padaku. "Kamu tahu sifat Lilis?" Aku mengangguk. "Apa menurutmu Lilis akan punya dendam padamu?" tanya Ibu lagi.
"Bocah pelupa dan baik hati sepertinya, pasti sudah lupa dengan kejadian yang lalu," ejekku yang sebenarnya hanya satire.
"Kamu sudah tahu, kan, apa yang harus kamu lakukan?"
"Iya, Bu." Aku memeluk Ibu dengan erat. Menggosokkan hidungku di perpotongan leher dengan pundaknya. "Maafkan aku. Belum bisa menjadi anak yang baik. Tidak seperti Lilis."
"Tidak, Sayang. Kamu dulu hanya belum mengerti, sekarang sudah mengerti. Jangan diulangi lagi kesalahan yang dulu."
Ibu melepas pelukan kami. Kemudian melepas celemek yang menempel di tubuhnya, meletakkannya kembali di laci dapur. Aku juga melakukan hal yang sama.
"Ibu harus pulang sekarang. Ayah pasti sudah menunggu Ibu untuk makan malam bersama. Kamu sudah mendingan, kan?"
"Iya, Bu. Ibu pulang saja. Kasihan Ayah, pasti sangat merindukan Ibu."
"Kalau ada apa-apa, hubungi kami, ya."
Aku segera mengambil bekal yang tadi sudah disiapkan untuk Ibu. Kami memang memasak untuk dibagi dua. Setengah untuk makan malam aku dengan Evan, dan setengahnya dibawa pulang Ibu, untuk makan malam ibu bersama ayah.
Saat sedang mencuci piring bekas makan malam, Evan menaruh dagunya di atas pundakku. Tentu saja aku merasa keberatan karena tubuh dia lebih besar. Berkali-kali aku menyingkirkan dagunya dari pundakku, tapi dia tetap bergeming.
"Kamu kenapa, Evan?" Aku mendorong tubuh Evan yang berpindah menjadi bergelayut di lenganku. Dia tak mengatakan apa pun. Hanya saja tingkahnya sedikit manja. Aku jadi merasa agak risih.
Menghela nafas berat, aku menyelesaikan tugas cuci piring sambil digelayuti oleh bayi besar. Setelah selesai, aku mengajaknya duduk di ruang tamu.
"Kamu kenapa?"
Dia tak menjawab. Malah menaruh kepalanya di atas pangkuanku, dan meminta untuk mengusap kepalanya. Aku melakukan apa yang dia minta.
"Bisakah aku tidak berangkat ke Bali?" tanyanya tiba-tiba.
Besok jadwal aku harus USG. Setelah itu Evan akan berangkat ke Bali untuk melaksanakan tugas dari perusahaan. Sepertinya dia sangat enggan untuk ke sana, tapi rencana tetap harus berjalan. Agar aku tahu dia benar-benar sudah berubah atau belum.
"Tidak bisa. Kamu sudah menyanggupi. Lakukan saja perintah dari Kak Elan. Kamu, kan, harus bekerja keras untuk keluarga kita. Apa lagi akan ada anggota baru yang hadir di dunia ini. Biaya hidup kita akan semakin banyak." Sebenarnya itu hanya alasanku saja.
"Kamu benar. Aku harus bekerja keras." Evan berkata dengan semangat.
Evan langsung luluh setelah melibatkan kehamilanku ini. Ternyata dia memang sudah sangat menginginkan seorang anak. Semoga dengan hadirnya buah hati kami, Evan benar-benar bisa merubah sifatnya menjadi lebih baik lagi.
"Aku akan menyiapkan apa saja yang harus dibawa olehmu besok. Kamu juga harus menyiapkan dokumen apa saja yang harus dibawa."
Aku menuju kamar untuk menyiapkan beberapa pakaian yang harus dibawa Evan besok. Saat aku menghadap ke belakang, Evan ternyata mengikutiku ke kamar. Menggunakan dagu, aku menunjuk ruang kerja miliknya. Dengan langkah lunglai, Evan berjalan menuju ruang kerja. Aku hanya menggelengkan kepala melihat kelakuannya.
Sepertinya aku yang hamil, tapi Evan yang ngidam. Ternyata hamil itu sangat menakjubkan. Banyak hal-hal mengejutkan yang membuat perubahan dalam keluargaku. Terutama perubahan pada diri Evan.
Besok harinya setelah USG, aku, Mama, dan Kak Elan mengantar Evan sampai bandara. Evan sempat meminta aku untuk ikut dengannya ke Bali. Mama dan Kak Elan dengan tegas melarangnya.
"Kamu yakin bisa menjaga Laras dan anak dalam kandungannya? Laras sedang dalam masa morning sickness. Kasihan dia kalau harus melakukan perjalanan jauh," nasihat Mama pada Evan.
"Nanti bukannya Evan yang menjaga Laras, malah sebaliknya. Laras yang menjaga dan mengurus Evan," ejek Kak Elan.
__ADS_1
Evan semakin menampakkan wajah masamnya, karena tak bisa membalas ucapan Mama dan kakak kandungnya sendiri. Aku sebenarnya merasa kasihan. Hanya saja itu sudah menjadi kewajiban Evan agar tetap profesional dalam bekerja.
*****