
Adik Ipar Malang
Bab 43 Freya Pergi
POV Author
"Apa maksudnya aku merebut kebahagiaan Freya, Kak?" tanya Lilis dengan terisak. Devan tidak menjawab. Tangannya melingkari bahu Lilis, diusap, untuk menenangkannya.
Evan sendiri hanya diam saja. Dia sama sekali tidak mengenal laki-laki yang dipanggil Fero itu, juga tidak mengetahui permasalahan yang terjadi. Namun dia sama terkejutnya dengan Lilis. Bagaimana bisa laki-laki itu menyimpulkan bahwa Lilis yang merebut kebahagiaan Freya?
Di dalam sana Freya tersenyum sinis melihat keadaan di luar pintu yang setengah terbuka. Kejadian itu sempat dilihat oleh Evan. Kali ini Evan percaya dengan apa yang diucapkan oleh Laras.
"Bukan apa-apa, Sayang. Kamu enggak merebut kebahagiaan siapa pun. Kamu hanya salah paham." Devan masih berusaha menenangkan istri kecilnya, saat Lilis masih terisak. Dia tak tega melihatnya.
Fero sendiri mengepalkan kedua telapak tangan dan mengetatkan rahang. Matanya bertemu pandang dengan mata Lilis. Hanya sesaat, karena Fero lebih dulu memutus pandangan itu.
"Sebaiknya kalian pergi dari sini! Jangan sampai apa yang aku ucapkan barusan, menjadi kenyataan!" usir Fero sambil berbalik badan, kembali masuk ke dalam kamar rawat Freya.
Tidak ada yang tahu kalau hati Fero sebenarnya ikut terluka. Dia juga ingin merengkuh Lilis, kemudian menjelaskan kalau ucapannya barusan hanya emosi selintas saja. Dia tidak benar-benar akan melakukan itu.
"Ayo kita pergi dari sini! Biarkan Fero merawat adiknya. Kamu juga harus istirahat," ucap Devan dengan lembut, kemudian menggandeng Lilis pergi meninggalkan tempat itu. Evan mengikutinya dari belakang.
Sampai di depan rumah sakit, Evan mengajak Devan dan Lilis pulang bersama dengan mobilnya yang disetujui oleh mereka berdua.
•••
Di dalam kamar rawat, Fero memerhatikan keadaan Freya, melihat luka di kening, tangan, dan lutut adiknya. Dia harus segera membawa Freya pergi dari sini. Atau mereka akan datang kembali, kemudian bertanya-tanya tentang keterlibatan Freya. Bisa-bisa semua akan terbongkar.
"Kamu sudah mendingan, kan?" tanya Fero sambil duduk di sebelah Freya yang duduk bersandar di kepala ranjang. "Sekarang, kita pergi dari sini!"
Freya langsung menegakkan punggungnya. "Kenapa sekarang?"
"Semua karena kecerobohan kamu," sindir Fero. "Mereka sudah curiga. Kalau kita tetap di sini, mereka bisa kembali untuk menyelidiki kamu."
"Bagaimana dengan Elan?" tanya Freya sedikit enggan.
"Kamu cari alasan lain. Lagipula kamu dan dia belum resmi, kan? Anggap saja seperti menarik ulur supaya perasaan dia semakin dalam padamu."
"Aku masih belum puas bertemu Kak Devan. Juga belum membalas dendam perempuan itu." Wajah Freya berubah murung.
Fero langsung memberikan tatapan tajam.
"Baiklah, baiklah. Kita pergi sekarang." Freya pasrah saja. Dia sadar diri, kalau ini memang kesalahannya karena terlalu ceroboh.
•••
Kini mereka bertiga sudah di dalam mobil milik Evan, dengan Evan yang menyetir sendiri, sedang Devan dan Lilis duduk di bangku penumpang.
Di dalam mobil, otak mereka semakin berat memikirkan semua yang sudah terjadi. Banyak pertanyaan di benak masing-masing yang ingin mereka ajukan.
"Kak Devan! Bisa beri tahu aku, siapa sebenarnya Freya?" tanya Lilis setelah tenang.
"Dia adiknya Fero." Devan menarik nafas sebelum melanjutkan lagi. "Aku menganggapnya seperti adik aku sendiri. Karena usia dia sepantaran dengan Laras. Bahkan tingkahnya juga hampir mirip dengan kakak kandungmu itu. Saat kami wisuda, dia menyatakan perasaannya padaku, tapi aku menolaknya."
"Kata Fero, karena sakit hati dia pergi berlibur, untuk menenangkan pikirannya. Lalu Fero menyusul Freya. Setelah itu, dia pergi, menghilang, dan tak ada kabar. Sampai akhirnya aku bertemu dia, saat kamu mengundang dia untuk makan malam," lanjut Devan.
"Katamu, tingkah dia hampir mirip dengan Laras? Tapi terakhir aku bertemu dengannya tidak seperti Laras. Malah dia terlihat sangat dewasa dan keibuan," sanggah Evan.
__ADS_1
"Kamu mengenal Freya juga?" tanya Devan.
"Dia Freya Sukmajaya, bukan? Aku sempat melihat ke dalam kamar rawat. Aku yakin, tidak salah lihat," jawab Evan sambil melirik Devan dan Lilis dari kaca depan mobil.
"Yah, mungkin Freya sudah berubah. Dari tingkahnya yang dulu manja, egois, dan kekanak-kanakan, sekarang sudah berubah menjadi mandiri dan dewasa. Itu perubahan yang bagus."
"Tentu saja. Kalau sifatnya tidak seperti itu, mana mungkin Elan mau berhubungan dekat dengan Freya, setelah kematian mantan kekasihnya, Kak Indah?"
"Elan berhubungan dekat dengan Freya?" tanya Devan sedikit terkejut. Itu bagus, tandanya Freya sudah move on dari dirinya.
"Iya. Sifat Freya hampir sama dengan Kak Indah. Maka dari itu, mereka cepat dekat."
"Di mana Kak Indah itu sekarang?" tanya Lilis.
"Dia meninggal karena kecelakaan sebelum pertunangan mereka."
"Oh. Maaf," sesal Lilis merasa tak enak.
"Tak apa," jawab Evan sambil tersenyum. Tanpa sadar Lilis mau berbicara dengannya. Itu sudah cukup membuat dirinya senang.
"Jadi, kalian sudah saling mengenal?" tanya Devan.
"Iya. Terakhir bertemu, saat aku, Laras, Kak Elan, dan Freya makan siang bersama. Setelah itu Laras melarang aku dekat dengan Freya."
"Kenapa Laras melarang kamu dekat dengan Freya?" tanya Devan lagi.
Devan menghentikan mobilnya, karena di depan lampu lalu lintas berwarna merah. Kemudian dia menengok ke belakang sebelum menjawab.
"Saat aku sedang makan malam dengan Laras di restoran, ada perempuan yang menggodaku. Laras salah paham, kemudian kami bertengkar. Saat perjalanan pulang, Laras melihat perempuan yang menggodaku satu mobil dengan Freya."
"Maksudnya?" tanya Evan sambil fokus kembali mengemudi, karena lampu sudah berganti warna hijau.
"Perempuan yang menaruh obat perangsang di makananmu juga sedang bersama Freya tadi. Saat aku kejar, dia sudah lari jauh, jadi aku mengejar Freya sampai dia terserempet mobil." Devan yang menjawab
"Aku enggak ingin berpikiran buruk, apalagi aku enggak kenal dengan Freya, tapi ini agak mencurigakan," opini Lilis.
"Aku tidak menyangka, kalau memang Freya ikut terlibat dengan semua ini. Kira-kira apa motifnya?" heran Evan.
Devan memberi usul. "Begini saja, besok kita pergi menjenguknya. Luka dia ringan, kemungkinan hari ini sudah boleh langsung pulang dari rumah sakit."
"Kalau dia sudah pulang dari rumah sakit, lalu kita harus menjenguknya di mana?" tanya Evan.
"Di resort. Besok kita jenguk di kamar dia menginap?" Jawaban Devan hampir membuat Evan mengerem mendadak, dengan sigap dia hanya memperlambat laju mobilnya.
"Freya selama ini juga tinggal di resort?" tanya Evan kali ini yang terkejut.
"Iya."
"Bagaimana aku bisa tidak tahu? Apa Elan tahu kalau Freya sedang berada di sini juga?"
"Entah."
"Ya sudah. Sudah diputuskan, besok kita jenguk dia di kamarnya menginap," putus Evan. Devan dan Lilis menganggukkan kepala sebagai jawaban tanda setuju.
Mereka berdiskusi sangat serius, hingga tanpa terasa sudah sampai di resort. Kemudian berpisah untuk istirahat di kamar masing-masing.
Di dalam kamar, Evan menghubungi Laras untuk melepas rindu. Dia sudah sangat ingin mengusap perut istrinya. Apalagi melihat perut Lilis yang sudah membuncit. Merasa tidak berhak dengan anak itu, meski dia adalah ayah biologisnya.
__ADS_1
Sedang Devan di kamar sedang memanjakan istrinya. Dia memijat kaki Lilis yang sedikit membengkak. Setelah Lilis tertidur, dia duduk di sofa, kemudian membuka laptop. Bagaimanapun perusahaan tetap harus dijalankan, meski sedang berlibur. Kalau tidak, bagaimana dirinya bisa memanjakan anak istrinya, nanti?
•••
Esok harinya, Evan, Devan, dan Lilis sudah berada di depan kamar Freya. Mereka bertiga berdiri bersisian, dengan Lilis berada di tengah sambil membawa parsel buah di tangannya.
Devan masih ingat, saat dia keluar dari kamar di mana Evan terkena pengaruh obat perangsang, dia bertemu Freya yang sedang berdiri di depan pintu, seperti seorang penguntit. Saat ditanya, Freya gelagapan menjawabnya, kemudian masuk ke sebuah kamar. Itu semakin membuat kecurigaannya terhadap Freya semakin besar.
Devan menarik nafas panjang dan membuangnya secara perlahan sebelum mengetuk pintu itu sebanyak tiga kali. Tidak ada jawaban dari dalam kamar.
Devan melihat ke arah dua orang di sampingnya, yang ditanggapi dengan gelengan kepala.
"Coba diketuk lagi!" usul Evan.
"Ya." Devan menurutinya, hingga beberapa kali ketukan, masih sama seperti tadi. Tak ada jawaban dari penghuni kamar ini.
"Kenapa masih tidak dibuka, ya? Apa mereka tidak ada di dalam?" tanya Lilis sedikit gelisah.
Tadinya Lilis sudah dilarang untuk ikut, tapi dasar keras kepala. Lilis kekeh ingin ikut, karena ini menyangkut rumah tangga Laras. Dirinya saja rela mengalah, menderita, dan mencoba mencari jalan keluar demi keutuhan rumah tangga kakak kandungnya. Ini malah ada orang luar dengan seenaknya mau menghancurkan.
"Apa di kamar Fero? Dia menginap di sini juga, bukan?" tanya Evan.
"Aku tidak tahu kamarnya dia di mana," jawab Devan.
"Serahkan padaku."
Beberapa menit kemudian Evan sudah mendapat informasi dari karyawannya. Informasi yang membuat dirinya sangat terkejut. Mereka selangkah lebih cepat. Ternyata Freya dan Fero sudah pergi dari resort ini dari kemarin.
Devan dan Lilis juga sama terkejutnya. Sayang sekali mereka gagal menyelidiki keterlibatan Freya dengan perempuan yang mencoba merusak rumah tangga Laras dan Evan.
"Sekarang bagaimana? Sama sekali tidak ada jejak. Nomor Fero juga tidak aktif," keluh Devan seraya memijit keningnya, duduk dengan punggungnya bersandar di sofa. Lilis mengusap bahu Devan untuk menenangkan.
Mereka kini sudah berada di kamar Lilis dan Devan. Agar pembicaraan tidak sampai di dengar orang lain.
"Kak, aku ingin pulang ke rumah." Kali ini Lilis yang mengeluh.
Devan langsung menegakkan punggungnya, melihat ke arah Lilis dengan pandangan menyesal. Dia merasa bersalah, karena sudah memberikan liburan yang buruk untuk istrinya, apalagi dalam kondisi hamil seperti ini.
"Baiklah. Kita pulang ke rumah besok. Apa kamu mau beli oleh-oleh dulu?"
"Boleh?" Mata Lilis berbinar-binar.
"Tentu saja boleh."
"Yeay! Terima kasih, Kak," sorak Lilis bahagia.
Dia sudah membayangkan akan menemukan barang-barang unik. Karena saat pergi dengan Fero waktu itu malam hari, meski pemandangannya indah dengan lampu warna warni, tetap saja masih belum puas melihatnya.
Kali ini perginya dengan suami, jadi lebih nyaman juga aman tentunya.
"Pekerjaanku di sini sudah selesai. Besok aku juga akan ikut pulang." Evan nimbrung di obrolan Devan dan Lilis.
"Pulang saja. Pasti Laras juga membutuhkanmu. Kondisinya sedang hamil muda, bukan?" tanggap Devan.
"Satu lagi," ucap Evan. "Aku mau ikut kalian membeli oleh-oleh untuk orang rumah. Apakah boleh?"
*****
__ADS_1