
Adik Ipar Malang
Bab 28 Ke Supermarket
Pov lilis
Sudah menjadi rutinitas bagiku, pagi-pagi membantu mama dan mbok Urip membuat sarapan. Untuk tugas menghidangkan makanan di meja, akan dilakukan mbok Urip. Setelah itu, aku akan ke atas membantu suamiku menyiapkan pakaian kantornya.
"Hari ini kamu mau mengurung diri di ruang bacaku lagi?" tanya Kak Devan saat aku sedang memasangkan dasi di kerah kemejanya.
"Sepertinya enggak, Kak. Mama mengajakku ke supermarket untuk beli kebutuhan dapur dan yang lainnya."
"Biasanya Mama sama Mbok Urip."
"Mungkin mama mengira aku jenuh di rumah. Tapi, nggak apalah. Sekalian refreshing, Kak," tanggapku sambil melepas tangannya yang memeluk pinggangku.
Setelah Kak Devan mengatakan aku bisa home schooling selepas melahirkan, aku jadi lebih banyak menghabiskan waktu di ruang baca miliknya. Kak Devan mempunyai banyak koleksi buku di sana.
Saking asyiknya, kadang aku sampai tertidur di kursi sambil memegang buku. Saat bangun, ternyata aku sudah pindah ke kamar tidur. Sudah pasti suamiku itu yang memindahkanku.
"Ya, sudah. Tapi jangan sampai kelelahan, ya. Hubungi aku kalau ada apa-apa."
"Iya, Kak. Terima kasih." Aku tersenyum manis padanya.
"Tidak perlu berterima kasih. Kamu juga sudah menjadi pelengkap hidupku sekarang," ucapnya sambil mencium puncak kepalaku.
"Ayo kita ke meja makan. Kasihan mama dan papa menunggu terlalu lama."
Aku dan Kak Devan berjalan menuju meja makan. Sejauh ini hubungan kami sangat hangat. Kalau pun ada pertengkaran, itu karena sifat Kak Devan yang masih suka menjahiliku. Kata dia sekarang badan aku jadi bulat, dan itu membuat dia jadi gemas.
"Devan, kalian kan sudah sekitar empat bulan menikah. Kamu nggak ada rencana mengajak Lilis bulan madu gitu?" tanya Mama saat kami sedang menikmati sarapan.
Kak Devan yang sedang mengunyah makanannya tiba-tiba tersedak. Aku langsung memberikan air minum sambil mengusap punggungnya.
"Aku, uhuk, aku belum memikirkan itu, Ma. Kalau pun mau pergi, itu jangan dikatakan bulan madu, sekedar pergi liburan saja," jawab Kak Devan.
"Bagaimana pendapat kamu, Lis?" Kali ini Mama bertanya padaku.
Aku mengulum bibir menutupi perasaanku yang tak enak pada Kak Devan. Sudah hampir lima bulan menikah, tapi kami masih belum melakukan hubungan intim, layaknya malam pertama pengantin.
Entah dia yang tak ingin menyentuhku, atau memang dia pikir aku masih memiliki trauma dengan kejadian itu.
"Kamu jangan berpikir tentang bulan madunya. Anggap saja kita pergi liburan." Kak Devan sedikit menenangkanku.
"Bagaimana kalau destinasi di sekitar sini saja? Sepertinya di sekitar sini banyak tempat wisata yang bisa dikunjungi," saranku.
"Haduh, mana bisa romantis kalau datengnya ke tempat ramai seperti itu. Liburan untuk pasangan suami istri, loh." Mama masih berusaha membujuk.
"Mama ini. Mereka yang mau liburan, kok, Mama yang ribet." Papa berusaha menengahi.
"Papa diam aja, deh." Mama mencebikkan bibirnya.
"Kalau itu, aku ikut aja bagaimana Kak Devan." Akhirnya aku lempar lagi ke Kak Devan.
"Nanti aku pikirkan lagi, Ma. Lagi pula masih banyak pekerjaan di kantor."
"Mama tunggu secepatnya, loh. Apa perlu Mama yang siapin?"
Buru-buru Kak Devan menggeleng. "Nggak perlu, Ma."
Selesai sarapan, Kak Devan dan Papa pergi ke kantor. Aku dan Mama mengantar kepergian suami kami masing-masing sampai teras. Hingga mobil mereka tak terlihat, kami kembali masuk ke dalam rumah.
"Lilis, kita berangkat sekarang saja, ya. Mumpung masih pagi biasanya belum terlalu ramai."
"Ayo, Ma. Aku minta catatan belanja dapur dulu ke Mbok Urip."
__ADS_1
"Ya, sudah. Mama juga mau ganti baju dulu."
Aku segera ke dapur untuk meminta catatan belanja dapur ke mbok Urip. Tak perlu ganti baju, karena aku lebih suka memakai pakaian yang simple. Supaya lebih mudah beraktifitas nantinya.
Perjalanan dari rumah menuju supermarket hanya membutuhkan waktu sekitar dua puluh lima menit, kalau tak macet. Kali ini Mas Tejo yang menjadi supir, sekalian membantu membawakan barang belanjaan.
Setibanya di supermarket, kami langsung mengambil trolly, dengan aku yang mendorong, sedang Mama memegang catatan belanja titipan dari Mbok Urip. Karena mbok Urip yang lebih tahu apa saja bahan-bahan dapur yang habis.
"Lilis, bahan-bahan dapur semua sudah dibeli, kita ke bagian sabun, yuk," ajak Mama setelah selesai memilih bahan-bahan untuk dapur.
Di depan lorong bagian sabun, aku sudah mencium bau wangi yang menyengat. Sepertinya efek hamil, sehingga bau benda-benda wangi tercampur jadi satu, terasa menusuk di hidungku.
"Mama. Bagaimana kalau Mama saja yang masuk dan mencari sabunnya?"
"Kamu kenapa? Nggak apa-apa kan, Sayang? Apa kamu merasa mual?"
"Enggak, kok, Ma. Hanya saja baunya seperti menusuk di hidung. Terlalu wangi." Aku berbicara sambil menutup hidung.
"Oh, ya, sudah. Terus kamu di sini saja? Mama panggilkan pramuniaganya saja, ya. Supaya mengambilkan kursi buat kamu?"
"Nggak usah, Ma. Aku mau ke bagian susu aja. Kebetulan sudah tinggal sedikit. Aku mau beli yang kemasan besar."
"Ya, sudah. Nanti kalau sudah dapat susunya, kamu ke sini lagi, ya. Mama kayanya masih banyak yang mau dibeli."
"Iya, Ma."
Aku dan Mama akhirnya berpisah sebentar. Mama meneruskan ke bagian sabun, sedang aku mencari ke bagian susu. Setelah sedikit berjalan, akhirnya aku menemukan deretan susu untuk ibu hamil dan menyusui.
***
Mataku mencari merk susu yang biasa dikonsumsi. Aku menghela nafas setelah menemukan merk yang dicari-cari dari tadi.
"Kenapa harus susu favoritku yang letaknya di rak bagian atas?" keluhku.
Aku berjinjit dengan tangan terus menggapai dus susu itu. Perlahan-lahan benda itu mulai bergeser, kemudian mengenai dus di sampingnya.
'Gawat!' batinku berteriak.
Aku menutup mata dan menutupi bagian perut dengan tangan. Bersiap-siap kalau kemasan itu akan jatuh menimpa tubuhku. Tapi setelah menghitung sampai tiga, tak merasakan ada benda menyentuh tubuhku.
'Kenapa aku tidak merasakan apa pun? Jelas-jelas aku melihat sendiri, dus susu itu hampir jatuh menimpa tubuhku,' batinku bertanya-tanya.
Akhirnya aku memberanikan diri membuka mata. Sebuah dada bidang seorang laki-laki berada tepat di depan wajahku. Tunggu, dada? Aku mendongak ke atas, ternyata seorang laki-laki menutupi tubuhku, agar tak tertimpa dus susu yang jatuh.
"Kamu baik-baik saja?" tanyanya padaku.
Suaranya sangat halus dan lembut. Wajahnya juga sangat tampan. Seperti orang dari negeri ginseng, yang banyak boyband-nya itu.
"Oppa."
Oops, aku langsung menutup mulut. Dia memandangku dengan sebelah alis terangkat.
"Kamu nggak apa-apa, Nona Kecil?"
"Ah, i-iya. Aku tidak apa-apa. Terima kasih sudah menolong saya."
"Sama-sama."
Kami berdua berjongkok untuk memunguti kemasan susu ibu hamil yang berjatuhan.
"Oh, ya. Apa Tuan tidak apa-apa? Maafkan saya yang sudah merepotkan Tuan."
"Aku tidak apa-apa. Lain kali hati-hati. Kalau merasa tidak sampai, sebaiknya minta bantuan orang lain."
"Iya." Jawabku merasa tak enak.
__ADS_1
Setelah semua sudah kembali di susun di rak, dia pergi tanpa permisi. Dilihat dari pakaiannya, sepertinya dia manager di sini. Atau mungkin pemilik.
"Lilis!"
Aku menengok ke arah suara yang memanggilku. Ternyata Mama yang datang sambil mendorong troli berisi banyak belanjaan.
"Kamu nggak apa-apa, kan? Mama denger tadi di sana ada orang bisik-bisik. Katanya ada ibu hamil muda hampir tertimpa dus susu. Mama khawatir itu kamu."
"Aku nggak apa-apa, kok, Ma. Tadi ada yang menolongku."
"Jadi benar itu kamu? Sekarang mana orang yang sudah menolong kamu?" Mama menolehkan kepalanya ke sekeliling.
"Sudah pergi, Ma. Dia laki-laki, sepertinya orang kantoran. Soalnya dia pakai stelan kemeja dan dasi juga."
"Masa, si?"
"Nggak tahu juga. Bisa jadi dia atasan di supermarket ini."
"Ya, sudah. Yang penting kamu nggak kenapa-kenapa. Ayo kita ke kasir!"
"Iya, Ma. Kebetulan kakiku juga sudah mulai terasa pegal."
Setelah semua belanjaan di bayar, aku menghubungi Mas Tejo untuk segera membawa mobil menuju depan pintu keluar. Sedang barang belanjaan kami bawa menggunakan troli, dibantu salah satu pramuniaga.
"Kamu masih mau pergi ke mana lagi, Sayang?" tanya Mama padaku setelah semua barang dimasukkan ke dalam bagasi oleh Mas Tejo.
"Enggak, Ma. Aku udah capek banget."
Mungkin karena sedang hamil jadi seperti mudah lelah. Selain itu aku juga bukan tipe orang yang suka shoping. Berbeda dengan Kak Laras yang sangat suka berbelanja dari toko satu ke toko lainnya.
Mama Desi sedikit menampakkan wajah kecewa. Mertuaku ini sepertinya belum puas untuk berbelanja. Memang ya, emak-emak kalau sudah belanja kaki cepek pun tak akan dirasa.
Akhirnya kami memutuskan untuk pulang saja. Mama bisa memahami kondisiku yang memang sedang hamil. Sampai di rumah aku langsung menuju kamar dan istirahat, melepas penat.
"Bagaimana belanjanya dengan Mama tadi siang?" tanya Kak Devan malam hari sebelum tidur. Ini kali pertama aku keluar untuk jalan-jalan di sekeliling kota ini. Meski hanya ke supermarket.
Aku menceritakan saat kejadian di supermarket tadi siang. Tanpa ada yang aku tutupi sedikit pun juga tak menambahinya.
"Lain kali setelah mengucapkan terima kasih, kamu tanyakan namanya. Supaya kamu bisa membalas budinya suatu hari. Tapi, kalau ternyata sedang buru-buru atau tak sempat, tak apa," nasihat Kak Devan padaku.
"Iya, Kak." Aku mengangguk sambil menyandarkan kepalaku di atas dadanya.
"Lebih tampan mana, aku atau laki-laki tadi?" tanya Kak Devan tiba-tiba.
Aku memandangnya dengan bingung. "Apa hubungannya, Kak?"
"Kamu bilang di tampan seperti oppa-oppa. Kamu pikir aku nggak cemburu?" Kak Devan merajuk sambil mengusapkan pipinya di perutku. Dia tahu kalau aku sangat mudah merasa geli.
"Hahaha ... Memang kenyataannya seperti itu, Kak. Dia tampan, tapi bukan berarti aku menyukainya. Kamu akan jadi laki-laki nomor satu di hatiku."
Sekejap Kak Devan menghentikan usapannya pada perutku, membenarkan letak duduknya. Kemudian memindai wajahku dengan lekat. Wajah kami hanya berjarak beberapa senti saja. Bahkan hembusan nafasnya kini menerpa wajahku.
"Bisa ulangi lagi?" pintanya dengan suara sedikit berat.
"Kamu akan jadi laki-laki nomor satu di hatiku, Kak."
Kak Devan semakin mendekatkan wajahnya padaku, hingga bibir kami sekarang sudah tak berjarak. Tubuhku sedikit bergetar, tapi aku harus bisa melawannya. Cepat atau lambat, sebagai suami, pasti dia akan meminta haknya padaku.
Semakin lama, cium*annya semakin menuntut. Aku sudah pasrah kalau harus melaksanakan kewajibanku padanya sekarang.
Aku pikir malam ini akan benar terjadi, sesuatu yang sudah lama aku nantikan. Beberapa saat kemudian Kak Devan menyudahinya.
Kenapa? Apa Kak Devan tidak tertarik dengan tubuhku?
__ADS_1