Adik Ipar Malang

Adik Ipar Malang
bab 11 Awal Mula


__ADS_3

...Adik Ipar Malang ...


...Bab 11 Awal Mula ...


POV Evan


Aku Evan Pramudya Sakti, anak bungsu dari dua bersaudara. Mempunyai kakak bernama Elan Fadil Firdaus, hanya beda lima tahun denganku. Aku sudah menikah dengan Laras, adik tingkatku dulu saat kuliah.


Awal aku mengenal Laras adalah saat dia magang di kantor perusahaan orang tuaku. Ternyata kita satu divisi dan dia menjadi bawahanku. Aku kagum dengan apa yang ada pada dirinya. Dia cantik, cerdas, mandiri, pemberani, tidak cerewet, dan tidak terlalu agresif pada laki-laki.


Akhirnya aku menjatuhkan pilihanku pada Laras, untuk ke jenjang pernikahan. Dia sangat sesuai dengan kriteriaku. Jauh dari definisi wanita yang sering disebut dengan kata 'merepotkan'.


Sampai aku bertemu dengan Lilis, adik iparku sendiri. Dia kebalikan dari Laras. Manja, cerewet, penurut, sangat peduli dengan sekitar, tingkahnya juga sangat menggemaskan.


Lilis memang manja, tapi dia sangat perhatian. Perhatian yang tidak dia buat-buat, murni dari hatinya. Mampu menggeser sedikit pribadiku yang sangat dingin dan cuek dengan sekitar. Sampai tidak sadar, aku kadang membandingkan antara Laras dan Lilis.


Selama dua tahun pernikahan, Laras sangat jarang memasak di rumah. Bahkan bisa dihitung jari. Awalnya aku memaklumi, mengingat dia juga berkarir. Tapi, lama kelamaan aku merasa seperti ada yang hampa. Pernikahan ini terasa dingin.


"Aku lapar. Bisa siapkan aku makanan?" tanyaku suatu ketika baru pulang bekerja. Laras sepertinya pulang lebih awal dariku.


"Aku sangat lelah. Kita pesan antar saja, ya. Sambil menunggu, kamu mandi saja dulu." Laras masih rebahan di kasur dengan ponsel di tangannya.


Aku hanya menjawab dengan gumaman. Kemudian berlalu memasuki kamar mandi. Kami tak memiliki asisten rumah tangga yang menginap di rumah. Alasannya karena Laras tak terbiasa dengan orang asing. Jadi, hanya ada orang yang akan membersihkan rumah di siang hari. Seperti pekerja di rumah mertua.


Selama makan malam, kami mengobrol tidak jauh-jauh dari masalah pekerjaan. Dia bercerita tentang perusahaan tempatnya bekerja, dan jabatan kosong yang sedang diperebutkan.


Ya, setelah kami menikah Laras keluar dari perusahaan orang tuaku, karena mematuhi persyaratan. Pasangan suami istri tidak boleh bekerja bersama, untuk menghindari masalah rumah tangga yang di bawa ke pekerjaan. Meski perusahaan orang tua sendiri, tapi kami tetap mematuhinya.


Sebelum tidur aku berharap ada pillow talk. Semacam obrolan hal ringan selain pekerjaan. Atau dia bermanja-manja padaku. Sepertinya itu tak berlaku untuk istriku ini.


"Apa kamu nggak ingin curhat sesuatu padaku?"


"Curhat tentang apa?" jawabnya sambil memejamkan matanya. Sepertinya dia sudah akan tidur.


"Tentang sehari-harimu, selain pekerjaan."


"Nggak ada." Laras membuka matanya, kemudian mengerling menggoda. "Kenapa tidak langsung intinya saja?" Jari-jari lentiknya berputar-putar di atas dadaku dengan maksud menggoda.


Kami pun melakukan hubungan yang sudah halal dilakukan oleh suami istri. Kuakui dia memang hebat untuk urusan ranjang, lumayan untuk mengobati keluhanku tentangnya.


Pagi harinya, Laras sudah rapi dengan pakaian kantornya, ketika aku keluar dari kamar mandi. Dia juga sudah menyiapkan pakaian kantorku di atas kasur.

__ADS_1


"Apa kamu sudah masak sarapan untuk kita?" tanyaku sembari mengeringkan rambut dengan handuk kecil.


"Nggak. Kita sarapan di rumah Ibu saja." Laras masih bersolek di depan cermin.


"Nggak perlu. Aku sarapan roti tawar saja."


"Nggak mau ke rumah Ibu? Yakin?"


Aku menjawab dengan gumaman, lalu mengenakan pakaian dengan segera. Untuk apa pisah rumah dengan orang tua, kalau makan pun tetap di rumah orang tua. Mentang-mentang masih tinggal di satu perumahan dengan orang tua sendiri.


Selalu seperti itu. Tiap disuruh turun ke dapur dia selalu beralasan. Tak apa kalau malam, dia mungkin lelah sepulang bekerja. Setidaknya untuk sarapan, buat dengan tangan dia sendiri, apa tidak bisa?


"Apa kamu tak ada insiatif membuatkan bekal makan siang untukku?" Aku bertanya sambil memakai dasi.


"Kenapa harus membawa bekal? Makanan kantin di kantor perusahaan Papa itu, kualitasnya di atas standar perusahaan lain. Bahkan makanan kantin di perusahaanku bekerja kalah jauh. Kenapa harus makan masakan rumahan?"


"Ya, sudah. Aku berangkat dulu. Aku harus tunjukan yang terbaik ke perusahaan, supaya bisa terpilih menjadi salah satu kandidat manager pemasaran yang saat ini sedang kosong."


Laras mengec*p bibirku sekilas. Kemudian melangkah menuju pintu. "Aku mungkin lembur nanti malam. Kamu bisa makan di rumah Ibu dulu, ya." Lalu benar-benar menghilang di balik pintu.


Aku menghembuskan nafas dengan kasar. Merindukan kecerewetan mama di rumah sana. Aku benar-benar merindukan masakan rumahan. Mana mungkin aku ke rumah ibu mertua. Yang ada akan membuka aib rumah tangga nantinya.


"Assalamualaikum." Sepertinya itu suara Lilis.


"Waalaikumsalam." Benar ternyata Lilis. "Ayo, masuk!"


"Nggak usah, Kak. Ini aku bawakan sarapan dari Ibu untuk Kak Evan dan Kak Laras. Um, Kak Laras mana, ya?" Kepalanya celingak-celinguk.


"Dia sudah berangkat dari tadi. Apa kamu mau berangkat sekolah sekarang?"


"Iya, Kak. Takut ketinggalan bus."


"Kalau begitu kita berangkat bersama saja. Kebetulan kita searah, kan?"


"Eh, nggak usah, Kak. Sarapannya Kakak gimana?"


"Biar di bawa ke kantor. Tunggu sebentar."


"Beneran, Kak? Yey, lumayan irit ongkos."


Aku memindahkan makanan ke dalam wadah bekal. Kemudian menentengnya bersama tas kantorku.

__ADS_1


Aku hanya tersenyum tipis menanggapinya. Polos dan lugu sekali. Sangat sayang kalau gadis sepertinya sampai jatuh ke tangan laki-laki yang br*ngs*k.


Sepanjang perjalanan, kami mengobrol ringan. Beda sekali saat bersama dengan Laras. Kita hanya saling diam, atau sibuk dengan ponselnya. Lagi-lagi aku membandingkan mereka berdua.


Iseng kutanya tentang pacar. Jawabannya mampu membuatku tersenyum.


"Aku belum kepikiran soal pacar. Bisa dipangkas habis uang jajanku sama Ayah. Lagian uang jajan saja aku masih minta sama orang tua. Jadi, mungkin untuk pacaran itu soal belakangan."


Jika aku menjadi ayahnya pun akan melakukan hal yang sama seperti ayah mertua. Mana mungkin kubiarkan otak polosnya tercemar hal-hal yang belum cukup untuk umurnya.


Saat dia berbicara, wajahnya mengeluarkan berbagai macam ekspresi. Membuatku harus menahan tangan agar tak mencubit pipinya.


Entah sejak kapan aku jadi sering membandingkan antara Laras dengan Lilis. Dari segi umur, pola pikir, dan kepribadian sudah jelas mereka berdua berbeda.


Sesampainya di kantor aku langsung menuju ruanganku di lantai sepuluh. Tentunya setelah mengantar Lilis selamat sampai sekolahnya.


Begitu pintu terbuka sudah ada seseorang yang duduk di ruanganku. Siapa lagi yang berani masuk tanpa izin dariku, tentu saja Elan, kakak kandungku.


"Apa ingin menyampaikan pesan dari Mama lagi?" tanyaku langsung tanpa basa basi.


Aku langsung duduk di kursi kebesaranku, dan bergelut dengan tumpukan kertas. Bagiku selagi bisa mengerjakan sambil melakukan hal yang lain, tak masalah. Karena aku bukan tipe orang yang suka membuang-buang waktu.


"Hari Minggu ini, Mama minta supaya kamu mengantar Lilis ke rumah. Mama bilang, sih, mau mengajak Lilis membuat kue. Ada resep baru katanya."


"Kenapa harus aku?" tanyaku tanpa menghentikan pekerjaan.


"Aku tidak bisa, harus menerima klien dari Kalimantan. Kita sudah ada perjanjian, kan, kalau akhir pekan Papa me time. Jadi hanya tinggal kamu yang free."


Orang tuaku malah lebih dekat dengan Lilis dibanding Laras. Laras terlalu dingin dan cuek sebagai wanita. Ditambah dia jarang sekali masuk dapur, berbeda dengan Mama yang suka bereksperimen di dapur.


"Mama juga menanyakan tentang program kehamilannya Laras. Apa sudah membuahkan hasil?"


"Bagaimana mau menjalankan promil. Orangnya saja sedang memburu sebagai kandidat manager pemasaran. Dia sudah bertekad untuk mendapatkan posisi itu."


"Wanita yang penuh dengan obsesi. Mengerikan."


"Makanya, Kak, cepat menikah. Biar tahu rasanya diburu Mama soal cucu." Aku mendengus jengkel.


"Andaikan calonku masih hidup." Wajah Elan berubah sendu.


Ah, aku salah bicara sepertinya.

__ADS_1


__ADS_2