
Adik Ipar Malang
Bab 17 Lamaran Diterima
POV Lilis
"Tentu ada larangannya. Mertua tidak ada di rumah, yang ada di rumah hanya calon istri saya. Bagaimana bisa aku membiarkan calon istriku berada di rumah hanya berdua dengan seorang laki-laki sepertimu," ujar Kak Devan sambil menekan kata 'Calon Istri'.
"Calon istri?" tanya kakak ipar terkejut. Matanya membelalak lebar hanya sebentar, kemudian kembali semula. Sayangnya, aku sempat melihatnya sekilas.
Aku juga terkejut dengan pernyataan Kak Devan barusan. Hati ini berdesir mendengar kata itu keluar dari mulutnya. Sekuat tenaga menahan senyum yang ingin sekali tersungging di bibir ini.
"Ya. Calon istriku." sahut kak devan dengan senyum mengejek.
Ekspresi wajah Kak Evan mengeras, kedua alisnya mengkerut, matanya memandang Kak Devan dengan tajam.
"Lilis mengandung anakku, aku yang berhak untuk menjadi calon suaminya," geramnya.
"Ck, tak sadar diri. Sudah punya istri satu, masih belum cukupkah?"
Kak Devan bersikap santai menghadapi kemarahan kak Evan, atau dia memang sengaja memancing kemarahan suami dari Kak Laras itu?
Aku hanya mampu memandang kaku ketegangan dua orang di depanku ini. Tak tau harus melakukan apa. Kak Evan sudah bersiap mengangkat kepalan tangannya.
"Ada apa ini?"
Semua orang memandang ke asal suara. Mataku berbinar menatap penyelamat situasi ini. Lain dengan mereka berdua yang memasang wajah terkejut.
"Ayah!" panggilku dengan senyum lega.
Aku langsung berlari memeluk Ayah yang datang di waktu tepat. Kemudian bersembunyi di balik punggungnya, yang selama ini menjadi pokok kekuatan dalam rumah ini.
"Evan, Devan, ada apa ini? Kenapa di jam kerja seperti ini kalian ada di sini?" Ayah menatap bergantian ke arah mereka berdua.
"Aku hanya ingin menjenguk keadaan Lilis, Ayah." Ekspresi Kak Evan sudah kembali seperti semula. Seolah tidak terjadi apa-apa.
"Aku ada sesuatu yang tertinggal," jawab Kak Devan, tapi melirik sinis pada Kak Evan.
"Hari ini Lilis ada jadwal terapi ke psikolog, aku akan mengantarnya. Sebaiknya kalian kembali ke kantor masing-masing."
"Boleh aku ikut?" tanya Kak Evan.
"Tidak boleh!" jawab Kak Devan cepat.
"Tidak bisa, Evan. Sebaiknya kalian berdua cepat kembali ke kantor. Atau aku hubungi Papa kalian, kalau di sini ada yang bolos kerja?" ancam Ayah.
Kak Devan tersenyum puas. Sedang Kak Evan nampak sangat kecewa.
"Aku pamit, Ayah." Kak Evan mencium tangan mertuanya, kemudian melihat ke arahku.
Aku menundukkan kepala, berpura-pura tak peduli padanya. Dulu aku juga akan mencium tangannya saat akan berpamitan, karena menghormati dia yang lebih tua, tapi sekarang tidak, setelah peristiwa itu. 'Maafkan aku karena tak sopan, Kakak Ipar.'
__ADS_1
"Assalamualaikum."
Melihat tak ada respon dariku, Kak Evan melenggang pergi ke luar rumah, setelah mengucapkan salam, dan dijawab oleh kami hampir bersamaan. Terdengar deru mesin mobil yang perlahan menghilang, meninggalkan pelataran rumah.
"Kenapa kamu masih di sini?" tanya Ayah pada Kak Devan.
"Harusnya Om berterima kasih padaku. Kalau aku tidak cepat-cepat datang, pasti Lilis sudah dibawa pergi Evan."
"Benar seperti itu, Lis?" tanya Ayah sambil memastikan tidak ada bagian tubuhku yang lecet.
Aku mengangguk lemas. Seandainya tadi Kak Devan tidak datang tepat waktu, aku tidak bisa membayangkan apa yang terjadi selanjutnya.
"Oh, ya. Kenapa Ayah bisa pulang cepat? Terus yang tahu kalau Kak Evan datang ke rumah, kan ... cuma Kak Devan," lirihku di akhir kalimat.
"Tadi Devan menghubungi Ayah, katanya Evan datang ke rumah. Langsung ingat kalau kamu hanya sendirian. Jadi, Ayah buru-buru pulang. Kamu nggak diapa-apain, kan?"
"Enggak, Yah. Tadi ada Kak Devan yang datang tepat waktu, jadi niatan Kak Evan untuk bawa aku pergi, nggak terlaksana," kataku dengan menunduk malu. Malu karena masih belum memberi kepastian pada Kak Devan. Padahal dia sudah banyak menolong..
"Om, ini sudah serius. Kalau sampai kita lengah, apa lagi ada celah, pasti Evan akan terus datang ke sini menemui Lilis, membujuknya supaya mau menikah dengannya."
Ayah memandang Kak Devan dengan seksama.
"Maka dari itu, tadi aku sempat mengatakan kalau Lilis itu calon istriku, supaya dia tidak terus merayu Lilis untuk menikah dengannya. Maaf ya, Lis, udah lancang bilang kalau kamu calon istriku," lanjutnya.
"Nggak apa, Kak," kataku sambil tersenyum.
Mata Kak Devan memancarkan keseriusan, begitu pun Ayah. Semuanya terdiam. Mereka berdua bertatapan seakan-akan sedang menyusun rencana lewat telepati.
Mereka langsung memandang ke arahku dengan terperangah. Mungkin bingung, karena aku tiba-tiba berkata seperti itu.
Senyum lebar tersimpul di bibir calon suamiku itu. Kak Devan mengangkat kedua tangannya, kemudian berucap syukur. "Alhamdulillah, jadi nikah juga." Wajahnya sumringah. "Om, aku ingin menikahi Lilis secepatnya. Kalau bisa satu minggu dari sekarang."
Aku dan Ayah terkejut, tapi setelah diperhatikan, tak ada wajah bercanda yang diperlihatkan Kak Devan.
"Kamu itu mau cepat-cepat bukan karena kebelet, kan?" tanya Ayah.
"Tentu saja bukan. Kenapa Om selalu berpikiran rendah tentangku."
"Memang seperti itu kenyataannya," ejek Ayah mengangkat sudut bibirnya sebelah.
Aku hanya menepuk jidat. Kalian berdua ini, kalau sudah berkumpul pasti seperti kucing dan tikus, tapi anehnya bisa kompak dalam suatu urusan. Ayah juga akan keluar dari sikapnya itu, hanya kepada Kak Devan. Tanda bahwa Ayah dekat dengannya.
"Karena Lilis sudah menerima lamaran saya, aku yang akan menyiapkan segala keperluan pernikahan ini. Tapi, kita hanya akan menikah siri dulu, untuk menutupi aib kamu dan keluarga. Kamu nggak apa kan, Lis?" tanya Kak Devan dengan kikuk, sambil menggaruk kepalanya yang kuyakin tidak gatal.
Aku mengangguk setuju. Ini saja sudah sangat berarti bagi kami. Semoga dengan ini Kak Evan berhenti untuk mengejarku.
"Semoga saja pernikahan kalian berjalan lancar, tidak ada yang menganggu. Aku tidak berharap Evan melakukan itu. Kalau bisa, jangan ada kekerasan. Dia juga menantuku."
"Serahkan padaku, Om. Yang jelas Evan hanya tahu kalau aku calon suami Lilis, tapi dia tidak tahu kalau pernikahan kami akan dilaksanakan seminggu lagi."
"Kenapa tidak besok saja aku menikah dengan Lilis? Masih ada waktu seminggu, apa Om mau kasih hadiah tiket bulan madu ke Bali?" tanya Kak Devan, yang sukses mendapatkan jitakkan sayang dari Ayah.
__ADS_1
*****
Sekarang aku benar-benar sudah tidak bersekolah lagi. Bayangan cita-cita menjadi guru, impian sejak kecil, harus pupus. Hanya tinggal menghitung hari, statusku akan berubah, menjadi istri dari Devan Mahendra Putra.
Bersyukur, orang tuanya merestui pernikahan kami, tapi sayang, mereka tidak bisa datang. Selain karena sibuk, mereka juga tak ingin menarik perhatian Kak Evan. Karena pernikahan ini dirahasiakan dari dia.
Aku berjalan ke arah jendela kamar. Dari sini, akan terlihat pemandangan kebun bunga yang berada di halaman samping rumah. Semua itu aku dan ibu yang menanam. Dari benih yang beli di toko, atau meminta potongan batang tanaman ke tetangga.
Setelah menikah, apa aku akan tetap tinggal di sini, atau mengikuti calon suami? Pasti aku akan merindukan semua kenangan itu.
Terlalu hanyut dalam lamunan, aku tersentak saat ada sebuah tangan menepuk pundakku lembut. Aku menoleh ke arah kanan. Wajah tampan, dengan rahang kokoh, dan bola mata coklat yang indah, terpajang di depan mataku.
"Kakak sudah pulang dari kantor?"
"Hm. Saking khusyuknya melamun, sampai nggak denger orang ketuk pintu. Jadi, aku masuk saja."
Dia berdiri tepat di sampingku. Matanya menatap ke depan dengan tangan di masukkan ke dalam saku celana. Kemudian menoleh padaku dengan senyum teduh.
"Bukannya sekarang udah kebiasaan masuk kamar langsung nyelonong?" sindirku.
"Kamu, kan, calon istriku. Harus belajar terbiasa, karena setelah menikah kita akan satu kamar."
'Mulutmu, Kak.' Aku tersipu, memalingkan wajah darinya. Melayangkan pandangan lagi ke luar jendela. Melihat tanaman bunga dan rumput yang bergoyang ditiup angin.
"Ada teman sekelas kamu, si Sindi. Dia menunggu di ruang tamu."
Mataku berbinar mendengar nama sahabatku disebut. "Aku akan segera menemuinya."
"Hati-hati! Ada baby dalam perutmu. Jangan ceroboh!" peringatnya.
"Tentu saja. Terima kasih, Kak."
Bergegas keluar kamar, meninggalkan Kak Devan sendirian di kamarku. Biarkan saja. Tak ada barang berharga yang bisa dicuri dari kamar. Lebih baik aku segera menemui Sindi, agar tak menunggu lama.
Sampai di ruang tamu, aku langsung memeluk sahabatku itu. Meluapkan rasa rindu kepada teman sekelas sekaligus sebangku. Katanya sepulang dari les dia langsung ke rumahku, untuk memastikan apa benar aku keluar dari sekolah. Aku jawab apa adanya.
Tak terasa sudah dua jam aku dan Sindi mengobrol banyak. Dari bercerita tentang teman-teman sekelas, sampai artis-artis tampan Bollywood atau KPop. Sindi berpamitan untuk pulang ke rumahnya.
Aku mengantar sahabatku itu sampai teras. Melihat gadis itu sampai keluar dari gerbang, dan menghilang di balik belokan. Jarak rumah kami tidak terlalu jauh. Sekitar 20 menit jika berjalan kaki.
Saat berbalik badan, sudah ada Kak Devan berdiri di belakangku. Jarak kami hanya dipisahkan selangkah saja.
"Apa kamu mengatakan padanya, kalau kita akan menikah lima hari lagi?"
"Ya, Kak. Apa ada masalah?" tanyaku polos.
Dia diam tak menjawab. Hanya menatapku dengan pandangan yang entah artinya apa. Dipandangi seperti itu, aku jadi merasa salah bicara.
"Sindi, sahabatku. Jadi aku percaya padanya," ucapku lirih membela Sindi.
"Sedekat apa pun kamu dengan seseorang, jangan pernah lengah. Aku tidak menyuruhmu untuk mencurigainya, tetapi tetap berhati-hati kepada semua orang yang ada di dekatmu. Tetaplah waspada, meski pun itu aku, orangnya."
__ADS_1
Kemudian Kak Devan berbalik badan, masuk ke dalam rumah. Apa dia marah padaku, karena memberitahu Sindi tentang pernikahan kita? Tapi, kenapa dia seperti tidak menyukai Sindi? Masa iya Kak Devan nggak suka dengan Sindi, ketemu aja baru-baru ini.