Adikku, Penghancur Pernikahanku

Adikku, Penghancur Pernikahanku
BAB 11. HB sebelum Menikah


__ADS_3

Alvin yang izin cuti selama dua hari pun akhirnya kembali lagi ke Ibukota karena banyaknya pekerjaan yang harus diurus sementara Hannum yang tidak bisa meninggalkan Ibunya yang belum pulih seratus persen pun tetap berada di Malang.


“Dek, kamu yakin tidak ikut Mas kembali ke Ibukota?” tanya Alvin dengan wajah yang kecewa sambil menatap lekat ke mata Hannum.


“Maaf, Mas. Aku tidak bisa pulang sekarang. Ibu masih sakit dan kesulitan berjalan apalagi mengerjakan pekerjaan rumah!” ucap Hannum dengan wajah yang sedih.


“Aku tidak tega melihat Ibu menderita, Mas. Maafkan aku Mas!” ucap Hannum dengan tatapan mata yang berbinar meminta pengertian Alvin.


“Hah! Baiklah. Mas mengerti dan Mas tidak akan memaksamu. Kembalilah saat dirasa Ibu sudah pulih seratus persen!” ucap Alvin dengan senyum lembut sambil memeluk Hannum hingga akhirnya keduanya pun melakukan kewajiban keduanya sebagai suami istri.


Alvin yang pulang sendiri ke Ibukota pun disambut dengan hangat oleh Rere dan perasaan bahagia dari Zarrah saat mendengar penjelasan dari Alvin.


“Horeee... Papa sudah pulang!” teriak Rere dengan suara yang keras dengan wajah yang bahagia dan senyum yang lebar.


“Hmmm, dimana Mama? Kenapa Papa hanya sendiri?” tanya Riri dengan ekspresi wajah yang bingung dengan tatapan mata yang penasaran.


“Mama masih ada di Malang. Nenek masih belum sehat jadi Mama akan ada di Malang sementara waktu. Rere tidak masalahkan? Rere anak baik, bukan?” tanya Alvin dengan senyum yang lembut sambil menepuk-nepuk pucuk kepada Rere lalu membawa Rere masuk ke dalam rumah.


“Hah! Mbak Hannum tidak ikut pulang jadi ini adalah kesempatanku untuk menjadi semakin dekat dengan Mas Alvin!” ucap Zarrah dengan senyum yang lebar sambil melihat pundak Alvin yang semakin menjauh dari pandangan matanya.


Alvin yang berada jauh dari Hannum pun merasa sangat nyaman dengan Zarrah yang terus memberikannya perhatian-perhatian kecil sehingga membuat hubungan keduanya semakin dekat selama Hannum ada di Malang.


“Mas, silahkan diminum kopinya! Maaf ya Mas jika rasanya tidak seenak buatan Mbak Hannum!” ucap Zarrah dengan wajah yang memerah.

__ADS_1


“Mas, apakah ini berkas yang kau cari? Aku menyimpannya semalam saat merapikan meja!” ucap Zarrah dengan senyum yang lembut.


“Mas, aku tadi buat kue. Mas cobain deh. Enak tidak Mas?” tanya Zarrah dengan wajah yang penasaran sambil mendekatkan wajahnya dan menunjukkan belahan dadanya pada Alvin.


Alvin yang menyadari ketertarikan dan rasa sukanya kepada Zarrah dan begitu pula dengan Zarrah yang tidak menolak Alvin pun membuat keduanya semakin berani.


“Hahaha.... Mas, kamu lucu sekali sih! Mana ada ikan yang bisa terbang?” tanya Zarrah dengan tawa yang besar sambil mendekatkan tubuhnya ke arah Alvin.


“Ada dong. Lihat aja di film. Banyak ikan yang terbang seperti film Dolphine!” ucap Alvin yang merangkulkan tangannya di pinggang Zarrah hingga akhirnya bibir keduanya bertautan.


Alvin dan Zarrah pun akhirnya terbiasa duduk berdua sambil berpelukan dan berciuaman di tempat manapun di dalam rumah saat Rere tidak ada.


“Agh, lidah Mas Alvin nakal banget sih! Hehehe.....” ucap Zarrah dengan wajah yang memerah dan senyuman yang menggoda.


Seminggu berlalu, Hannum yang diminta untuk segera kembali oleh Ibu Wati pun akhirnya menyerah dan kembali ke rumahnya di Ibukota.


“Nduk, kamu sudah cukup lama ada di sini. sebaiknya kamu kembali ke Suami dan Anakmu! Ibu sudah pulih sekarang. Ibu bisa mengerjakan semuanya sendiri!” ucap Ibu Wati dengan senyum yang lembut.


“Apa Ibu yakin bisa melakukannya sendiri tanpa Hanum?” tanya Hannum dengan wajah yang khawatir.


“Ya, Nduk! Ibu baik-baik saja! Kamu kembali saja sekarang! Hubungi Suamimu kalau kau akan segera pulang hari ini juga!” ucap Ibu Wati dengan sedikit memaksa.


“Hmmm, baiklah jika Ibu berkata seperti itu. Aku akan memesan tiket pesawat sekarang dan menghubungi Mas Alvin akan rencana kepulanganku!” ucap Hannum dengan senyum bahagia.

__ADS_1


Alvin dan Zarrah yang mengetahui bahwa Hannum akan segera kembali ke Ibukota pun memutuskan untuk menutupi hubungan keduanya dan bersikap biasa saja di hadapan Hannum.


Hannum yang kembali ke rumahnya tidak merasakan ada perbedaan sama sekali kecuali Zarrah yang ternyata semakin dengan Andika.


“Mbak, aku pergi kuliah dulu ya. Mas Andika sudah ada di depan menjemputku!” ucap Zarrah dengan senyum yang lebar.


“Dek, kamu harus hati-hati. Kamu tidak boleh terjerumus hal yang tidak-tidak!” ucap Hannum dengan nasehat yang menunjukkan kekhawatirannya.


“Mbak tenang saja. Aku tidak akan melakukan hal yang bodoh. Aku harus pergi sekarang karena aku ada pelajaran dengan Dosen Killer! Aku tidak mau diusir dari kelasnya karena datang telat!” ucap Zarrah dengan terburu-buru.


Hannum yang melihat Zarrah pergi meninggalkan rumah dengan diboncengi Andika tidak bisa menghilangkan rasa kekhawatirannya.


“Hmmm, aku harap Zarrah sungguh menepati perkataannya! Aku tidak ingin Zarrah melakukan kesalahan seperti yang aku lakukan dengan Mas Alvin dulu!” ucap Hannum dalam hati dengan hati yang gelisah.


Alvin yang merupakan Senior Hannum di Kampus yang berbeda jurusan memiliki hubungan spesial dengan Hannum hingga keduanya memutuskan untuk berpacaran.


Namun gaya pacaran keduanya semakin lama semakin tidak terkendali hingga akhirnya keduanya melakukan hubungan int*m sebelum menikah.


Hannum yang takut Alvin akan meninggalkannya setelah semua yang telah mereka lakukan selama ini menjadi tenang saat Alvin mengajaknya menikah hingga mendapatkan Rere.


“Aku harap Zarrah sungguh bisa menjaga kesuciannya untuk suaminya kelak!” ucap Hannum dengan suara yang rendah.


#Bersambung#

__ADS_1


Akankah Zarrah sungguh bisa menjaga dirinya seperti pesan Hannum? Tebak jawabannya di kolom komentar ya...


__ADS_2