Adikku, Penghancur Pernikahanku

Adikku, Penghancur Pernikahanku
BAB 42. Penghinaan


__ADS_3

Waktu pun belalu, Hannum yang telah melakukan Sidang Perceraian di Pengadilan Agama pun akhirnya resmi menyandang status janda.


“Akhirnya semua telah selesai! Waktunya memulai hidup baru!” ucap Hannum yang mulai positif dan optimis memikirkan masa depannya dengan Rere.


Hannum yang berniat mengajak Rere jalan-jalan setelah menjemput Rere sekolah karena urusannya telah selesai menjadi terkejut saat melihat Zarrah berdiri di hadapannya sambil mengelus perutnya yang masih rata.


“Sekarang Mbak dan Mas Alvin telah rersmi bercerai jadi aku minta pada Mbak untuk membujuk Mas Alvin segera menikahiku!” ucap Zarrah dengan sangat sombong.


“Aku tidak ingin hamil tanpa suami dan anakku lahir tanpa Ayahnya!” ucap Zarrah dengan senyum yang lebar membayangkan masa depannya yang bahagia bersama Alvin dan Bayinya.


Namun Hannum yang tidak berniat membantu Zarrah ataupun ikut campur dalam rumah kehidupannya pun mengabaikan Zarrah dan terus berjalan menuju parkiran mobil.


"Apa? Mbak Hannum mengabaikanku?" ucap Zarrah dalam hati dengan mata terbuka lebar dan wajah yang terkejut.


"Mbak! Tunggu! Aku belum selesai bicara!" ucap Zarrah dengan cepat sambil mencoba menarik tangan Zarrah yang ingin meninggalkannya.


"Tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi Zarrah! Aku telah resmi bercerai dengan Mas Alvin!" ucap Hannum dengan tatapan mata yang tajam.


"Jika kau ingin meminta Mas Alvin mempertanggungjawabkan perbuatannya dengan menikahimu, itu semua adalah urusanmu karena aku tidak ada urusan apapun disana!" ucap Hannum dengan wajah yang dingin.


"Jangan ganggu kehidupanku dan Putriku!" ucap Hannum dengan suara yang jelas dan sikap yang tegas lalu melajukan mobilnya tanpa memikirkan perasaan Zarrah yang terdiam di tempatnya.


Hannum yang terus melajukan mobilnya pun tiba-tiba berhenti di tengah jalan dan menyandarkan dahinya pada setir mobil.


"Hah! Aku telah melepaskan semuanya dan aku hanya ingin hidup dengan tenang." ucap Hannum sambil memejamkan mata dan menarik nafas yang panjang.


Seminggu berlalu, Hannum yang terus menerus ditelepon oleh Zarrah dengan ancaman akan menggugurkan kandungan dan bunuh diri jika Alvin tak menikahinya pun memikirkan ulang keputusannya yang mengabaikan Zarrah.


"Aku tidak ingin terus direror oleh Zarrah yang tidak kunjung dinikahi oleh Mas Alvin! Aku juga tak ingin kuburan Bapak dan Ibu terus terguncang karena perbuatan dosa Zarrah maka aku harus melakukan sesuatu." ucap Hannum dalam hati dengan tekad yang kuat.


Hannum yang tak ingin diganggu oleh Zarrah dan Alvin lagi pun menghubungi Alvin dan Zarrah untuk duduk bertiga dan bicara.

__ADS_1


"Hannum, maaf Mas datang terlambat. Di jalan macet sekali." ucap Alvin dengan wajah yang gembira dengan senyum yang lebar karena mengingat Hannum menghubunginya duluan untuk bertemu di luar.


"Kau tidak terlambat Mas. Duduklah. Silahkan pesan makanan atau minuman dulu karena masih ada satu orang lagi yang belum datang." jawab Hannum dengan suara yang datar.


Alvin yang mendengar perkataan Hannum pun megkerutkan dahinya tapi tak mengatakan apapun dan hanya melakukan seperti yang dikatakan Hannum.


Tak lama kemudian Zarrah yang datang dengan gaun pendek selutut berwarna biru muda dengan rambut bergelombang di ujung langsung tersenyum bahagia saat melihat Alvin ada disana juga.


"Mas Alvin! Kau ada disini juga! Zarrah sangat senang sekali bisa bertemu dengan Mas!" ucap Zarrah dengan wajah yang ceria sambil bergegas mengambil tempat duduk di samping Alvin.


Hannum yang melihat tindakan Zarrah yang bersikap manja, centil dan tidak tau malu tidak merasa cemburu sama sekali justru perasaan jijik dan ingin muntah yang muncul.


Hannum yang telah bertekad untuk menghentikan semua drama Zarrah dan Alvin pun menguatkan dirinya saat melihat Zarrah yang dengan berani mendekat ke arah alvin.


"Aku menghubungi Mas Alvin kemari untuk meminta Mas Alvin untuk segera menikahi Zarrah!" ucap Hannum dengan wajah yang datar.


"Apa? Tidak! Kenapa aku harus menikahi Zarrah? Dek, Mas tidak pernah mencintai zarrah. Cinta Mas hanya milikmu!" ucap Alvin dengan ekspresi wajah yang tidak senang.


"Mas harus menikahi Zarrah karena anak yang dikandung oleh Zarrah adalah anakmu, Mas jadi kau harus bertanggungjawab!" ucap Hannum dengan ekspresi wajah yang dingin.


"Jangan menyangkalnya Mas karena aku melihat sendiri kalian berdua tidur bersama di hari dimana Ibu meninggal!" ucap Hannum dengan tatapan mata yang tajam.


Alvin yang melihat Hannum yang tidak menunjukkan kesedihan ataupun cemburu pun menyadari bahhwa harapannya untuk bersama dengan Hannum kembali telah sirna.


"Dek, apakah namaku sungguh telah menghilang dari hatiku?" tanya Alvin dalam hati dengan hati yang hancur dan ekspresi sedih yang sangat terlihat jelas.


Zarrah yang melihat Alvin yang tak bisa melepaskan pandangannya pada Hannum bahkan dengan mudahnya menyatakan cinta pada Hannum membuat Zarrah terbakar api cemburu dan amarah.


Namun meskipun begitu, Zarrah yang kesal tetap menahan dirinya demi bisa bersama Alvin dan duduk diam melihat Hannum bicara.


"Tahan Zarrah! Kau harus menahan amarahmu! Kau tidak boleh kehilangan kesempatan ini!" ucap Zarrah dalam hati dengan senyum palsu di wajahnya.

__ADS_1


Alvin yang tau jika semuanya telah hancur dan tak bisa dikembalikan lagi seperti semula pun menarik nafas panjang dan menerima semua yang telah terjadi.


"Aku mengerti. Aku akan segera menikahi Zarrah dan aku harap kau bahagia Dek." ucap Alvin dengan wajah yang sedih dan tatapan mata yang senduh menatap Hannum.


"Jangan khawatirkan diriku. Penuhi saja tanggungjawabmu, Mas! Jangan lari ataupun kabur!" ucap Hannum dengan tatapan mata yang dingin.


Alvin yang tidak ingin duduk bersama Zarrah lebih lama dan perasaan sakit saat melihat Hannum bersikap dingin padanya membuat Alvin bergegas pergi meninggalkan tempat tersebut.


Zarrah yang melihat Alvin telah pergi dengan cepat melepaskan topeng baiknya yang selalu di pasang di hadapan Alvin.


"Aku senang sekali Mbak Hannum akhirnya mau membujuk Mas Alvin menikahiku!" ucap Zarrah yang pertama kali membuka suaranya setelah kepergian Alvin.


"Aku tidak menyangka ternyata Mbak Hannum masih saja bodoh seperti dulu yang bahkan dapat dengan mudah diancam!" ucap Zarrah dengan wajah yang sombong.


"Aku tidak bodoh! Aku pun tidak termakan dengan ancamanmu, Zarrah!" ucap Hannum dengan ekspresi wajah yang datar.


"Aku bahkan tidak peduli apa kau berhasil melahirkan anakmu itu dengan selamat atau tidak nantinya!" ucap Hannum dengan wajah yang cuek.


"Aku hanya peduli pada jasad Ibu dan Bapak yang ada di alam baka!" ucap Hannum lagi yang kemudian berdiri dari tempat duduknya dan berjalan ke arah Zarrah.


"Aku tidak ingin Ibu dan Bapak terus disiksa karena perbuatan dosamu yang terus berzina dengan Mas Alvin!" ucap Hannum yang memukul pelan pundak Zarrah dan berbisik di telinga Zarrah lalu berjalan pergi meninggakan Zarrah sendirian.


Zarrah yang mendengar kata-kata penghinaan dan tatapan merendahkan dari Hannum padanya menjadi sangat marah tapi tak bisa melakukan apapun karena keinginannya yang ingin menjadi istri Alvin sangatlah besar.


"Arrrggghhh! Sial! Mbak Hannum aku pasti akan membalas penghinaan ini!" ucap Zarrah dengan suara yang rendah sambil mengepalkan tangan dengan erat lalu memukul meja dengan cukup keras.


Hannum yang telah mengatakan semua yang ingin dikatakannya pada Zarrah pun pulang ke rumah dengan wajah yang bahagia dan senyum yang lebar.


#Bersambung#


Akankah Zarrah sungguh dinikahi oleh Alvin pada akhirnya? Tebak jawabannya di kolom komentar ya...

__ADS_1


__ADS_2