Adikku, Penghancur Pernikahanku

Adikku, Penghancur Pernikahanku
BAB 23. Perubahan Besar


__ADS_3

Hari berlalu berganti minggu dan akhirnya menjadi beberapa bulan, Hannum yang merasakan perubahan yang sangat besar pada Alvin setelah pernikahan Zarrah dan Andika pun menjadi sangat bingung dan sedih.


“Apa yang terjadi pada Mas Alvin? Kenapa Mas Alvin menjadi semakin jauh dengan keluarga?” tanya Hannum pada dirinya sendiri sambil menatap kepergian Alvin yang tidak pernah lagi mencium keningnya ataupun mengucapkan kata-kata manis sebelum berangkat bekerja.


Hannum yang merasa sangat kebingungan terus berdoa dan melakukan sujudnya di sepertiga malam meminta bantuan Yang Maha Kuasa.


Hannum yang tiba-tiba teringat ucapan Mbak Yura sebelum keberangkatannya ke Ibukota menyusul Alvin pun merasa curiga.


“Apa maksud ucapan Mbak Yura sebelumnya? Apakah Mas Alvin berselingkuh dan memiliki wanita lain di luar sana?” tanya Hannum dalam hati dengan ekspresi wajah yang cemas.


“Tidak! Mas Alvin tidak mungkin melakukan itu! Mas Alvin adalah pria yang setia dan dia tidak akan menghianati janji suci pernikahan kami!” ucap Hannum yang mencoba meyakinkan dirinya bahwa Alvin masih sama seperti yang dulu.


Namun keyakinan yang selalu diucapakan oleh Hannum perlahan terkikis dan menjadi goyah, Hannum yang merasa sangat asing dengan Alvin pun mulai mengeluh.


“Mas, kenapa kamu tidak pulang makan siang lagi? Selama ini kamu selalu makan siang bersama denganku dan Rere!” ucap Hannum yang memulai pembicaraan di malam hari saat Alvin baru selesai mandi pukul sepuluh malam.


“Aku sangat sibuk dan waktu istirahatku sangat sedikit jadi akan lebih efisien jika aku makan di kantor!” ucap Alvin dengan singkat tanpa menatap mata Hannum.


Hannum yang mendengar perkataan Alvin sangat ingin menjawab dan menanyakan hal lainnya tapi Alvin yang terlihat mengabaikannya dan memilih berbaring di tempat tidur membuat Hannum hanya bisa menahan kemarahan dan rasa sedihnya.


“Kau sungguh telah berubah Mas! Kau bukan lagi pria penyayang yang aku kenal dulu!” ucap Hannum dalam hatinya dengan tangan terkepal erat lalu berbalik arah dan berbaring di kasur membelakangi Alvin.


Alvin yang tidak ingin mengambil pusing tindakan Hannum pun memilih tidur karena dirinya ternyata sangat lelah setelah menemani Zarrah pergi berbelanja.


Hannum yang mencoba berpikir positif jika selama ini Alvin memang sangat sibuk dengan pekerjaannya pun menjadi curiga kembali setelah Alvin secara terang-terangan mengurangi uang bulanannya.


“Mas, kenapa uangnya hanya segini? Jika hanya seperti ini bagaimana aku memenuhi kebutuhan yang lain?” tanya Hannum dengan ekspresi wajah yang protes.


“Aku punya kebutuhan juga. Aku bahkan telah jarang makan di rumah jadi aku harus punya uang untukku membeli makanan di luar!” ucap Alvin dengan suara yang ketus.


“Lagipula apa yang kau lakukan seharian di rumah. Bagaimana mungkin kau tidak bisa mengatur uang yang aku berikan dengan baik?” sindir Alvin dengan ekspresi wajah yang kesal.

__ADS_1


“Aku sudah telat sekarang! Aku harus pergi sekarang!” ucap Alvin yang buru-buru meninggalkan rumah dengan pakaian yang telah rapi.


“Tu-tunggu! Mas, kamu mau kemana? Ini adalah hari minggu. Mana mungkin kamu masih bekerja di hari libur seperti ini?” tanya Hannum yang mengejar Alvin sampai ke teras.


Alvin yang merasa sangat terganggu dengan sikap Hannum yang menurutnya sangat cerewet dan mengatur pun menjadi sangat kesal.


“Aku memang tidak bekerja tapi aku mau pergi bersama teman kerjaku! Apakah aku juga tidak boleh pergi bersama temanku dan hanya kau yang boleh pergi?” sindir Alvin yang mengingatkan Hannum tentang dirinya yang pergi bersama temannya sebelum Zarrah menikah.


Hannum yang tidak bisa mengatakan apapun hanya bisa menggigit bibir bawahnya dan menatap kepergian Alvin dengan air mata yang tak bisa dikendalikan dirinya untuk keluar.


Rere yang melihat Hannum sedih dan menangis pun bergegas memeluk Hannum dan memasang wajah yang sedih.


“Mama, jangan menangis! Kalau mama sedih, Rere juga ikut sedih!” ucap Rere dengan air mata yang ikut keluar.


Hannum yang tidak bisa menunjukkan dirinya lemah dan terlihat sedih di hadapan Rere pun dengan cepat menghapus air mata yanga terjatuh di pipinya.


“Mama tidak menangis. Mata Mama hanya kemasukan sesuatu dan rasanya sangat perih!” ucap Hannum yang mencoba membohong Rere.


Rere yang percaya pada kata-kata Hannum pun menganggukkan kepalanya dan meniupkan angin segar ke mata Hannum dengan perlahan.


Hannum yang berpura-pura jika bantuan yang diberikan oleh Rere berhasil pun tersenyum ceria kembali dan memeluk Rere dengan sangat erat.


“Maafkan Mama, Re! Maafkan Mama yang telah berbohong!” ucap Hannum dalam hati yang merasa bersalah karena telah berbohong kepada Putri Tunggalnya itu.


Hannum yang merasa sangat bingung dan dilema pun memutuskan untuk menghubungi Zarrah lalu meminta sarannya.


“Sebaiknya aku menghubungi Zarrah. Zarrah pasti punya solusi untuk masalahku ini!” ucap Hannum dengan tekad yang kuat.


Sementara itu, Alvin yang telah berjanji akan bertemu dengan Zarrah di Sebuah Restoran pun menghabiskan waktu bersama layaknya orang yang sedang berpacaran.


“Mas, apakah kalung ini sungguh untukku?” tanya Zarrah dengan ekspresi wajah yang terkejut karena mendapatkan hadiah kalung dengan sebuah mata berlian besar di tengahnya.

__ADS_1


“Tentu saja! Mas hanya memberikan ini spesial untukmu!” ucap Alvin dengan senyum yang lebar dan dengan cepat memakaikan kalung tersebut ke leher Zarrah.


Zarrah yang mendengar perkataan Alvin tidak dapat langsung percaya karena pada kenyataan Alvin masih bersama dengan Hannum saat ini.


“Hmmm, Mas pasti bohong! Mas pasti membelikan Mbak Hannum perhiasan yang sama tapi dengan model yang berbeda!” ucap Zarrah dengan wajah yang seolah sedang mengambek.


“Apa yang kau katakan sayangku? Mas sungguh tidak membelikan apapun kepada Hannum. Mas bersumpah!” ucap Alvin yang dengan percaya diri melakukan sumpah di hadapan Zarrah.


Zarrah yang mendengar perkataan Alvin pun tersipu malu hingga wajahnya berubah menjadi sangat merah seperti tomat.


“Kemarin Mas melewati toko perhiasan dan melihat kalung yang sangat cantik dan indah jika kau pakai jadi hari ini Mas sengaja kembali ke Toko Perhiasan itu lalu menyiapkan satu khusus untukmu!” ucap Alvin dengan penuh perhatian.


“Mas, kamu memang yang terbaik! Aku mencintaimu Mas!” ucap Zarrah dengan sangat mudah dengan senyum yang lembut sambil menyentuh kalung indah yang sedang terpajang manis di lehernya.


“Apakah cintamu melebihi pada Andika?” tanya Alvin dengan wajah dan sikap yang nakal yang membuat Zarrah dengan cepat meresponnya.


“Tentu saja! Mas Alvin jauh lebih hebat dan perkasa dari Mas Dika!” bisik Zarrah dengan suara yang rendah dan wajah yang malu.


“Aaarrgghhh, aku jadi ingin merasakan kej*ntanan milik Mas Alvin!” ucap Zarrah lagi dengan wajah dan sikap yang menggoda.


“Jika itu yang diinginkan maka Mas akan memuaskanmu hari ini! Mas akan membuatmu berteriak meminta ampun hingga tak bisa berjalan lagi!” ucap Alvin yang langsung berdiri dan berbisik di samping telinga Zarrah.


Zarrah yang melihat Alvin telah berdiri di sampingnya pun ikut berdiri dan pergi meninggalkan Restoran sambil menggandeng lengan Alvin.


“Jangan sampai seperti itu Mas. Cukup sampai membuatku meminta ampun saja karena akan gawat jika Ibu Mertuaku yang cerewet itu sampai curiga!” ucap Zarrah dengan wajah yang manja dan suara yang menggoda.


“Apapun untukmu cantikku!” ucap Alvin dengan senyum yang lembut sambil membukakan pintu mobil untuk Zarrah lalu keduanya pergi menuju Hotel terdekat untuk melepaskan hasrat yang telah membara.


#Bersambung#


Bagaimana respon Zarrah setelah mendengar curhatan Hannum? Akankah hubungan Alvin dan Zarrah akan selalu berjalan lancar? Tebak jawabannya di kolom komentar ya...

__ADS_1


__ADS_2