Adikku, Penghancur Pernikahanku

Adikku, Penghancur Pernikahanku
BAB 25. Sadap


__ADS_3

Hannum yang merasa sangat bingung dan juga semakin tidak tenang meskipun telah mengetahui bahwa di dalam handphone Alvin tidak terdapat hal yang aneh pun menjadi pendiam.


Rere yang melihat Hannum yang menjadi pendiam dan Alvin yang jarang ada di rumah pun duduk di samping Hannum.


“Mama kenapa? Apa mama sakit?” tanya Rere dengan ekspresi wajah yang cemas dan nada suara yang terdengar sangat khawatir.


“Mama bak-baik saja. Mama hanya merasa lelah dan butuh istirahat yang lebih!” ucap Hannum yang berbohong tentang kondisinya untuk membuat Rere tidak khawatir lagi.


Rere yang merupakan anak yang pengertian dan peka pun akhirnya mengalah dan memutuskan untuk tidak bertanya lagi.


Rere yang berencana untuk pergi bersama dengan teman sekolahnya pun meminta izin kepada Hannum.


“Mama, apakah Rere boleh pergi ke rumah teman sekolah Rere? Rere mau kerjain tugas bersama!” ucap Rere dengan nada suara yang hati-hati takut membuat Hannum marah.


Hannum yang menyadari kehati-hatian Putrinya pun menggigit bibir bawahnya dan membelai rambut Rere dengan sangat lembut.


“Rumah teman Rere jauh tidak dari sini? Mama anter Rere pergi ya? Nanti kalau sudah selesai belajar kelompoknya, Mama akan jemput Rere!” ucap Hannum dengan sikap yang sangat lembut dan penuh perhatian.


“Ya, Ma. Terima kasih Ma. Mama memang yang terbaik!” ucap Rere dengan wajah yang ceria dan senyum yang lebar.


Hannum yang bergegas mengganti pakaiannya dan bersiap pergi mengantar Rere dengan menggunakan taksi online pun memutuskan untuk merileksasikan pikirannya di salah satu kafe yang tak jauh dari rumah teman Rere.


“Hah! Pemandangannya langsung tertuju ke jalan raya dan terlihat sangat sibuk sama seperti Mas Alvin yang sangat sibuk beberapa bulan ini!” gumam Hannum sambil menarik nafas yang panjang.


Hannum yang sedang duduk sendirian pun memilih berada di lantai dua kafe dan berada di balkon sambil menikmati pemandangan jalanan.


Hannum yang sendirian ternyata tetap tidak bisa menghilangkan kegelisahan hatinya sehingga terlihat tampak murung dan sedih.


Namun di saat tersebut tiba-tiba Silvia, salah satu teman dekat Hannum, datang dan menghampirinya yang sedang bersedih.


“Hannum? Kenapa kamu ada di sini sendirian? Dimana suamimu?” tanya Silvia dengan ekspresi wajah yang penasaran dengan senyum yang lebar.


“Agh, aku hanya sedang bersantai. Suamiku sedang bekerja dan aku ke sini untuk menghabiskan waktu sampai Rere pulang kerja kelompok di rumah temannya tak jauh dari sini!” ucap Hannum dengan senyum yang ramah.


“Agh, kalau begitu kita sama. Aku juga sedang menunggu Putriku pulang les makanya aku kesini karena katanya di sini sangat nyaman dan makanannya juga enak!” ucap Silvia dengan senyum jahilnya.

__ADS_1


Silvia dan Hannum yang merasa nyaman duduk berdua pun memutuskan menunggu bersama hingga suatu ketika Hannum yang sedang bingung menceritakan masalahnya kepada Silvia.


“Hmmm, perasaan seorang istri itu sangat peka dan juga tepat jadi jangan pernah remehkan!” ucap Silvia dengan ekspresi wajah yang serius.


“Jika kau merasa tidak yakin dan percaya pada Suamimu maka sebaiknya kau menyadap handphonenya!” ucap Silvia dengan suara yang tegas.


“Ta-tapi aku tidak tau caranya!” ucap Hannum dengan wajah yang murung dengan kepala tertekuk ke bawah.


Silvia yang merasa kasihan kepada Hannum yang dikenalnya sangat baik dan ramah pun memutuskan untuk membantu Hannum.


“Aku akan mengajarimu menyadap handphone suamimu tapi berjanjilah bahwa kau tidak akan pernah membawaku ke dalam masalah rumah tanggamu!” ucap Silvia dengan tatapan mata yang tajam.


“Jika kau ketahuan dan kau menjadikanku kambing hitam maka aku tidak akan pernah memaafkanmu! Hubungan baik kita akan berhenti sampai di sini!” ucap Silvia dengan suara yang tegas.


Hannum yang mengerti maksud baik Silvia pun bergegas menganggukkan kepalanya dan merasa sangat bersyukur atas bantuan Silvia padanya.


Silvia yang telah memutuskan membantu pun mengajarkan semua yang diketahuinya kepada Hannum tanpa terkecuali.


“Jadi seperti itu caranya! Kau tidak hanya bisa mendapatkan panggilan dan pesan dari orang-orang yang menghubungi suamimu tapi juga mengetahui lokasi suami!” ucap Silvia dengan percaya diri.


Waktu pun berlalu sangat cepat, Hannum yang mendapatkan telepon dari Rere yang mengatakan bahwa pekerjaan sekolahnya telah selesai pun berpamitan dengan Silvia.


“Silvia maaf. Aku harus pulang ke rumah sekarang! Aku harap kita bisa bertemu dan cerita lagi!” ucap Hannum dengan wajah yang menyesal.


“Jangan bersedih! Kita masih bisa berkomunikasi dengan whatsh*pp! Hubungi aku kapanpun jika kau butuh bantuan!” ucap Silvia denngan senyum yang lembut.


Hannum yang tidak bisa membiarkan Rere menunggu terlalu lama di rumah temannya pun berpamitan sambil berpelukan dan pergi menjemput Rere dengan sangat cepat.


Hannum yang terus mengulang yang diajarkan Silvia kepadanya sambil menunggu Alvin pulang pun menjadi sangat senang saat melihat Alvin akhirnya pulang juga meski waktu telah menyatakan pukul sepuluh malam.


“Mas Alvin selalu saja pulang malam! Aku jadi curiga apakah Mas Alvin sungguh lembur atau ada wanita lain di luar sana!” ucap Hannum yang mulai curiga kembali.


“Aku tidak percaya Mas Alvin yang aku kenal sebagai pria yang setia dan penyayang akan menduakanku lalu memiliki wanita lain tapi perasaan ini sungguh membuatku terpaksa percaya!” ucap Hannum sambil menyentuh dadanya yang terasa sangat tidak tenang.


Hannum yang menyambut kepulangan Alvin seperti biasa pun membiarkan Alvin mandi dan membersihkan dirinya.

__ADS_1


“Malam Mas! Kamu sudah pulang Mas? Mau aku siapkan makan malam tidak?” tanya Hannum dengan lemah lembut.


“Aku kenyang. Aku sudah makan di luar. Aku sangat lelah. Aku ingin mandi dan langsung tidur!” ucap Alvin dengan nada suara dan ekspresi wajah yang datar.


“Kau sekarang sangat dingin kepadaku Mas dan bahkan kau tidak pernah menoleh sebentar saja untuk menatapku!” ucap Hannum dalam hati dengan tangan terkepal erat menahan emosinya.


Hannum yang mengetahui bahwa ini adalah kesempatan yang bagus untuknya pun melakukan seperti yang diajarkan Silvia kepadanya.


“Aku tidak boleh gagal! Aku harus bisa menyadap handphone Mas Alvin dan menghilangkan kegelisahanku ini!” ucap Hannum dengan tekad yang kuat.


Hannum yang telah menyadap handphone Alvin bergegas mengembalikan handphone Alvin ke tempatnya semula dan terbaring di tempat tidurnya di posisi membelakangi Alvin sambil memainkan handphonenya.


“Semoga ini adalah keputusan yang benar dan Mas Alvin tidak tau jika handphonenya disadap karena aku tidak tau harus mengatakan apa saat Mas Alvin tau jika aku melakukan ini!” ucap Hannum dalam hati dengan jantung yang terus berdetak sangat cepat.


Hannum yang merasa sangat lelah dan tak punya tenaga untuk bertengkar ataupun sekedar bertanya aktivitas Alvin pun memutuskan untuk menjadi orang mati dan mengabaikan Alvin sepenuhnya.


“Aku sangat lelah. Sebaiknya aku tidur dan menyiapkan diriku untuk kenyataan keesokan harinya!” ucap Hannum dalam hati yang memejamkan matanya dalam damai.


Alvin yang bingung dengan perubahan Hannum pun tidak ingin memikirkannya bahkan Alvin merasa sangat senang dengan perubahan Hannum yang menurutnya sangat bagus.


“Ada apa dengannya? Kenapa hari ini Hannum tidak memberiku banyak sekali pertanyaan yang akan membuatku pusing menjawabnya!” ucap Alvin dalam hati dengan wajah yang bingung sambil menatap punggung Hannum.


“Atau jangan-jangan Hannum sakit makanya dia seperti ini! Tidak! Hannum tidak mungkin sakit. Hannum adalah wanita manja yang akan langsung berteriak memintaku mengantarnya ke rumah sakit jika dia sungguh-sungguh sakit!” ucap Alvin yang mencoba meyakinkan dirinya bahwa Hannum baik-baik saja lalu memejamkan matanya.


Keesokan harinya, Hannum yang terus memantau kepergian Alvin dengan handphonenya ternyata tetap tidak menemukan hal pesan ataupun telepon mesra dari wanita lain.


“Mas Alvin sungguh tidak mendapatkan panggilan ataupun pesan dari wanita lain bahkan isi pesan dan panggilannya itu semuanya tentang pekerjaan!” ucap Hannum dengan wajah yang sangat lelah sambil bersandar di sofa ruang tamu.


“Aku merasa sangat senang karena aku tidak menemukan bahwa Mas Alvin berselingkuh dan Mas Alvin sungguh-sungguh sibuk bekerja tapi...” ucap Hannum yang terhenti sambil memegang jantungnya yang masih tidak bisa berdetak dengan normal.


“Tapi kenapa perasaanku semakin tidak tenang dan cemas? Apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Hannum dengan ekspresi wajah yang bingung.


#Bersambung#


Wow, handphone Alvin yang sudah disadap oleh Hannum pun tidak bisa membuka perselingkuhan Zarrah dan Alvin. Kira-kira apa yang sebenarnya terjadi ya? Tebak jawabannya di kolom komentar ya...

__ADS_1


__ADS_2