Adikku, Penghancur Pernikahanku

Adikku, Penghancur Pernikahanku
BAB 46. Ruang Inkubator


__ADS_3

Alvin yang terbangun keesokan paginya merasakan kepalanya terasa sangat pusing tapi khawatir akan ada panggilan penting bergegas menghidupkan handphonenya kembali.


Alvin yang belum seratus persen sadar merasa kebingungan saat mendengar handphonenya berbunyi per setiap detik.


“Siapa yang menghubungiku? Kenapa banyak sekali pesan masuk dan panggilan tidak terjawabnya?” gumam Alvin dengan kepala yang masih pusing sambil berusaha duduk dan bersandar di tempat tidurnya.


Alvin yang penasaran pun melihat panggilan yang ada dan membaca semua pesan masuk yang ternyata semuanya dari Zarrah.


Alvin yang awalnya merasa tidak nyaman dan terganggu karena Zarrah menghubunginya tanpa henti langsung berdiri dari tempat tidurnya saat mengetahui kenyataan Zarrah melahirkan.


“Sial! Bagaimana bisa wanita itu melahirkan tanpa menghubungiku? Apakah dia ingin mengatakan bahwa aku bukan suami yang bertanggung jawab?” ucap Alvin dengan wajah yang marah dengan pikiran yang masih belum stabil karena pengaruh alkohol.


Alvin yang tidak kehilangan momennya pun bergegas mencuci wajah dan menggosok gigi lalu mengganti pakaian kemudian pergi menuju ke rumah sakit tempat Zarrah melahirkan.


Alvin yang mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi hampir saja menabrak pengguna jalan lain.


“Hei! Bawa mobil hati-hati!” teriak salah satu pengendara sepeda motor dengan suara yang lantang sambil mengangkat tangannya dengan wajah yang marah.


“Maaf! Aku buru-buru membawa wanita hamil yang ingin melahirkan!” teriak Alvin yang berpura-pura sedang membawa Zarrah ke rumah sakit.


Alvin yang tidak peduli pada kemarahan pengendara lain pun melanjutkan perjalanannya dan tak butuh waktu lama akhirnya Alvin sampai lalu bergegas ke meja resepsionis untuk menemukan ruangan dimana Zarrah dioperasi.


Alvin yang mencari di beberapa tempat pun akhirnya sampai di ruang bersalin Zarrah dan melihat lampu operasi yang masih berwarna merah terduduk di lantai rumah sakit sambil bersandar ke dinding.


“Hah!” gumam Alvin sambil menarik nafas yang panjang dengan kepala bersandar di dinding dengan tatapan kosong ke arah langit lorong rumah sakit.


Sementara itu, Hannum yang tau jika setelah pernikahan dirinya dan Andika akan tinggal di Jerman pun bergegas ke Sekolah Rere dan meminta surat izin kepindahan Rere.


Hannum yang terpaksa harus mengurus semuanya selama tiga jam akhirnya merasa lega setelah semua urusannya selesai dengan lancar.

__ADS_1


“Apakah ini pertanda dari Tuhan? Semuanya berjalan dengan sangat lancar tanpa ada hambatan berbeda saat diriku dan Mas Alvin yang berniat menikah sebelumnya!” gumam Hannum dengan ekspresi wajah yang datar.


Hannum yang membutuhkan passport dan visa untuk dirinya dan Rere agar bisa pindah ke Jerman mengikuti Andika pun pergi mengurus semuanya dibantu Andika.


“Mas, apa kamu tidak repot menemaniku mengurus passport dan visa?” tanya Hannum dengan wajah yang cemas mengingat Andika mengurus semua hal termasuk Pernikahan mereka.


“Tidak akan pernah repot jika untuk membantumu! Mas akan selalu siap membantu kapanpun itu!” ucap Andika dengan senyum yang lembut yang tanpa sadar kata-kata itu membuat pipi Hannum memerah karena malu.


Hannum yang tidak ingin terlihat malu di hadapan Andika pun memalingkan wajahnya dan memilih untuk melihat ke luar jendela.


“Ada apa ini? Kenapa jantungku tidak dapat berhenti berdebar? Apakah aku sudah memiliki rasa untuk Mas Dika?”tanya Hannum pada dirinya sendiri dengan tangan yang terkepal erat memegang ujung tuniknya.


Hannum yang tak ingin terluka untuk kedua kalinya dengan cepat memberikan batasan pada dirinya sendiri agar tidak terluka.


“Aku dan Mas Dika baru dekat beberapa bulan. Aku tidak bisa langsung mempercayainya. Mas Alvin yang telah bersamaku bertahun-tahun bahkan tega mengkhianatiku dengan adik kandungku sendiri!” ucap Hannum dalam hati dengan tatapan mata yang tajam.


Beberapa jam berlalu, Alvin yang terus menunggu melihat lampu ruang operasi telah berwarna hijau pun bergegas berdiri dan tak lama kemudian melihat Zarrah yang telah keluar dari ruang operasi.


“Maaf. Apakah anda suami dari Ibu Zarrah?” tanya Dokter dengan tatapan mata yang curiga dan tidak percaya.


“Benar! Saya adalah suaminya! Saya punya buktinya!” ucap Alvin yang dengan cepat mengeluarkan kartu nikah antara dirinya dan Zarrah.


Dokter yang mengambil kartu nikah itu pun kemudian percaya dan memberitau Alvin tentang keberadaan anaknya dan kepindahan Zarrah.


“Hmmm, sepertinya anda sungguh Suami Ibu ini! Anda sungguh suami yang tidak bertanggungjawab, Pak!” sindir Dokter dengan tatapan mata yang tajam yang membuat Alvin hanya bisa diam menahan emosinya.


“Anak anda terlalu banyak minum air ketuban dan berat badan bayi yang terlalu kecil menyebabkannya terpaksa harus dipindahkan ke inkubator!” ucap Dokter dengan suara yang tegas.


“Jika bapak ingin mengazani anak bapak. Bapak boleh ikuti perawat yang di depan. Beliau akan mengantar anda ke ruangan tersebut!” ucap Dokter sambil menunjuk perawat yang ada di sampingnya.

__ADS_1


Alvin yang lebih mementingkan anaknya daripada Zarrah bergegas mengikuti perawat tanpa menoleh ke arah Zarrah yang masih tidak sadarkan diri setelah operasi.


Alvin yang melihat bayi merah dengan ukuran sebesar botol yang sedang tertidur itu pun menimbulkan rasa sakit di hati Alvin.


“Maafkan Papamu, Nak! Kau menjadi korban atas perbuatan buruk Ayah dan Ibumu!” ucap Alvin dengan suara yang rendah dengan wajah menyesal.


Alvin yang tak ingin menunda lagi pun dengan cepat mengazani bayi mungil tersebut dari luar inkubator sambil meneteskan sedikit air mata.


Di sisi lain, Zarrah yang telah sadar tepat setelah dirinya berada di ruangan pribadinya menjadi tidak sabaran untuk mengetahui keberadaan bayinya.


“Suster! Maaf! Dimana bayiku? Apakah dia baik-baik saja? Apakah dia laki-laki atau perempuan?” tanya Zarrah tanpa henti dengan tatapan mata penasaran.


“Anak Ibu saat ini tidak bisa dibawa kemari karena harus menjalani proses pemeriksaan dan harus dibawa ke ruang inkubator jadi harap Ibu bersabar!” ucap Perawat itu dengan suara yang lembut.


“Apa? Inkubator! Apa anak saya baik-baik saja, suster? Aaaarrgghhh!” teriak Zarrah yang memaksakan diri untuk duduk tapi terpaksa harus berbaring karena rasa nyeri di bagian perut yang merupakan bekas operasi.


“Anak Ibu terlalu banyak meminum air ketuban dan berat badan bayi yang tidak mencapai standar terpaksa harus diinkubator selama beberapa minggu!” ucap Perawat dengan senyum yang lembut.


“Ibu perlu khawatir. Anak Ibu baik-baik saja. Kami akan menanganinya dengan baik!” ucap Perawat tersebut yang tidak memberikan kesempatan kepada Zarrah untuk bertanya lagi karena perawat tersebut telah keluar setelah urusannya selesai.


Zarrah yang merasakan ikatan batin antara dirinya dan bayinya pun menjadi tidak tenang bahkan air susu yang menjadi pertanda bahwa bayi sedang lapar terpaksa harus dibuang.


“Bayiku! Anakku! Huuhh.... Huuuhhhh..... Huhhhh.....” ucap Zarrah yang tiba-tiba menangis dengan air mata yang mengalir tanpa henti ke pipinya.


Zarrah yang tidak bisa diam saja saat bayi yang dikandungnya selama sembilan bulan tak bersamanya pun mencoba menghubungi Alvin tapi tak satupun panggilannya dijawab.


“Kamu pergi kemana, Mas? Kenapa kau tidak datang juga? Aku dan anak kita membutuhkanmu!” ucap Zarrah dengan hati yang sakit dan air mata yang tak berhenti keluar.


#Bersambung#

__ADS_1


Apakah hubungan Zarrah dan Alvin akan baik-baik saja setelah kelahiran anak? Apakah Hannum pada akhirnya akan membuka hatinya untuk Andika sepenuhnya? Tebak jawabannya di kolom komentar ya...


__ADS_2