Adikku, Penghancur Pernikahanku

Adikku, Penghancur Pernikahanku
BAB 33. Pilih Kasih


__ADS_3

Ibu Wati yang sangat sedih dan terpukul setelah mendengar semua pengakuan Zarrah tidak banyak bicara dan hanya masuk ke dalam kamarnya.


Hannum yang tidak bisa melakukan apapun untuk menenangkan Ibu Wati hanya bisa menahan dirinya dengan tangan yang terkepal erat.


Hannum yang melihat banyak sekali kejadian terjadi dalam satu minggu terakhir membuat kepalanya berdenyut dengan sangat keras.


"Hah!" ucap Hannum yang melemparkan tubuhnya ke sofa sambil menarik nafas panjang dengan wajah yang sangat lelah.


Alvin yang masih ada disana hanya diam dan tak mengatakan apapun karena rasa bersalah yang memenuhi hatinya lalu mencoba membujuk dan menghibur Hannum tapi dengan cepat ditolak oleh Hannum.


"Dek! Jika kau lelah. Sebaiknya kembalilah ke kamar dan istirahat! Biarkan Mas yang membereskan ini semua!" ucap Alvin dengan wajah yang khawatir.


"Tidak perlu! Kau tidak perlu melakukan itu! Aku mohon kembalilah ke Ibukota dan biarkan aku disini sendirian!" ucap Hannum dengan suara yang rendah tanpa semangat.


"Ta-tapi.... Mas...." ucap Alvin dengan wajah yang serba salah lalu berhenti bicara setelah Hannum mengangkat tangannya memberi kode untuk Alvin diam.


"Aku tidak membutuhkanmu disini, Mas! Melihat wajahmu saat ini membuatku teringat kembali foto & video pornomu dengan Zarrah!" ucap Hannum dengan mata yang berkaca-kaca yang membuat Alvin menggigit bibir bawahnya.


"Sebaiknya kau kembali Mas dan jaga Rere untukku sementara waktu! Aku tidak ingin melihat keberadaanmu disini!" ucap Hannum dengan suara yang tegas.


Alvin yang tidak bisa membantah ataupun mengatakan sesuatu pun berdiri lalu mengambil barang miliknya dan meninggalkan tempat tersebut.


Hannum yang tau jika Alvin telah keluar dari rumah bergegas mengunci pagar dan pintu rumah lalu mengurung diri kembali ke dalam kamar.


Hari-hari berlalu, Ibu Wati yang kehilangan satu Putrinya berubah menjadi orang yang berbeda dalam semalam yang membuat Hannum semakin khawatir.

__ADS_1


Ibu Wati yang ternyata tidak bisa menerima kenyataan bahwa Zarrah telah pergi meninggalkan rumah membuat Ibu Wati menjadi depresi.


Ibu Wati yang sangat menyayangi Zarrah bahkan mengistimewakan Zarrah membuatnya berhalusinasi dan membuatnya kembali ke masa lalu saat kedua Putrinya masih akur.


"Nduk, ini adalah Ayam kesukaan Adekmu langsung minta dia makan setelah dia pulang sekolah! Ibu mau ke warung beli jajanan untuk Adikmu!" ucap Ibu Wati yang telah berpakaian rapi sambil membawa tas.


"Ibu! Apa yang Ibu katakan? Zarrah sudah pergi dari rumah! Ibu sendiri yang telah mengusirnya!" ucap Hannum dengan suara yang sedikit naik berharap Ibu Wati sadar.


"Kabur kemana? Apa yang kamu lakukan pada Adikmu? Sebagai seorang kakak, kau seharusnya mengalah pada Adikmu tapi kenapa kau sangat keras kepala sehingga membuat Adikmu pergi!" teriak Ibu Wati dengan wajah yang marah lalu memukul pundak, lengan dan tubuh Hannum seolah sedang memberikan Hannum hukuman.


Hannum yang mendengar perkataan Ibunya pun menangis bahkan rasa sakit dari pukulan yang diterimanya tidak terasa karena sakit yang teramat dalam di hatinya membuatnya mati rasa.


"Aaarrgghh! Ibu sadarlah! Ibu! Ibu!" ucap Hannum dengan suara yang lirih dengan air mata yang keluar tanpa henti dari matanya.


Hannum yang telah merasakan kasih sayang Ibu Wati yang berlebih pada Zarrah sejak kecil merasa semakin sakit saat masalah datang padanya.


"Ayah! Aku merindukanmu!" ucap Hannum yang duduk dengan melipat kakinya pun memeluk dirinya sendiri dengan suara yang parau.


Hannum yang selama ini selalu mendapat juara pertama di sekolahnya merasa iri pada Zarrah yang langsung mendapatkan hadiah yang sangat diinginkannya padahal hanya peringkat sepuluh besar karena dirinya tak pernah menerima itu bahkan ucapan selamat pun tidak didengarnya.


"Bu, aku juga anakmu. Aku juga terlahir dari rahimmu tapi kenapa kau selalu memikirkan Zarrah?" gumamm Hannum dengan mata yang membengkak.


"Disini aku adalah korbannya, Bu. Tapi kenapa kau justru menghukumku atas semua yang dilakukan Zarrah padaku?" tanya Hannum pada dirinya sendiri dengan rasa sakit yang tak dapat disembunyikan di setiap kata yang diucapkan, tindakan, dan ekspresinya.


Meskipun sedih dan kecewa tapi Hannum yang sangat menyayangi Ibunya tidak bisa meninggalkan Ibu Wati yang sendirian dalam keadaan seperti itu sehingga membuat Hannum meminta maaf pada Rere.

__ADS_1


"Maafkan Mama, Nak! Mama tidak memiliki keberanian untuk menemui Ayahmu dan menginjakkan kaki di rumah yang awalnya adalah Surga tapi kini telah menjadi Neraka bagiku!" ucap Hannum dalam hati sambil memeluk handphonenya setelah melakukan video call dengan Rere.


Hari demi hari, seminggu berlalu, kondisi Ibu Wati semakin memprihatinkan sehingga membuat Hannum tidak bisa lengah dalam berjaga.


"Ibu! Itu adalah shampoo dan bukan kecap!" teriak Hannum yang dengan cepat mengambil botol shampoo dari tangan Ibu Wati lalu menuntun Ibu Wati ke meja makan dan membantunya.


"Ya, Tuhan. Apa yang terjadi pada Ibu? Kenapa Ibu menjadi seperti ini?" ucap Hannum dalam hati sambil menatap sedih ke arah Ibu Wati yang sedang makan.


Sementara itu, Andika yang telah menalak Zarrah secara Agama di Malang ternyata telah selesai mengumpulkan semua berkas untuk perceraiannya.


"Ma, aku akan ke Pengadilan Agama. Aku ingin memasukkan gugatan cerai untuk Zarrah!" ucap Andika dengan ekspresi wajah yang serius.


"Tentu saja kau harus melakukannya! Mama sungguh tidak sudi menerima Menantu seperti Zarrah bahkan sejak awal Mama sudah menentang Pernikahan ini!" ucap Ibu Nissa dengan nada suara terdengar sangat marah.


"Maafkan aku, Ma. Aku salah karena tidak mendengarkan nasehat dari Mama!" ucap Andika yang lagi-lagi merasa bersalah karena tidak mempercayai wanita yang telah mengandung, melahirkan, menyusuinya dan membesarkannya dengan penuh cinta.


"Mama senang kau sudah sadar sekarang jadi secepatnya urus perceraianmu dan dekati Hannum!" ucap Ibu Nissa tiba-tiba yang membuat Andika mengangkat alisnya satu karena bingung.


"Ibu sangat menyukai Hannum. Ibu dapat melihat bahwa Hannum adalah wanita yang baik dan juga shaleha!" ucap Ibu Nissa dengan tatapan mata yang berbinar penuh harap.


Andika yang tidak sedang memikirkan Pernikahan saat ini memilih pergi dan buru-buru pergi ke Pengadilan Agama meninggalkan Ibu Nissa yang sedang mengkhayal bahwa Hannum adalah menantunya dan Rere adalah cucu perempuannya.


#Bersambung#


Apa keputusan yang akan diambil Hannum saat melihat kondisi Ibu Wati yang semakin memprihatinkan? Akankah harapan Ibu Nissa akan terwujud di masa depan? Tebak jawabannya di kolom komentar ya..

__ADS_1


__ADS_2