
Zarrah yang tak tau hasil dari persalinannya pun mengambi handphonenya dan menuliskan pesan teks kepada Alvin.
*Mas, maafkan aku yang telah menjadi orang ketiga dalam pernikahanmu bersama Mbak Hannum. Aku tau aku salah tapi cintaku padamu tulus dan murni, Mas. Mas, saat ini aku sedang berjuang melahirkan buah cinta kita. Jika kau telah membaca pesanku tolong datanglah ke RS. XXX. Aku dan anakmu menunggu disini.*
Zarrah yang tak tau hasil dari operasinya sekilas kenangan tentang semua yang telah dilakukannya pada Hannum dan Ibu Wati terlihat jelas dalam ingatan.
Rasa sedih, penyesalan, dan bersalah itu pun muncul lalu keinginan meminta maaf kepada Ibu Wati hilang karena sampai kapanpun maaf itu tak akan pernah bisa didengarnya.
“Maafkan Zarrah, Bu! Maafkan Zarrah!” ucap Zarrah dalam hati dengan ekspresi wajah yang sedih dengan air mata yang mengalir kembali.
Zarrah yang tidak ingin mementingkan ego ataupun rasa malunya pun berniat menghubungi Hannum untuk meminta maaf.
Namun sebelum Zarrah bisa mengambil handphonenya beberapa perawat datang membawa Zarrah pergi ke ruang operasi meninggalkan permintaan maaf yang tak dapat tersampaikan lagi.
“Tolong jaga emosi Ibu. Jika terus seperti ini maka itu tidak baik untuk bayi yang ada di dalam kandungan Ibu dan itu akan membahayakn proses operasi!” ucap Perawat dengan suara yang datar dan ekpsresi wajah yang dingin yang membuat Zarrah hanya bisa diam sambil menggigit bibir bawahnya.
Sementara itu, Hannum yang merasa sangat tidak nyaman pun keluar dari restoran dan melihat seorang Ibu dan anak perempuannya sedang bicara.
“Hidup akan terus belanjut! Jangan terpaku pada masa lalu! Kebahagiaanmu hanya dapat kau sendiri yang tentukan dan ciptakan!”
Hannum yang tiba-tiba menangis setelah mendengarnya merasa seolah bahwa pesan itu ditunjukkan oleh Ibu Wati kepadanya bukan untuk orang lain.
Hannum yang awalnya ragu untuk memulai kehidupan baru bersama Andika karena trauma di masa lalu pun menarik nafas panjang dan membuat keputusan untuk dirinya dan Rere.
Hannum yang masuk kembali ke dalam Restoran pun melihat Andika sedang duduk di samping Rere sambil menyuapinya pun menyadari senyum bahagia yang tak pernah dilihat Hannum selama beberapa bulan ini.
__ADS_1
“Apakah kau sungguh menginginkan sosok seorang Ayah, Nak? Maafkan Mama yang telah mengambil hakmu itu secara paksa! Mama janji akan mengembalikan hakmu itu lagi!” ucap Hannum dengan keputusan yang bulat di dalam hatinya.
“Mas, aku menerima lamaranmu! Ayo kita segera menikah! Aku dan Rere bersedia ikut denganmu ke Jerman!” ucap Hannum dengan suara yang tegas dengan ekspresi wajah yang serius.
Andika yang tidak percaya dengan ucapan Hannum pun bengong sebentar lalu menatap Hannum bingung.
“Tu-tunggu! Apa kau sungguh menerima lamaranku?” tanya Andika dengan ekspresi wajah yang tidak percaya dengan mata yang terbuka lebar.
“Iya, Mas. Ayo kita menikah dan jadilah Ayah yang baik untuk Rere dan anak kita nantinya!” ucap Hannum dengan senyum yang lembut.
Andika yang tidak menyangka jika lamarannya akan diterima dan perjuangannya selama ini tidak sia-sia menjadi sangat bahagia.
“Terima kasih! Terima kasih! Terima kasih! Aku berjanji bahwa aku tidak pernah menyakitimu!” ucap Andika dengan ekspresi wajah yang sangat bahagia.
“Aku berjanji akan menjadi Ayah yang baik dan bertanggung jawab untuk Rere! Aku berjanji akan menjadikanmu wanitaku satu-satunya dan tak akan pernah ada wanita lain di dalam hidupku selain dirimu kecuali Rere, Putri kita!” ucap Andika dengan senyum jahil saat mengucapkan kalimat terakhirnya.
“Apakah Rere senang jika Om Dika menjadi Papa Rere sekarang?” tanya Hannum dengan ekspresi wajah yang penasaran.
“Rere senang! Rere senang sekali! Hore! Rere punya Papa lagi sekarang!” teriak Rere dengan wajah polosnya dengan senyumnya yang lebar.
Hannum yang melihat senyum lebar di wajah Rere dengan cepat meyakini bahwa keputusan yang dibuatnya adalah keputusan yang sangat tepat.
Ibu Nissa yang mendapatkan kabar bahagia itu langsung bersuka cita dan tanpa pikir panjang memasak makanan yang sangat banyak untuk menyambut Hannum dan Rere datang.
“Hannum, Mama senang sekali mendengar kamu mau menerima Andika! Mama bahagia sekali!” ucap Ibu Nissa sambil memeluk Hannum dengan hangat.
__ADS_1
Hannum yang merindukan pelukan hangat dari seorang Ibu merasa sangat bersyukur karena Ibu Nissa akan menjadi Ibu Mertuanya.
Hari itu menjadi hari yang sangat bahagia bagi Hannum karena pada hari itu Hannum dengan sadar telah meninggalkan masa lalunya dan membuka lembaran baru dalam hidupnya bersama Andika, pria yang mencintainya.
Sementara itu, Alvin yang kembali ke rumahnya setelah dini hari terus mengedor pintu pagar rumah tapi tak ada jawaban sehingga membuat Alvin terpaksa membuka pagar rumah dengan kunci yang dimilikinya.
Alvin yang setengah mabuk pun masuk ke dalam rumah dan membuka pintu kamar dengan kasar dengan niat memarahi Zarrah yang tidur bagaikan orang mati tapi saat dirinya masuk tidak ada jejak kehidupan disana.
“Kemana wanita sialan itu pergi? Dasar wanita j*lang! Suami tidak ada di rumah dan dia pergi keluar begitu saja! lihat saja apa yang akan aku lakukan padanya nanti saat dia kembali!” ucap Alvin dengan wajah yang marah lalu melemparkan jaket serta sepatunya ke sembarang tempat lalu tidur di tempat tidur dengan nyaman tanpa memikirkan Zarrah yang sedang berjuang di ruang operasi melahirkan anaknya.
Zarrah yang dibius setengah sadar dapat merasakan ngilu dan nyeri saat tubuhnya disayat beberapa kali dan tangan yang masuk ke dalam tubuhnya mengeluarkan bayi yang dikandungnya.
Zarrah yang tidak tau telah berapa lama dirinya berada di ruang operasi hanya berharap bahwa baik dirinya dan bayinya akan selamat lalu meminta maaf kepada Hannum.
“Aku telah berdosa! Aku bersalah! Aku harus meminta maaf kepada Mbak Hannum!” ucap Zarrah dalam hati dengan pandangan mata menatap pelafon ruang operasi.
Di saat bersamaan, Ibu Nissa yang memutuskan untuk menginap di rumah Hannum tanpa sadar jika keduanya telah bicara hingga waktu telah larut.
“Hah! Tidak terasa jika waktu sudah sangat larut! Sebaiknya kau tidur! Kita bicarakan pernikahanmu besok pagi!” ucap Ibu Nissa dengan senyum yang lebar dengan antusias yang tinggi membayangkan pernikahan Andika dan Hannum nantinya.
“Baik, Ma. Mama juga sebaiknya tidur. Tidur larut tidak baik untuk kesehatan Mama!” ucap Hannum sambil merapikan piring dan gelas sisa makan dan minum mereka lalu pergi meninggalkan Ibu Nissa sendiri.
Hannum yang terbaring di tempat tidurnya sendirian pun merasakan detak jantungnya berdetak sangat cepat saat memikirkan pernikahannya dengan Andika yang ternyata akan dilaksanakan dalam waktu satu minggu lagi.
“Ini sungguh persiapan pernikahan kilat tapi aku harap pernikahan keduaku ini akan selamanya hingga tutup usiaku!” ucap Hannum dalam doanya lalu memejamkan matanya.
__ADS_1
#Bersambung#
Bagaimana reaksi Alvin saat tau Zarrah di rumah sakit melahirkan anaknya? Apakah Pernikahan Andika dan Hannum akan berjalan lancar? Tebak jawabannya di kolom komentar ya...