Adikku, Penghancur Pernikahanku

Adikku, Penghancur Pernikahanku
BAB 14. Kehilangan Ketertarikan


__ADS_3

Alvin dan Zarrah yang telah pernah melakukan hubungan terlarang itu satu kali ternyata terjerat dan tak bisa keluar dari hubungan tersebut.


Di saat Hannum sedang menjemur pakaian, Zarrah yang melihat Alvin sedang duduk di Ruang Tamu di depan laptopnya pun memberikan kode kepada Alvin.


“Mas, aku duluan ya. Aku tunggu di minimarket depan, ya!” ucap Zarrah dengan suara yang pelan seolah berbisik dengan nada menggoda.


Alvin yang mendengar perkataan Zarrah pun tersenyum licik dan menatap Zarrah dengan tatapan penuh nafsu.


“Jangan khawatir. Mas akan segera menyusulmu setelah Hannum selesai dengan pekerjaannya!” ucap Alvin yang dengan sengaja mer*mas b*kong Zarrah yang terlihat begitu menggoda di mata Alvin.


“Aaarrgghhh! Mas nakal deh. Sabar dong Mas sebentar lagi juga dapat!” ucap Zarrah sambil berbisik di balik telinga Alvin lalu pergi meninggalkan Alvin.


Alvin yang melihat Zarrah pergi pun tersenyum jahil lalu kembali ke layar laptopnya dan bergegas menyelesaikan pekerjaannya.


Alvin yang melihat Hannum telah selesai dengan pakaian dan juga piring yang kotor dengan keringat yang sangat banyak membuat Alvin tanpa sadar kehilangan ketertarikannya pada Hannum.


“Hmmm, kenapa Hannum terlihat sangat dekil dan kotor sekarang? Aku sangat jarang melihatnya merawat diri atau berpakaian yang rapi. Sungguh membuatku merasa tidak nyaman!” ucap Alvin dalam hati dengan wajah yang tidak senang lalu membereskan barang-barangnya.


Hannum yang tidak melihat Zarrah dimanapun dan melihat Alvin merapikan barangnya pun berjalan mendekat.


“Mas, sudah mau berangkat ke Kantor sekarang?” tanya Hannum dengan suara yang lembut dengan senyum yang manis meski hanya memakai daster dengan rambut digulung ke atas.

__ADS_1


“Iya! Aku sudah terlambat jadi aku harus pergi sekarang!” ucap Alvin dengan nada suara yang terdengar ketus tapi hal itu tidak membuat Hannum tersinggung sama sekali karena Hannum hanya berpikir positif kepada Alvin.


Hannum yang berjalan mengantar Alvin menuju mobil pun bertanya tentang Zarrah lalu setelah mendapatkan jawaban yang diinginkan pun membantu Alvin mengeluarkan mobilnya dengan membuka pintu pagar.


“Mas, aku tidak melihat Zarrah. Apakah Zarrah sudah pergi ke Kampus?” tanya Hannum dengan ekspresi wajah yang bingung dan tatapan mata penasaran.


“Dia sudah pergi duluan mungkin satu jam yang lalu!” ucap Alvin yang berbohong karena kenyataannya Zarrah baru pergi sekitar lima belas menit yang lalu.


“Aku harus pergi sekarang. Dek, tolong bukakan pintu pagarnya!” ucap Alvin yang masih mencoba menahan rasa tidak senangnya pada penampilan Hannum.


“Baiklah, Mas!” jawab Hannum dengan senyum yang lembut dan hati yang ikhlas membantu Alvin dengan harapan surga.


“Hah! Sebaiknya aku tidak boleh mengacaukan hariku dengan memikirkan Hannum yang semakin hari semakin terlihat tidak menarik!” ucap Alvin sambil menarik nafas yang panjang.


“Lebih baik aku menemui Zarrah karena dengan melihat dirinya saja sudah membuatku bersemangat!” ucap Alvin yang tanpa sadar tersenyum saat memikirkan waktu yang akan dihabiskannya bersama Zarrah.


Zarrah yang sengaja memesan kost pribadi di sebuah tempat pribadi yang tidak akan ada banyak orang yang datang ataupun peduli pun memutuskan untuk menghabiskan waktu bersama Alvin disana.


“Mas, apa tidak berlebihan menyewa kamar kos lain?” tanya Zarrah dengan wajah yang merasa bersalah.


“Tentu saja tidak! Mas ingin bersama denganmu dan menghabiskan waktu bersama denganmu tanpa ada gangguan dari orang lain!” ucap Alvin sambil memeluk Zarrah di dalam yang ada di sampingnya.

__ADS_1


“Aku juga ingin bersama dengan Mas dan menghabiskan waktu bersama Mas karena di rumah ada Mbak Hannum maka pergerakan kita terbatas!” ucap Zarrah dengan wajah yang sedih.


“Sebenarnya aku senang karena Mas Alvin menyewa tempat ini karena Mas Alvin dan aku bisa menghabiskan waktu bersama kapanpun tanpa harus cemas ketahuan Mbak Hannum!” ucap Zarrah dengan wajah yang bahagia.


Keduanya yang sedang di mabuk asmara pun berkali-kali melakukan hubungan int*m layaknya suami istri di belakang Hannum.


Keduanya melakukan hubungan itu tidak hanya di kamar kos yang secara pribadi disewa oleh Alvin dan Zarrah tapi juga di kamar tidur Hannum dan Alvin di dalam rumah saat Hannum pergi keluar.


“Agh, Mas kamu nakal sekali! Bagaimana jika Mbak Hannum tau jika kita berdua melakukan aktivitas ini di kamarnya?” tanya Zarrah dengan senyum jahatnya tapi terlihat seksi di mata Alvin.


“Hannum tidak akan pernah tau karena ini akan menjadi rahasia kecil kita berdua!” ucap Alvin yang menggoda Zarrah dengan tatapan penuh nafsu.


Setelah aktivitas melelahkan yang dilakukan keduanya secara tak terduga Zarrah pun mengatakan sesuatu yang membuat Alvin menjadi berbeda.


“Mas, aku telah memutuskan untuk menikah dengan Mas Dika! Mas Dika melamarku kemarin!” ucap Zarrah dengan tatapan mata yang lurus ke depan ke arah Alvin.


“Apa? Melamar? Menikah? Andika?” tanya Alvin berulang kali dengan wajah yang terkejut sambil meluruskan posisi duduknya dan melepaskan Zarrah di dalam pelukannya.


#Bersambung#


Bagaimana tanggapan Alvin akan keputusan Zarrah? Apa yang menyebabkan Zarrah membuat keputusan tersebut? Tebak jawabannya di kolom komentar ya..

__ADS_1


__ADS_2