
Zarrah dan Alvin yang selalu menghabiskan waktu bersama menikmati waktu terakhir keduanya bisa bersama di sela-sela waktu Persiapan Pernikahan Zarrah dan Andika tidak menyadari bahwa sebuah kejadian akan menngejutkan keduanya.
“Mas tidak yakin bisa melihatmu menikah dengan Andika! Jadi tepat setelah Acara Pernikahanmu, Mas putuskan untuk pergi ke luar kota!” ucap Alvin dengan ekspresi wajah yang sedih.
“Maafkan Zarrah, Mas. Zarrah tidak punya pilihan lain!” ucap Zarrah dengan wajah yang sedih dengan tatapan mata yang pasrah.
“Ini bukan salahmu. Salahkan keadaan dan situasi yang membuat kita menjadi seperti ini!” ucap Alvin yang mencoba menenangkan Zarrah.
“Yang dikatakan Mas benar. Aku yakin waktu untuk kita bersama akan datang dan saat itu terjadi tak akan ada yang akan memisahkan kita, Mas!” ucap Zarrah yang langsung bersandar di dalam pelukan Alvin.
Waktu berlalu, Pernikahan yang akan terjadi seminggu lagi membuat Zarrah menjadi semakin cemas terutama pada kondisi tubuhnya.
“Hah! Kenapa kepalaku terasa pusing sekali? Rasanya juga ingin muntah dan mual sekali!” ucap Zarrah dalam hati sambil memegang kepalanya yang terasa sangat sakit.
Zarrah yang mencoba mencari tau penyakit yang dideritanya berdasarkan keluhan penyakit yang dideritanya menjadi terkejut dengan akhir pencariannya.
“Apa ini? Kenapa semua pencarian berakhir pada kehamilan?” tanya Zarrah dengan wajah yang kesal sambil melemparkan handphone yang ada di tanggannya di kasur.
“Apa aku benar-benar hamil? Anak ini adalah anakku dan Mas Alvin!” ucap Zarrah dengan ekspresi wajah yang bingung sambil mengelus perutnya yang rata.
Zarrah yang menjadi sangat bingung dan cemas pun melihat kalender yang ada di dalam kamarnya di Malang lalu menghitung jadwal dirinya biasanya datang bulan.
“Tu-Tunggu! Sekarang tanggal 10 dan bulan kemarin aku haid di tanggal 3. Bukankah seharusnya aku sudah datang bulan sekarang?” tanya Zarrah pada dirinya sendiri dengan ekspresi wajah yang tidak percaya akan kenyataan.
“Kenapa aku belum datang bulan juga? Hah! Apa aku benar-benar hamil anaknya Mas Alvin?” tanya Zarrah dengan wajah yang cemas.
“Tidak! Aku tidak boleh menduga-duga. Aku harus memastikannya sendiri. Sebaiknya aku keluar dan membeli alat testpack!” ucap Zarrah dengan tekad yang membara.
Zarrah yang merasa sangat cemas akan kemungkinan buruk yang menghantuinya pun pergi ke apotek yang jauh dari tempat tinggalnya dan membeli tiga alat testpack yang disimpan di dalam tasnya.
__ADS_1
“Aku akan memakai alat testpack ini besok pagi karena katanya hasilnya akan terlihat akurat jika dilakukan saat air seni pertama setelah bangun tidur!” ucap Zarrah yang menyimpan dua testpack di dalam lemari terdalamnya dan satu testpack lainnya di dalam tas karena ingin digunakan keesokan paginya.
Namun sebelum alat testpack itu digunakan keesokan paginya, Hannum yang kehabisan batrei handphonenya pun meminjam charger Zarrah.
Zarrah yang tidak berpikir jika Hannum akan menemukan alat testpack yang disimpannya di dalam tas menjadi sangat terkejut saat Hannum memegang alat testpack yang tersimpan di dalam tasnya.
“Kenapa alat ini ada di dalam tasmu Dek? Apa kamu sudah hamil duluan?” tanya Hannum dengan ekspresi wajah yang terkejut.
“Mbak ini kenapa? Aku tidak hamil dan bagaimana bisa aku hami lalu anak siapa yang aku kandung!” ucap Zarrah yang berdalih di hadapan Hannum.
“Alat testpack itu bukan milikku. Itu milik temanku. Dia memintaku membelinya karena dia malu pergi ke Apotek dan membeli alat tersebut. Dia takut Apoteker berpikir sembarangan tentangnya!” ucap Zarrah yang berbohong tanpa berkedip sama sekali.
Hannum yang mendengar penjelesan Zarrah menjadi sedikit lega meskipun terdapat sedikit perasaan cemas di hati kecilnya.
“Dek, jangan melakukan hal yang akan mempermalukan nama baik keluarga! Kasian Bapak yang sudah ada di Surga. Bapak pasti akan sangat sedih dan tersiksa!” ucap Hannum dengan wajah yang sedih.
“Mbak Hannum bicara apa sih? Jangan menyebut nama Bapak seperti itu. Aku tidak melakukan hal buruk apapun. Aku dan Mas Dika pun tidak pacaran sama sekali. Kami bahkan langsung menikah!” ucap Zarrah dengan nada suara yang meninggi dengan wajah yang kesal.
Hannum yang tidak berbuat apapun pun menyerah dan memutuskan percaya akan perkataan Zarrah.
Sementara itu, Zarrah yang hampir saja ketahuan pun merasa kekuatan kakinya langsung hilang tepat setelah dirinya mengusir Hannum keluar dan mengunci pintu kamarnya.
“Hah! Hampir saja! Untunglah Mbak Hannum tidak bertanya lebih tentang masalah ini jika tidak maka aku akan kesulitan menyembunyikan kenyataan ini!” ucap Zarrah dengan suara yang rendah dengan wajah yang sedikit lega.
“Aku harus mendapatkan hasilnya keesokan harinya. Aku harap semua dugaanku salah dan aku tidak hamil!” ucap Zarrah dalam hati dengan wajah yang cemas.
Zarrah yang berniat tidur ternyata kesulitan tidur hingga waktu menunjukkan pukul dua dini hari akhirnya Zarrah bisa tertidur lelap.
Zarrah yang tidak tidur dengan nyenyak pun terbangun pukul lima pagi dan bergegas ke kamar mandi dan menyembunyikan alat testpack miliknya.
__ADS_1
“Aku harus mendapatkan hasilnya sekarang! Aku tidak bisa menunda lagi karena Hari Pernikahanku dan Mas Dika hanya tingga menghitung hari!” ucap Zarrah dalam hati dengan wajah yang cemas.
Zarrah yang pergi ke kamar mandi dengan alasan ingin mandi dan melaksanakan Shalat Shubuh pun mulai melakukan pengecekan.
Zarrah yang meletakkan air seni pertamanya di dalam wadah kecil pun meletakkan alat testpack ke dalamnya.
Zarrah yang menunggu beberapa menit hingga alat testpack itu menunjukkan hasilnya pun merasakan jika dirinya semakin tidak tenang.
“Tenanglah Zarrah! Semuanya pasti akan baik-baik saja! Kau tidak hamil! Kau hanya mengalami stres karena akan segera menikah!” ucap Zarrah dalam hati yang terus meyakinkan dirinya akan kenyataan yang diharapkannya.
Zarrah yang melihat jika hasil testpack itu telah keluar pun mencoba menenangkan jantungnya yang terus berdetak dengan sangat kencang lalu menutup matanya sebelum melihat hasil dari pemeriksaannya.
“Hah! Semua baik-baik saja! Sa-satu! Dua! Tiga!” ucap Zarrah yang mencoba menghitung angka hingga akhirnya siap melihat hasil testpack-nya.
Zarrah yang terus melihat garis yang muncul pada alat testpack yang ada di tangannya pun menjadi sangat terkejut saat menemukan dua buah garis merah pada alat testpack yang dipegangnya.
“Du-dua garis! Tidak mungkin! Ini pasti salah! aku tidak mungkin Ha...!” ucap Zarrah yang dengan cepat menutup mulutnya karena tidak ingin ada orang yang mengetahui tentang kenyataan yang ada di depannya.
Zarrah yang tidak percaya pada hasil test yang digunakannya pertama pun membuka alat testpack kedua dan ketiga dan akhirnya menyerah setelah ketiganya memberikannya jawaban yang sama.
Zarrah yang awalnya bisa berdiri dengan tegap akhirnya kehilangan kekuatan kakinya dan terduduk di tempatnya sambil memegang alat testpack terakhir.
“Ti-tidak mungkin! Ini tidak mungkin! Ini pasti hanya mimpi buruk!” ucap Zarrah dengan wajah yang terkejut sambil mencubit pergelangan tangannya dengan erat.
“Aaarrgghh! Sakit!” ucap Zarrah yang meringis dengan wajah kesakitan dengan mata yang terbuka lebar.
Aku merasakan sakit. A-apakh itu artinya ini bukanlah mimpi buruk tapi kenyataan?” tanya Zarrah lagi pada dirinya dengan wajah yang tidak bisa menerima kenyataan yang ada.
“A-aku.... A-aku sungguh-sungguh hamil!” ucap Zarrah yang dengan cepat melepaskan testpack di tangannya dan menutup mulutnya dengan sangat erat yang secara perlahan mengubah wajah Zarrah menjadi pucat.
__ADS_1
#Bersambung#
Wow... Zarrah hamil anaknya Alvin! Apa yang akan dilakukan Zarrah? Bagaimana respon Alvin akan berita kehamilan Zarrah?” tebak jawabannya di kolom komentar ya.