Adikku, Penghancur Pernikahanku

Adikku, Penghancur Pernikahanku
BAB 9. Mudik ke Malang


__ADS_3

Beberapa hari berlalu, Hannum yang harus pergi ke Malang secara mendadak karena mendapatkan telepon dari tetangganya di Malang langsung meminta izin kepada Alvin.


“Mas, Ibu jatuh saat sedang menjemur pakaian. Mas, aku harus segera pergi ke Malang!” ucap Hannum dengan wajah yang bingung dengan tatapan mata yang menunjukkan kekhawatiran yang besar.


“Kalau begitu Mas akan mengantar kamu pergi ke Malang sekarang!” ucap Alvin yang ikut menjadi panik saat dihubungi melalui sambungan telepon.


“Agh, Mas tidak pelu mengantarku pergi. Mas bisa pergi menyusulku besok pagi saja. Bukankah Mas ada meeting pentingan dengan client siang ini?” tanya Hanum dengan wajah yang merasa bersalah.


“Hah! Baiklah! Mas pun tak bisa melakukan apapun pada kondisi seperti ini. Jika kau ingin segera pergi ke Malang maka silahkan tapi kau harus hati-hati. Mas dan Rere akan menyusulmu besok pagi!” ucap Alvin yang mencoba menenangkan Hannum yang sedang kebingungan.


“Ya, tentu saja, Mas. Terima kasih, Mas!” ucap Hannum dengan wajah yang bahagia dengan senyum yang tulus.


Hannum yang tidak bisa membiarkan Ibunya yang sedang sakit sendirian di Malang pun memutuskan untuk segera pergi ke Malang.


“Dek, Ibu sakit. Ibu jatuh saat menjemur baju jadi sekarang Mbak mau segera ke Malang untuk melihat Ibu!” ucap Hannum dengan wajah yang cemas.


Zarrah yang ikut terkejut mendengar Ibunya sakit pun ikut merasa sedikit cemas tapi perasaan cemas itu hanya di awal dan berganti dengan perasaan penuh semangat.


“Ibu sakit dan Mbak Hannum akan pergi ke Malang sekarang. Itu artinya Mbak Hannum akan pergi sendirian tanpa Mas Alvin!” ucap Zarrah dalam hati dengan sedikit senyum kecil di sudut bibirnya.


“Bukankah ini kesempatan yang bagus untuk bisa mendekati Mas Alvin dan mengambil Mas Alvin dari Mbak Hannum?” tanya Zarrah yang secara tak sadar telah memiliki niat yang sangat buruk kepada Hannum, Kakak Kandungnya Sendiri.


Zarrah yang mengetahui bahwa Hannum harus buru-buru pergi dan mengejar pesawat menuju ke Malang pun membantu Hannum mengemasi barang miliknya.


Zarrah yang telah lama tinggal di rumah Hannum dan Alvin tidak pernah memasuki kamar Saudari Perempuan dan Iparnya itu.


Lalu saat Zarrah memasuki kamar itu, perasaan iri dan tidak senang memasuki hati Zarrah dan memunculkan keinginan untuk mengambil semua milik Hannum.

__ADS_1


“Kamar ini sangat luas bahkan dua kali lipat lebih luas dari kamar milikku. Kamar ini bahkan memiliki AC yang berbanding terbalik dengan kamarku yang hanya memiliki kipas angin!” ucap Zarrah dalam hati dengan wajah yang tidak senang.


“Ini sungguh tidak adil! Kenapa Mbak Hannum selalu mendapatkan yang terbaik dan aku tidak? Mbak Hannum tidak hanya memiliki suami yang tampan, baik, dan juga kaya tapi juga diperlakukan seperti Ratu. Kenapa aku tidak bisa seperti itu?” tanya Zarrah dalam hati dengan tatapan mata yang iri.


“Aku tidak ingin kalah. Bukankah kita saudara? Bukankah sesama Saudara berbagi bukanlah hal yang salah? Ibu bahkan sering meminta Mbak Hannum berbagi denganku jadi berbagi Suami pasti tidak akan salah, bukan?” tanya Zarrah dalam hati dengan senyum yang licik.


Di saat Zarrah sedang fokus dengan pikirannya tiba-tiba Hannum membangunkan lamunannya dan membuat Zarrah memasang topeng Saudara yang baik kembali.


“Zarrah, kenapa kau diam saja? Ayo kemari dan bantu Mbak untuk merapikan ini semua!” ucap Hannum dengan nada suara yang terdengar terburu-buru.


“Agh, Ma-maafkan aku Mbak! Aku hanya sedikit terkejut dengan besarnya kamar ini!” ucap Zarrah dengan senyum yang canggung.


Zarrah yang tidak sabar untuk berdua bersama dengan Alvin pun membantu Hannum mengemasi barangnya dengan sangat cepat.


“Mbak, semuanya telah aku masukkan! Apakah ada lagi yang perlu aku bantu?” tanya Zarrah dengan wajah yang berpura-pura sedih.


“Tidak ada! Semuanya telah lengkap. Sekarang Mbak harus segera ke Bandara karena Mbak takut secara tiba-tiba jadwal penerbangan akan berubah!” ucap Hannum dengan wajah yang cemas.


“Hmmm, Mbak Hannum telah pergi sekarang dan itu artinya aku memiliki kesempatan untuk meningkatkan hubunganku dengan Mas Alvin!” ucap Zarrah sambil memasuki kamar Hannum dan Alvin.


“Agh! Kamar ini sangat luas dan besar serta dingin. Kamar ini sangat tidak cocok ditempati oleh Mbak Hannum yang kuno!” ucap Zarrah yang melihat foto pernikahan Alvin dan Hannum yang terpajang di dinding di atas tempat tidur.


“Hmmm, kamar ini sangat cocok denganku yang cantik dan seksi!” ucap Zarrah dengan senyum yang licik lalu berjalan keluar dari kamar menuju kamarnya.


Zarrah yang mendengar suara mobil memasuki rumah pun menyadari bahwa Alvin telah pulang bersama Rere.


Zarrah yang ingin segera menemui Alvin dan merasakan sentuhan dan kecupan hangat dari Alvin langsung memikirkan cara untuk menyingkirkan Rere, Keponakannya.

__ADS_1


“Mas! Rere! Kalian sudah pulang rupanya!” ucap Zarrah yang bergegas muncul dengan nada suara yang dibuat sedih.


“Tante!” panggil Rere dengan wajah yang ikut sedih karena sebenarnya Rere sudah mengetahui bahwa Neneknya sedang sakit dan Mama telah terbang ke Bandara merawat Neneknya.


“Rere, jangan cemas. Nenek pasti akan segera sembuh, bukankah sudah ada Mama disana?” tanya Zarrah dengan senyum yang lembut.


“Mama akan segera pulang setelah mengetahui bahwa Nenek telah sembuh total jadi Rere harus jadi anak yang pintar!” ucap Zarrah sambil mengelus rambut Rere.


“Sekarang sebaiknya Rere masuk kamar untuk mandi lalu mengganti pakaian. Rere pun harus segera menyelesaikan PR agar Mama tidak khawatir juga!” ucap Zarrah dengan senyum yang lembut.


“Ya, Tante. Rere akan jadi anak yang baik!” ucap Rere dengan tekad yang kuat dengan senyum yang lebar.


Rere yang memahami perkataan Zarrah langsung melakukan yang dikatakan Zarrah padanya yang membuat Zarrah hanya berdua saja dengan Alvin.


Alvin yang awalnya khawatir akan Rere yang tidak terbiasa jauh dari Hannum pun menjadi lega saat melihat Rere melakukan seperti yang dikatakan Zarrah padanya.


“Terima kasih! Akhirnya Rere mau menurut juga!” ucap Alvin yang merasa lega karena Alvin tak bisa membawa Rere bersamanya ke Malang menemui Hannum nantinya.


Zarrah yang mendengar kata-kata terima kasih dari Alvin pun tersenyum licik kepada Alvin dan memulai rencananya.


“Hmmm, apa yang akan Mas lakukan sebagai balasannya?” tanya Zarrah yang berjalan mendekati Alvin sambil memakai kaos polos dengan belahan d*da yang terlihat serta celana pendek.


Alvin yang melihat belahan d*da Zarrah pun mulai tergoda dan merasakan panas pada tubuhnya lalu tak terduga keduanya pun saling berc*uman dengan sangat lembut lalu semakin panas.


Di saat tangan Alvin sudah mulai berjalan ingin menyentuh dua belahan d*da Zarrah tiba-tiba Zarrah mendorong Alvin menjauh.


“Tu-tunggu Mas! Sepertinya aku mendengar ada suara orang di luar!” ucap Zarrah dengan wajah yang cemas dan panik.

__ADS_1


#Bersambung#


Siapakah yang datang itu? Apakah Hannum kembali lagi ke rumah dan melihat yang telah dilakukan Zarrah dan Alvin? Tebak jawabannya di kolom komentar ya...


__ADS_2