
Hannum yang tidak tenang membiarkan Alvin sendirian di Rumah di Ibukota pun memutuskan untuk segera kembali dengan menggunakan penerbangan pertama keesokan harinya.
"Ibu, maafkan Hannum. Hannum sungguh harus segera pulang karena Mas Alvin kesulitan sendirian di Rumah!" ucap Hannum yang mencoba meminta izin Ibu Wati.
"Ibu sebenarnya ingin kau ada di sini lebih lama lagi tapi jika Suamimu yang memintamu untuk segera kembali maka Ibu tidak bisa mencegah kepulanganmu kepada Suamimu!" ucap Ibu Wati dengan wajah yang sedih.
"Maafkan Hannum, Bu!" ucap Hannum dengan hati yang berat meninggalkan Ibunya begitu cepat tapi perasaan tidak tenang itu membuat Hannum meyakinkan dirinya bahwa keputusannya adalah yang terbaik.
Di saat Hannum sedang merapikan pakaiannya dan Rere secara tiba-tiba kedatangan Kakak Kandungnya Alvin yang menginap di Rumah Orangtuanya.
"Hannum? Apakah kamu ada di dalam? Bolehkah Mbak masuk ke dalam?" tanya Mbak Yura dengan suara yang lembut dan perlahan.
"Mbak Yura? Masuklah Mbak!" jawab Hannum yang tak kalah lembut sambil mengubah ekspresi wajahnya yang cemas menjadi ceria kembali.
"Ada apa Mbak? Apa Mbak mau ikut pulang ke Ibukota bersama denganku?" tanya Hannum dengan wajah yang penasaran.
__ADS_1
"Tidak! Mbak tidak pulang dengan Pesawat karena Mbak putuskan akan pulang dengan kereta api!" ucap Mbak Yura yang menolak ajakan Hannum dengan tegas.
"Aku datang hanya ingin bertanya tentang Alvin. Apakah kalian bertengkar? Mbak tidak melihat Alvin ada di Acara Resepsi Adikmu kemarin!" ucap Mbak Yura dengan ekspresi wajah yang penasaran dan tatapan mata yang cemas.
Hannum yang bisa merasakan kepedulian yang tinggi dari Mbak Yura dengan cepat menggelengkan kepalanya karena tak ingin membuat Mbak Yura cemas.
"Tidak Mbak! Kami bail-baik saj. Mas Alvin dapat panggilan darurat dari Kantornya makanya dia segera pulang ke Ibukota lebih awal!" ucap Hannum yang menyembunyikan aib Alvin dengan sangat rapi.
"Apa kau yakin? Mbak sangat menyayangimu Hannum dan Mbak sudah menganggapmu sebagai Adik Mbak senditi. Jika hubungan kalian baik-baik saja. Mbak merasa lega!" ucap Mbak Yura dengan senyum yang lembut.
Mbak Yura yang telah berdiri dan berniat pergi tiba-tiba memberikan peringatan kepada Hannum yang membuat Hannum menjadi semakin gelisah.
"Hannum, Mbak tau kau sangat percaya pada Alvin tapi Mbak harap kamu tidak percaya padanya seratus persen karena dia adalah laki-laki!" ucap Mbak Yura dengan wajah yang serius.
"Mbak tidak ingin mengajarkan hal buruk tapi Mbak harap kamu sekali-sekali mengecek isi handphone Alvin untuk mencaritau kebenarannya!" ucap Mbak Yura yang dengan cepat pergi meninggalkan Hannum sendirian di dalam kamar yang terdiam sesaat karena bingung.
__ADS_1
Hannum yang telah selesai dengan pekerjaannya pun bergegas pergi ke Bandara setelah berpamitan dengan orang-orang yang ada di rumah.
Sementara itu, Alvin yang terbangun setelah semalaman pergi bersama teman-temannya melupakan Zarrah yang menikahi pria lain pun mengambil handphonenya.
"Hannum! Argh! Kepalaku sakit sekali!" ucap Alvin dengan wajah kesakitan sambil memegang kepalanya yang terasa sangat sakit dan berat.
Alvin yang menyadari bahwa Hannum akan segera pulang dengan cepat merendam pakaian yang dipakai lalu membersihkan diri.
"Meskipun sedang sangat kacau sekarang tapi Hannum tidak boleh tau apa yang terjadi padaku!" ucap Alvin dengan tekad yang kuat.
Tak butuh waktu lama, Hannum yang telah dalam perjalanan akhirnya sampai di Ibukota pun bergegas pulang ke rumahnya bersama Rere tapi justru tidak melihat Alvin di Rumah.
"Mas Alvin? Dia pasti sedang bekerja sekarang. Sebaiknya aku bersih-bersih sambil menunggu kepulangannya ke Rumah lalu aku akan bertanya kenapa sejak kemarin Mas Alvin tidak ada kabar?" ucap Hannum yang mencoba menenangkan dirinya sendiri.
#Bersambung#
__ADS_1