
Tiga hari sebelum hari Pernikahan, Andika dan Keluarganya yang telah sampai di Malang pun memutuskan untuk menyewa satu rumah kosong selama satu bulan.
Zarrah yang semakin cemas akan kehamilannya yang bisa saja diketahui orang-orang pun berdalih bahwa dirinya sedang tidak sehat.
“Nak, jika kamu tidak sehat sebaiknya istirahat saja di kamar. Jangan dipaksakan untuk tetap di sini. Hari Pernikahanmu tingga menghitung jari jadi kau harus sehat!” ucap Ibu Wati dengan wajah yang cemas.
Ibu Nissa yang sejak awal menentang Pernikahan antara Andika dan Zarrah tidak telalu memperdulikan Zarrah dan tanpa disadari menjadi suka kepada Hannum.
“Hmmm, kedua saudari itu terlihat sangat berbeda pada sikapnya padahal mereka adalah saudara kandung!” gumm Ibu Nissa yang sengaja menguatkan ucapannya agar Zarrah mendengarnya.
Zarrah yang tidak ingin membatalkan Pernikahannya karena ucapan Calon Ibu Mertuanya itu pun hanya bisa menahan diri dan bersabar.
“Sial! Dasar Nenek Lampir Peot! Beraninya dia membandingkan aku dengan Mbak Hannum! Apa matanya buta tidak bisa melihat bahwa aku jauh lebih baik daripada Mbak Hannum!” ucap Zarrah dengan hati yang kesal tapi senyum lembut di bibir dan wajahnya.
“Hmmm, Mbak Hannum tidak akan bisa dibandingkan denganku bahkan Suaminya pun lebih memilih untuk bersamaku dibandingkan dengan Mbak Hannum!” ucap Zarrah dalam hati dengan sikap yang sombong.
__ADS_1
“Bukankah itu berarti bahwa aku jauh lebih bisa memuaskan Mas Alvin di ranjang daripada Mbak Hannum? Aku pun jauh lebih cantik dan seksi dari Mbak Hannum!” ucap Zarrah dalam hati dengan percaya diri.
Sementara itu, Alvin yang berusaha mendapatkan Obat Penggugur Kandungan dari Internet selama beberapa hari bahkan mengabaikan Hannum pun langsung memberikan Obat tersebut kepada Zarrah setelah Obat tersebut ada di tangannya.
Alvin yang menemui Zarrah di tempat yang sepi pun memberikan dua buah botol berwarna putih dan biru kepada Zarrah.
“Minum obat yang pertama berwarna putih terlebih dahulu lalu saat terasa sangat sakit di bagian perut jangan tunda lagi untuk meminum obat berwarna biru!” ucap Alvin dengan ekspresi wajah yang serius.
Zarrah yang menanggapi ucapan Alvin dengan perhatian bergegas menyimpan Obat yang diberikan Alvin kepadanya dan berlalu pergi.
Namun tanpa disadari keduanya, Ibu Nissa ternyata melihat interaksi keduanya dan menjadi curiga lalu memberitau Andika akan hal itu.
“Mama jangan mengatakan fitnah seperti itu. Mas Alvin dan Zarrah tidak mungkin memiliki hubungan seperti yang Mama katakan!” ucap Andika dengan tegas yang membela Zarrah.
“Mas Alvin adalah Pria yang baik dan sangat mencintai Mbak Hannum dan Putrinya jadi tidak mungkin jika Mas Alvin melakukan hal buruk seperti itu!” ucap Alvin dengan ekspresi wajah yang tidak percaya lalu pergi meninggalkan Ibu Nissa yang kesal.
__ADS_1
Ibu Nissa yang melihat Putranya tidak akan pernah mendengarkan apapun yang dikatakannya pun menyerah dan semakin tidak menyukai Zarrah.
Di saat yang bersamaan, Zarrah yang tidak ingin ketahuan orang lain pun bergegas masuk ke dalam kamarnya dan mengunci kamarnya lalu masuk ke dalam kamar mandi.
Zarrah yang meletakkan dua botol obat yang diberikan Alvin di dekatnya pun melakukan seperti yang diperintahkan Alvin padanya.
Zarrah yang meminum botol berwarna putih lebih dulu secara tak terduga langsung merasakan perutnya sangat sakit dan keram hanya dalam waktu sepuluh menit.
Zarrah yang tidak bisa menahan rasa sakit itu pun masuk ke dalam kamar mandi dan meminum obat di botol kedua.
Rasa sakit yang dirasakan Zarrah semakin hari semakin sakit dan tidak bisa ditahannya hingga membuat Zarrah terduduk di lantai kamar mandi.
Zarrah yang merasakan ada sesuatu yang keluar dari bagian kemal*annya pun melihat ke arah bawah dan menyadari bahwa darah merah segar yang keluar begitu banyak.
“A-apakah aku sungguh telah keguguran?” tanya Zarrah dengan wajah yang sangat bahagia dan lega di saat bersamaan dan secara tak terduga melihat sebuah gumpalan darah yang sangat besar juga ada di lantai kamar mandi.
__ADS_1
#Bersambung#
Waw! Zarrah sungguh tega menghilangkan janin yang tidak berdosa di dalam rahimnya. Akankah Zarrah akan menerima balasan dari perbuatannya itu? Tunggu karmanya di BAB-BAB selanjutnya ya...