Adikku, Penghancur Pernikahanku

Adikku, Penghancur Pernikahanku
BAB 38. Kematian Ibu Wati


__ADS_3

Zarrah yang melihat sikap dingin dan cuek Alvin menjadi kesal lalu menggigit bibir bawahnya dan menggenggam sprei ranjang Alvin dengan erat.


"Tidak! Aku tidak boleh menyerah dengan sedikit penolakan ini! Mas Alvin tidak mungkin sungguh-sungguh menolakku." ucap Zarrah dengan ekspresi wajah tidak percaya.


"Aku sangat tau tentang kebutuhan seksualnya. Mas Alvin telah lama pisah ranjang dengan Mbak Hannum dan Mas Alvin telah lama tidak melepaskan hasratnya!" ucap Zarrah dengan mata yang menguatkan tekad.


"Aku yakin Mas Alvin sudah tergoda dan menginginkan tubuhku jadi aku hanya perlu memberinya sedikit dorongan!" ucap Zarrah dalam hati dengan senyum yang licik.


Zarrah yang tidak ingin menyerah meski telah ditolak satu kali oleh Alvin pun mencoba menggoda Alvin satu kali lagi dengan cara yang lebih berani.


"Apakah kamu sungguh ingin aku pergi dari sini, Mas? Jawab aku Mas dengan menatap mataku!" ucap Zarrah dengan nada suara yang seolah mendesak lalu mendekat ke arah Alvin.


"Mbak Hannum sedang ada di kamar Ibu jadi Mbak Hannum tak akan tau jika aku ada di dalam kamar ini bersama Mas!" bujuk Zarrah dengan suara yang lembut.


"Kita telah lama tidak bertemu Mas. Apa Mas sungguh tidak merindukan Zarrah? Zarrah sangat merindukan belaian kasih sayang dari Mas!" ucap Zarrah yang dengan sengaja menyentuh tangan Alvin dengan wajah yang memerah karena malu.


Alvin yang bersekukuh menolak Zarrah bahkan hingga memalingkan wajahnya langsung berbalik saat Zarrah menyentuh tangannya.


Alvin yang melihat Zarrah ada di depan matanya dengan wajah yang sangat cantik sambil memakai pakaian yang seksi bahkan menonjolkan bagian-bagian terbaiknya membuat Alvin terkesima.


Zarrah yang merasa Alvin telah tergoda dengan kecantikan dan keindahan tubuhnya pun semakin mendekatkan tubuhnya dan memberanikan dirinya menc*um Alvin lebih dulu.


Alvin yang merasakan setruman mau dengan rasa manis di bibirnya saat bibirnya dan Zarrah bertemu merasakan candu dan perasaan tak ingin melepaskan.


Alvin yang telah terjerat pun ikut merapat dan mempersempit jarak antara dirinya dan Zarrah lalu memeluk tubuh Zarrah dengan erat sambil memperdalam pergulatan c*uman keduanya.


Zarrah yang kehabisan nafas karena c*uman intens dari Alvin pun perlahan mendorong pelan tubuh Alvin menjauh darinya.


"Uhmmm... Hah! Aku kehabisan nafas, Mas!" ucap Zarrah dengan wajah yang memerah tapi tetap mendekatkan tubuhnya pada Alvin.


Alvin yang telah dikuasai oleh nafsu dan tak bisa menahan diri lagi karena merasakan kehangatan seorang wanita yang telah lama tak didapatkannya semenjak perselingkuhannya dengan Zarrah terbongkar merasa jika hasratnya telah menjadi semakin meninggi dan naik.

__ADS_1


Alvin yang tak tahan untuk melakukan hal yang selama ini keduanya lakukan diam-diam di belakang Hannum pun Andika pun berdiri mematikan lampu dan mengunci pintu yang hanya menyisahkan lampu tidur kecil sebagai penerangannya.


Zarrah yang telah terbaring manja di atas tempat tidur Alvin pun merentangkan tangannya ke atas menyambut kedatangan Alvin yang telah dengan sangat cepat melepaskan bajunya lalu berjalan mendekati Zarrah.


Zarrah yang sangat senang karena rencananya telah berhasil dengan sangat baik pun merasa sangat puas.


"Aku tau kau tak akan pernah bisa menolakku, Mas! Kau akan selalu tunduk di bawah sel*ngkang*nku, Mas!" ucap Zarrah dalam hati dengan senyum licik sambil memeluk Alvin yang telah ada di di atasnya.


Sementara itu, Hannum yang sedang duduk membaca kitab suci di samping Ibu Wati langsung menghentikan yang dilakukannya saat mendengar Ibu Wati memanggil namanya.


"Ha-Hannum....!" panggil Ibu Wati dengan nada suara yang gagap dengan ekspresi wajah yang sedih dan tubuh yang sangat lemah.


"Ibu....! Ada apa, Bu? Apa Ibu ingin sesuatu? Katakan saja. Hannum akan mengambilkannya untuk Ibu." ucap Hannum dengan terburu-buru.


"Ha-Haus....." ucap Ibu Wati dengan suara yang sangat pelan dan lembut serta wajah yang sangat putih seputih kertas.


"Haus? Tunggu! Hannum akan ambilkan air dulu!" ucap Hannum buru-buru sambil bergerak mengambilkan air minum yang ada di atas meja di samping tempat tidur.


Hannum yang telah mengambill air segera memberikannya kepada Ibu Wati dengan cara membantu Ibu Wati duduk sebentar lalu berbaring kembali.


Hannum yang melihat senyuman itu bukanlah bahagia tapi semakin sedih. Perasaan Hannum menjadi sangat kacau saat mendengar perkataan yang dikatakan oleh Ibu Wati di detik terakhirnya.


"Tu-tunggu! Hannum akan memanggil Zarrah dan Mas Alvin dulu kemari!" ucap Hannum yang dengan cepat menghapus air mata yang jatuh ke pipinya.


Ibu Wati yang tak ingin melihat Zarrah langsung menghentikan Hannum dan memperlakukan Hannum dengan sangat lembut sehingga membuat Hannum semakin sedih dan tak kuasa menahan tangisnya.


"Kau tak perlu melakukan itu. Ibu hanya ingin melihatmu dan bicara denganmu." ucap Ibu Wati dengan wajah yang sedih sambil memegang tangan Hannum dengan lembut.


"Jangan menyerah dan putus asa. Tuhan memberikan ujian hanya pada hambanya yang menurutnya bisa menjalankannya!" ucap Ibu Wati lagi.


"Tetaplah kuat menjalani hidup. Ingatlah, kau masih memiliki tanggung jawab mendidik Rere!" ucap Ibu Wati dengan senyum lembut.

__ADS_1


"Akan selalu ada kebahagiaan di balik kesedihan dan air mata! Percayalah!" ucap Ibu Wati dengan suara yang lembut dengan genggaman tangan yang erat.


Ibu Wati yang telah mengatakan semua yang ingin dikatakannya kepada Hannum pun mengalami sakaratul mautnya.


Hannum yang menyadari bahwa hanya dirinya yang bisa menuntun Ibu Wati di detik-detik terakhirnya pun membantu Ibu Wati mengucapkan dua kalimat syahadat.


Hannum yang melihat sendiri Ibu Wati menghembuskan nafas terakhirnya tak bisa menguasai dirinya sepenuhnya.


Tangisan kesedihan karena kehilangan orang yang sangat berarti bagi dirinya untuk kedua kalinya membuat Hannum terpuruk.


"Ma-Maafkan Hannum ya-yang belum bisa membuat Ibu bahagia. Ma-Maafkan Hannum! In-Insyaallah, Hannum ikhlas. Hannum ikhlas melepas Ibu kembali ke sisinya!" ucap Hannum dengan suara terbata-bata dengan air mata yang telah terhapus di pipinya sambil berusaha tersenyum melepas kepergian Ibu wati kembali kepada Sang Pencipta.


Hannum yang tidak tau harus melakukan apa setelah kematian Ibu Wati langsung menutup tubuh Ibu Wati dengan selimut lalu mengambil handphonenya menghubungi seseorang.


"Assalamualaikum, Ma. Ma, Ibu sudah pergi. Ibu sudah pergi kehadapan Sang Pencipta!" ucap Hannum dengan suara yang sedang berusaha tegar dengan air mata yang kembali jatuh saat mengingat detik-detik kematian Ibu Wati.


Ibu Nissa yang sangat terkejut dengan kabar tersebut hanya bisa menguatkan Hannum yang sedang berduka sambil berjanji akan segera ke Malang dengan penerbangan tercepat bersama Andika.


Hannum yang merasa sangat bersyukur karena masih memeliki orang yang peduli padanya dengan sosok lembut dan baik hati seperti Ibunya.


Hannum yang tau jika dirinya harus memberi tau Zarrah terlebih dahulu tentang kepergian Ibu Wati untuk selama-lamanya pun memutuskan pergi menuju kamar Zarrah.


Namun sebelum Hannum sampai di kamar Zarrah, Hannum yang berjalan melewati kamar Alvin mendengar suara Zarrah yang sedang mengerang penuh kenikmatan.


Hannum yang tidak menyangka jika Zarrah dan Alvin akan melakukan hal yang tidak terpuji itu di rumah orangtuanya bahkan di saat Ibunya sedang menghadapi sakarataul mautnya menjadi sangat sedih dan marah di saat bersamaan.


Meskipun begitu, situasi yang membuatnya harus mengontrol dirinya dan menahan amarah serta rasa sedih dan kecewanya.


Hannum yang tidak mendengar suara apapun lagi dari dalam kamar Alvin pun menarik nafas panjang lalu mengetuk pintu kamar Alvin dengan perlahan.


"Sabarlah Hannum! Kamu kuat! Kamu harus kuat! Semua demi Ibumu yang telah tiada dan demi Rere yang sendirian di Ibukota!" ucap Hannum dalam hati dengan tangan terkepal erat sambil menghapus sisa air mata yang ada di pipinya.

__ADS_1


#Bersambung#


Bagaimana reaksi Alvin dan Zarrah saat melihat Hannum berdiri di depan pintu kamarnya? Lalu bagaimana tanggapan Zarrah pada berita kematian Ibu Wati? Tebak jawabannya di kolom komentar ya..


__ADS_2