
Hannum yang berhasil membuka aplikasi tersembunyi yang ada di handphone Alvin dengan cepat membuka isi yang ada di dalam aplikasi tersebut.
Hannum yang melihat Alvin memiliki telegram yang disembunyikan di dalam aplikasi kalkulator dengan cepat membukanya.
"Mas Alvin memakai telegr*m? Bukankah Mas Alvin hanya menggunakan whatsh*pp sebagai aplikasi bertukar pesannya?" tanya Hannum dalam hati dengan ekspresi wajah yang penasaran.
Hannum yang sesekali melihat ke arah Alvin yang sedang bermain sepeda dengan Rere pun merasa lega karena Alvin tidak curiga sama sekali akan perbuatannya.
"Aku harus segera mengetahui dengan siapa Mas Alvin berhubungan dengan telegr*m sebelum Mas Alvin selesai bermain dengan Rere!" ucap Hannum dalam hati yang dengan cepat memfokuskan pikirannya pada handphone Alvin yang ada di tangannya.
Hannum yang melihat isi di dalam telegr*m Alvin dapat dengan mudah mengenali nomor yang menjadi satu-satunya teman bertukar pesan Alvin.
"I-ini.... Bukankah ini nomor telepon Zarrah? Kenapa Mas Alvin bertukar pesan dengan Zarrah secara sembunyi-sembunyi?" tanya Hannum pada dirinya sendiri dengan wajah penasaran.
Satu per satu pesan antara Zarrah dan Alvin dibuka dan dibaca yang tanpa disadari menorehkan luka yang sangat dalam di hati Hannum.
Hannum yang tak hanya membaca pesan tapi juga melihat pertukaran foto dan video tidak sen*n*h keduanya membuat Hannum ingin muntah.
Hannum yang tidak tahan pun berdiri dari tempatnya duduk dan berlari masuk ke dalam kamarnya lalu menguncinya.
Hannum yang langsung melempar handphone Alvin ke atas tempat tidur bergegas memasuki kamar mandi dan m*ntah untuk menghilangkan rasa tidak nyaman di perutnya.
Hannum yang merasa lebih baik pun mengambil handphone Alvin kembali dan melihat isi galeri tersembunyi yang ada.
Hannum yang melihat banyak sekali pesan, foto dan video yang tidak pantas antara Zarrah dan Alvin di dalam handphone Alvin pun terdiam seakan sebuah tamparan mendarat di pipinya.
Hannum yang sangat mempercayai dan menyayangi Zarrah karena Zarrah satu-satunya saudara kandung yang dimilikinya setelah meninggalnya Ayahnya pun kehilangan kata-katanya.
Hannum yang tidak percaya bahwa Zarrah akan menusuknya dari belakang menjadi sangat sedih dan terpukul.
__ADS_1
Hannum yang tidak menyangka jika Zarrah yang sangat dipercayainya akan menjadi penyebab kehancuran pernikahannya pun tidak bisa menahan kekuatan kakinya.
Hannum yang terduduk di lantai sambil bersandar di samping tempat tidur hanya bisa menangis dengan tubuh bergetar.
“Za-Zarrah... Ke-kenapa? Huhh... Huuuhh... Huuuhhh!” ucap Hannum yang tidak bisa mengatakan apapun dan hanya bisa menagis dalam diam.
Hannum yang tak bisa menerima kenyataan itu pun melepaskan handphone Alvin dan menekuk kakinya dan memeluknya sangat erat.
“Kenapa? Kenapa kalian melakukan ini padaku? Apa salahku?” tanya Hannum pada dirinya sendiri yang secara tak langsung perselingkuhan Alvin dan Zarrah telah menghancurkan hidup Hannum.
Hannum yang sangat mencintai suaminya dan menyerahkan semuanya hanya untuk suaminya merasa dunianya dan harapannya untuk hidup bersama hingga tua pun runtuh.
“Kenapa Mas? Kenapa kamu lakukan ini Mas? Kenapa kau hancurkan janji suci ikatan pernikahan kita?” ucap Hannum dengan air mata yang tak berhenti keluar dari pelipis matanya.
Sementara itu, Alvin yang melihat Hannum tak ada lagi di teras rumah pun merasakan perasaan yang tidak tenang dan menemukan handphonenya ternyata tak ada di atas meja.
Alvin yang mencoba membuka pintu kamar karena berpikir Hannum akan ada di dalam kamar menjadi semakin takut dan cemas saat pintu kamar yang biasanya dapat dibuka kapanpun tiba-tiba terkunci.
"Hannum? Hannum? Dek, buka pintunya!" ucap Alvin dengan nada suara yang lembut dengan ketukan pintu yang perlahan.
Hannum yang mendengar Alvin memanggilnya dengan lembat pun tertawa getir mengingat kembali pesan, foto dan video perselingkuhan Alvin dan Zarrah.
"Aku tidak menyangka ternyata Mas Alvin berubah drastis karena Zarrah yang telah menggantikan posisiku di hatimu, Mas!" ucap Hannum pada dirinya sendiri yang terus mengabaikan panggilan Alvin.
"Ternyata aku sangat bodoh! Aku sangat bodoh menceritakan masalahku dan perasaanku yang tidak tenang kepada Zarrah karena ternyata Zarrah adalah sumber masalahku!" ucap Hannum sambil memukul pelan dahinya.
Hannum yang sadar jika masalahnya dengan Alvin tidak akan pernah selesai jika dirinya hanya diam dan mengunci diri di dalam kamar pun memutuskan keluar dan membuka pintu kamar.
Alvin yang melihat mata Hannum yang bengkak seperti orang yang baru saja selesai menangis pun menjadi cemas.
__ADS_1
"Dek, ada apa? Kenapa kamu mengangis? A-apa.. " ucap Alvin yang dengan cepat memberikan berbagai pertanyaan kepada Hannum.
Hannum yang merasa sangat jijik meski hanya melihat wajah Alvin pun dengan cepat mengangkat tangannya memberikan Alvin kode untuk berhenti bicara dan diam sementara waktu.
Hannum yang fokus kepada Rere yang tidak tau apapun yang terjadi dan hanya bisa berdiri menatap dengan wajah kebingungan pun mencoba membuat Rere tenang terlebih dahulu.
"Rere sayang! Anak Mama yang pintar, baik hati dan sholehah. Rere pasti capek main sepeda dengan Papa. Rere mandi dulu ya lalu selesaikan pekerjaan rumah Rere di kamar ya!" ucap Hannum yang berbicara dengan sangat lembut dengan senyum yang ramah sambil mengelus pelan pucuk rambut Rere.
"Iya Ma. Rere mengerti!" ucap Rere dengan percaya diri sambil menganggukkan kepalanya lalu berjalan memasuki kamarnya.
Hannum yang melihat Putrinya telah masuk ke dalam kamarnya pun masuk ke dalam kamar dengan diikuti Alvin dari belakang yang dengan cepat menutup pintunya.
Alvin yang melihat handphonenya terus berada di genggaman Hannum merasakan perasaan cemas, was-was dan takut secara bersamaan.
"Apa yang telah terjadi? Kenapa sikap Hannum sangat dingin padaku? Apakah Hannum sudah melihat pesan foto dan videoku bersama Zarrah?" tanya Alvin dalam hatinya pada dirinya sendiri dengan wajah yang tegang.
"Ada apa Dek? Apa yang terjadi? Kenapa kau seperti ini?" tanya Alvin dengan perlahan yang dibalas dengan tawa yang keras oleh Hannum.
Hannum yang telah berada di tahap akan meledak kapanpun menjadi semakin kecewa kepada Alvin yang tetap tidak mau mengatakan kejujurannya meskipun Hannum yakin jika Alvin sudah menduga yang telah terjadi.
"Kau masih bertanya apa yang telah terjadi, Mas? Apakah kau masih ingin terus berbohong, Mas?" tanya Hannum dengan ekspresi wajah yang dingi.
Hannum yag sangat marah dan kecewa tanpa pikir panjang menampar wajah Alvin dengan tangan kanannya sangat erat lalu mengatakan semuanya.
"Jahat kamu, Mas! Kamu jahat banget! Beraninya kamu selingkuh di belakang Mas dengan Zarrah!" ucap Hannum dengan suara yang tinggi dengan mata yang menatap tajam ke arah Alvin.
Hannum yang menghubungi Zarrah pun meminta Zarrah untuk segera datang ke rumahnya dengan suara yang tegas di sambungan telepon.
#Bersambunng#
__ADS_1