
Andika yang telah melakukan sidang di Pengadilan akhirnya benar-benar menceraikan Zarrah dan menjadi duda dengan masa pernikahan yang begitu singkat.
Ibu Nissa yang tak ingin Putranya disalahkan di mata orang-orang karena perceraian yang begitu cepat pun memberitau orang-orang inti permasalahan dalam pernikahan tersebut.
Zarrah yang berselingkuh dengan Alvin yang pada akhirnya membuat Pernikahannya dan kakaknya hancur menjadi terkenal di lingkungan tempat tinggalnya baik di Malang maupun di Ibukota.
"Sial! Kenapa orang-orang ini sangat suka ikut campur dalam urusan orang lain? Apakah mereka tidak ada kerjaan lain yang bisa dilakukan, ya?" tanya Zarrah dengan wajah yang kesal dengan tangan terkepal erat.
Zarrah yang tidak nyaman lagi tinggal di rumah orangtuanya di Malang karena telah dikembalikan oleh Andika pun menghubungi Hannum.
Hannum yang sebenarnya sangat berat mengangkat telepon dari Zarrah pun menarik nafas panjang dan mengangkatnya karena rasa penasaran.
"Mbak, tolong jual saja rumah yang ada di Malang! Kita bagi saja uangnya!" ucap Zarrah dengan nada suara yang meninggi seperti memerintah.
"Kenapa rumahnya harus dijual? Rumah itu penuh kenangan masa kecil bersama orangtua kita!" ucap Hannum dengan alis mengkerut kebingungan.
"Orang-orang di sekitar sini sangat menyebalkan! Mereka sangat suka bergosip dan selalu ikut campur urusan orang lain! Aku tidak mau tinggal disini jadi lebih baik Mbak jual saja rumah ini!" ucap Zarrah dengan suara yang tegas.
Hannum yang tak punya pilihan lain selain menurut pun memberikan jawaban setuju setelah melihat kondisinya bersama Rere yang saat ini tinggal di rumah kontrakan.
Hannum yang menjual rumah yang menjadi peninggalan satu-satunya orangtuanya pun membagi dua dengan adil uang hasil penjualan rumah dengan Zarrah lalu pindah ke rumah lain dengan lingkungan baru begitu pula dengan Zarrah.
Meskipun begitu, Alvin yang skandal perselingkuhannya diketahui oleh orang-orang di kantor tempatnya bekerja pun akhirnya merasa sangat tidak nyaman hingga memutuskan untuk berhenti bekerja dan mencari pekerjaan lain.
Zarrah yang telah resmi bercerai dengan Andika pun mendatangi Alvin di rumahnya dengan membawa selembar amplop berwarna cokelat.
"Mas, aku telah resmi bercerai sekarang dan aku sedang mengandung anakmu sekarang! Kamu harus bertanggung jawab dan menikahiku Mas setelah masa iddahku selesai!" ucap Zarrah dengan tegas sambil melemparkan amplop cokelat di atas meja.
Alvin yang tak percaya dengan ucapan Zarrah pun mengambil amplop cokelat yang dilemparkannya lalu melihat isinya dengan seksama.
"Itu adalah foto usg anak kita, Mas. Aku harap kau menikahiku Mas karena aku tak ingin menggugurkannya kali ini!" ucap Zarrah sambil megelus pelan anak yang ada di dalam kandungannya.
__ADS_1
Alvin yang menolak percaya bahwa Zarrah mengandung anaknya karena keinginan untuk rujuk dengan Hannum begitu besar pun menuduh Zarrah yang tidak-tidak.
"Aku tidak percaya! Kau pasti berbohong! Anak itu bukan anakku! Mungkin saja kau tidur dengan pria lain dan mengandung anaknya!" ucap Alvin sambil menggelengkan kepalanya beberapa kali lalu melemparkan amplop isi usg ke meja kembali.
Zarrah yang sudah menduga bahwa Alvin pasti tidak akan mudah menerima kenyataan itu tapi ucapan Alvin yang menuduhnya tidur dengan pria lain dan mengarang cerita tentang dirinya yang mengandung pria lain membuat Zarrah marah.
Zarrah yang tidak terima dituduh berhubungan dengan pria lain padahal dirinya hanya mencintai Alvin bahkan rela melakukan apapun demi bisa bersama Alvin menjadi sangat kecewa.
Plak! Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Alvin yang dilakukan Zarrah dengan sangat sadar membuat Alvin terdiam terkejut.
"Jahat kamu, Mas! Aku memang murahan karena melakukan berbagai hal demi bisa bersamamu, Mas! Tapi aku tidak serendah itu hingga memberikan tubuhku pada orang lain!" ucap Zarrah dengan suara yang meninggi.
"Ini adalah anakmu, Mas. Ini adalah anak hasil perbuatan kita saat kita di Malang dimana kau dan aku melakukannya di hari dimana Ibu meninggal!" ucap Zarrah sambil menunjukkan tanggal usg itu dilakukan dengan usia kandungannya saat ini.
Zarrah yang sangat marah dan kecewa pun pergi meninggalkan rumah itu dan pergi menuju rumah Hannum dengan tujuan lain.
Zarrah yang khawatir Alvin akan lari dari tanggung jawabnya dan memintanya menggugurkan kandungannya untuk kedua kalinya pun berniat meminta bantuan Hannum.
Zarrah yang melihat pintu pagar rumah Hannum terbuka pun melihat Rere sedang bermain rumah-rumahan di depan teras pun mengajak Rere bicara untuk memancing Hannul keluar.
"Rere, tante datang bawakan cokelat untuk Rere. Apakah rere suka?" tanya Zarrah dengan senyum yang lebar sambil menunjukkan sebuah merek cokelat batangan yang cukup terkenal di hadapan Rere.
Rere yang masih polos pun mengabil cokelat yang diberikan kepadanya dengan wajah yang bahagia yang membuat zarrah ingin sekali membuatnya menangis.
"Rere mau punya adik ngak? Jadi Rere tidak sendirian lagi main masak-masakannya!" ucap Zarrah dengan senyum licik yang perlahan mendengar suara langkah kaki yang semakin mendekat ke arahnya.
"Tapi adiknya bukan dari Mama tapi dari Tante. Rere akan punya adik tiri dari tante karena Tante akan segera menikah dengan Papa Rere jadi Rere harus panggil Tante dengan sebutan Bunda!" ucap Zarrah dengan ekspresi wajah yang puas.
Hannum yang sangat marah mendengar perkataan Zarrah dan sikapnya yang sudah keterlaluan karena membuat Rere terlibat pun meninggikan suaranya.
"Zarrah!" teriak Hannum dengan sangat keras dengan mata yang melotot tajam dengan tangan terkepal erat menahan emosinya.
__ADS_1
"Agh, Mbak Hannum datang!" ucap Zarrah dengan ekspresi wajah yang dibuat pura-pura terkejut dengan senyum puas penuh kemenangan.
Hannum yang memikirkan psikologi Rere karena melihatnya dan Zarrah bertengkar pun meminta Rere masuk ke dalam kamarnya mengerjakan PR dari sekolahnya yang belum diselesaikannya.
"Apa yang kau lakukan disini Zarrah? Aku tidak memberimu izin untuk datang sesukamu dan bicara dengan Rere seperti itu!" ucap Hannum dengan nada suara yang masih dapat dikendalikan dengan raut wajah marah yang tak bisa disembunyikannya.
"Hmmm, aku hanya mengatakan yang sebenarnya, Mbak. Jadi Rere tidak akan terkejut saat mendengar kenyataannya!" ucap Zarrah dengan sikap dan nada suara yang cuek.
Zarrah yang ingin membuat Hannum terkejut dan berharap Hannum akan pingsan pun menunjukkan foto hasil usgnya.
Namun respon yang diharapkan Zarrah tidak pernah terjadi, Hannum telah kehilangan perasaannya pada Alvin dan juga Zarrah. Saat ini prioritas Hannum bahkan berpindah ke Rere yang membuat Hannum biasa saja saat melihat bukti kehamilan Zarrah.
"Oh! Jadi kau hamil setelah melakukan zina di hari Ibu dipanggil Yang Maha Kuasa!" ucap Hannum dengan suara yang datar dan sikap yang cuek.
"Benar. Aku hamil dan ini adalah anaknya Mas Alvin jadi Mbak Hannum harus mempercepat proses perceraian Mbak lalu minta Mas Alvin bertanggungjawab jika tidak Mbak Hannum akan menanggung dosa jika aku menggugurkan anak ini karena Mbak Hannum tak mau membantuku membuat Mas Alvin bertanggung jawab!" ucap Zarrah dengan percaya diri.
Hannum yang mendengar perkataan Zarrah yang menurutnya memiliki imajinasi yang sangat tinggi pun tertawa terbahak-bahak.
"Kenapa aku harus ikut berdosa jika kau menggugurkan kandunganmu? Kau yang berzina dengan Mas Alvin! Kau yang mengandung anaknya sebelum menikah resmi baik secara agama maupun negara! Kau yang menggugurkan kandunganmu tanpa pertimbangan! Apakah otakmu sudah bergeser Zarrah?" sindir Hannum dengan nada suara yang menghina.
"Jangan khawatir tentang perceraianku karena aku pun ingin segera ketuk palu jadi jika kau ingin perceraian itu dipercepat mintalah Mas Alvin untuk tidak menunda-nundanya!" ucap Hannum dengan tangan terlipat di dada.
"Aku tidak peduli lagi dengan kalian berdua apalagi kepadamu. Kau telah dewasa dan kau menanggung sendiri dosa dari perbuatanmu jadi jangan mengatakan apapun yang akan menunjukkan kelasmu yang sebenarnya padaku!" ucap Hannum dengan kasar.
Zarrah yang tidak bisa bicara balik hanya menahan dirinya untuk tidak menarik perhatian orang-orang untuk penasaran lalu pergi meninggalkan rumah Hannum begitu saja.
"Awas saja kamu, Mbak! Aku akan membalas penghinaan ini! Aku pasti akan menang dan menjadikan Mas Alvin suamiku nantinya!" ucap Zarrah dengan mata lurus ke depan dengan tekad dan niat yang kuat.
#Bersambung#
Akankah Zarrah akhirnya dinikahi oleh Alvin? Apakah Alvin akan menerima anaknya yang dikandung Zarrah? Tebak jawabannya di kolom komentar ya...
__ADS_1