
Hannum yang berada di Sekolah Rere tidak pernah bisa mengendalikan perasaannya yang tiba-tiba menjadi sangat cemas dan tidak tenang.
“Ada apa denganku? Kenapa perasaanku sangat tidak nyaman? Aku harap tidak ada hal buruk yang terjadi pada Mas Alvin!” ucap Hannum dengan pikiran yang tidak fokus.
“Hah! Ya Tuhan, aku mohon lindungilah suamiku! Aku harap dia baik-baik saja dan tidak ada hal buruk yang menimpanya!” ucap Hannum yang dengan tulus mendoakan Alvin.
Namun tidak disangka Alvin ternyata terbawa oleh suasana dan masuk ke dalam perangkap setan yang membuatnya sulit untuk lepas.
Alvin yang tergoda dengan tubuh indah Zarrah pun tak bisa berhenti hanya pada sebuah ci*man kecil dan berlanjut menjadi ci*man yang intens.
Alvin yang mulai menggerakkan tangannya pun menggapai dua buah benda bulat yang dilihatnya pertama kali di malam dirinya pulang terlambat.
Alvin yang telah lama ingin sekali menyentuhnya pun kalah pada nafsu yang telah menguasainya hingga membuat Alvin memulai dengan sentuhan-sentuhan lembut di p*yud*ra Zarrah.
Zarrah yang merasakan sensasi yang berbeda di setiap sentuhan Alvin tidak ingin kehilangan momen dimana Alvin hanya fokus padanya hingga membuat Zarrah mempersilahkan Alvin melakukan apapun pada tubuhnya.
Alvin yang merasa seolah mendapatkan lampu hijau dari Zarrah yang terus memeluknya dan meraung dengan suara yang menggoda dan penuh kenikm*tan pada setiap sentuhannya pun menjelajahi semuanya hingga akhirnya keduanya melewati batasnya.
Waktu pun berlalu hingga keduanya mencapai kenikmatan bersama dan terbaring bersama di tempat tidur dengan tubuh yang penuh keringat dan wajah kelelahan.
Zarrah dan Alvin yang tanpa sadar telah melakukan hubungan int*m layaknya suami istri akhirnya membuat Alvin menyadari kesalahannya dan merasa bersalah kepada Zarrah.
“Dek, maafin Mas yang sudah menghancurkanmu!” ucap Alvin dengan wajah yang bersalah dengan suara yang pelan.
“Ini bukan salah Mas. Ini terjadi begitu saja dan Zarrah juga menikmatinya!” ucap Zarrah dengan wajah yang merah dengan sikap yang malu-malu.
Alvin yang mendengar perkataan Zarrah tetap tidak bisa menghilangkan rasa bersalahnya kepada Zarrah.
“Maafkan Mas. Mas telah melakukan kesalahan karena telah mengambil hal yang sangat berharga bagimu!” ucap Alvin dengan kepala tertunduk ke bawah.
__ADS_1
“Apa yang Mas katakan? Zarrah tidak menyalahkan Mas Alvin. Ini juga kesalahan Zarrah karena Zarrah terlalu terbawa suasana!” ucap Zarrah sambil menatap mata Alvin dengan lembut.
“Hmmm, Zarrah baru merasakan ini pertama kali. Ternyata untuk pertama kali melakukan itu ternyata sangat sakit dan setelah beberapa lama rasa sakit itu menghilang lalu berubah menjadi ...” ucap Zarrah yang tertunduk malu dengan wajah yang memerah.
Alvin yang mendengar perkataan Zarrah pun menghela nafas yang panjang lalu memeluk Zarrah dan mencium keningnya.
“Mas minta maaf dan janji Mas akan bertanggung jawab!” ucap Alvin yang membuat Zarrah merasa sangat senang.
Alvin yang menyadari bahwa pekerjaannya di Kantor telah menunggunya pun berpamitan dengan Zarrah dan pergi meninggalkan Zarrah yang sedang di mabuk asmara.
Zarrah yang terbaring di tempat tidurnya sambil memandang foto Alvin di sosial medianya pun tersenyum puas.
“Mulai sekarang Mas Alvin milikku dan aku takkan pernah melepaskan Mas Alvin meskipun itu kepadamu Mbak Hannum!” ucap Zarrah yang tidak senang saat melihat foto lain yang ada di sosial media Alvin.
Waktu pun berlalu, Hannum yang akhirnya selesai dengan Pertemuan di Sekolah Rere pun pulang ke rumah dengan wajah yang cemas.
“Ada apa ini? Kenapa jantungku berdetak cepat sekali? Hah!” ucap Hannum dengan suara yang rendah lalu kembali ke kamarnya dan mencoba menenangkan dirinya dengan membaca Kitab Suci Al-Quran.
Sementara itu Zarrah yang melihat jam dinding di kamarnya telah berpindah tempat ke angka lima dan matahari telah perlahan berpindah ke arah barat saat dirinya melihat ke arah jendela pun bergegas memakai pakaian dan mengganti spreinya yang terdapat bercak darah keper*wanannya.
“Hmmm, aku harus segera merendam sprei ini. Aku tidak boleh membiarkan Mbak Hannum menyadari bahwa aku telah menyerahkan keper*wananku kepada Mas Alvin!” ucap Zarrah dengan suara yang rendah dan wajah yang panik.
Zarrah yang merasa jika kakinya masih sakit akibat tertabrak siang tadi dan rasa perih setelah berhubungan int*m dengan Alvin menyebabkan Zarrah tak bisa berjalan dengan normal.
“Agh, sakit sekali! Aku tidak menyangka jika setelah melakukan itu untuk pertama kali membuat tubuhku terasa sakit semua terutama di bagian sensitifku!” gumam Zarrah dengan wajah yang kesakitan.
Hannum yang ternyata telah pulang setengah jam yang lalu tapi tidak disadari oleh Zarrah pun melihat Zarrah berjalan menuju tempat pencucian dengan jalan yang pincang.
“Loh Dek, kamu ada di rumah? Bukankah kamu kuliah sampai sore hari ini?” tanya Hannum dengan wajah yang bingung.
__ADS_1
“Dek, kenapa jalanmu seperti itu? Lalu kenapa kau membawa spreimu? Bukankah kau baru menggantinya kemarin?” tanya Hannum dengan wajah yang penasaran.
Zarrah yang terkejut melihat Hannum tiba-tiba muncul di hadapannya menjadi cemas tapi dengan cepat menguasai dirinya dan mengendalikan keadaan.
“Agh, aku tertabrak motor siang tadi Mbak jadi kakiku rasanya sakit sekali dan spreinya terkena darah haidku jadi rasanya tidak nyaman jika harus tidur dengan memakai sprei yang terkena noda darah!” ucap Zarrah dengan dalih yang sempurna menurutnya.
Hannum yang mendengar Zarrah tertabrak hingga tidak bisa berjalan dengan normal pun menjadi cemas.
“Apa? Tertabrak motor? Bagaimana sekarang Dek? Mau Mbak bawa ke dokter atau tukang urut?” tanya Hannum dengan wajah yang cemas dan khawatir di saat bersamaan.
“Aku baik-baik saja Mbak. Lukanya sudah aku obati dan aku yakin setelah minum obat dan istirahat beberapa hari semuanya akan baik-baik saja!” ucap Zarrah dengan senyum yang lembut yang mencoba menenangkan Hannum yang panik.
“Hah! Apa kau yakin, Dek? Tidakkah sebaiknya kita ke Dokter dan memeriksamu?” tanya Hannum dengan wajah yang masih cemas.
Zarrah yang mendengar kata Dokter menjadi terkejut dan panik karena tidak ingin ketahuan jika keper*wanannya telah menghilang.
“Aku baik-baik saja, Mbak. Mbak tidak perlu membesar-besarkan masalah ini!” ucap Zarrah dengan suara yang tegas.
“Aku akan segera sehat dan aku pun telah putuskan untuk menutupi hal ini dari Ibu. Aku harap Mbak pun melakukan hal yang sama.” Ucap Zarrah yang langsung menghentikan Hannum akan niatnya.
“Ibu baru saja sembuh dan aku tidak ingin Ibu menjadi cemas jika mengetahui bahwa aku kecelakaan.” Ucap Zarrah yang menekan titik lemah Hannum yang membuat Hannum menyerah secara instan.
“Baiklah. Mbak tidak akan memaksamu ke Dokter tapi Mbak harap kau tetap di rumah sementara waktu sampai kakimu benar-benar bisa berjalan normal.” Ucap Hannum dengan peringatan yang mendalam.
Zarrah yang merasa lega mendengar Hannum tidak memaksanya untuk ke Dokter lagi pun dengan cepat melarikan diri ke ruang pencuci dan mencuci spreinya.
#Bersambung#
Apa yang akan terjadi selanjutnya pada hubungan Alvin, Zarrah dan Hannum? Bagaimana Alvin bertanggung jawab kepada Zarrah? Tebak jawabannya di kolom komentar ya.
__ADS_1