
Zarrah yang pergi bersama Andika seperti yang dikatakannya sejak pagi pun berpamitan dengan Hanum yang sedang berdiri di depan rumah.
"Ingat pesan Mbak untuk tidak berbuat hal yang aneh-aneh di luar sana!" ucap Hanum yang mencoba mengingatkan Zarrah dengan suara yang lembut.
"Ya! Ya! Ya! Aku sudah besar Mbak. Aku tau mana yang benar dan mana yang salah jadi Mbak tidak perlu khawatir!" ucap Zarrah dengan wajah yang kesal.
Zarrah yang tak ingin mendengar kata--kata nasehat dari Hanum pun langsung pergi menaiki motor menuju tempat tujuan.
Setelah beberapa jam berlalu, Zarrah yang telah pulang setelah pergi seharian dengan Andika pun datang membawakan makanan ringan.
Rere yang telah pulang sekolah dan lelah belajar bersama Hanum langsung berlari keluar saat mendengar Zarrah telah kembali.
"Tante!" ucap Rere dengan suara yang ceria dengan wajah yang gembira sambil berlari memeluk Zarrah.
"Agh, keponakan tante langsung berlari memeluk Tante. Kangen, ya?" tanya Zarrah dengan nada suara yang bercanda.
"Hmmm, tentu saja. Rere ingin main rumah boneka dengan tante!" ucap Rere dengan wajah yang ceria.
Namun Rere yang melihat wajah pria lain yang tidak dikenal berada di samping Zarrah pun menjadi sangat penasaran.
"Tante! Tante! Tante! Om-om yang ada di samping tante itu siapa?"tanya Rere dengan ekspresi wajah yang penasaran dan sikap yang malu-malu.
"Hehehe... Rere penasaran, ya?" sindir Zarrah dengan wajah yang jahil sambil memainkan Rere yang berada di pelukannya.
"Hmmm, dia ini adalah teman Tante. Namanya Andika. Panggil saja Om Dika!" ucap Zarrah sambil memperkenalkan Andika kepada Rere.
Rere yang mendengar Zarrah memperkenalkan pria yang berdiri di sampingnya dengan sangat lembut akhirnya menampakkan diri meskipun begitu Rere tetap merasa malu untuk mendekat ke arah Andika.
Di saat ketiganya sedang bicara di teras tiba-tiba Hannum muncul dan menyapa Andika dengan sangat lembut.
“Agh, ada tamu rupanya. Zarrah kenapa tidak diajak masuk tapi dibiarkan berdiri di teras?” tanya Hannum dengan nada suara yang lembut.
Zarrah yang menyadari kesalahannya yang telah berbuat tidak sopan langsung mempersilahkan Andika masuk dan duduk di ruang tamu.
__ADS_1
Namun Andika yang tau jika tidak ada laki-laki di dalam rumah langsung menolak tawaran itu dengan sangat sopan.
“Agh, maafkan aku tapi saat ini aku ada kepentingan yang sangat mendesak jadi aku harus segera pergi!” ucap Andika dengan wajah yang dibuat seperti orang yang sedang kebingungan.
“Hmmm, aku membawakan ini. Aku harap Mbak dan yang lainnya akan menyukainya!” ucap Andika yang menyerahkan makanan yang dibawanya kepada Hannum dengan perlahan.
Hannum yang tau jika Andika adalah pria yang baik dan tau akan etika kesopanan pun membiarkan Andika pulang.
Hannum yang melihat Zarrah langsung masuk ke dalam rumah dan pergi ke kamarnya pun menyerah akan keinginannya yang ingin tau tentang hal lebih tentang Pria yang sedang dekat dengan Zarrah.
“Hah! Aku harap Andika sungguh pria yang baik dan bermoral!” ucap Hannum dalam hati dengan sedikit perasaan cemas.
Di sore hari, Alvin yang telah pulang bekerja pun langsung beristirahat dan memutuskan untuk mengerjakan pekerjaan kantornya di dalam kamar.
“Aku sangat haus dan lelah.” Gumam Alvin dengan wajah yang terlihat lelah dengan mata yang senduh.
“Hmmm, ternyata minumanku telah habis. Sebaiknya aku mengambil minum lagi!” ucap Alvin yang melihat cangkir yang ada di meja kerjanya telah kosong.
Alvin yang berada di dapur pun mengambil air dari dispenser dan berniat kembali ke dalam kamarnya setelah selesai.
“Mas!” panggil Zarrah dengan suara yang lembut dengan tatapan mata yang menunjukkan perasaan yang lebih.
Alvin yang tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama pun berniat mengabaikan Zarrah dan pergi meninggalkan Zarrah tapi tidak disangka Zarrah justru menghalanginya.
“Mas apakah kau tidak penasaran bagaimana dengan kencan pertamaku dengan Mas Dika tadi siang?” tanya Zarrah dengan senyum yang lebar.
Alvin yang mendengar perkataan Zarrah pun mengingat kembali tentang izin yang diminta Zarrah pagi tadi kepada Hannum dan dirinya.
Alvin yang sejujurnya memiliki ketertarikan sedikit akan kecantikan dan keindahan tubuh Zarrah tidak terduga merasa sedikit rasa tidak senang saat Zarrah bertemu pria lain.
“Aku tau Mas jika kau pasti cemburu. Kau cemburu saat aku bertemu dengan Mas Dika, bukan?” tanya Zarrrah dengan senyum percaya diri.
Zarrah yang melihat Alvin terdiam dan tak bisa berkutik dengan pertanyaan pun merasa sangat senang karena rencananya telah berhasil.
__ADS_1
Zarrah yang tak ingin kehilangan momennya pun mendekat ke arah Alvin dan menyentuh lengan Alvin.
“Mas, aku tau jika Mas merasa sangat bersalah kepada Mbak Hannum dengan yang telah kita lakukan sebelumnya tapi aku tidak bisa membohongi diriku sendiri.” Ucap Zarrah dengan wajah yang terlihat sedih.
Alvin yang masih bisa menguasai dirinya dan mengendalikan logikanya pun menepis tangan Zarrah hingga akhirnya air yang ada di tangan Alvin terjatuh ke lantai.
“Apa yang kau katakan Zarrah? Hanum ada di rumah sekarang. Bagaimana jika dia mendengar yang kau katakan?” tanya Alvin yang menjadi bingung dan cemas di saat bersamaan.
Zarrah yang tau jika resiko yang menantinya sangatlah besar tapi Zarrah yang tak ingin kehilangan momen yang berharga itu pun mengabaikan semua konsekuensi yang ada.
“Aku tau Mas tapi aku tidak bisa melupakan ciuman itu. Aku tidak bisa menjadi seperti Mas yang bisa dengan mudah melupakan semua yang telah terjadi!” ucap Zarrah dengan tatapan mata yang berkaca-kaca.
Zarrah yang tak ingin kehilangan kesempatan pun mendekatkan wajahnya dan mencium bibir Alvin lebih awal.
Alvin yang tergoda dengan kecupan singkat Zarrah pun akhirnya melanjutkan ciuman singkat itu menjadi sedikit lebih agresif.
Alvin yang tiba-tiba tersadar pun segera mendorong Zarrah mundur dan mengalihkan pandangannya ke bawah ke arah air yang sedang terjatuh ke lantai.
“Apa yang telah aku lakukan? Kenapa aku melakukan ini lagi? kenapa aku mencium Adik Iparku lagi?” tanya Alvin dalam hati dengan wajah yang bersalah.
Di antara dilema yang sangat besar itu, secara tak terduga Hanum muncul dan menjadi bingung saat melihat Adik dan Suaminya ada di dapur bersama-sama.
“Mas! Zarrah! Apa yang kalian lakukan di dapur?” tanya Hannum dengan wajah yang bingung dengan tatapan mata yang curiga.
Zarrah yang tidak ingin ketahuan Hannum dengan cepat membuat alasan dan bertindak untuk menutupi tindakan keduanya sebelumnya.
“Agh, Mas Alvin ke dapur mengambil minum dan aku tidak sengaja menabraknya hingga akhirnya air jatuh ke lantai.” Ucap Zarrah yang menunjuk ke lantai yang sedang basah tepat di hadapan Alvin.
“Aku ingin membersihkannya segera sebagai permintaan maaf tapi Mas Alvin menolaknya tapi Mbak tidak perlu khawatir, aku pasti akan membersihkannya hingga kering!” ucap Zarrah dengan senyum yang lembut.
Hannum yang menyadari bahwa semua yang dikatakan oleh Zarrah masuk akal pun mengabaikan perasaan tidak nyaman yang ada di hatinya.
“Aku harap sungguh tidak ada yang terjadi antara Zarrah dan Mas Alvin, ya Tuhan!” ucap Hannum dalam hati sambil melihat kepergian Alvin dari dapur.
__ADS_1
#Bersambung#
Waw, Zarrah sungguh agresif. Hmmm, apakah Zarrah akan berhasil menggoda Alvin? Akankah Hannum akan terus tertipu akan perkataan Zarrah? Tebak jawabannya di kolom komentar ya...