Adikku, Penghancur Pernikahanku

Adikku, Penghancur Pernikahanku
BAB 24. Rasa Kemenangan


__ADS_3

Hannum yang sangat mempercayai Zarrah karena Zarrah adalah Adik Kandungnya dan orang yang paling dekat dengannya pun menghubungi Zarrah meminta sarah.


Zarrah yang menyetujui permintaan Hannum pun memutuskan untuk bertemu di luar di Sebuah Kafe di antara jarak rumah keduanya.


“Mbak, gimana kabarnya? Maaf Mbak, aku sudah lama tidak main kesana. Aku sibuk banget Mbak!” ucap Zarrah dengan wajah yang bahagia dan permintaan maaf yang terlihat tidak tulus tapi tidak ditanggapi serius oleh Hannum.


“Mbak tidak marah. Mbak mengerti karena kamu sudah menikah jadi sudah sepantasnya kamu lebih mementingkan Keluarga Suamimu!” ucap Hannum dengan senyum yang lembut.


Hannum yang tidak bisa menunda ataupun menahan diri untuk bercerita kepada Zarrah pun menceritakan semua perubahan yang dirasakannya kepada Zarrah.


“Mbak memintamu datang kemari karena ada banyak hal yang ingin Mbak ceritakan padamu! Mbak merasa sepertinya cinta Mas Alvin telah berkurang untuk Mbak!” ucap Hannum dengan ekspresi wajah yang sedih.


Zarrah yang mendengarnya secara tidak terduga merasakan kebahagiaan tersendiri di dalam hatinya dan senyum penuh kemenangan muncul di sudut bibir Zarrah.


“Tentu saja berkurang karena saat ini yang ada di hati Mas Alvin adalah aku dan bukan dirimu Mbak! Kau tidak berarti lagi di hati ataupun di mata Mas Alvin!” ucap Zarrah dalam hati dengan tatpan mata yang tajam ke arah Hannum.


Meskipun begitu Zarrah yang tak ingin ketahuan pun langsung mengubah ekspresi wajahnya menjadi sangat ramah saat Hannum mengangkat kepalanya menatap dirinya.


“Apa yang Mbak katakan? Mbak dan Mas Alvin sudah lama bersama. Aku yakin Mas Alvin masih memiliki Mbak di hatinya dan mungkin saja saat ini Mas Alvin sedang lelah atau bosan dengan pekerjaannya yang sangat banyak!” ucap Zarrah dengan senyum yang ramah.


Hannum yang berharap mendapatkan solusi akan masalahnya ternyata tidak mendapatkan tanggapan yang diinginkannya.


“Tapi semua yang terjadi dan Mbak rasakan semuanya sangat berbeda Zarrah. Mas Alvin telah sangat berubah hingga Mbak merasa tidak mengenali Mas Alvin lagi!” ucap Hannum dengan suara yang meninggi.


“Mbak tidak boleh berpikir negatif. Mungkin saja Mas Alvin sungguh sibuk sekarang dan memiliki banyak kebutuhan!” ucap Zarrah dengan suara yang lembut sambil memegang tangan Hannum dengan senyum yang ramah.


“Apakah benar seperti itu? Mbak merasa Mas Alvin telah sangat berubah sekarang seperti ada sesuatu yang disembunyikannya!” ucap Hannum dengan ekspresi wajah yang sedih dengan kepala tertunduk ke bawah.

__ADS_1


Hannum yang sadar jika tidak ada gunanya untuk menceritakan apapun kepada Zarrah pun menahan dirinya memakan makanan yang telah dipesannya dan kembali ke rumah.


Sementara itu, Zarrah yang mengetahui bahwa Hannum telah mulai curiga kepada Alvin mencoba menghubungi Alvin dan memintanya untuk bertemu.


“Halo, Mas. Apakah kamu punya waktu sore ini? Kita bertemu di tempat biasa ya!” ucap Zarrah dengan ekspresi wajah yang serius.


Tak butuh waktu lama, keduanya yang telah membuat janji temu pun sampai di tempat yang dijanjikan secara bersamaan karena Alvin yang menjadikan Zarrah prioritas utamanya.


“Mas, aku pikir kamu akan datang terlambat satu atau dua jam lagi!” ucap Zarrah dengan ekspresi wajah yang terkejut saat melihat Alvin ada di sampingnya.


“Itu tidak akan pernah terjadi. Mas akan selalu ada kapanpun Zarrah memanggil dan Mas tidak akan pernah membuat Zarrah menunggu lama hingga berjam-jam!” ucap Alvin dengan kata-kata yang manis.


Zarrah yang semakin senang dan bahagia mendengar perkataan Alvin pun menjadi semakin percaya diri tapi Zarrah yang tidak ingin hubungan terlarang keduanya ketahuan pun memberitau Alvin semuanya.


“Mas, aku tau Mbak Hannum tidak pernah memeriksa handphonemu selama ini tapi sebaiknya kita lebih hati-hati sekarang karena Mbak Hannum sudah mulai curiga!” ucap Zarrah dengan ekspresi wajah yang serius.


“Apa yang tidak mungkin Mas? Semuanya mungkin di dunia ini!” ucap Zarrah dengan suara yang tegas.


“Aku tadi bertemu dengan Mbak Hannum di Kafe yang jauh dari sini! Mbak Hannum mulai curiga dengan Mas Alvin yang jarang pulang makan siang dan telah beberapa bulan mengurangi uang bulanannya!” ucap Zarrah dengan tatapan mata mengarah ke arah lain.


Alvin yang mendengar perkataan Zarrah pun menjadi sangat marah kepada Hannum dan ingin sekali memarahi Hannum.


“Dasar Istri tidak berguna! Kerjaannya hanya menghabiskan uang dan bersantai saja di rumah tapi dia berani sekali menceritakan aib rumah tangga kepada orang lain!” ucap Alvin dengan suara yang meninggi.


“Ini masih bisa dikatakan untung karena dia menceritakannya kepadamu Zarrah yang merupakan Adik Kandungnya. Jika dia menceritakan aib ini kepada orang lain, apakah dia tidak berpikir akan merusak nama baikku, suaminya, yang telah bekerja keras mencari uang untuk memenuhi kehidupan malasnya itu!” ucap Alvin dengan wajah yang marah.


Zarrah yang melihat Alvin marah kepada Hannum pun tersenyum puas dan sangat bahagia tapi Zarrah yang ingin dilihat sebagai wanita baik dan suci dengan cepat menasehati Alvin.

__ADS_1


“Apa yang Mas katakan? Mas tidak boleh mengatakan itu tentang Mbak Hannum! Mas jangan lupa bagaimanapun Mbak Hannum adalah Kakakku dan Istrimu Mas!” ucap Zarrah yang berpura-pura marah dan meninggikan suaranya.


“Sementara aku adalah Adik Durhaka yang telah merebut kebahagian Kakaknya! Aku telah bersalah kepada Mbak Hannum!” ucap Zarrah yang dengan sangat cepat mengeluarkan air mata di sudut matanya.


Alvin yang melihat Zarrah menangis dan bersedih dengan cemat berdiri dan memeluk Zarrah lalu menenangkan Zarrah.


“Jangan menangis! Ini bukan salahmu! Ini salah Mas yang tidak bisa membuat keputusan! Maafkan Mas yang membuatmu di posisi seperti ini!” ucap Alvin yang masuk ke dalam jebakan Zarrah dengan wajah yang bersalam.


“Iya, Mas. Zarrah tidak akan menangis lagi tapi Mas harus janji untuk tidak memarahi Mbak Hannum ataupun meninggikan suara padanya!” ucap Zarrah dengan ekspresi wajah yang pura-pura serius.


Alvin yang kembali ke rumah setelah bertemu dengan Zarrah ternyata tetap tidak bisa menyembunyikan marahannya sehingga Alvin memilih untuk langsung masuk ke dalam kamar dan tidak menyentuh apapun masakan yang dimasak oleh Hannum untuknya hari itu.


Hannum yang menjadi semakin sedih dan terpukul dengan perbuatan Alvin padanya ternyata tidak dapat tidur dengan nyenyak sehingga memutuskan untuk Shalat di Sepertiga malam.


Hannum yang teringat perkataan Mbak Yura pun berdiri dan mengambil handphone Alvin sambil mengenakan mukenahnya lalu melihat isi yang ada di dalam handphone Alvin.


“Aku harus mengecek handphone Mas Alvin! Aku harus mengetahui apakah Mas Alvin sungguh bekerja atau telah memiliki wanita lain di luar sana!” ucap Hannum dalam hati dengan tekad yang kuat.


Hannum yang terus membaca pesan masuk di Kotak Pesan dan Aplikasi Whats*pp serta foto dan video di galeri handphonenya selama setengah jam langsung terdiam saat tak menemukan apapun di dalam handphone Alvin.


“Aku tidak menemukan apapun. Handphone Mas Alvin sangat bersih dan aku tidak menemukan pesan dari satupun wanita!” ucap Hannum dalam hati dengan ekspresi wajah yang bingung lalu meletakkan kembali handphone Alvin ke tempatnya.


Hannum yang tidak menemukan apapun di handphone Alvin nyatanya tetap merasa gelisah dan tidak tenang.


“Ada apa? Kenapa aku merasa semakin tidak tenang? Padahal aku tidak menemukan apapun.” Ucap Hannum yang telah terduduk di tempat tidur sambil menatap Alvin yang ada di sampingnya yang sedang tertidur sangat nyenyak.


#Bersambung#

__ADS_1


Apa yang akan dilakukan oleh Hannum selanjutnya? Akankah rahasia perselingkuhan Zarrah dan Alvin akan selamanya tersembunyi? Tebak jawabannya di kolom komentar ya..


__ADS_2